JalanLokasi

Wisata Malam Pemandian Air Panas Guci

174Views

Pernah merasakan sensasi mandi di tengah malam?

Wah, denger mandi malam aja saya langsung ingat pesan nenek di kampung halaman bahwa mandi malam itu bisa memicu sakit. Makanya, saya termasuk orang yang jarang sekali mandi malam.

Tapi…. bagaimana kalau seandainya mandi tengah malam yang unik? Mandi di ruang terbuka dengan air yang cukup hangat pula. Tidak berhenti sampai di situ, melainkan lokasi mandinya di bawah kaki gunung dengan ketinggian 1.500 meter dari permukaan air laut.

Itu belum seberapa. Mandi tersebut ditemani dengan kabut yang (seolah-olah) mistis karena  kabut malam yang turun. Seolah-olah seperti mandi di musim salju… seolah-olah loh ya.

Berani?

Nah, buat Anda yang sedang melakukan perjalanan jauh dan kebetulan sedang berada di Tegal, jangan sampai tidak mengunjungi lokasi pemandian air panas Guci. Pemandian ini terletak di bagian utara kaki Gunung Slamet di Kabupaten Tegal. Dari kota Tegal lokasi itu bisa ditempuh dengan waktu sekitar 1,5 jam.

Dengan ketinggian 1.500 meter dari permukaan air laut dan memiliki suhu udara bisa mencapai 20 derajat celcius, pemandian ini layak dijadikan

Guci terletak di kaki Gunung Slamet bagian Utara, dengan ketinggian sekitar 1.500 meter dari permukaan air laut mempunyai udara yang sejuk dengan suhu sekitar 20 derajat celcius. Di siang hari destinasi wisata alam ini cukup padat dikunjungi wisatawan domestik dan hampir semua yang datang selain menginap dan menikmati pesona alam, tentu merasakan hangatnya hawa air yang ada dari pancuran atau air terju di Guci.

guci2Buat mereka yang males mandi di lingkungan terbuka, banyak terdapat tempat-tempat khusus pemandian juga hotel/penginapan yang menyediakan kamar mandi khusus untuk menikmati air hangat Gunung Slamet yang bisa menyegarkan, konon kabarnya bisa menyembuhkan berbagai penyakit, bahkan kisahnya air ini bisa membuat awet muda.

Namun, tidak seperti lokasi pemandian air panas pada umumnya, GUCI bisa dibilang buka sampai tengah malam bahkan bisa 24 jam. Untuk mencapainya cukup mudah, dari kota Tegal kita tinggal mengambil jalan melalui Desa Tuwel dan hanya sekitar 30-45 menit sudah tiba di lokasi.

Saat Senin (19/1) saya dan tim yang tergabung dalam ekspedisi Jakarta-Jogja di Jejak Para Riser dan Kompasiana Blog Trip, menjajal sensai mandi malam di GUCI. Kebetulan pabrikan Datsun memberikan kesempatan para blogger untuk menjajal mobil Datsun Panca GO mereka. Jelang pukul 8 malam, tibalah kami di sana. Harga karcis atau tiket masuk cukup murah, yakni Rp4.400 per orang dan parkir Rp2.000 per mobil.

Di GUCI, ada berbagai air terjun yang bisa dinikmati, mulai dari air terjun Sigedong, air terjun Pengantaian,  air terjun Kembar, air terjun Awu, dan  air terjun Capit Urang. Namun, saya merekomendasikan kalau mau mandi malam di sana gunakan saja pancuran yang hanya mengalirkan air cukup kecil dari beberapa pipa. Di sana ada  Pancuran 13,  Pancuran  7, atau Pancuran 5.  O ya, kalau siang hari bisa memanfaatkan tiga kolam renang, seperti  Duta Wisata, Barokah, dan Mega indah.

Konon ceritanya Guci merupakan sebuah desa yang bernama Kaputihan yang berarti desa yang masih belum tercemar atau masih suci. Suci di sini dimaksudkan belum dipengaruhi oleh peradaban luar. Lokasi inilah menjadi salah satu tempat tinggalnya Raden Mas Hadiningrat atau Kyai Klitik yang berasal dari Demak. Tempat itu pun mulai rama didatangi orang dan banyak pula yang bermukim.

Sampai suatu ketika daerah itu dilanda penyakit, bencana alam, dan serangan hama pada tanaman. Kebetulan di saat  genting itu datanglah datanglah Syech Elang Sutajaya  dari pesantren Gunungjati Cirebonyang merupakan utusan Sunan Gunung Djati  untuk menyebarkan ajaran Islam di daerah tersebut.

Sang syech mengajurkan penduduk untuk betobat dan meningkatkan iman kepada Tuhan. Juga, dianjuran untuk berbuat baik dan banyak sedekah. Konon kabarnya syech itu pula yang meminta Sunan Gunung Djati untuk mendoakan air-air yang ada di dalam guci sehingga bisa menyembuhkan penyakit. Maka mulai saat itulah nama desa atau kaputihan itu disebut dengan Guci.

Buat yang mau ke sini di malam hari, jangan merasa takut dan akan kesepian. Sebab, di Guci kita tidak sendiria lho, di malam hari ada banyak pengunjung yang datang dan mandi. Tidak hanya itu, banyak pedagang mulai dari souvenir, makanan, sampai cemilan yang bisa dijumpai. Bahkan ketika saya dan tim mandi di Pancuran 7, ada 3-4 tukang jajanan seperti somay, gorengan, dan bakso yang ada.

Kalau kemalaman, jangan khawatir. Di lokasi terdapat hotel, wisma, dan tempat penginapan yang berharga lumayan murah. Bahkan dengan budget yang minim, kita bisa menggunakan rumah-rumah penduduk yang memang disewakan.

So, yuk coba sensasi mandi malam di pancuran air panas Guci. Pasti Beda!

Kang Arul
the authorKang Arul
Dosen, jurnalis, dan penulis. Saat ini selain menjalani profesi sebagai dosen di berbagai perguruan tinggi, ia juga merupakan konsultan untuk konten digital di berbagai perusahaan, lembaga/kementerian, maupun perorangan. Profil lengkapnya sila klik http://www.kangarul.id

Leave a Reply

error: Content is protected !!