Teknologi

Sukses Bisnis E-commerce

553Views

Ketika sedang mengisi sebuah acara pelatihan menulis di luar kota, sebuah SMS masuk ke smartphone saya. Isi pesan singkat itu sederhana, “Barangnya sudah datang”.

Tanpa berpikir panjang saya langsung paham bahwa barang yang dimaksud adalah sepatu. Ya, beberapa hari lalu istri saya memesan sepatu untuk keperluan kerja dan hari ini pesanan itu sudah datang. Saya yakin tentu ada kegembiraan di situ,  sebab selain memang membutuhkan sepatu istri saya itu memang sejak dua tiga tahun belakangan terbiasa berbelanja online.

Tapi dalam kesempatan ini saya tidak akan membahas soal ‘kebiasaan’ dan barang yang datang.  Toh, gaya atau prilaku konsumen dengan kehadiran teknologi semakin berubah atau baru. Berbelanja online sekarang bukan lagi hal yang aneh.

Saya sekadar membagi pengalaman pribadi ketika menggunakan salah satu startup baru di bidang e-commerce di tanah air. Jika mengikuti konten blog ini, saya sudah membahas tentangnya. Tidak lain startup itu adalah KUDO atau kios untuk dagang online.

Mengapa saya harus membahasnya? Karena sebagai pengamat, akademisi, sekaligus peneliti gaya hidup digital saya melihat ada yang menarik soal e-commerce di Indonesia. Baik itu dari aspek pedagangnya maupun pembelinya.  KUDO hanyalah salah satu startup yang saya ambil contoh dalam kasus ini.

Dalam laporan Majalah Marketing Edisi II/XV/November 2015 disebutkan bahwa keberhasilan sebuah e-commerce adalah terintegrasinya bisnis dan IT dan sebaliknya kegagalan dari e-commerce itu juga karena tiadanya integrasi antara bisnis dan IT.

Marketing-2

Faktor integrasi bisnis dan IT ini sangatlah penting. Sebab, e-commerce tidak melulu soal bagaimana faktor teknologi mengkonvergensi toko atau menghubungkan penjual dan pembeli secara online saja. Meski IT memiliki faktor kunci dan penting dalan perdagangan digital, namun aspek bisnis harus dipikirkan juga.

Setidaknya dalam catatan saya, ada empat faktor yang seringkali menjadi kendala dalam bisnis perdagangan digital tersebut. Pertama, soal database. Sebuah situs perdagangan online yang baik pasti memiliki database yang secara teknologi menghubungkan pedagang (supplier) dengan konsumen secara mudah dan tidak rumit. Pelanggan, termasuk pedagang, harus mudah mengakses setiap barang atau jasa yang ditawarkan dalam situs atau aplikasi yang terinstal di smartphone. Sebuah riset yang pernah saya ikuti menunjukkan bahwa 10 detik pertama konten yang diakses (misalnya video di Youtube) tidak terbuka, maka pengguna akan beralih ke konten yang lain.

Kedua, visual dalam landing page atau laman haruslah memuat informasi yang jelas, terperinci, dan memiliki kategorisasi yang sederhana. Karena semakin sederhana sebuah kategori akan membuat konsumen mudah mencari barang yang diinginkan. Meski teknologi telah semakin canggih dengan bahasa pemograman yang bisa mencari konten berdasarkan kata kunci, namun dukungan informasi yang lengkap sebuah barang tentu sangat dibutuhkan.

Ketiga, pemesanan atau ordering  merupakan persoalan yang seringkali membuat konsumen memutuskan untuk tidak mau melakukan transaksi. Beberapa kali saya berpengalaman membeli sebuah produk, tetapi ketika sampai kepembayaran saya harus melalui urutan dan prosedur yang rumit. Tak jarang pula saya diminta untuk mengisi form yang memuat informasi yang sangat pribadi.

Keempat, sebagian masyarakat bahkan dalam skala yang besar masih belum terbiasa bertransaksi membeli barang secara online. Ini dikarenakan faktor kepercayaan. Bagi mereka yang pernah membeli, pertanyaan yang muncul adalah apakah data-data yang sudah diunggah akan dipakai untuk kepentingan yang lain? Bagi mereka yang baru mau membeli secara online, apakah uang yang ditransfer akan sampai? Apakah barangnya akan dikirim? Jika ada masalah, misalnya barang yang rusak atau transaksi yang gagal, kepada siapa complaint ini ditujukan?

ECOMMERCE-1

Ketika Kelas Blogger mengadakan sesi sharing pengetahuan di Kudoples, sebutan untuk kantor KUDO di bilangan Radio dalam, pada Minggu (15/11/2015) lalu COO KUDO Agung Nugroho sempat menjelaskan apa yang ingin dicapai KUDO dalam perdagangan online ini.

Menurutnya, KUDO menciptakan peluang usaha digital yang bisa dilakukan oleh siapa saja baik yang sudah terbiasa dengan internet maupun mereka yang akses internetnya terbatas. Banyaknya perdagangan digital yang hadir di internet ternyata harus diakui sebagai peluang usaha bagi siapa saja.

“KUDO hadir dan memiliki impian untuk menciptakan jutaan digital entrepreuneur di Indonesia,” kata lulusan gelar MBA dari Haas Barkeley School of Business ini, “dan sistem atau model yang dipakai oleh KUDO adalah mendekatkan pelanggan dengan produsen melalui agen-agen.”

Model ini adalah bentuk dari edukasi kepada masyarakat tentang sistem belanja online. Karena tidak bisa dipungkiri oleh Agung sendiri bahwa masih banyak ketakutan-ketakutan masyarakat yang ingin berbelanja secara online. Nah, KUDO melalui agen-agennya akan memberikan rasa kenyamanan bertransaksi kepada konsumen.

Interaksi agen dan konsumen  memakai pola membawa toko usaha digital ke tangan konsumen. Seorang agen, istilah untuk menyebut pemasar di KUDO, akan membawa tablet dan di tablet itulah konsumen akan memilih barang. Kemudian, barang yang dipilih akan dibayar oleh agen itu sendiri kemudian pihak konsumen melakukan pembayaran kepada agen.

Sistem ini, bagi saya, setidaknya memberikan kepercayaan kepada konsumen bahwa uang mereka dibayarkan kepada orang (agen) yang memang mereka kenal. Selain, jelas uang diterima siapa, juga jelas kepada siapa keluhan akan disampaikan.

Kudo-infografis

Juga, KUDO seperti memberikan kesempatan kepada mereka yang belum memiliki akses internet untuk mendapatkan barang yang jumlahnya banyak. Menurut Agung, sampai saat ini sudah ada dua jutaan barang yang ada di database KUDO dan juga puluhan brand ternama yang sudah bekerjasama.

Dengan tablet KUDO, konsumen tidak perlu lagi membuka internet di PC atau telepon genggamnya. Tidak perlu khawatir kehabisan kuota karena paket data kartu provider-nya yang habis. Tablet KUDO bisa secara bebas dipergunakan untuk melihat dan memilih barang yang ingin dibeli.

“Ini memang KUDO menghadirkan kios dagang online bagi masyarakat,” ujar Agung di depan para blogger waktu itu.

Langkah atau inovasi selanjutnya adalah masyarakat tidak hanya dijadikan sebagai konsumen belaka. Konsumen  bisa bergabung dengan KUDO dan menjadi agen, dipinjamkan tablet, dan dapat berjualan. Hanya dengan modal Rp500 ribu, dan uang itu menjadi deposit, siapapun bisa memiliki kios dagang online dan bisa berjualan.

“KUDO ingin menciptakan jutaan wirausaha digital di Indonesia,” kata Agung kembali menagaskan.

Inilah yang serung saya sebut sebagai prosumer yakni produser dan konsumer sekaligus. Dan inilah sebenarnya bagi saya,  adalah salah satu model keberhasilan perdagangan online sekaligus sebuah inovasi baru.

Kang Arul
the authorKang Arul
Dosen, jurnalis, dan penulis. Saat ini selain menjalani profesi sebagai dosen di berbagai perguruan tinggi, ia juga merupakan konsultan untuk konten digital di berbagai perusahaan, lembaga/kementerian, maupun perorangan. Profil lengkapnya sila klik http://www.kangarul.id

11 Comments

Leave a Reply

error: Konten ini terproteksi untuk dikopi