Hiburan

Rumah ke-13

337Views

Berbicara tentang Gang Buntu 13, nama gang ini sudah terkenal di seantero Kalimalang, Cawang dan sekitar Jakarta Timur. Apalagi gang ini pernah jadi lokasi suting sinetron film AADC alias Ada Apa Dengan Comberan, semakin santerlah kesohorannya.

Tapi sebenarnya nama Gang Buntu 13 pernah mau dirubah menjadi Jalan Perkutut, persis seperti nama jalan lainnya yang akan diganti. Loh kok bisa tetap bertahan? Itu karena usaha dan pengaruh babehnya Zae. Dalam rapat kelurahan, Haji Sapei yang juga Ketua RT 007 dan merangkap RW 0007 itu meminta perlakuan khusus untuk nama jalannya.

“Pokoknye aye minta nama jalan di rumah aye dilaenin. Aye minta otonomi khusus,” kata Haji Sapei di sela-sela rapat penentuan nama jalan di balai pertemuan Kelurahan Cipinang Besar.

“Nggak bisa begitu, Beh. Biar kelihatan rapi dan teratur nama jalan kita harus sama. Hasil musyawarah dan mufakat para Ketua RW juga menyimpulkan bahwa nama jalan itu akan diganti dengan nama-nama burung,” sela Aep Epulloh, salah seorang Ketua RT di kelurahan Cipinang Besar.

“Betul itu, Pak! Lagi pula perubahan nama jalan itu untuk menyambut tim penilai dari walikota yang akan memilih kelurahan mana  yang paling baik penataannya. Kalau ada yang beda sendiri kan jadi tidak enak dilihatnya,” timpal Ketua RT lainnya.

“Lagi pula nama Gang Buntu 13 itu tidak-“ belum sempat kalimat itu selesai sebuah suara menggelegar.

Bugg!!

Ternyata tangan Haji Sapei yang menggebrak meja dengan kuat.

Kontan semua mata memandang ke arah Haji Sapei. Kemarahan babehnya Zae itu sudah meluap-luap kayak air direbus. Satu kakinya naik ke atas bangku, sementara tangan kanan mengusap-ngusap kumisnya yang tebal.

“Aye kagak mau tau! Yang penting aye minta nama jalan di rumah aye jangan diganti!” Mata Haji Sapei nyalang menatap satu-persatu peserta rapat yang pada mengkeret. “Kalau ada yang ngebantah…” Haji Sapei menyibak jasnya, menonjolkan gagang golok yang terselip di pinggang.

Akhirnya semua peserta rapat terpaksa setuju dengan usulan, eh ancaman, Haji Sapei. Sejak saat itulah nama jalan ini tetap Gang Buntu 13 dan tidak jadi berubah menjadi Jalan Perkutut.

Akan tetapi keberadaan penghuni Gang Buntu 13 itu sendiri kurang lengkap. Sebab, 13 rumah yang ada belum terisi semuanya. Sejak penghuni rumah bernomor 13 mengikuti program transmigrasi pemerintah ke pulau Nusa Kambangan, rumah bercat putih dan terletak di ujung gang itupun tampak sepi.

Haji Sapei, si pemilik rumah, pernah mengiklankan rumah itu di koran-koran.  Sayangnya iklan itu tidak ditanggapi siapapun, mungkin karena terletak di Gang Buntu 13 dan bernomor 13 sehingga banyak yang menyangka kalau rumah itu pembawa sial. Maka jadilah selama satu setengah tahun rumah ke-13 itu kosong melompong.

–oo0oo–

Sore itu Ipal Chaniago pulang lebih awal dari biasa. Kepalanya terasa berat, sehingga remaja yang saat ini duduk di kelas tiga SMA inipun meminta izin untuk pulang lebih awal dari toko kain Palris Jaya milik bapaknya. Ia memang membantu usaha sang bapak sepulang dari sekolah.

Tepat pukul empat sore Ipal sampai di rumahnya. Rumah bernomor 8. Karena udara cukup panas dan badannya teramat letih, dia pun ngaso dulu di bangku depan rumahnya itu. Dan baru saja tak sampai lima menit ia duku, tiba-tiba Dudung lewat. Mahasiswa berkacamata silinder 5 itu sedang membawa kotak kardus.

“Dung, hendak kemana awak? Bukannya rumah awak sudah terlewat?” tanya Ipal penasaran.

Dudung tidak menjawab. Dia hanya senyam-senyum saja.

“Dung!” teriak Ipal, pemuda dari ranah Minang itu menyangka kalau Dudung tidak mendengar pertanyaannya tadi. Maklumlah yang namanya Dudung orangnya rada-rada budeg dan bloon dikit. Tapi siapa sangka anak itu bisa masuk Fakultas Kedokteran. Di Universitas Indonesia lagi.

Dudung tetaplah Dudung Suradung. Walaupun sudah kering tenggorokan Ipal berteriak, dia tetap saja melangkah ringan tak pedulian.

Karena penasaran Ipal pun lari ke jalanan. Di sana  ia melihat tubuh Dudung menghilang ke dalam rumah  nomor 13. Apa iya rumah itu sudah berpenghuni? Ipal membatin.

“Mbak Tari, memangnya rumah ke-13 itu sudah ada yang mengontrak?” tanya Ipal saat melihat Mbak Lestari sedang menyapu di halaman rumahnya. Rumah mereka saling berhadap-hadapan.

Dari belakang pagar kepala Mbak Lestari memandang sebentar ke arah rumah  nomor 13, lalu katanya, “Oo…rupanya jadi juga pindah hari ini, tak kirain baru besok.”

“Jadi sudah ada yang mengontrak?” tanya Ipal lagi.

“Kata Bu Haji sih iya,” jawab Mbak Lestari. Bu Haji yang dimaksud itu adalah enyaknya Zae. “Eh, kamu ndak bantu-bantu warga baru toh, Pal?”

Ipal segera menggeleng, “Sedang tak enak badan, Mbak,” kata Ipal beralasan.

Tiba-tiba, “Permisi,” seorang wanita berjilbab menyapa dari belakang Ipal.

Tahu kalau tubuhnya menghalangi jalan, Ipal pun segera menggeser. Badannya berputar, dan saat matanya menatap pemilik suara itu hatinya langsung terbang ke alam baka, eh, maksudnya ke langit yang ketujuh.

“Permisi, Bang, Mbak…” kata gadis berjilbab itu.

“Ini toh penghuni baru Gang Buntu 13?” Mbak Lestari langsung menghampiri dan menyalami penghuni baru itu. “Nggak mampir dulu, Jeng?” tawarnya.

“Terima kasih, Mbak. Masih banyak barang yang belum dimasukkan ke dalam rumah. Nanti kalau sudah selesai saya akan main ke rumah Mbak,” jawab gadis berjilbab itu lembut. “Mari Mbak, saya duluan,” pamitnya.

“Kalau perlu apa-apa bilang saja, ya!” ujar Lestari.

“Insya Allah, Mbak. Permisi, Bang.”

Ipal yang dipermisiin masih terpaku di tempat. Matanya masih jelalatan memandang ke arah gadis berjilbab itu. Bahkan sampai sebuah tragedi akan menimpanya pun Ipal masih termangu. Dan, jduuug!! Ujung meja makan mendarat telak di belakang kepalanya.

“Aduh, maaf, Bang, nggak sengaja,” kata seorang laki-laki yang membawa meja makan dibantu oleh temannya.

Ipal tidak marah. Sebaliknya dia hanya senyum-senyum saja. Bahkan saat benjol di kepalanya membesar, senyum itu tetap mengembang. Oh, panah dewi asmara telah mengujam hatiku, bisik nakal di hati Ipal.

Malamnya Ipal melaporkan soal penghuni baru itu pada anak-anak yang nongkrong di depan Gang Buntu 13.  Acara nogkrong di muka gang itu sudah menjadi semacam budaya yang dilakukan anak-anak Gang Buntu 13. Yang membedakan dengan gang lain adalah, jika di gang lain  jumlah anggotanya fluktuatif, alias naik turun, maka di gang ini jumlahnya tetap 7 sekawan. Ada Zae alias Zaenal bin Haji Sapei, Benny Siregar, Asong Chow, Sokat da Costa, Dudung Suradung serta  Arlen Gibran, dan tentu saja Ipal Chaniago, sang pelapor.

“Amboi… kamek bana wanita itu, cantik sekali,” puji Ipal saat bercerita tentang gadis berjilbab yang tadi siang dilihatnya itu. Ipal memperkirakan umurnya sekitar 20 tahunan.

“Kamu beneran nggak tahu siapa penghuni ke-13 itu, Zae?” tanya Sokat sang wartawan kepada Zae.

Yang ditanya menggeleng. “Gue kagak tau. Itu sih urusan Babeh gue,” katanya.

“Bah! Macam mana pula kau ini,  masak kau tak dapat bocorannya?” desak Benny lagi.

“Aih, emangnya ujian sekolahan pake bocoran segala,” balas Zae.

Tiba-tiba sebuah sepeda motor berhenti di depan Gang Buntu 13. Sang pengendara turun, mematikan nyala sepeda motor dan mendorongnya memasuki gang itu. “Maaf, Abang-abang, saya numpang lewat,” sapanya ramah.

Kepala 7 sekawan itu mengangguk serentak, tapi di wajah mereka masih menyimpan kebingungan. Sebab, mereka sama sekali tidak mengenal si pengendara motor itu. Apa kepentingannya masuk ke jalan buntu itu? Mau bertamu? Tapi rumah yang mana? Jangan-jangan malah pencuri motor?

Karena penasaran yang tak tertuntaskan, mereka pun mengutus Dudung sebagai mata-mata. Selain wajahnya yang culun dan lucu, anak itu nggak akan ketahuan dicurigai sebagai mata-mata. Sebab, mata kiri dan kanan di balik kacamatanya itu nggak kompak, alias juling.

Lima menit kemudian Dudung Suradung datang. Menyampaikan kabar duka kepada anak-anak Gang Buntu 13, terutama Ipal. Rupanya si pengendara motor itu datang bertamu di rumah  nomor 13.

Jelas hal itu membuat Ipal tersulut harga dirinya. Dia sudah memproklamirkan ke anak-anak kalau dirinya sedang falling in love sama gadis berjilbab itu.

Sebagai teman, Zae hapal sekali perubahan yang terjadi di wajah Ipal. Rasa solidernya muncul juga. “Wah, dapet saingan lu, Pal,” Zae mulai memanasi Ipal.

“Mana tidak mengajukan permohonan izin bertau lagi sama kita,” tambah Arlen Gibran yang hobinya main bola itu.

“Kalo owe sih, sudah owe sampelin aja tu orang,” timpal Asong.

Bara di dada Ipal semakin menjadi. Dia pun ingin membalas dendam, setidaknya ingin menunjukkan kepada si pengendara motor agar dia jangan bermain api di Gang Buntu 13. Di luar kepentingan pribadinya, Ipal merasa bahwa sebagai bagian dari penghuni gang maka ia berkewajiban menjaga tata tertib di Gang Buntu 13. Siapapun tanpa identitas yang jelas bisa tidak ada yang boleh sembarangan melanggar etika di sini.

Mereka pun akhirnya bersepakat untuk menggrebek tamu tak diundang itu. Tapi karena dasarnya sudah sakit hati, maka mereka pun pulang ke rumah masing-masing dulu untuk mengambil persenjataan. “Sebagai alat bela diri,” kata Zae sebelum berpisah.

Sesaat kemudian rumah Ipal sudah dipenuhi dengan 7 sekawan Gang Buntu 13. Ada Asong yang membawa samurai sepanjang satu setengah meter, Zae yang membawa golok babehnya, Sokat dengan kamera dan buku notesnya, Dudung bersama stetoskop dan alat suntik, Arlen dengan sepatu bolanya, sedangkan Benny dengan gitar bututnya. Sementara Ipal? Pemuda Minang itu membawa selusin piring warna putih yang disusun rapih di tangannya.

“Cabut, Coy!” ajak Zae.

Di bawah sinar bulan purnama gerombolan Gang Buntu 13 terlihat sungguh menyeramkan. Bahkan kalau saja ini film kartun mungkin di kepala mereka sudah ada asap yang membubung tinggi.

Lima meter mendekati rumah sasaran, senjata di tangan masing-masing mulai diacungkan.

Satu, dua, tiga, “Serbuuu…” seru Zae mengomandoi.

Gerombolan itu pun  berlari ke arah rumah  nomor 13. Akan tetapi baru saja semeter berada di depan pagar langkah mereka terhenti. Di sana mata 7 sekawan itu melihat si pengendara motor sedang berbincang-bincang akrab dengan Haji Sapei.

“Loh, ada tamu rupanya. Mari masuk,” tawar lelaki pengendara motor itu saat melihat Zae dan kawan-kawan.

“Nah, ini anak-anak muda Gang Buntu 13, Pak Surya. Ayo, anak-anak, kenalin penghuni baru rumah ke-13 ini, namanya Pak Suryatna,” Haji Sapei memperkenalkan lelaki pengendara motor itu.

“Panggil saya Surya saja, Beh,” sela lelaki itu.

“Biar lebih sopan. Pak Surya ini kan guru ngaji,” kata Haji Sapei beralasan.

“Kalau begitu panggil saja Kang Surya,” kata lelaki itu sambil menyalami Dudung Suradung di barisan depan.

“Nyang rambutnye panjang entu anak Babeh,” kata Haji Sapei bangga sambil menunjuk ke arah Zae.

“Oh, ini yang katanya calon Indonesian Idol?” tanya Kang Surya  sambil menyalami Zae.

“Pak Surya ini warga baru kite. Die penyuluh agama di KUA. Baru menikah enam bulan lalu,” jelas Haji Sapei.

Seorang wanita berjilbab muncul dari dalam rumah, “Nah, entu bininye,” sambung Haji Sapei lagi. “Bentar lagi jadi ibu.”

“Baru jalan empat bulan kok, Beh,” sahut Surya.

Anak-anak melihat ke arah wanita berjilbab itu. Mereka mengangguk hormat. Rupanya gadis yang dibicarakan Ipal itu adalah istrinya Kang Surya. Kontan saja mata anak-anak memandang tajam ke arah Ipal. Ipal sendiri mesem-mesem.

Sesaat kemudian, “Ngapain lu-lu bertamu pake bawa peralatan segala?” Haji Sapei keheranan melihat barang-barang di tangan anak-anak. “Elu juga, Zae. Ngapain lu bawa golok pusaka Babeh?” tanyanya kepada Zae. Zae cuma bisa mingkem. Dan itu terus dilakukannya saat babehnya masih saja mengomel, bahkan sesampainya mereka di rumah.

Sementara malam itu Ipal tidak bisa tertidur. Dia nginap di rumah Benny yang sepanjang malam selalu melantunkan lagu-lagu Iwan Fals. “Kenyataan itu pahit… kenyataan sangatlah pahit.”

“Makanya Pal, kalau mau melakukan sesuatu kau diperiksa dulu kebenarannya. Ini belum apa-apa sudah main ke depan aja, macam bis kota,” ingat Benny malam itu.

Ipal hanya mengusap wajahnya. Untung saja tidak terjadi hal yang bukan-bukan, seperti menghajar Kang Surya misalnya.

“Sudahlah, lebih baik kita teruskan lagi belajarnya. Ujian udah dekat,” Benny mulai memetik senar gitar. “Kan kau mau belajar gitar bukan?”

Dan sepanjang malam di saat-saat ia belajar gitar,  Ipal berpikir kalau dirinya harus lebih berhati-hati dalam mengambil tindakan. Bahkan remaja tanggung dari ranah Minang itu berjanji akan lebih menjaga hatinya.

–oo0oo–

Kang Arul
the authorKang Arul
Dosen, jurnalis, dan penulis. Saat ini selain menjalani profesi sebagai dosen di berbagai perguruan tinggi, ia juga merupakan konsultan untuk konten digital di berbagai perusahaan, lembaga/kementerian, maupun perorangan. Profil lengkapnya sila klik http://www.kangarul.id

2 Comments

Leave a Reply

error: Content is protected !!