Catatan

Penyakit Tersembunyi Akademisi yang Perlu Diketahui

42Views

Namanya sindrom akademisi..

“Pernahkah sebagai akademisi merasakan muaknya melihat buku, jurnal, bahkan hal-hal yang berbau referensi?”

Saya lupa, kapan tepatnya, tetapi di bulan Maret kemarin dan saat sedang kenceng-kencengnya WFH alias kerja di rumah saya mendatangi rumah sahabat saya di Cibubur. Dia seorang dosen di salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta Timur dan selalu bangga menyebut dirinya “dosen 40 jam”.

Kebetulan saat itu saya baru saja menerbitkan buku dan memang dari awal punya niat mau ngasih sahabat saya itu. Sekaligus memberikan selamat kepada istri “dosen 40 jam” itu yang baru saja menyelesaikan jenjang pendidikan S3 bidang Ilmu Komunikasi.

Penyakit akademisi

“Bosen, gue!” Begitu komentarnya saat ditanya soal kerja di rumah itu. Saya paham banget soal ini.Sahabat saya itu emang pejalan dan suka kemana-mana. Bahkan gara-gara suka jalan, dia pernah dapat SP-1 dari kantornya. Eh, ups…

Tapi bukan soal bosan dan betenya di rumah yang mau saya bahas. Pas sedang mengobrol asyik di teras rumah, istri sahabat saya itu ikut nimbrung.

Saya pun langsung memberi selamat, “Selamat Bu Doktor,” kata saya ikutan bangga, ” gimana disertasinya?” tanya saya kemudian.

“Aih, boro-boro diliat, Kang, nyentuh laptop aja gak minat.”

Saya, kok, mendengar kalimat ini seperti terhempas pada akhir 2012 dan di awal 2013. Saat baru saja menyelesaikan ujian tertutup disertasi dan ujian terbuka di Kajian Budaya dan Media Universitas Gadjah Mada (UGM).

Sumpah… ada rasa muak dan kebosanan yang luar biasa menyentuh hal-hal yang berbau kerjaan akademis. Ogah membaca buku selama berbulan-bulan. Males ngeliat jurnal-jurnal terbaru. Bahkan bisa langsung migren saat membuka disertasi lama.

Saya berpikir, kok, ini yang dikatakan sebagai sindrom akademisi; atau boleh lah ditambah kata ‘sebagai salah satu’.

Bukan apa-apa, ketika harus berkutat dengan hal-hal referensi bertahun-tahun untuk menyelesaikan disertasi, membaca lebih dari 50 buku, maupun 50 jurnal dengan bahasa tidak hanya nasional tetapi juga bahasa asing, membuat beragam kesimpulan dari puluhan penelitian, rasanya wajar kalau muncul serangan “muak” terhadap referensi.

Saya cukup lama harus melewatinya. Tidak hanya satu dua semester, seingat saya sampai dua tahun. Betul-betul tidak mau dan ada sindrom saat harus membuka laptop dan berkutat kembali dengan referensi demi referensi.

Pun ketika saya habis menyelesaikan sebuah buku atau jurnal. Sehabis selesai, saya langsung kaya diserang rasa muak menyentuh buku.

Misalnya, nih, ya saat menyelesaikan buku Metode Penelitian Jurnalisme (Maret, 2020) saya harus membaca sekitar 203 buku atau jurnal untuk menyelesaikan buku tersebut. Awalnya buku akan terbit sekitar 500-halaman, tetapi jadinya sekitar 400-an halaman. Itu pun saya harus memaksa diri berhenti menulis kalau tidak bisa tembus lagi 700 halaman.

Sumpah, sejak selesai buku ini pada pertengahan 2019 sampai terbit pada awal Maret 2020, saya enggan membaca buku; jangankan membaca, nyentuh aja kayak bergetar tangan. Mungkin dibilang males… bebaslah… tapi sumpah gak ada rasa ingin baca buku atau jurnal apapun.

Apakah saya dilanda kebosanan menjadi akademisi alias dosen Entahlah… yang pasti sejak lulus dari tahun 2013 itu saya menjalani status baru sebagai dosen jalan-jalan. Hampir semua propinsi saya jejaki dan saya punya kostan baru, yaitu di bandara. Hahahha… pernah dalam 10 hari saya nginep loh di bandara karena sampai alias landing malam dan subuhnya harus take off lagi.

Penyakit tersembunyi akademisi

Balik lagi soal sindrom akademisi.

Rasanya wajarlah buat mereka yang baru lulus S3 merasakan sindrom akademisi ini. Kebayang betapa susahnya mencari referensi, melakukan resume, menulis dan berpasrah pada proses bimbingan oleh promotor yang kadang sering berbeda pendapat dengan co-promotor, juga harus dipertahankan dalam ujian.

Rasanya wajar kalau proses di atas dilalui dengan stress, depresi, dan penyakit fisik lainnya. Saya, alhamdulillah, sudah 3 kali masuk rumah sakit saat menyelesaikan disertasi. Bahkan saat Senin harus ujian terbuka, saya hari Minggunya masih terbaring dan diinfus di RS Sardjito.

Makanya, gak kebayang apa yang dialami oleh dosen-dosen yang kerja di rumah saat ini. Tidak hanya harus kembali berkutat pada persoalan referensi, membuat powerpoint, membaca tugas-tugas atau jawaban setiap mahasiswa setiap pertemuan, dan ditambah… ditambah…. ditambah dengan soal administratif maupun laporan ini-itu.

Saya gak tahu orang lain, tapi rasanya saya terkena sindrom akademisi saat ini.

Ada saran?

Sumber gambar: www.freepik.com

Kang Arul
the authorKang Arul
Dosen, jurnalis, dan penulis. Saat ini selain menjalani profesi sebagai dosen di berbagai perguruan tinggi, ia juga merupakan konsultan untuk konten digital di berbagai perusahaan, lembaga/kementerian, maupun perorangan. Profil lengkapnya sila klik http://www.kangarul.id

1 Comment

Leave a Reply

error: Content is protected !!