Find Us on Socials

Find Us on Facebook

Subscribe to Our Channel

Apa Itu

Merasa FoMO? Jawab Pertanyaan Ini

978Views

Mungkin apa yang saya ceritakan ini sudah menjadi semacam street joke. Sebuah kisah atau kelucuan yang sudah diketahui oleh orang ramai dan bisa jadi kisah itu malah sampai saat ini masih terjadi dan ada di sekitar kita.

Ini kisah soal orang bertetangga. Pada suatu hari seorang tetangga membeli televisi 40 inci dan barang elektronik itu dibawa ke rumah pada sore hari di mana banyak ibu-ibu yang kumpul di depan rumahnya.

“Televisi baru, Mbak?” tanya seorang ibu muda.

“Wah, tivinya kok tipis ya?” tanya ibu lainnya yang sudah memiliki tiga orang anak.

“Beli dimana, Jeng?” tanya ibu lainnya yang rambutnya terlihat sudah mulai ada helai putihnya.

Sang tetangga tersenyum sipu mendengar rentetan pertanyaan ibu-ibu kompleks itu, lalu katanya, “Iya Bu, ini flat merk Samsul belinya di mall Ikeoh. Lagi diskon loh Bu, awal tahun, waduh murah banget dari harga 10 jeti diskon satu persen jadi sembilanan jeti. Murah kan?”

Seluruh ibu-ibu langsung saling pandang. “Ih, iya murah banget. Ada diskon lagi,” begitu kira-kira ungkapan mereka.

Ternyata ungkapan itu tidak berhenti sampai di situ saja. Setelah kembali ke rumah masing-masing seluruh ibu-ibu tadi langsung merasa ada yang kurang dengan televisi di rumah mereka. Dan muncullah keinginan untuk memiliki televisi yang serupa dengan si ibu tadi, kalau bisa televisinya lebih bagus.

“Ayo lah, Pak, tivi kita sudah delapan bulan loh, sudah saatnya harus diganti.”

“Pak e, tivi kita kok gede ya, mbok diganti dengan yang lebih kurusan kayak ibu anu.”

“Mas, kayaknya dede bayi di perut ini ngidam tivi baru, deh.”

Maka… tak berapa lama kemudian di ruang tamu ibu-ibu tadi terdapatlah sebuah tivi yang baru.

Cerita ini, walau sekarang diceritakan dengan versi yang modifikasi abis, sebenarnya bisa mewakili apa yang dimaksud dengan FoMO atau sindrom fear of missing out itu. Salah satu problem kejiwaan yang membuat orang harus mengikuti orang lain dan selalu update dengan apa yang ada di sekitar.

 

Karikatur ini menjadi ilustrasi di buku saya berjudul Media Sosial Perspektif Komunikasi, Budaya, dan Sosioteknologi tahun 2014 dipublikasikan dengan izin pembuatnya (sumber foto www.sijuki.com)

Lama-lama faktor kejiwaan itu menyebabkan adiksi atau ketergantungan yang luar biasa bagi pengidapnya. Tidak sekadar ketergantungan terhadap telepon genggam dan merasa depresi ketika berjauhan dari perangkat canggih itu, melainkan juga menjadi rutinitas keseharian dan keterasingan dari orang lain.

Juga, seperti ada kebutuhan untuk eksistensi diri dan mendapat pujian dari pengguna media sosial lainnya. Dalam kasus blogger, hanya sebagai contoh saja, melakukan pamer-pamer yang terlalu sering dengan harapan ada penghargaan (pujian) yang didapat dari follower-nya; bukan teman-teman realnya.

Merasa FoMO atau mengidap tidak terfokus pada narsis atau pamer semata. Hal terakhir ini merupakan manifestasi dari pengidap FoMO yang selalui ini menunjukkan tidak sekadar sang blogger berprestasi atau mendapat berkah ngeblog saja, melainkan ada keinginan untuk eksistensinya diakui. Jadi, fokusnya bukan soal pamer atau menujukkan ini itu lebih pada kondisi mental yang ketakutan kalau tidak melakukan pamer dan turunannya. (Catat ya, jangan gagal fokus dan terlalu concern ke satu hestek doang!)

Persoalan FoMO sebagai kondisi mental dan gejala-gejalanya sudah saya bahas di postingan saya sebelumnya: 1) FoMO, Penyakit Blogger yang Membahayakandan 2) FoMO Kenali Dulu GejalanyaΒ  nah untuk saat ini saya mencoba mengulas bagaimana mendeteksi dini melalui sebuah kuis atau pertanyaan.

kebiasaan-fomo

Pertanyaan atau quiz untuk mengukur FoMO ini dimunculkan oleh para peneliti dari University of California and University of Rochester di Amerika Serikat. Pertanyaan ini merupakan bagian dari riset yang hasil awalnya sudah dipublikasikan oleh Przybylski, A. K., Murayama, K., DeHaan, C. R., & Gladwell, V. (2013) melalui artikel berjudul Motivational, emotional, and behavioral correlates of fear of missing out dalam jurnal ilmiah Computers in Human Behavior, 29, 1841-1848.

Ada tiga jenis pertanyaan yang diajukan: pertama, waktu berinteraksi dengan media sosial; kedua, soal kebiasaan bersosial media sehari-hari; dan ketiga, jumlah media sosial yang diikuti.

Untuk pertanyaan pertama, ada lima pertanyaan yang terkait kebiasaan waktu dalam berinteraksi dengan media sosial. Pertanyaan itu diberi pengantar bagaimana interaksi dengan media sosial selama satu minggu belakangan ini. Juga, jawaban yang diberikan mulai dari tidak pernah, selama satu hari, sampai sering kali.

  • How often did you use social media when eating breakfast?
  • How often did you use social media in the 15 minutes after you wake up?
  • How often did you use social media when eating supper?
  • How often did you use social media when eating lunch?
  • How often did you use social media in the 15 minutes before you go to sleep?

Jika jawaban (jujur) kita di atas tiga hari atau bahkan setiap hari, maka ada kemungkinan masuk dalam gejala FoMO stadium sedang dan tinggi.

Pertanyaan kedua lebih pada melihat skala pengalaman lebih tepatnya perasaan diri terhadap berbagai situasi. Perasaan diri tersebut dibagi menjadi lima jawaban yang lebih dekat ke si pemberi jawaban mulai dari tidak sampai iya dalam kondisi ekstrim.

  • I fear my friends have more rewarding experiences than me.
  • When I have a good time it is important for me to share the details online (e.g. updating status).
  • I get worried when I find out my friends are having fun without me.
  • It bothers me when I miss an opportunity to meet up with friends.
  • When I miss out on a planned get-together it bothers me.
  • I fear others have more rewarding experiences than me.
  • It is important that I understand my friends “in jokes”.
  • When I go on vacation, I continue to keep tabs on what my friends are doing.
  • I get anxious when I don’t know what my friends are up to.
  • Sometimes, I wonder if I spend too much time keeping up with what is going on.

Jika jawaban lebih banyak condong ke sebelah kanan, maka sudah dipastikan kita masuk ke dalam FoMO.

Nah, untuk yang ketiga, pertanyaannya lebih simple alias ringan. Hanya disuruh menunjukkan berapa banyak media sosial yang kita ikuti.

Pertanyaan penting (apa malah gak penting ya?), berapa skala FoMO saya?

Saya gak berani menjawab hanya menunjukkan saja dengan gambar di bawah ini:

Test FoMO

Akut? Merah? FoMO ekstrim? Kayaknya ya iya. Dan iniΒ  sebagai pengingat bahwa sudah saatnya saya harus mulai menata diri dan menyesuaikan pola berinteraksi dengan media sosial termasuk pemakaian gawai. Mungkin terlihat sepeleh, tapi kadang sesuatu yang sepele itu malah berakibat fatal.

Kerikil

Masih merasa FoMO?

Buat yang mau ngisi kuis.. buruan aja buka situs http://www.ratemyfomo.com/

 

Kang Arul
the authorKang Arul
Dosen, jurnalis, dan penulis. Saat ini selain menjalani profesi sebagai dosen di berbagai perguruan tinggi, ia juga merupakan konsultan untuk konten digital di berbagai perusahaan, lembaga/kementerian, maupun perorangan. Profil lengkapnya sila klik http://www.kangarul.id

12 Comments

Leave a Reply

error: Konten ini terproteksi untuk dikopi