Catatan

Merasa Berhak dan Berhak Merasa

251Views

Ketika secara resmi telah menyelesaikan jenjang pendidikan doktoral di UGM, dengan melalui jalan panjang dan setidaknya 4-5 kali keluar-masuk rumahsakit, ada perasaan aneh dalam benak saya. Perasaan yang menunjukkan bahwa saya “merasa berhak” dalam bidang akademik.

Ya, selain saya merasa berhak mengampu mata kuliah sesuai dengan keahlian, saya merasa berhak untuk diakui keilmuan saya. Saya merasa berhak untuk mengeluarkan teori-teori sesuai fokus kajian dan fungsional kedosenan. Saya merasa berhak untuk menguji dan membimbing mahasiswa dari jenjang S1, S2 sampai S3.

Sayangnya tingkatan saya itu, di awal-awal setelah lulus, saya hanya terpaku pada merasa berhak itu. Akibatnya, karena merasa berhak dan seolah-olah memiliki otoritas keilmuan saya mulai memandang rendah orang lain, saya mulai ingin orang lain mengikuti pandangan-pandangan saya, saya mulai menganggap bahwa selain saya itu ilmunya masih selevel di bawah.

Tak jarang ini menggelincirkan perasaan saya bahwa ada perbedaan cara mengampu matakuliah antara jenjang sarjana dan magister. Akibatnya, sering saya meminta mahasiswa S1 untuk membuat makalah yang sama tarafnya dengan artikel ilmiah yang dibuat mahasiswa magister.

Juga, saya kadang ngomelnya luar biasa kepada mahasiswa kalau sedang bimbingan skripsi atau tesis. Pokoknya ini ya… pengetahuan mereka itu harus sejalan dengan pengetahuan saya sebagai dosen pembimbingnya.

Lama-lama saya sadar bahwa selama ini saya menempatkan “merasa” menjadi yang terdepan dibandingkan “berhak” itu sendiri. Pasalnya, yang namanya rasa itu sangat-sangat-sangat subyektif dan apalagi rasa itu bisa dimunculkan oleh si empunya rasa.

Saya bisa saja merasa berhak menjadi pejabat di kampus misalnya menjadi dekan. Saya merasa berhak menjadi menteri atau presiden sekaligus. Saya merasa itu akhirnya berubah dari yang lahir oleh tanggungjawab ke yang lahir dari kesombongan.

Kesombongan? Yup… kesombongan plus tinggi hati karena seolah-olah yang merasa berhak itu adalah dirinya dan orang lain tidak. Misalnya untuk hal-hal yang kecil, kita kerap mengomentari sebuah buku yang terbit dengan kata-kata “kok, tulisannya begini ya” atau “ah, kayak gini aja diterbitin” sementara yang memberi komentar satu buku pun tak kunjung terbit.

Contoh lain ketika ada lomba dan pemenang telah diumumkan, ada yang bilang “lah, masak dia yang menang, sih? Dia kan….” atau “ah, seharusnya saya yang menang.”

Tidak berhenti sampai di komentar saja. Merasa berhak itu kadang dibarengi dengan aura negatif. Aura negatif yang ditunjukkan dengan menjelek-jelekkan pihak lain, mengkritik capaian si pemenang, atau yang paling parah adalah kita tidak bisa tidur gara-gara memikirkan capaian orang. Istilahnya ‘gak nerima banget gue!’

berhak

Seiring dengan perjalanan waktu dan setelah bertahun-tahun saya terlibat dunia akademis, saya mulai sadar. Kesadaran yang menempa pikiran saya bahwa sebenarnya saya jangan “merasa berhak”, melainkan “berhak merasa”.

Karena berhak merasa itu didahului oleh hak yang melekat kepada diri. Misalnya saya yang telah menyelesaikan riset doktoral tentang media sosial dan media siber, maka di dunia akademik saya semestinya menggunakan hak itu untuk melakukan riset baru, menyebarkan ilmu sesuai dengan keahlian, dan berperan serta dalam melaksanakan tri dharma perguruan tinggi sesuai bidangnya.

Karena berhak merasa itu dibarengi dengan tanggung jawab dan ada ukurannya. Hak selalu dibarengi dengan kewajiban tentunya.

Sedangkan merasa berhak itu yang didahului oleh rasanya terlebih dahulu, baru kemudian faktor haknya. Sekali lagi, kalau sudah merasa itu didahulukan itu sangat subyektif dan tidak terlepas dari aura positif-negatif yang menyertainya.

Makanya, sejak beberapa tahun belakangan ini ketika surat ajuan pembimbing tugas akhir mahasiswa datang, saya selalu bertanya apakah saya merasa berhak atau berhak merasa mebimbing topik ini.

Karena dosen bisa merasa mampu membimbing semua mahasiswa dengan semua topik dan atau merasa mampu menguasai semua fokus riset mahasiswa. Tapi, apakah sikap itu benar adanya? Jangan-jangan ketika proses bimbingan skripsi berjalan, sang dosen mulai menyadari bahwa topik tersebut tidak sesuai dengan keahliannya. Lebih parah lagi jika sudah tahu tidak ahli di bidang tersebut, dosen malah memaksakan mahasiswa untuk mengikuti ke-merasa berhak-annya itu.

Merasa berhak? Ngeri broh….

Kang Arul
the authorKang Arul
Dosen, jurnalis, dan penulis. Saat ini selain menjalani profesi sebagai dosen di berbagai perguruan tinggi, ia juga merupakan konsultan untuk konten digital di berbagai perusahaan, lembaga/kementerian, maupun perorangan. Profil lengkapnya sila klik http://www.kangarul.id

15 Comments

Leave a Reply

error: Konten ini terproteksi untuk dikopi