Find Us on Socials

Find Us on Facebook

Subscribe to Our Channel

Catatan

Mencari Pendar Cahaya Pelangi #1

Yang tersisa dari kita hanyalah cahaya matahari yang sama. Kau dengan pendar cahaya pelangi sementara aku dengan cahaya warna merah saga.

9Views

Halo De, ada cerita apa hari ini?
Pagi ini entah mengapa Aa ingat kisah cahaya matahari yang pernah kausampaikan saat pendar pelanginya muncul di sisa-sisa hujan.
Waktu itu engkau berkata bahwa matahari selalu ada bahkan di saat hujan dan awan hitam yang memekat. Matahari selalu setia bercahaya di balik awan itu. Ia akan menunggu saat yang tepat untuk menyebarkan cahaya dan memberi sedikit keindahan warna-warni dari sisa-sisa rintik hujan.
Ingat tidak, De, saat itu engkau berdiri dan membiarkan sisa hujan itu membasahi wajahmu. Membiarkan airnya jatuh luruh. Kau tersenyum dan aku hanya melihatnya dalam diam.
Karena aku tahu kau pasti sedang menunggu pelangi itu muncul di atas sana. Setelah itu kau akan berlari, membiarkanku berteduh di bawah pohon. Tak peduli banyak genangan yang kau injak, kemudian merentangkan tangan, mendongakkan wajah, memejamkan mata, dan memutar tubuh beberapa kali.
Lalu, di penghujung bulan itu kau pun berteriak pelan ke arahku, “Lihat A, matahari dan pelangi. Indah bukan?”
De, aku hanya tersenyum setiap kaukatakan itu.
Mencoba memahami pelangi. Sampai detik ini pun aku masih berusaha menguraikannya.
Tahukah De, bahwa satu-satunya cahaya yang selama ini aku mengerti soal matahari hanyalah warna merah saga saja; warna yang hanya muncul saat matahari mulai tenggelam.
Ya, walaupun sehabis hujan itu yang kaulihat cahaya pelangi, tapi yang kulihat adalah cahaya merah saga.
Ade tentu tahu akan keindahan pelangi karena Ade melihat ke atas awan, selalunya melihat ke arah sana. Berulang kali Aa mencoba mengerti, tetapi cahaya yang terlihat sehabis hujan itu hanyalah warna merah saga.
Ya, itu karena, jujur, yang kulihat tidak ke awan, De. Aa hanya tak bisa mengalihkan pandangan ke arah wajahmu dan air sisa hujan yang membasahi. Karena aku tahu… sungguh… bahwa air hujan di wajah Ade itu telah bercampur dengan linangan air matamu.

Kang Arul
the authorKang Arul
Dosen, jurnalis, dan penulis. Saat ini selain menjalani profesi sebagai dosen di berbagai perguruan tinggi, ia juga merupakan konsultan untuk konten digital di berbagai perusahaan, lembaga/kementerian, maupun perorangan. Profil lengkapnya sila klik http://www.kangarul.id

Leave a Reply

error: Konten ini terproteksi untuk dikopi