Catatan

Media Sosial dan Budaya

1.09KViews

We are already experiencing the cultural effects of the digital revolution that is underway. (Mary Cross, 2011

S iapa yang tidak memiliki akun di social media (media sosial) ?

Pertanyaan ini rasanya menjadi pertanyaan yang biasa saja dalam obrolan keseharian. Hampir dipastikan bahwa siapapun yang memiliki handphone juga memiliki akun di Facebook, Twitter, Path dan sebagainya. Kondisi tersebut seperti kelaziman yang mengubah bagaimana cara berkomunikasi di era yang serba digital ini. Jika dulu perkenalan selalu diiringi dengan bertukar kartu nama, maka saat ini setiap kita yang bertemu orang baru cenderung untuk bertukar alamat akun atau membuat pertemanan di media sosial.

Mengutip istilah mediamorfosis, saya melihat evolusi yang terjadi dari penemuan di bidang teknologi maupun inovasi internet menyebabkan tidak hanya memunculkan media baru saja. Berbagai macam aspek kehidupan manusia seperti komunikasi maupun interaksi juga mengalami perubahan yang tidak pernah diduga sebelumnya. Dunia seolah-olah tidak ada lagi batasan dan tidak ada lagi kerahasiaan yang bisa ditutupi. Kita bisa mengetahui aktivitas orang lain melalui media sosial sementara kita tidak kenal dan pernah bertemu tatap muka (offline) dengan orang tersebut.

Media sosial bahkan juga menjadi senjata baru bagi banyak bidang. Kampanye politik pada pemilu lalu banyak juga melibatkan peran media sosial. Perusahan-perusahaan saat ini juga memberikan perhatian khusus untuk mengelola media sosial dan menjalin hubungan yang baik dengan pelanggan mereka secara online. Iklan menjadi berubah dari secara tradisional diproduksi oleh perusahaan dan tentu dengan biaya yang tidak sedikit menjadi partisipasi khalayak di media sosial.

Ini adalah sebuah tantangan sekaligus kenyataan yang tidak bisa dipungkiri. Kehadiran media sosial dan semakin berkembangnya jumlah pengguna dari hari ke hari memberikan fakta menarik betapa kekuatan internet bagi kehidupan termasuk di lingkungan perguruan tinggi sendiri.

S aya bisa mengatakan bahwa beberapa tahun belakangan ini banyak akademisi maupun peneliti yang mulai merambah internet untuk melihat fenomena-fenomena baru di sana. Berbagai seminar maupun diskusi-diskusi akademis juga kerap memasukkan tema internet terkait beberapa bidang seperti komunikasi, sosial, politik, pendidikan sampai pada agama. Namun, semua karya akademis itu lebih banyak berbicara tentang aspek dampak atau efek dari kehadiran internet dan media baru (new media) termasuk bagaimana komunikasi yang terjadi di dunia maya tersebut. Tidak banyak yang memberikan fokus pada aspek ontologis, epistemologis, sampai pada aksiologis dari kehadiran media baru yang ada di internet itu sendiri. Kehadiran buku ini menjadi jawaban dari kelangkaan referensi atau sumber akademis untuk mengisi kekosongan itu. Alan lainnya, bahwa teknologi internet termasuk media sosial sudah menjadi bagian yang sepertinya tidak bisa dipisahkan dari siapapun.

Dalam satu kesempatan mengampu matakuliah di kelas, saya pernah melalukan survei sederhana tentang perilaku mahasiswa dan ketergantungan mereka dengan teknologi serta perangkatnya. Salah satu jawaban yang saya dapat menunjukkan bahwa mahasiswa tidak dapat lepas dari perangkat teknologi seperti telepon genggam (handphone/smartphone) setidaknya dalam tiga hari. Bagi mereka, telepon genggam menjadi salah satu kebutuhan yang tidak lagi sekunder melainkan sudah masuk dalam kebutuan primer. Kebutuhan yang seolah-olah menjadi syarat keberadaan (eksistensi) dan menjadi pintu masuk alias portal menuju koneksitas bergaul di era saat ini. Jawaban lain yang saya dapatkan, sebagian mahasiswa yang lebih rela kembali ke rumah atau tepat kos hanya gara-gara telepon genggam mereka tertinggal dibanding buku catatan atau buku referensi kuliah yang tertinggal.

Fenomena di atas menunjukkan bahwa teknologi dan perangkat media yang ada saat ini telah benar-benar merasuki segala aspek kehidupan seseorang. Terlepas dari tujuan dan manfaat apa yang didapat dari perangkat tersebut, namun teknologi telah memberikan akses kepada seseorang untuk menjadi bagian dari masyarakat jejaring (network society) tanpa batasan-batasan demografis, budaya, sosial dan sebagainya. Jangan ditanya bagaimana teknologi canggih yang tertanam di telepon genggam itu apakah sudah dimaksimalkan kegunaannya atau belum oleh si empunya.

Juga, jangan ditanya berapa harga yang harus dikeluarkan untuk memiliki sebuah telepon genggam tersebut. Fungsi dan kegunaan pertama yang diperlukan dari perangkat itu hanya sekadar bisakah mengakses dan berada di dunia online dan bermain di media sosial (social media) saja seperti Facebook atau Twitter. Maka, saya tidak lagi heran  apabila bertemu dengan mahasiswa yang memiliki telepon genggam dengan harga mendekati Rp10 juta rupiah dan hanya digunakan untuk sekadar menulis status di Faceboook atau mengunggah foto diri (selfie) di Path.

Oleh karena itu, tak mengherankan apabila Mary Cross, seorang profesor dari Fairleigh Dickinson University, mengatakan bahwa “we are already experiencing the cultural effects of the digital revolution that is underway” (Cross, 2011:23).  Disadari ataupun tidak, (r)evolusi dari teknologi dan media baru memberikan dampak yang bisa dikatakan mengepung segala aspek kehidupan manusia. Selain itu, kehadiran media baru memberikan dampak banjirnya informasi atau apa yang disebut Cross sebagai “too much information”. Mengutip penelitian di tahun 2009 yang dilakukan oleh Universitas California-San Diego, ditemukan fakta bahwa dalam sehari informasi yang menjadi ‘bahan konsumsi’ rata-rata warga Amerika berjumlah 34 gigabytes atau setara dengan 100 ribu kata. Informasi itu akhirnya menjelma menjadi bahan yang dikapitalisasi dan uniknya lagi informasi bisa dikreasikan oleh siapa saja yang terhubung dengan internet.

Ada banyak contoh sederhana dalam konteks ini, misalnya dalam mengakses berita terbaru yang terjadi di sekitar kita. Selama ini dominasi media tradisional seperti televisi, radio, sampai media cetak dianggap satu-satunya saluran utama dan terpercaya dalam menyampaikan informasi. Kenyataan kekinian membuktikan bahwa media sosial juga bisa menjadi medium dalam menyebarkan informasi sebuah peristiwa yang terjadi di lapangan bahkan baru terjadi beberapa detik lalu. Kekuatan ini memberikan perubahan perilaku khalayak yang awalnya mengakses media melalui perangkat televisi, namun sekarang melalui media telepon dengan perantara Twitter yang notabene merupakan aplikasi media sosial dengan hanya memuat 140 karakter saja.

Dampak lain adalah munculnya budaya berbagi yang berlebihan atau dengan bahasa sosiologinya adalah pengungkapan diri (self disclosure) di dunia maya. Budaya ini muncul dan terdeterminasi salah satunya karena hadirnya media sosial yang memungkinkan secara parangkat siapapun bisa mengunggah apa saja. Cross (2011:25) bahkan memaparkan data di tahun 2011 yang menyebutkan dalam satu musim saja ada sekitar 159 juta publikasi di jurnal pribadi online atau “blog” atau setara dengan lebih dari 68 ribu publikasi baru setiap harinya. Pengungkapan diri ini menjadi sebuah budaya yang pada akhirnya memberikan pengaburan terhadap batas-batas antara ruang pribadi dan ruang pubik.

Sebuah status, misalnya, di dinding Facebook bisa saja bercerita tentang kondisi yang dialami oleh si pemilik akun, tetapi—layaknya  dalam proses komunikasi dua arah—kepada siapa status itu disampaikan pun tidak dapat dijelaskan. Sebab, siapapun bisa membaca status tersebut dan siapapun juga walau tidak dalam jaringan pertemanan si pemilik akun dapat mengomentarinya.

B eranjak dari pengalaman saya dalam melihat sekaligus menjadi bagian dari pertumbuhan di internet bahwa  media sosial tidak lagi sekadar menjadi saluran untuk membuka jaringan pergaulan di dunia maya dan bisa berlanjut di dunia nyata, namun memberikan dampak yang cukup bagi bidang-bidang seperti hubungan masyarakat, komunikasi pemasaran, bahkan di bidang jurnalisme sendiri. Artinya, pemanfaatan media sosial telah berkembang secara ‘liar’ dari yang awalnya untuk bersosialisasi menjadi arena pertarungan dalam menjual produk, menawarkan komoditas, pasar jual beli, hingga corong informasi terhadap peristiwa terbaru yang terjadi.

 

Referensi

Cross, M. (2011). Bloggerati, Twitterati: How Blogs and Twitter Are Transforming Popular Culture. Santa Barbara, California: Praeger.

Kang Arul
the authorKang Arul
Dosen, jurnalis, dan penulis. Saat ini selain menjalani profesi sebagai dosen di berbagai perguruan tinggi, ia juga merupakan konsultan untuk konten digital di berbagai perusahaan, lembaga/kementerian, maupun perorangan. Profil lengkapnya sila klik http://www.kangarul.id

Leave a Reply

error: Konten ini terproteksi untuk dikopi