Find Us on Socials

Find Us on Facebook

Subscribe to Our Channel

Informasi

Konsep Bagi Bloggerpreneur

269Views

Kali ini saya mencoba membahas soal konsep bagi bloggerpreneur.

Beberapa kali melakukan blogwalking, saya menemukan bahwa saat ini blogger sudah menjadi media promosi yang efektif. Ini bisa dibuktikan melalui beberapa konten blog penuh dengan ulasan sebuah brand. Kadang tidak hanya satu blog, dalam pekan yang sama saya bisa menemukan antara 5-15 blog menulis brand tersebut.

Biasanya konten blog ini muncul setelah sebelumnya ramai di akun media sosial blogger bersangkutan. Jika tidak percaya, lihatlah bahwa sebelum tulisan itu muncul di blog pasti di akun media sosial sang blogger juga ada soal brand yang dibincangkan; lihatlah Path-nya, akun Twitter-nya, atau foto di Instagram.

Tidak hanya berdasarkan konten yang dipublikasikan di blog, di berbagai buku yang membahas blog dan digital marketing juga bisa dibaca bagaimana seorang blogger bisa memberikan pengaruh terhadap sebuah brand. Laporan blogger bahkan bisa dianggap sebagai cerminan dari kualitas sebuah brand.

Setidaknya ini telah diulas di buku seperti Jan Zimmerman dan Deborah Ng (2015) Social Media Marketing, Oliver Blanchard (2011) Social Media ROI–edisi bahasa Indonesianya terbit 2015 dengan judul yang sama, John Blossom (2009) Content Nation, Mary Cross (2011) Bloggerati Twitterati, Tracy L Tuten (2008) Advertising 2.0, Deirdre K. Breakenridge (2012) Social Media and Public Relations, dan juga buku saya tentunya Media Sosial: Perspektif Komunikasi, Budaya dan Sosioteknologi (2015).

Satu hal yang pasti, menjadi bloggerpreneur haruslah memiliki konsep. Konsep bagi bloggerpreneur memiliki peran penting untuk melihat dan sekaligus memetakan diri bagaimana seorang blogger itu. Konsep merupakan bagaimana blogger memandang atau menggambarkan dirinya dan penggambaran itu direalisasikan dalam konten blognya.

Terkait dengan hal tersebut, setidaknya ada dua hal yang harus diperhatikan bagi seorang blogger untuk menjadi seorang bloggerpreneur, yakni 1) Konsep Diri dan 2) Konsep Karya (Blog).

Konsep Diri Bloggerpreneur

Yang paling mendasar adalah konsep diri yang menjelaskan bagaimana blogger memandang dirinya sendiri. Dari kelima tipe blogger, mana yang mau dijalani oleh sang  blogger. Konsep bagi bloggerpreneur adalah gabungan dari blogger profesional paruh waktu dan permanen, hobi, dan juga blogger yang bekerja di korporat.

Tipe Blogger

Masing-masing pilihan memiliki konsekuensi yang berbeda-beda dan tentunya akan mendatangkan hasil (reward) yang berbeda pula. Blogger yang pekerja keras yang selalu datang sebelum acara dimulai, yang menjalin komunikasi dengan pelaku-pelaku brand, yang selalu mempromosikan walau ada-tidak imbalan sangat berbeda dengan blogger hobi yang sekadarnya saja.

Usaha yang keras pasti mendatangkan hasil yang sepadang pula. Ini pola yang tidak bisa diubah. Kecuali bagi orang yang religius selalu ada campur tangan Yang Kuasa dimana ada yang dinamakan ‘durian runtuh’, tetapi jumlahnya teramat sedikit. Usaha juga menunjukkan betapa berharganya profesi blogger.

Pertanyaan sederhana adalah “apakah kita sudah punya kartu nama yang di dalamnya secara jelas menunjukkan profesi kita sebagai blogger”?

Konsep Karya

Konsep bagi bloggerpreneur selanjutnya adalah konsep karya. Maksudnya di sini adalah bagaimana ‘produk’ blog dan kontennya sebagai manifestasi dan yang terlihat oleh brand dari sang blogger.

Konsep juga berlaku pada bagaimana sebuah karya dimulai dari sebuah konsep {outline atau mind map} yang memudahkan blogger dalam mengelola blognya. Karena blog adalah tambang emas yang siap digali dan menjadi media utama untuk mengembangkan diri sebagai seorang bloggerpreneur.

Bloggerpreneur-3-konsep

Tidak ada masalah kita menulis blog dengan konten apa saja di tulis, tetapi jika kita ingin menjadi bloggerpreneur yang serius sebaiknya hanya dua-tiga topik besar yang ada di blog; syukur-syukur bisa satu topik saja sehingga lebih unik dan berbeda.

Mengapa harus dibatasi? Karena blog adalah jurnal pribadi dan setiap blogger (hobi, keinginan, ketertarikan, bahkan cita-citanya) terkait dengan konten yang dikelolanya. Karena brand dalam banyak kasus suka blog yang lebih spesifik. Misalnya, produsen kosmetik akan lebih suka diulas blog yang kontennya banyak kosmetik sehingga kesan yang muncul adalah konten blog itu lebih natural.

Dua konsep di atas adalah pilihan sadar yang harus dilakoni oleh seorang bloggerpreneur. Bagaimana kita sebagai blogger menempatkan diri begitu pula brand atau orang lain memandang blogger bersangkutan. Konsep bagi bloggerpreneur adalah pilihan sadar yang akan menentukan hasil akhir dari aktivitas blogging kita.

Sebagai penutup, simak kisah berikut ini:

Kekuatan sesungguhnya dari sebuah blog bisa ditunjukkan dalam sebuah peristiwa yang terkenal dengan sebutan “Dell Hell”. Jeff Jarvis merupakan seorang warga negara Amerika yang berprofesi sebagai jurnalis dan pernah menjadi kritikus televisi untuk majalah People. Ia juga merupakan rekanan dari New York Daily News dan kolumnis untuk San Fransisco Examiner. Jeff juga pernah menjadi  penulis kolom tetap di suplemen Media Guardian di Inggris.

BuzzMachine merupakan blog pribadi yang ditulis Jeff dan menjadi contoh bagaimana melalui blog tersebut ia menuliskan pengalaman tidak menyenangkan dengan komputer bermerek Dell yang baru dibeli olehnya serta  bagaimana hubungan dengan pengaduan pelanggan perusahaan Dell di tahun 2005. Dengan judul ‘Dell lies. Dell sucks’ Jeef menuliskan bahwa ia berulangkali dan ingin mengingatkan orang lain untuk lebih berhati-hati dan mempertimbangkan apa yang telah ditulisnya.

Tulisan tersebut tidak disangka-sangka mendapatkan respon yang luar biasa dari pelanggan Dell lainnya yang juga merasa tidak puas dengan pelayanan perusahaan tersebut. Banyak pembaca blog yang meninggalkan komentar mereka terkait pengalaman berhubungan dengan Della dan juga  blogger lain bahkan menaruh tautan di blog mereka yang akan tertuju pada tulisan Jeff tersebut.

Kisah itu berlanjut dengan semakin banyaknya cerita-cerita yang tidak menyenangkan mulai dari pelayanan rumah yang tidak mereka dapatkan, penggantian perangkat yang tidak bekerja maupun surat elektronik yang tidak dibalas.
Pada awal Jeff menulis blog tersebut ia seperti tidak dihiraukan oleh Dell. Seiring dengan semakin berkembangnya tulisan di blog, komentar yang juga banyak, dan penyebaran tautan membuat akhirnya Dell memutuskan untuk mengganti perangkat komputer Jeff yang rusak itu. Namun, apa yang dilakukan Dell ternyata bisa dibilang sudah terlambat. Blog tersebut telah mendapat perhatian jurnalis dan kisahnya dipublikasikan di medi massa mulai dari surat kabar maupun majalah. Tidak hanya itu, banyak blog terpicu dan juga ikut menuliskan pengalaman tidak menyenangkan terhadap Dell.

Yang terjadi adalah tingkat kepuasaan pelanggan terhadap Dell menurut drastis. Kondisi ini menyebabkan serapan produk menjadi rendah dan turut memukul keuntungan perusahaan tersebut.

Apa yang terjadi dengan Jeff dan Dell masih terus berlanjut. Pada Oktober 2007, Jeff menulis kembali sebuah artikel yang dimuat di media berpengaruh Business Week di mana artikel tersebut sebagian merupakan hasil pertemuan serta wawancara dengan Michael Dell. Dalam laporan tersebut dijelaskan bahwa sejak tulisan Jeff muncul di blog perusahaan Dell telah menghabiskan anggaran sekitar 150 juta US dolar hanya untuk meningkatkan pelayanan pelanggan (customer service).

Sumber: Brown, R. (2009). Public Relations and the Social Web. Philadelphia, PA: Kogan Page. Hal 17

 

Kang Arul
the authorKang Arul
Dosen, jurnalis, dan penulis. Saat ini selain menjalani profesi sebagai dosen di berbagai perguruan tinggi, ia juga merupakan konsultan untuk konten digital di berbagai perusahaan, lembaga/kementerian, maupun perorangan. Profil lengkapnya sila klik http://www.kangarul.id

8 Comments

Leave a Reply

error: Konten ini terproteksi untuk dikopi