Find Us on Socials

Find Us on Facebook

Subscribe to Our Channel

Catatan

Jalan Panjang Jualan Online

14Views
“Kang, saya mau jualan online di Instagram.”
 
Begitu saya dengar niatan salah satu peserta setelah saya memberikan materi soal Digital Landscape untuk UMKM. Acara itu sendiri digelar di salah satu kota di Sumatera dan dihadiri oleh lebih seratus oranng; rata-rata adalah mereka yang baru mau berjualan di online.
 
“Oh, mantap itu,” saya hanya menjawab singkat, “mulai saja.”
 
Perbincangan kami hanya terhenti samai di situ. Sebab, saya mau tidak mau harus melayani pertanyaan peserta lainnya yang mengerubungi di bawah panggung.
 
Pertanyaan demi pertanyaan terus berdatangan. Tidak sekadar soal jualan online semata, ada juga yang bertanya soal kampanye politik. Bahkan ada yang out of mind banget, “Kang, main ke rumah. Saya kenalin sama anak gadis saya.” 😂
 
Untuk yang terakhir, Syaifuddin Sayuti jadi saksinya. Biar gak dibilang mengada-ngada.
 
Singkat cerita saya, dan tim, kembali ke ibu kota. Menjalani aktivitas seperti biasa.
 
Selang berapa lama, ada pesan masuk di aplikasi WA. “Terima kasih, Kang, jasa saya banyak yang order” begitu isinya.
 
“Wah, selamat!” jawab saya spontan.
 
Lalu, malamnya ada pesan lagi yang masuk, kali ini dari nomor berbeda.
 
“Kang, sekarang saya lagi belajar branding. Pelajarannya keren bahwa produk kita ada core ada added.”
 
Setelah saya bertanya siapa, ternyata dia adalah yang waktu itu bertanya dan mengungkapkan keinginannya untuk berjualan online.
 
Tentu saja saya merasa takjub; ada orang yang begitu serius mendalami ilmu-ilmu jualan online kekinian. Belajarnya pun gak tanggung-tanggung dari berbagai kursus online dengan pembicara yang “dewa” plus “sultan” dibidang digital marketing.

Serius Jualan Online

Selang satu dua pekan, pesan yang lain masuk dari nomor yang sama.
 
“Kang, saya sudah beli PowerPoint desain template buat jualan online.”
 
Ini orang benar-benar serius, nih, begitu batin saya.
 
Kemudian tidak berhenti sampai dua hal itu saja yang dilakukan. Dia mengabari saya secara rutin bagaimana video-video di YouTube soal digital marketing dipelajari, membeli buku copywriting dan buku berjudul rahasia-rahasia dari pakar, sampai ikut pelatihan berbayar di kota provinsi.
 
Dua bulan berlalu, atau tepatnya tiga bulan ya, saya sepertinya agak lupa, saya pun penasaran bagaiman perkembangan jualan onlinenya. Sayang, jadwal yang begitu rapat nan merayap membuat saya lupa untuk mengontak yang bersangkutan.
 
Di antara itu saya sudah berkeliling di berbagai kota, menjelaskan lanskap digital dan bagaimana strategi penetrasi pasar jika ingin bermain di media sosial untuk keperluan digital marketing.
 
Rata-rata kejadiannya berulang, setelah acara di bawah panggung saya selalu dikerubuti peserta dengan berbagai pertanyaan. Selalu, dan pasti, ada pertanyaan yang sama bahwa mereka ingin masuk ke dunia media sosial untuk menawarkan produk dan jasa yang digeluti.
 
Barulah pada bulan berikutnya saya sempat berkirim pesan kepada orang yang dulu bertanya, “Bagaimana jualan onlinenya?”
 
Butuh dua jam untuk saya mendapatkan jawaban.
 
“Di-hold dulu, Kang,” begitu tulisanya.
 
“Loh, kenapa?”
 
“Lagi sibuk pindah-pindahan. Nanti kalau sudah lega mugkin akan serius ke arah sana.”
 
“Produknya gimana, Mbak, masih jalan?”
 
“Masih, tapi ya itu seperti biasa saja.”
 
Saya menggut-manggut setelah membaca pesannya, “OK, sukses, ya,” balas saya.
 
Setelah itu saya pun seperti mengkalkulasi berapa waktu yang dipakai untuk belajar segala macam konsep soal digital marketing dan berapa harga yang harus dikeluarkan untuk membeli aset template maupun buku.
 
Lumayan…
 

Jualan Online Sekarang

Ya, lumayan waktu dan dana yang keluar untuk mendalami ilmu yang menurut banyak pengalaman akan menghasilkan kenuntungan luar biasa dan bisa mengoptimasi jenama produk maupun jasa di dunia online.
 
Sayangnya… ada prinsip yang dilupakan, yaitu jangan menunda dan jualan onlinelah saat ini juga.
Yup, mulai dari sekarang dan jangan sampai pinter dulu.
 
Belajar konsep perlu sumber daya dan juga waktu yang tidak sedikit. Menunggu sampai menguasai teori ibarat meminum air laut, hausnya gak ilang seretnya masih tinggal.
 
Apalagi algoritma media sosial sering berubah-ubah. Gak akan kelar itu yang namanya belajar soal digital marketing…
 
So, hal paling mendasar dan penting dalam jualan online di media sosial itu adalah “Jualan online sekarang!”
 
Tapi… bukankah para “pakar” dan “sultan” itu memulainya dengan berjualan online saat ini juga?
Kang Arul
the authorKang Arul
Dosen, jurnalis, dan penulis. Saat ini selain menjalani profesi sebagai dosen di berbagai perguruan tinggi, ia juga merupakan konsultan untuk konten digital di berbagai perusahaan, lembaga/kementerian, maupun perorangan. Profil lengkapnya sila klik http://www.kangarul.id

Leave a Reply

error: Konten ini terproteksi untuk dikopi