Catatan

Ini Harga Buzzer yang Diundang

266Views

Bagian 3

1,5 juta rupiah. Begitu harga seorang buzzer yang pernah dipublikasikan pihak pengundang ketika menawarkan kepada saya dan beberapa SMA lainnya untuk hadir di sebuah acara sebuah bank ternama dan meramaikan perbincangan di media sosial selama dua hari. 1 juta rupiah pernah ditawarkan oleh sebuah provider telekomunikasi di Indonesia hanya untuk ngetwit 10 kali. Jumlah tweet itu dipublikasikan dalam rentang waktu dua jam dan selama itu saling berinteraksi dengan SMA yang lainnya.  750 ribu rupiah juga pernah diterima ketika ada peluncuran sebuah produk tab keluaran brand lokal. Setengah diterima ketika menghadiri acara launching-nya dan setengah lagi dibayarkan ketika tulisan di blog sudah tayang.

Jadi, rentangnya antara 750 sampai 1,5 juta rupiah ya?

Eits… jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan dulu. Ada loh seorang SMA pernah menerima 10 juta dalam sebulan dari sebuah brand. SMA lainnya menerima 50 jutaan dari perusahaan untuk menjadikan seseorang sebagai trending topic. Dan ada yang pernah menerima 100 juta lebih untuk beberapa artikel ‘pesanan’  di media sosial sampai bisa membeli mobil dari uang itu. Uhuk… (keselek! Mau dong….)

Tapi… tapi ini ya… Ada juga SMA yang menerima cuma dalam hitungan puluhan ribu rupiah. Saya, jujur, pernah menerima bayaran sekitar Rp50 ribu rupiah hanya untuk mempublikasikan sebuah artikel yang ditulis oleh si pemberi order. Untung saja artikelnya tidak satu, tapi beberapa artikel dan kalo gak salah dua artikel deh sehingga kalo ditotal bayarannya jadi banyak (jangan mikir ya..). Pernah pula hanya pulang dengan membawa tusuk gigi saja karena tempat yang saya datangi dan undangannya untuk mencoba kuliner laut.

Deskripsi di atas adalah pengalaman, saya dan teman SMA, dalam kegiatan per-buzzer-an di tanah air. Tak heran, ketika ada yang bertanya berapa harga seorang SMA untuk melakukan kampanye di media sosial selalu maka jawabannya seperti berada di simpang jalan. Satu belokan yang diambil tetap saja menuju ke lokasi. Pun ketika seorang manajer dari sebuah perusahaan konsultan komunikasi berdikusi dengan saya soal harga layak untuk SMA, kami sama-sama tidak menemukan rupiah yang bisa dibilang ‘menjadi standarnya’.

Dikonten terdahulu, saya menguraikan beberapa  tipe SMA dan kaitannya dengan kegiatan yang diselenggarakan oleh sebuah brand. Pembagian tersebut berdasarkan pengalaman saya sebagai  blogger dan kerap menghadiri undangan dan juga kerap mengundang blogger.

Sekadar menyegarkan ingatan bahwa  harga seorang buzzer itu bisa  dilihat atau dinegosiasikan berdasarkan kategori berikut ini:

  1. SMA yang diundang untuk sebuah acara
  2. SMA yang mendaftarkan diri untuk sebuah acara
  3. SMA yang  secara khusus diminta menjadi buzzer
  4. SMA yang menawarkan diri menjadi buzzer

Meski tidak ada aturan atau publikasi, baik ilmiah atau populer, tentang harga seorang buzzer di media sosial, namun saya mencoba memetakan berapa yang layak diterima seorang buzzer. Dari pembagian ini rasanya saya menemukan sedikit solusi atau setidaknya alternatif untuk mengetahui “harga” yang bisa ditentukan oleh sebuah brand atau pihak ketiga ingin memakai jasa SMA. Sebaliknya, SMA juga bisa merasa pe-de untuk menentukan harganya sendiri karena ia adalah pekerja profesional di dunia maya.

SMA yang diundang untuk sebuah acara

Bus XL 5
Ilustrasi SMA yang diundang sebuah brand (Dok. Pribadi)

Acara adalah salah satu kegiatan yang dilaksanakan oleh bagian kehumasan sebuah brand. Baik itu dikelola oleh bagian itu sendiri atau menggunakan pihak ketiga seperti biro atau konsultan komunikasi. Menurut Frank Jefkins (2004) tujuan diadakan kegiatan seperti konferensi pers, pameran, media tour atau ekshibisi merupakan suatu media iklan karena tujuannya untuk memperkenalkan sebuah produk kepada masyarakat agar mereka tertarik.

Ketika mengundang SMA, maka ada beberapa hal yang ingin dicapai oleh brand tersebut. Pertama,  SMA diharapkan memiliki pengetahuan tentang produk atau jasa dari brand bersangkutan. Pengetahuan tersebut nantinya menjadi bahan yang bisa digunakan oleh SMA untuk menulis di media sosial dan melakukan delivery konten kepada khalayak (follower). Kedua, terjadinya tatap muka antara brand dengan SMA. Pertemuan ini akan memberikan situasi cair di antara keduanya sehingga produk dan jasa yang diusung bisa mendapatkan perhatian lebih; misalnya SMA bisa bertanya tentang kekurangan sebuah produk dan brand bisa menjelaskan detail atau meralatnya. Ketiga, brand sedang menjajaki dan menilai SMA mana yang potensial menjadi corong kampanye produk dan jasa mereka. Oleh karena itu, daftar hadir yang diisi oleh SMA akan disimpan untuk dikemudian hari dipergunakan ketika ada produk atau jasa lain yang ingin disebarkan atau ketika terjadi krisis komunikasi.

Tak heran, di pertemuan pertama biasanya brand memberikan kesan yang luar biasa “baiknya” agar kesan yang muncul di benak SMA bahwa mereka sangat memperhatikan SMA yang hadir. Jika pertemuan itu dilakukan di sebuah lokasi atau tempat khusus dan di waktu tertentu, maka SMA akan dijamu dengan beragam akomodasi dan transportasi. Ketika acara dilaksanakan sampai melewati jam satu siang, maka dipastikan brand akan menyediakan makan siang. Jika acara sampai memakan waktu satu dua hari, maka mulai dari makan, penginapan, dan sebagainya akan menjadi daya tarik yang ditawarkan.

Nah, ketika undangan itu disampaikan kepada SMA atau kepada komunitas yang menaungi para SMA, maka harus dilihat dahulu jenis undangannya. Apakah undangan itu berlaku umum atau khusus. Yang dimaksud dengan umum adalah undangan yang tidak menyebutkan nama secara spesifik hanya menyebutkan (atau memberitahu melalui SMS atau WA) kepada komunitas untuk hadir di acara brand mereka. Sedangkah khusus adalah undangan yang langsung ditujukan kepada SMA secara jelas.

Ketika datang, maka minimal SMA akan mendapatkan goodie bag yang biasanya berisi materi promosi, produk yang dipromosikan, atau barang-barang seperti flashdisk, boneka, gantungan kunci, topi, kaos dan sebagainya. Untuk beberapa kesempatan banyak pula brand yang memberikan voucher belanja dan ada juga yang berbaik hati menyediakan amplop sebagai pengganti uang transport SMA. Biasanya lagi, ini biasanya ya, di tengah acara akan ada doorprizes alias hadiah kejutan buat penanya atau diundi dari daftar hadir (kartu nama) yang beruntung.

Apapun tipe SMA yang diundang, baik khusus maupun umum, jika itu adalah sebuah acara maka “harga” seorang buzzer sesuai dengan yang diterima oleh yang menghadiri undangan. Karena sebuah brand biasanya tidak secara khusus atau eksklusif mengundang SMA hanya dalam sebuah acara saja, ada tamu lain dan juga ada pihak media atau wartawan yang juga hadir di acara tersebut.

Jika diundang, maka buzzer jangan berharap lebih dari sekadar yang bisa diberikan pihak pengundang apalagi langsung menyebutkan harga (rupiah) untuk menghadiri sebuah acara. Diundang ke sebuah acara sudah merupakan bentuk kehormatan bagi SMA karena keberadaan mereka mulai diakui dan kadang setara dengan wartawan dalam hal menyebarkan informasi. Apalagi diberikan goodie bag, sudah merupakan bentuk tanda “terima kasih” dari pihak pengundang untuk SMA yang hadir.

Di situasi ini, SMA harus tahu diri bahwa mereka bukanlah “penentu harga” tetapi brand-lah yang akan menentukannya. Karena undangan menghadiri sebuah acara biasanya adalah acara rutin yang bisa dalam kondisi sudah direncanakan atau secara mendadak oleh bagian kehumasan/pemasaran sebuah brand.

Dengan demikian tidak elok rasanya jika pulang dari sebuah undangan ada SMA yang nyeletuk “kok, cuma dikasih power bank aja?” atau “yah, gak ada uang transportnya?”.

Jangan sampai omongan ini keluar karena bisa tidak etis apalagi sampai ketelinga brand selaku pihak pengundang. Saran saya adalah tetaplah menjadi SMA yang profesional dan menjadi buzzer yang semangat menyebarkan informasi selama atau setelah kegiatan berlangsung. Karena, dalam kondisi ini, uang atau barang adalah bukan tujuan utama tetapi sekadar hadiah atas usaha kita ngeblog atau ngetwit. Toh, brand punya teropong khusus kok untuk melihat mana buzzer yang profesional, mana yang dadakan, mana yang pura-pura bahkan terpaksa menjadi buzzer.

bersambung…

 

 

Kang Arul
the authorKang Arul
Dosen, jurnalis, dan penulis. Saat ini selain menjalani profesi sebagai dosen di berbagai perguruan tinggi, ia juga merupakan konsultan untuk konten digital di berbagai perusahaan, lembaga/kementerian, maupun perorangan. Profil lengkapnya sila klik http://www.kangarul.id

29 Comments

Leave a Reply

error: Content is protected !!