Tips

Hari ke-54 Menjadi Penulis Novel dalam 60 Hari

177Views

Ada penulis novel yang membuat akhir cerita novelnya dengan akhir (ending) cerita yang menggantung, tidak berakhir bahagia (happy ending) atau berakhir dengan kesedihan (sad ending). Tentukan, model akhir seperti apa yang ingin kamu pilih.

Di antara ketiga jenis ending yang tadi disebutkan, ending yang menggantung akan menempatkan serta mebiarkan pembaca menentukan sendiri ke arah mana cerita ini akan bermuara. Apakah akan berakhir bahagia atau berakhir dengan kesedihan? Apakah ceritanya semakin berkembang atau berakhir begitu saja? Apakah akan memunculkan konflik baru atau tidak? Semua itu terserah kepada pembaca. Model seperti ini juga menguntungkan kamu untuk menulis kelanjutan novel kamu di buku yang berbeda.

Akan tetapi, model ini juga memiliki kelemahan. Bahwa ending yang menggantung bila tidak digarap dengan baik, maka akan menjebak cerita novel yang telah susah payah kamu buat menjadi cerita yang membosankan, menjemukan, dan tidak jelas mau dibawa ke mana. Karena bila seseorang memutuskan untuk membaca sebuah cerita novel sampai halaman terakhir, ia akan mengharapkan akhir cerita yang sudah tentu -setidaknya- sesuai dengan dugaan sang pembaca sendiri. Atau paling tidak, tidak menyisakan ruang kosong yang menyebabkan pembaca bertanya-tanya; entah nasib sang tokoh, konflik, bahkan cerita itu sendiri.

Mau bikin bagian akhir novel kamu yang menggantung? Mari sama-sama kita lihat bagaimana Novia Syahidah mengakhiri novel Di Selubung Malam-nya, novel yang mengambil latar adat dan budaya Lombok dengan ketegangan konflik yang cukup rapat.

Jamanik menatap kertas di tangannya dengan mata kabur. Genangan di pelupuk matanya nyaris menitik seandainya ia tak cepat-cepat mengusapnya. Dengan perasaan yang sulit diartikan, kembali diejanya kata demi kata, kalimat demi kalimat yang tertera di kertas itu. Ia seakan tak yakin, bahwa di dalam surat itu tersirat sebuah harapan baginya, harapan untuk bisa bertemu lagi dengan Baiq Mandalika suatu saat kelak.

Kak Jamanik…

Meskipun saya harus pergi jauh ke negeri yang entah ada di mana, namun sesungguhnya hati saya tetap ada di Lombok. Tak ada yang mampu menukar kecintaan seorang putri Sasak terhadap tanah Lombok ini, kecuali ketentuan dari Yang Mahakuasa. Dan sejauh-jauhnya langkah ini terayun, saya berharap suatu saat nanti akan kembali berpijak di sini.

Saya akan tetap berdoa untuk Kakak. Meski jasad Kakak terpenjara, semoga hati Kakak tetap bisa bebas mengembara, mencari kedamaian dan kecintaan dari-Nya. Sungguh, saya percaya bahwa Kak Jamanik sangat ikhlas menjalani suratan nasib, dan semoga keikhlasan itu diturunkan pula oleh Allah ke dalam hati saya selama berada di rantau yang jauh. Hingga saya yakin, bahwa di manapun kita berada, sesungguhnya ridha dan rahmat-Nya adalah yang paling berharga.

Jamanik mendekap surat itu ke dadanya. Terngiang kembali ucapan Tuan Guru Zainuddin beberapa waktu sebelum ia mendekam di penjara ini.

“Aku tahu kau menyukai gadis bernama Mandalika itu, Jamanik. Tapi kau juga harus ingat satu hal, selagi dia belum menjadi bagian yang sah dalam hidupmu, kau tidak boleh larut dalam perasaan itu. Kau harus bisa menjaga agar hatimu tidak merana dalam angan-angan, tidak berharap yang muluk-muluk, dan tidak berhayal yang bukan-bukan. Percayalah, jika Allah memang sudah takdirkan dia menjadi pendampingmu, maka kelak Allah akan mengantarkannya ke sisimu.”

Jamanik menghela napas dalam. Kembali ditatapnya lembaran surat di tangannya. Ia yakin, kalimat-kalimat dalam surat itu ditulis Baiq Mandalika dengan segenap perasaan dan kejujuran. Kalimat yang membuatnya juga yakin, bahwa suatu saat nanti gadis itu pasti akan kembali ke Lombok. Meski entah kapan..

Kang Arul
the authorKang Arul
Dosen, jurnalis, dan penulis. Saat ini selain menjalani profesi sebagai dosen di berbagai perguruan tinggi, ia juga merupakan konsultan untuk konten digital di berbagai perusahaan, lembaga/kementerian, maupun perorangan. Profil lengkapnya sila klik http://www.kangarul.id

Leave a Reply

error: Content is protected !!