Tips

Hari ke-28 Menjadi Penulis Novel dalam 60 Hari

192Views

m-jadi_penulis_top_bgtKekuatan karya fiksi seperti novel ada pada kekuatan “berdialog” dengan pembacanya. Dialog di sini tidak terpaku pada pengertian pembicaraan antartokoh saja, melainkan juga tentang deskripsi peristiwa, suasana hati, keadaan sekeliling, maupun keterangan latar tempat. Setiap paragraf yang kamu tulis semestinya memiliki tujuan. Setiap paragraf memiliki kekuatan yang memastikan pembaca mengetahui apa yang sedang dikatakan oleh novelmu. Mendorong pembaca seolah-oleh berada dalam situasi yang kamu bangun, merasakan emosinya, membayangkan suasananya, dan melibatkan pembaca seolah-olah mereka sendiri yang ada dalam konflik novel tersebut.

Ini sekadar contoh penggambaran emosi yang diambil dari novel Di Selubung Malam (Dar Mizan, 2004);

Gadis itu hanya diam. Ditatapnya wajah setengah baya itu dalam-dalam. Sembilu itu terasa kian mengiris jantungnya. Wajah itu tak bisa membohonginya. Wajah yang tengah terluka, meski seulas senyum coba ditawarkannya pada Baiq Mandalika.

Inaq…” Gadis itu menjatuhkan dirinya perlahan, bersimpuh di kaki ibunya. Perlahan pula kepalanya rebah di pangkuan Saqnah, pangkuan yang telah belasan tahun menghangatkan tubuhnya. “Biarkan Lika menemani Inaq menangis malam ini. Di sini. Biarkan, Inaq…!” Suaranya serak, tertelan lara.

Saqnah menahan napas di dadanya, berharap air matanya tak segera berhamburan lagi demi mendengar kalimat itu. Perlahan tangannya mulai mengelus kepala Baiq Mandalika, mengurai rambut panjang gadis itu di sela-sela jari tangannya yang kasar karena banyak bekerja. Tiba-tiba ada cairan hangat mengaliri kain sarungnya, merembes menembus sampai ke kulit pahanya. Cairan yang ia pastikan adalah air mata putrinya.

Gadis itu menangis tanpa suara. Bahkan isak atau sedunya tak terdengar sedikitpun. Ia seperti menangis dengan ketulusan jiwa, seolah tak berharap siapapun menanggapi dukanya. Ia pun seperti ingin mengatakan pada ibunya bahwa tangisannya bukanlah sebuah ratapan, apalagi pemberontakan terhadap nasib yang menimpa. Tangisnya adalah cinta, cinta yang tak kan pernah mati untuk wanita yang telah melahirkannya. Ia seperti ingin berkata; Inaq tidak perlu menangis, sebab air mataku masih cukup banyak untuk mewakilinya..

Tenang saja, kamu nggak perlu merasa kurang pe de karena tidak bisa menghasilkan tulisan yang bisa berdialog dengan pembaca. Toh, namanya juga kamu sedang belajar menulis novel. Melalui latihan demi latihan kamu pasti akan bisa merengkai kata dan kalimat tersebut. Salah satu cara yang bisa kamu lakukan adalah dengan menggunakan kalimat yang umum yang sudah sehari-hari kamu sering dengar bahkan kamu percakapkan dengan teman, sahabat, saudara, om, tante, teteh, aa, bapak, ibu, dan semua orang, deh. Entar kalau diterusin kayak iklan mobil ya?

Oh ya satu hal lagi yang perlu kamu pertimbangkan adalah bahwa pembaca novel berasal dari tingkat pendidikan yang berbeda, sehingga kamu tidak bisa sekenanya memasukkan kata-kata ilmiah, ungkapan, atau percakapan dalam bahasa asing tanpa kamu menjelaskan maksud dari percakapan tersebut.

Kang Arul
the authorKang Arul
Dosen, jurnalis, dan penulis. Saat ini selain menjalani profesi sebagai dosen di berbagai perguruan tinggi, ia juga merupakan konsultan untuk konten digital di berbagai perusahaan, lembaga/kementerian, maupun perorangan. Profil lengkapnya sila klik http://www.kangarul.id

Leave a Reply

error: Konten ini terproteksi untuk dikopi