Tips

Hari ke-26 Menjadi Penulis Novel dalam 60 Hari

212Views

Menulis-Novel-4Sudah menjadi hal yang biasa bila di bab-bab awal pembaca membuat keputusan apakah mereka akan menyelesaikan membaca seluruh halaman novel, membaca sebagian, dan atau menghentikan bacaannya sama sekali. Hal tersebut tergantung apakah mereka menemukan alasan yang cukup kuat pada saat mereka mulai membuka halaman pertama. Apalagi dengan jumlah halaman novel yang lumayan banyak dan tebal, perlu ada timbal balik antara apa yang didapat dari novel tersebut dan keluangan waktu yang disediakan oleh mereka

Oleh karena itu, pada bab-bab inilah yang merupakan pertaruhan antara kamu dan pembaca novelmu. Apabila pembaca tidak menemukan hal yang menarik, menggugah rasa keingintahuan, dan menerbitkan penasaran di benak mereka, maka jangan berharap mereka akan melanjutkan membaca halaman berikut novelmu. Maka, buatlah di awal-awal cerita novelmu suatu peristiwa yang menarik, menegangkan, dan mengundang tanda tanya. Akan lebih baik bila di bab pertama kamu sudah menyuguhkan petikan konflik permulaan dan samar-samar dibandingkan kamu menulis tentang pemandangan sekitar atau biodata sang tokoh.

Coba deh kamu baca contoh penggalan cerita dari halaman pertama novel Carikan Aku Istri (FBA Press, 2004);

“Setahun lagi!”

Mata wanita separuh baya itu lurus tajam menatapnya. “Umurmu berapa sekarang?”

Surya tidak menjawab. Sebaliknya malah tersenyum nakal dan sedikit menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal itu.

“Adik-adikmu, selain si bungsu Nurmaya, sudah pada menikah semuanya. Sudah punya anak, bahkan sebentar lagi adikmu, Nabila, anaknya akan nambah lagi satu.”

Surya berpikir sebentar, lalu, ”Lima. Berarti kalau ditambah satu lagi dari Nabila, Ibu sudah punya enam orang cucu.”

“Iya. Tapi tak ada yang Ibu dapatkan dari satu-satunya anak lelaki Ibu, cucu darimu.”

Lagi-lagi lelaki itu hanya bisa tersenyum. “Tapi kan masih ada Nurmaya, Bu? Dia kan belum menikah,” kata Surya berdiplomasi.

“Kamu itu memang pandai mencari alasan.”

Terasa bukan bila penggalan cerita di atas sudah masuk ke dalam konflik permulaan yang masih samar-samar, yaitu konflik antara tokoh Surya dan tokoh Ibu, soal keinginan Ibu mendapatkan menantu dan cucu dari anak lelaki satu-satunya.

Dan sebagai contoh lain kamu juga bisa membaca bagaimana Novia Syahidah menulis halaman pertama novel Titip Rindu Buat Ibu (DAR! Mizan, 2003);

Angin yang bertiup malam itu membuat kegelapan kian menggigit tulang. Suara binatang malam riuh-rendah mendendangkan nyanyian alam. Sayup-sayup terdengar percakapan dari surau Haji Mahmud yang sederhana. Surau dengan penerangan lampu minyak yang nyalanya terkadang meredup ditiup angin dari celah-celah dinding.

“Bagaimana keadaanmu, Nak?” sapa Haji Mahmud lembut. Pemuda yang duduk di hadapannya menunduk dalam.

“Apakah saudara tirimu itu masih suka berbuat jahat padamu?”

“Tidak, Buya.”

“Jangan berbohong pada Buya, Faisal. Kau tidak bisa menutupi perasaanmu.” Haji Mahmud menatap prihatin. Pemuda bernama Faisal itu mengangkat kepalanya. Ada riak bening berpendar di matanya yang hitam.

 

Kang Arul
the authorKang Arul
Dosen, jurnalis, dan penulis. Saat ini selain menjalani profesi sebagai dosen di berbagai perguruan tinggi, ia juga merupakan konsultan untuk konten digital di berbagai perusahaan, lembaga/kementerian, maupun perorangan. Profil lengkapnya sila klik http://www.kangarul.id

Leave a Reply

error: Konten ini terproteksi untuk dikopi