Tips

Hari ke-16 Menjadi Penulis Novel dalam 60 Hari

172Views

m-jadi_penulis_top_bgtTentukan sudut pandang atau point of view (POV) yang kamu gunakan untuk menulis ide ceritamu. Kamu bisa menggunakan salah satu sudut pandang, apakah menggunakan sudut pandang orang pertama atau sudut pandang orang ketiga. Masing-masing memiliki kekuatan dan kelebihan.

Sudut pandang pertama menggunakan perspektif aku atau saya. Jadi bila kamu memutuskan untuk menggunakan sudut pandang ini, maka semua cerita bahkan sampai pada semua kejadian pun berpusat pada tokoh aku. Posisi kamu dalam sudut pandang ini selain penulis cerita juga sebagai tokoh cerita novelmu itu sendiri.

Buat kamu yang senang bermain perasaan dan ingin mengeksplorasi emosi tokoh cerita mungkin kamu bisa mempertimbangkan sudut pandang ini. Ungkapan-ungkapan batin, pendapatnya, dan opini sang tokoh bisa dimasukkan dalam alur cerita novelmu secara lebih bebas. Bahkan bisa dikatakan menguasai seluruh jalan cerita novelmu mulai dari bab pertama sampai bab terakhir. Di bawah ini penggalan novel yang menggunakan sudut pandang orang pertama, diambil dari novel Putri Kejawen (Pustaka Annida, 2003);

Tiba-tiba aku pun jadi sangat menyesali kelahiranku. Kenapa aku harus lahir dari sulbi seorang lelaki seperti Bapak? Seorang lelaki yang sedikit pun hatiku tidak ragu lagi untuk mengatakannya kafir! Bapak benar-benar telah murtad! Dan kini hatiku tidak bisa lagi kubohongi. Aku telah puas menghibur diriku dengan melihat segala kebaikan Bapak selama ini, hingga aku selalu memandangnya sebagai sosok yang baik.

Tapi kini tidak lagi! Keimananku tidak bisa lagi mentolelir semua ini. Tidak ada gunanya semua kasih sayang yang ia berikan selama ini jika akhirnya aku harus menerima kekecewaan yang begitu besar. Aku tidak butuh kebesaran cinta Bapak jika di sisi lain ia juga menyuguhi aku dengan segala kekufuran.

Tidak! Aku tidak mau semua itu! Jika selama ini aku selalu takut untuk menyakiti hati Bapak karena besarnya cinta beliau padaku, lalu kenapa Bapak tidak berusaha menjaga perasaanku  padahal ia tahu bahwa aku juga sangat mencintainya? Tidakkah Bapak berpikir, bahwa jika ia ingin menjaga aku dan Ibu dari segala keburukan, berarti ia pun harus menghentikan segala keburukannya itu?

Tidakkah Bapak sadar bahwa keburukan yang timbul dari dirinya itu akan lebih menyakitkan bagiku? Kenapa Bapak tidak mengerti hal  itu? Kenapa Bapak hanya memikirkan dirinya sendiri? Memikirkan ilmu hitam keparatnya itu?! Gurunya yang terkutuk itu?! Bapak keterlaluan! Aku benci Bapak! Benci, Benci, Benciii…!

Sudut pandang orang ketiga adalah kamu menggunakan perspektif orang ketiga. Artinya kejadian, peristiwa, atau ungkapan batin yang bisa melibatkan tokoh siapa saja dalam ceritamu diceritakan kembali oleh orang ketiga, yaitu kamu sendiri sebagai penulis novel. Nah, posisi kamu dalam sudut pandang ini sudah jelas sebagai orang yang menceritakan segala peristiwa dan tokoh-tokoh yang terlibat di dalam novel. Penulis cerita berada di luar cerita itu sendiri dan penyebutan tokohnya dengan menggunakan kamu, dia, mereka, atau menyebutkan nama seperti Surya, Dinda, Hilwa dan sebagainya.

Jadi emosi yang muncul bisa disandangkan kepada semua tokoh cerita. Dengan demikian, mendeskripsikan segala hal yang berkaitan dengan emosi pun seperti kamu mendeskripsikan bagaimana tanggapan dan reaksi sebagai orang ketiga. Bila ada ungkapan batin pun, maka porsinya tidak mencakup keseluruhan novel seperti layaknya bila kamu menggunakan sudut pandang orang pertama. Berikut adalah contoh yang diambil dari novel DIT! (GIP, 2005);

Dan ternyata tidak hanya John yang menghadangnya. Saat Ujang menoleh ke samping kanan ia melihat orang lain. Ujang tidak kenal siapa orang kedua ini, tapi dari dandanan dan aroma yang sempat tercium oleh hidungnya dapat dipastikan kalau orang itu berandal, layaknya John, yang sedang mabuk.

“Halo, Jagoan!” sapa John mengejek.

Ujang diam. Matanya memperhatikan dengan seksama kedua sosok yang menghadangnya itu. Ia sadar ada hawa permusuhan yang coba ditebarkan kepadanya.

“Puas lo? Puas lo ya jadi anjing buduknya aparat!” Hawa permusuhan John semakin terasa. “Cuma orang yang siap mati saja yang berani macem-macem sama gue!”

Ujang mengepal tangannya. Ia sudah siap menghadapi apa pun yang bakal terjadi.

Pelan-pelan John berjalan. Mengitari Ujang dengan tatapan bak serigala terhadap mangsanya. “Gue mau tahu sampai sejauh mana nyali lo sampai berani berurusan sama gue,” suara John masih saja sinis.

Ujang masih waspada. Ia tahu, sejak memutuskan melapor perbuatan Ujang yang menjual pil ekstasi untuk anak-anak di kampungnya kepada polisi. suatu saat nanti John akan balas dendam. Ujang memang sudah menduga kalau ia akan menghadapi hal yang paling buruk sekalipun. Dan ternyata hari ini dugaannya menjadi kenyataan

Dari dua contoh di atas kamu sudah bisa dong melihat perbedaan soal sudut pandang ini. Masing-masing sudut pandang memiliki kelebihan dan kekuatan. Juga, sama-sama memiliki kekurangan dan kelemahan. Tergantung kamu mau menggunakan sudut pandang yang mana. Jika kamu menggunakan sudut pandang orang pertama, maka tokoh aku mendominasi cerita novelmu sejak dari awal sampai akhir. Sebaliknya bila sudut pandang orang ketiga yang kamu pakai, maka perspektif orang ketigalah yang kamu gunakan.

Apa pun pilihanmu, kamu mesti konsisten. Jangan mempertukarkan atau mencampuradukan dua sudut pandang ini dalam cerita novelmu.

Kang Arul
the authorKang Arul
Dosen, jurnalis, dan penulis. Saat ini selain menjalani profesi sebagai dosen di berbagai perguruan tinggi, ia juga merupakan konsultan untuk konten digital di berbagai perusahaan, lembaga/kementerian, maupun perorangan. Profil lengkapnya sila klik http://www.kangarul.id

Leave a Reply

error: Konten ini terproteksi untuk dikopi