Tips

Harga Buzzer yang Daftar di Acara

234Views

Bagian 4

Masih dalam rangkaian mengupas harga seorang buzzer di media sosial. Jika sebelumnya telah dibahas tentang berapa “harga” SMA ketika diundang ke sebuah acara oleh brand, maka kali ini saya mengupas soal SMA yang mendaftarkan diri untuk sebuah acara.

Realitasnya adalah SMA sebagai pekerja profesional mampu memberikan pengaruh terhadap perbincangan sebuah brand di dunia maya. Pasalnya, perbincangan pesan-pesan komersial yang terlalu ketara di akun media sosial milik sebuah brand terkadang jarang mendapat perhatian serius dari khalayak. Terlebih lagi khalayak memiliki sentimen tersendiri, misalnya X yang memakai provider biru sejak belasan tahun (biasanya) akan tetap setia meski brand merah memberikan pesan yang menguntungkan dan dilengkapi dengan hadiah-hadiah.

Selain itu, brand memerlukan informasi positif yang ada di dunia maya. Menurut laporan riset yang dilakukan oleh Majalah Mix pada Januari 2013 lalu menyebutkan bahwa:

perusahaan mengampanyekan sesuatu yang baik tentang perusahaan, minimal sekali, kepada publik. Karena survei menunjukkan kalau sama sekali tidak ada informasi positif yang pernah dikomunikasikan, pada saat perusahaan terkena krisis, separuh masyarakat dipastikan akan langsung memercayai informasi negatif yang didengarnya. (Hal.14)

Ini menunjukkan fakta bahwa di media sosial informasi positif itu menjadi salah satu cara dalam meraih sentimen positif. Sentimen ini, bisa dikatakan,  dapat menyaingi bahkan melebihi apa yang di-deliver oleh media tradisional, menjangkau khalayak yang lebih luas, dan dari segi waktu dapat dilakukan secara cepat.

Mengutip dari riset yang dilakukan oleh IndoPacific Edelman Indonesia, dipaparkan bahwa kepercayaan informasi memang masih didominasi sumbernya berasal dari rilis media yang disebarkan oleh pihak brand. Namun, perlu menjadi catatan penting, bahwa rilis media itu seringkali hanya dipahami oleh pihak media dan karena keterbatasan seperti durasi, kolom, maupun ruang  informasi yang lengkap terkadang menjadi sepotong-sepotong disampaikan ke publik.

Yang mengejutkan adalah sebanyak 34 persen responden mencari informasi brand melalui fasilitas pencari online. Jumlah ini mengalahkan televisi yang hanya terpaut sedikit di bawah yakni 33 persen dan media cetak di 30 persen. Data yang cukup mengejutkan adalah bahwa sentimen positif dari informasi itu didapat dari blog. Wow… meski jumlahnya kecil yaitu hanya sebanyak 6 persen, namun ini menandakan bahwa keberadaan SMA tidak bisa dipandang remah.

Berikut hasil survei dari IndoPacific Edelman Indonesia yang dipublikasikan oleh Majalah MIX:

Riset-MIXRiset ini dilakukan pada tahun 2013 lalu. Pergantian tahun dan mulai bergesernya kebiasaan khalayak (konsumen) dalam memanfaatkan media online untuk berinteraksi, menyebarkan informasi/berita, transaksi, belanja, bahkan berjualan memberikan trend yang sudah pasti berbeda. Bahkan ini menjadi laporan utama majalah InfoKomputer pada edisi April 2015 yang menurunkan laporan utamanya tentang banyaknya perusahaan konvensional yang mulai memperluas pemasaran produknya ke ranah online.

Saya hanya ingin menunjukkan bahwa SMA sudah mulai dilirik dan posisinya bisa dikatakan sama dan bersaing dengan media tradsional. Oleh karena itu, ada dua fakta penting yang kini dilakukan oleh brand ketika ingin melibatkan SMA dalam kampanye mereka: menyebarkan informasi acara atau diperantarai oleh komunitas.

Komunitas SMA menjadi penting sebagai payung yang menaungi buzzer. Mengapa? Selain ada kontrol yang dilakukan oleh admin atau pengelola komunitas terhadap “job” yang dilakukan oleh anggotanya sebagai buzzer, komunitas juga memiliki data mana SMA yang memiliki otoritas terkait sebuah produk.

Bukan berarti brand tidak  bisa memilih siapa saja SMA yang akan mereka gunakan, melainkan dengan jumlah SMA yang hitungan ribuan bahkan jutaan dan staf humas atau pemasaran yang kadang hanya dikelola oleh satu dua orang mungkinkah mereka mendapatkan SMA yang tepat? Belum lagi terkadang waktu yang singkat dan mepet menjadi alasan kurang leluasanya mereka mencari data SMA yang tepat.

Juga, dengan memberdayakan komunitas, diharapkan ada keterlibatan komunitas itu dalam membincangkan brand yang dipublikasikan di akun media sosial SMA yang menjadi buzzer. Ini akan meningkatkan jangkauan dan keluasan informasi positif yang disebarkan oleh SMA dan komunitasnya. Yup, terkadang meski tidak dilibatkan sebagai buzzer berbayar anggota komunitas yang lain akan secara sukarela memberikan retweet atau menjawab mention.

Alasan yang lain adalah untuk mengurangi SMA yang tidak tahu diri. Ini masalah pelik yang muncul antara SMA, komunitas, dan brand. Misalnya, ada saja SMA yang menyerobot langsung menawarkan diri kepada brand sementara di waktu bersamaan brand sedang melakukan kegiatan yang melibatkan komunitas SMA; “mereka” tidak menunggu waktu lagi sampai semua acara selesai dan telah membangun interaksi yang intens dan lama. Saya akan mengulas fenomena ini setelah  seri harga buzzer ini selesai.

Nah, pola yang dimainkan oleh komunitas itu ada dua, menunjuk langsung SMA-nya atau membuka  pendaftaran bagi anggotanya. Cara pertama, maka harga seorang buzzer telah dibahas di konten sebelum ini. Sementara cara kedua saya mencoba menguraikannya berdasarkan pengalaman terlibat dalam sebuah komunitas SMA bernama Blogger Reporter Indonesia.

Komunitas akan mengumumkan di email, grup, WA, atau Facebook terkait adanya undangan sebuah acara. Kemudian SMA akan mendaftarkan diri sesuai dengan kuota yang disediakan oleh komunitas dan brand. Lalu, berapa harganya?

Jika undangan ini disebarkan oleh komunitas dan sebagai sebuah institusi komunitas mendapatkan fee serta ada “uangnya” untuk SMA yang mendaftarkan diri, maka harganya disesuaikan dengan “keputusan” pengelola komunitas. Aspek ini bisa jadi memunculkan perbedaan nominal dari yang diterima oleh SMA dengan yang dianggarkan oleh brand.

Namun, PATUT DICATAT,  bahwa proyek nge-buzz itu datang kepada komunitas dan bukan brand yang menunjuk langsung kepada SMA. Dengan demikian, wajar jika nominal berbeda yang diterima karena bisa jadi pengelola komunitas memiliki kepentingan untuk menyisihkannya demi uang kas. Uang kas komunitas yang bisa dipakai untuk keperluan anggota seperti anggota yang sakit, menikah, atau meninggal dan keperluan lain sebagainya. Karena itu TIDAK ETIS untuk menanyakan langsung ke brand berapa sebenarnya nominal yang digelontorkan ke komunitas untuk proyek ini.

Bolehkah SMA menegosiasikan harga ke komunitas? Tidak ada larangan dalam hal itu asal dilakukan dengan etika dan kebersamaan. Jangan gara-gara uang Anda sebagai SMA tergolong “mata duitan” yang merasa tanpa komunitas Anda bisa berdiri dan jalan sendiri. Lakukan dengan mengontak melalui jalur pribadi ke pengelola atau PIC acara dan jangan menanyakan itu di ruang publik, misalnya komentar di status Facebook.

Apapun itu, harga yang ditentukan untuk buzzer yang daftar ke sebuah acara ditentukan oleh pihak yang membuat acara atau komunitas yang diminati brand untuk mencari SMA.

Bersambung…

komen

Berikan komentar Anda di kolom konten ini dan dapatkan ebook Advertising 2.0: Social Media Marketing in web 2.0 World karya Tracy L. Tuten  yang diterbitkan oleh Praeger Publishers melalui email yang Anda sertakan di komentar…

 

Kang Arul
the authorKang Arul
Dosen, jurnalis, dan penulis. Saat ini selain menjalani profesi sebagai dosen di berbagai perguruan tinggi, ia juga merupakan konsultan untuk konten digital di berbagai perusahaan, lembaga/kementerian, maupun perorangan. Profil lengkapnya sila klik http://www.kangarul.id

8 Comments

Leave a Reply

error: Content is protected !!