Find Us on Socials

Find Us on Facebook

Subscribe to Our Channel

Catatan

CULTURE

364Views

Menjadi penulis profesional bukanlah seperti Aladin mengusap lampu ajaib yang mengeluarkan jin dan bisa mengabulkan tiga permintaan. Bukan pula karena gelar akademis atau seberapa tinggi indeks prestasi akademik yang sedang diraih. Juga, tidak karena jabatan atau status yang sedang dipegang.

Penulis profesional dibentuk karena telah memiliki kultur atau budaya. Kultur yang telah dibina dan lakukan secara kontinyu sejak lama.

Pertama, kultur mengelola waktu. Seseorang yang memilih profesi sebagai penulis dan ingin menjalani profesi yang profesional memiliki kultur pengelolaan waktu yang efektif dan efisien.

Sama halnya dengan karyawan di sebuah perusahaan, setiap penulis profesional harus memiliki jam kerja yang rutin. Mungkin selama satu hingga dua jam setiap pagi atau sore. Waktu tersebut dipergunakan sepenuhnya untuk bekerja menulis. Ada atau tidak permintaan naskah dar penerbit, memiliki peluang atau tidak diterbitkan di media bukan menjadi persoalan penting untuk  sengaja meninggalkan satu hingga dua jam tersebut tanpa menghasilkan apa-apa.

Banyak kendala yang dihadapi oleh penulis (pemula) karena menganggap bahwa menulis itu mudah dan dapat dikerjakan ketika memiliki waktu luang, padahal itu adalah pemikiran yang mesti dikaji lebih jauh. Kenapa? Siapapun tidak bisa memprediksi kapan waktu luang yang cocok dalam menulis. Bisa jadi waktu yang cocok itu malah pada saat sedang sibuk-sibuknya keinginan menulis itu muncul begitu saja.

Dengan memiliki waktu yang tetap untuk menulis, seorang penulis tentu ‘dipaksa’ menulis. Ketika sudah berada dalam kondisi dipaksa tersebut, maka mau tidak mau otaknya dimaksimalkan untuk menulis; dan kalau ada ide-ide yang sudah menumpuk lama di komputer bisa jadi pada saat itu ide-ide tersebut akan selesai menjadi sebuah naskah.

Kultur mengelola waktu juga berkaitan dengan target yang harus dicapai. Artinya, seberapa lama sebuah karya diselesaikan, satu minggu, dua minggu, atau satu bulan?

Membuat target berarti memiliki perhitungan serta perencanaan yang tepat pula. Ibarat karyawan sebuah perusahaan yang harus menyelesaikan tugas-tugasnya dalam waktu satu minggu; sang karyawan tentu berupaya semaksimal mungkin menyelesaikan kewajibannya. Jika tidak, sang karyawan tentu akan ditegur atau diberikan surat peringatan; yang lebih parah lagi kalau ia dipecat.

Nah, penulis pun harus menganggap dirinya karyawan yang diserahi tugas tersebut. Sebagai karyawan profesional, sebuah ide yang diputuskan untuk menjadi calon naskah atau karya harus diselesaikan dalam waktu yang sudah ditentukan (deadline). Buat agenda pekerjaan tersebut dalam time organizer dan bila akan mengadakan temu janji dengan siapapun, usahakan diluar dari agenda pekerjaan menyelesaikan calon naskah yang sudah dipilih. Dan beberapa saat menjelang waktu kerja yang sudah ditentukan, segala hal sudah disiapkan; buku-buku sumber, peralatan kerja, minuman-makanan ringan, hingga mematikan  telepon genggam.

Kedua, kultur menghasilkan karya atau kebiasaan untuk menulis. Sebagai profesi, menjadi penulis artinya selalu manghasilkan karya (naskah); dalam sehari, seminggu, dan (paling lama) sebulan harus ada naskah yang dihasilkan. Apalagi bagi mereka yang memilih penulis sebagai profesi atau yang baru mau coba-coba serius di bidang ini. Tidak ada alasan untuk tidak menghasilkan karya. Bahwa harus ada target kontinyu untuk menghasilkan karya atau menulis apapun; entah apakah nantinya karya tersebut akan ditawarkan ke penerbit atau tidak, entah tulisannya akan dipublikasikan di media atau sekadar mejeng di blog, atau sekadar menuangkan ide saja, yang terpenting adalah memiliki kultur untuk menulis, selalu menulis, dan setiap waktu selalu menulis.

Persoalan kultur ini tidak hanya khusus bagi pemula saja. Kultur menghasilkan karya ini juga kadang (kadang kebanyakan) menimpa mereka yang sudah menghasilkan karya dan dipublikasikan, misalnya buku. Banyak penulis yang akhirnya bersantai ketika satu bukunya terbit. Menikmati hasil dari jerih payahnya dengan berjalan-jalan atau nongkrong di kafe. Sebaliknya, ia tidak menghasilkan satu karyapun.

Padahal kultur menghasilkan karya atau menulis ini akan mengasah kemampuan penulis dalam merangkai kalimat, mempertajam aspek penuangan ide-ide, hingga memfokuskan segala kondisi menjadi kondisi bekerja (menulis). Juga, dengan membiasakan menulis berarti membuat penulis menjajal kemampuannya dalam menulis. Jika selama ini hanya menulis fiksi, maka cobalah untuk belajar menulis non-fiksi. Bila hanya menulis cerita pendek, maka cobalah untuk menulis resensi.

Ketiga, kultur membaca. Penulis serial thriller Stpehen King pernah berujar “If you want to be a writer, you must do two things above all others: read a lot and write a lot…reading is the creative center of a writer’s life…you cannot hope to sweep someone else away by the force of your writing until it has been done to you”. Kutipan ini menandakan bahwa adalah syarat mutlak jika ingin menjadi penulis profesional kegiatan membaca adalah syarat mutlak. Banyak sudah penelitian yang memfokuskan diri untuk mengupas manfaat membaca bagi perkembangan emosional, kecerdasan, dan tingkah laku. Untuk penulis, tentu saja dengan membaca banyak  pula pelapung pertolongan yang bisa diraih saat tenggelam dalam writers block. Hasil membaca, disadari atau tidak, akan membimbing penulis barkaitan dengan gaya menulis, bagaimana menulis fakta, hingga kekayaan dalam menggunakan kosakata.

Pertanyaanya adalah seberapa banyak buku yang Anda baca dalam satu minggu? Berapa lama waktu yang Anda habiskan untuk membaca satu buku? Seringkah mengkonsumsi bahan bacaan seperti majalah, koran, atau berita online? Berapa banyak buku di perpustakaan pribadi Anda? Bagaimana dengan frekuensi mengunjungi perpustakaan?

KangArul | Dosen Galau
Blogger yang juga konsultan media dan akademisi yang telah menulis lebih dari 100 buku. Memiliki cita-cita keliling Indonesia selain untuk menikmati wisata juga untuk berbagi kebaikan maupun sedikit ilmu. Selain di blog ini, ia juga memiliki blog di www.kangarul.com

1 Comment

  • Pingback: Penulis itu harus MEMPERTIMBANGKAN WAKTU | Dosen Galau

Leave a Reply

error: Konten ini terproteksi untuk dikopi