Find Us on Socials

Find Us on Facebook

Subscribe to Our Channel

Catatan

CLIENT FOCUS and NETWORKING

266Views

Menulis bukanlah pekerjaan yang mementingkan diri sendiri. Artinya menulis bukanlah proses yang hanya terpaku pada keinginan pribadi bagaimana naskah ini dihasilkan.  Sebuah naskah bahkan pada kenyataannya bukanlah milik pribadi yang dilarang untuk diutak-atik, diubah, atau direka bentuk. Pasalnya sebuah naskah yang dihasilkan penulis secara langsung maupun tidak langsung akan terikat oleh ketentuan yang dicanangkan oleh penerbit atau redaksi.

Sebuah majalah remaja memberikan informasi bahwa sebuah naskah cerpen haruslah antara 6 hingga 12 halaman. Jadi jangan pernah memaksakan untuk menulis cerpen di luar ketentuan tersebut, sudah tentu selain tidak menghormati ketentuan yang berlaku, menambah pekerjaan redaksi, juga terlihat tidak profesional.  Atau ada penulis yang menghasilkan naskah sekitar 150 halaman sementara yang diperlukan oleh penerbit minimal 200 halaman. Jangankan untuk melihat isi atau tema naskah yang diangkat, dari sisi teknis saja sudah membuat masalah. Tentu kita bisa membayangkan bagaimana reaksi staf penerbitan yang menerima naskah tidak sesuai dengan ketentuan tersebut.

Seorang penulis kenamaan Stephen King pernah menulis 700 halaman untuk novel yang akan diterbitkan, ketika berada di tangan agen naskah ia diminta untuk mengurangi jumlah halaman menjadi antara 300 hingga 400 halaman; Stephen King pun mau melakukan hal itu.  Coba kita bayangkan, sebenarnya sekelas Stephen King bisa saja menolak untuk melakukan saran tersebut apalagi dengan pertimbangan sekitar 200 an halaman yang harus dihilangkan tersebut perlu pengorbanan waktu, tenaga, pikiran, dan tentu saja uang. Tetapi di sinilah fokus kepada klien, dalam hal ini pihak penerbitan buku, yang diutamakan. Bisa jadi ada keterbatasan yang dimiliki penerbit dan bisa jadi saran untuk mengurangi ratusan halaman tersebut juga sesuai dengan kajian serta penelitian pihak agensi naskah dan penerbit.

Sama juga halnya ketika menulis buku. Satu penerbit menerapkan royalti 10 % dan penerbit lain 6 %. Sebagai penulis kita tidak bisa memaksa penerbit untuk mengikuti besaran royalti, ada keterbatasan. Juga, ada penerbit yang membayar naskah per halaman sekitar Rp5 ribu, tetapi ada yang sampai Rp150 ribu. Untuk yang hanya membayar Rp5 ribu per naskah kita tidak bisa ngomel, berpandangan negatif, menyebarkan berita tersebut di milis atau kepada penulis lain, bahkan membuat daftar blacklist agar tidak mengirim naskah ke penerbit yang bersangkutan. Penerbit adalah perusahaan bisnis, dan layaknya perusahaan bisnis lainnya ada juga penerbit yang besar dengan modal besar pula namun ada pula penerbit yang kecil dengan modal yang pas-pasan pula.

Oleh karena itu, hubungan dengan pihak redaksi atau penerbit menjadi modal utama yang bisa membantu proses naskah yang dihasilkan. Banykannya klien yang dikenal akan memberi pengetahuan awal sebelum memutuskan apakah tulisan atau naskah ini ditujukan kepada penerbit yang bersangkutan atau tidak. Dengan demikian setidaknya kita bisa mengetahui bagaimana proses seleksi naskah, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menentukan lolos naskah, bagaimana jenis perjanjiannya, bagaimana sistem pembayaran naskah, bagaimana proses pembayaran, dan sebagainya sehingga apa yang dikerjakan oleh kita bisa diukur.

KangArul | Dosen Galau
Blogger yang juga konsultan media dan akademisi yang telah menulis lebih dari 100 buku. Memiliki cita-cita keliling Indonesia selain untuk menikmati wisata juga untuk berbagi kebaikan maupun sedikit ilmu. Selain di blog ini, ia juga memiliki blog di www.kangarul.com

2 Comments

  • Pingback: Memasarkan Buku ke Komunitas | Dosen Galau
  • Pingback: Bagaimana cara menulis? | Dosen Galau

Leave a Reply

error: Konten ini terproteksi untuk dikopi