Catatan

Bullying di Internet

838Views

Perundungan atau yang lebih dikenal dengan istilah bullying merupakan tindakan negatif yang dilakukan oleh orang lain baik itu secara terus menerus dan berulang. Tindakan ini seringkali menyebabkan korban tidak berdaya, terlukai secara fisik maupun mental (Rigby, 2002:27).

Dalam aspek etimologi, bully atau dalam Bahasa Indonesia kerap dipergunakan dengan kata “rundung” yang bermakna mengganggu; mengusik terus-menerus; menyusahkan. Beberapa hasil riset menunjukkan bahwa perundungan terjadi pada fisik, namun bentuknya semakin melebar juga pada verbal dan atau psikologi (Cowie & Jennifer, 2008:2-3) dan mengambil terjadi di dunia nyata (offline) maupun dunia virtual (online).

Sementara di dunia siber, perundungan siber atau cyber-bullying dijelaskan sebagai tindakan perundungan yang terjadi dan memakai medium siber(Campbell, 2005; Kowalski, Limber, & Agatston, 2008; Smith, 2004). Selain cyber-bullying, ada istilah lain yang juga bisa digunakan untuk menggambarkan perundungan siber ini, yaitu online social cruetly atau electronic bullying(Kowalski et al., 2008:42). Dalam catatan Shariff (2011: 28–30) istilah perundungan siber pertama kali digunakan bisa ditarik referensi akademisnya melalui dua nama, yakni Bill Belsey atau Nancy Willard.

Menurut Belsey (2005) perundungan siber adalah kesengajaan, perulangan prilaku maupun kebiasaan negatif dengan mengunakan teknologi informasi dan komunikasi seperti email, pesan instan, sampai situs personal oleh individu maupun kelompok dengan maksud menyakiti orang lain. Sementara menurut Willard, direktur pada Center for Safe and Responsible Internet Use di Amerika mendefinisikan perundungan siber sebagai melakukan fitnah, penghinaan, diskriminasi, pengungkapan informasi atau konten yang bersifat privasi dengan maksud mempermalukan, atau juga bisa dimaknai dengan komentar yang menghina, menyinggung sampai pada vulgar (Willard, 2003 dalam Shariff, 2011:29).

Definisi perundungan siber juga diulas oleh Smith (2004) yang menyatakan bahwa perundungan siber merupakan tindakan agresif yang dilakukan secara sengaja baik oleh sekelompok orang maupun individu yang menggunakan medium atau kontak elektronik secara berulang dan dalam waktu tertentu terhadap korban yang tidak bisa (lemah) dalam mempertahankan dirinya.

Terminologi tidak jauh berbeda juga dapat diakses melalui laman Wikipedia. Laman ini menyatakan bahwa:

Cyberbullying adalah segala bentuk kekerasan yang dialami anak atau remaja dan dilakukan teman seusia mereka melalui dunia cyber atau internet. Cyber bullying adalah kejadian manakala seorang anak atau remaja diejek, dihina, diintimidasi, atau dipermalukan oleh anak atau remaja lain melalui media internet, teknologi digital atau telepon seluler.” (Wikipedia, n.d.)

Dari beragam terminologi perundungan siber yang telah dipaparkan, peneliti mendefinisikan perundungan siber sebagai tindakan penghinaan, kekerasan psikis, atau intimidasi yang dilakukan seseorang,kelompok, atau institusimelalui perangkat teknologi dan informasi di media siber terhadap orang, kelompok, atau institusi lain. Tindakan ini dimaksudkan untuk mempermalukan, mengintimidasi, menyebar keburukan dan kebencian di media siber baik ditujukan secara khusus kepada korban maupun dengan cara diketahui publik. Pada intinya, perundungan siber itu bisa sebut sebagai teror sosial melalui teknologi (Kowalski et al., 2008:41).

Definisi ini jelas menegaskan bahwa perundungan tidak hanya dilakukan oleh perorangan, namun di media siber bisa jadi perundungan siber itu dilakukan oleh intitusi, baik resmi atau tidak. Selain itu, perundungan siber juga bisa dilakukan secara langsung maupun tidak. Langsung di sini dalam pengertian medium yang digunakan hanya bisa diakses oleh korban maupun pelaku. Tidak langsung menandakan bahwa medium yang digunakan bisa milik korban, milik pelaku, milik korban yang diretas/dibajak oleh pelaku atau bukan milik keduanya. Fasilitas di media siber memungkinkan siapapun untuk mengakses akun media sosial, misalnya, milik orang lain atau menggunakan akun anonim untuk membuat akun media sosial baru.

Dibandingkan di dunia nyata (offline) perundungan di dunia online menjadi mudah dilakukan dan cenderung aman. Perundungan di media siber bisa dilakukan oleh identitas yang tersembunyikan. Artinya, perangkat media siber memungkinkan seseorang untuk membangun identitas lain (anonymous) atau realitas diri palsu sehingga pengguna lain tidak mengetahui siapa atau identitas sebenarnya (Agger, 2004; Hine, 2000; Jordan, 1999; Konijn, Utz, Tanis, & Barnes, 2008; Nasrullah, 2012; Turkle, 2005).

Perundungan yang terjadi di media siber salah satu aspek yang harus diperhatikan bahwa perundungan itu terjadi melalui interaksi antarpengguna di internet. Interaksi (interactivity) sendiri merupakan pembeda antara media baru yang digital dengan media tradisional yang menggunakan analog (Bell, 2001; Gane & Beer, 2008; Manovic, 2001; Nasrullah, 2014). Dalam konteks komunikasi, interaksi di media siber pada dasarnya tergantung pada perangkat teknologi. Komunikasi yang terjadi di antara pengguna diwakili oleh mesin (perangkat teknologi). Realitas ini berarti fisik dan ekspresi dalam berkomunikasi yang biasanya menjadi penting ketika terjadi dalam komunikasi tatap muka (face-to-face) telah diwakili sehingga tidak ada lagi perbincangan tentang fisik, sosial dan batasan geografis; dalam istilah para pengkaji siber bisa disebut sebagai ‘remediated’(Graham, 2004:390).

Selanjutnya, Gane dan Beer(2008:97) memberikan sudut pandang untuk melihat bagaimana interaksi itu terjadi di media siber yang bisa bermakna 1) sebuah struktur yang dibangun dari perangkat keras maupun perangkat lunak dari berbagai sistem media, 2) human agency, melibatkan manusia, dan adanya desain maupun perangkat sebagai variabel-variabel yang bebas digunakan, 3) konsep untuk menjelaskan tentang komunikasi yang terjadi antara pengguna yang termediasi oleh media baru dan memberikan kemungkinan-kemungkinan baru yang selama ini ada dalam proses komunikasi interpersonal, dan 4) bisa diartikan sebagai konsep yang menghapuskan sekat-sekat, sebagai contoh, antara pemerintah dan warga negara.

Namun, bukan berarti komunikasi termediasi komputer atau CMC (computer mediated communication) dengan perantara teknologi baru saja muncul ketiga adanya internet.Teknologi yang dimaksud digunakan dalam komunikasi di media siber tidaklah seperti pengertian teknologi pada umumnya karena teknologi pada dasarnya sudah sejak lama menjadi mediasi komunikasi antarmanusia seperti televisi, telepon, dan sebagainya(December, 1996). Dalam CMC teknologi lebih spesifik dan secara teknis teknologi tersebut didesain, dibuat, digunakan agar memungkinkan terjadinya pertukaran data dan informasi(Cantoni & Tardini, 2006; Thurlow, Lengel, & Tomic, 2004). Secara terminologi CMC dijelaskan sebagai komunikasi termediasi komputer yang bagi December (1996)merupakan proses komunikasi manusia melalui komputer yang melibatkan khalayak, tersituasi dalam konteks tertentu, di mana proses tersebut memanfaatkan media untuk tujuan-tujuan tertentu.

Salah satu efek atau bisa dikatakan sebagai konsekuensi dari interaksi di media siber itu adalah teks—termasuk imej—yang secara visual menjadi satu-satunya sarana komunikasi. Termasuk, perundungan siber ini lebih banyak terjadi dengan menggunakan teks dikarenakan komunikasi maupun interaksi di media siber diwakili oleh teks (Bell, 2001; Hine, 2000; Shariff, 2011). Jika mengupas perundungan siber, teks menjadi sarana untuk melakukan tindakan negatif seperti pelecehan atau ejekan. Bahasa (teks) di media siber mengalami perubahan yang dalam pandangan (Crystal, 2004)bahasa internet atau “internet language” merupakan medium keempat setelah bahasa tulis (writing), bahasa bicara (speaking), dan bahasa tanda (signing).

Membincangkan teks di media siber, maka ada dua term yang bisa digunakan yaitu “Netspeak” dan “Netlingo”. Netspeak diartikan pembicaraan yang seolah-olah adalah bahasa tertulis. Netspeak terjadi tatkala para pengguna melakukan interaksi langsung (synchronous) seperti di dalam MUDs, online chat, atau instant messaging (Thurlow et al., 2004:125) . Misalnya fasilitas Facebook Chat yang digunakan sebagai medium untuk melakukan obrolan (chat) secara langsung dengan mediasi teks yang mewakili bahasa bicara.

Oleh karena itu, teks yang muncul di ruang obrolan itu diimajinasikan seolah-olah sedang berbicara. Tipografi teks yang muncul serta berkembang di media siber adakalanya pada kata-kata (morphemes), huruf (graphemes), maupun tanda baca serta penggunaan simbol-simbol atau gambar tertentu. Sedangkan netlingo sebagai penulisan teks seolah-olah sedang berbicara.Teks yang ditulis di media siber menjadi bahasa (baca:teks) yang seolah-olah mewakili ungkapan ketika berbicara. Sehingga setiap kata atau kalimat yang ditulis dalam media siber seolah-olah adalah ucapan atau suara beserta intonasinya dalam percakapan keseharian (Nasrullah, 2014; Thurlow et al., 2004:124).

Riset tentang perundungan lebih banyak dilakukan melalui kajian-kajian seperti psikologi dan pendidikan. Bahkan beberapa referensi awal tentang perundungan menunjukkan bahwa perilaku dan atau kebiasaan negatif ini sering terjadi di lembaga pendidikan(lihat Cowie & Jennifer, 2008; Kraft & Wang, 2009; Lee, 2004; Minton & O’Moore, 2004) termasuk bagaimana mengatasi perundungan baik untuk guru, orang tua, dan siswa (Coloroso, 2008) maupun melibatkan komunitas di sekitar(Hirsch & Lowen, 2012).

Namun, perkembangan riset terbaru sepertinya telah melebarkan bahwa persoalan perundungan bukan hanya objek kajian tentang perilaku atau kepribadian semata(Satalina, 2014), namun telah diteliti bahwa perundungan yang terjadi di tempat kerja (Daniel, 2009; Rayner, Hoel, & Cooper, 2002), melibatkan orang dewasa (Randall, 2001), perundungan yang mengarah pada pelecehan seksual (Duncan, 1999), termasuk juga perundungan siber (Belsey, 2005; Hindujaa & Patchinb, 2008; Kraft & Wang, 2009; Minton & O’Moore, 2004; Shariff, 2011; Ybarra, 2004). Sementara referensi yang berasal dari akademisi maupun periset di Indonesia juga mampu perundungan baik offline maupun online juga didapat objek kajiannya yang beragam, mulai dari tautan perundungan dengan undang-undang (Satyawati & Purwani, 2014), aspek hukum (Sudarwanto, 2009), sampai aspek kepribadian di internet (Satalina, 2014).

REFERENSI

Agger, B. (2004). The Virtual Self, A Contemporary Sociology. Malden, MA: Blackwell Publishing Ltd.

Bell, D. (2001). An Introduction to Cybercultures. New York: Routledge.

Belsey, B. (2005). Cyber Bullying. Retrieved from http://www.cyberbullying.ca/

Campbell, M. (2005). Cyberbullying: An old problem in a new guise? Australian Journal of Guidance and Counseling, 15(1), 68–76.

Cantoni, L., & Tardini, S. (2006). Internet. Madison Ave, NY: Routledge.

Coloroso, B. (2008). The Bully, the Bullied, and the Bystande. New York: HarpersCollins Publishers.

Cowie, H., & Jennifer, D. (2008). New Perspectif On bullying. New York: Open University Press.

Crystal, D. (2004). Language and the Internet. Cambridge, UK: Cambridge University Press.

Daniel, T. A. (2009). Stop Bullying at Work. Alexandria, Virgina: Society for Human Resource Management.

December, J. (1996). Units of Analysis for Internet Communication. Journal of Communication, 46(1).

Duncan, N. (1999). Sexual Bullying. London and New York: Routledge.

Gane, N., & Beer, D. (2008). New Media, The Key Concepts. New York: Berg.

Graham, S. (2004). The Cybercities Reader. (S. Graham, Ed.). London and New York: Routledge.

Hindujaa, S., & Patchinb, J. W. (2008). Cyberbullying: An Exploratory Analysis of Factors Related to Offending and Victimization. Deviant Behavior, 29(2), 129–156.

Hine, C. (2000). Virtual Ethnography. London: SAGE Publications, Ltd.

Hirsch, L., & Lowen, C. (2012). Bully: An Action Plan for Teachers, Parents, and Communities to Combat the Bullying Crisis. New York: Weinstein Books.

Jordan, T. (1999). Cyberpower, The Culture and Politics of Cyberspace and the Internet. London and New York: Routledge.

Konijn, E. A., Utz, S., Tanis, M., & Barnes, S. B. (2008). Mediated Interpersonal Communication. New York and London: Routledge.

Kowalski, R. M., Limber, S. P., & Agatston, P. W. (2008). Cyber Bullying: Bullying in the Digital Age. Malden, MA: Blackwell Publishing Ltd.

Kraft, E. M., & Wang, J. (2009). Effectiveness of Cyber bullying Prevention Strategies : A Study on Students ’ Perspectives. International Journal of Cyber Criminology, 3(2), 513–535.

Lee, C. (2004). Preventing Bullying in Schools. Thousand Oaks, California: Paul Chapman Publishing.

Manovic, L. (2001). The Language of New Media. Cambridge, Massachusetts: The MIT Press.

Minton, S. J., & O’Moore, M. (2004). Bullying in Schools Dealing with. Thousand Oaks, California: Paul Chapman Publishing.

Nasrullah, R. (2012). Komunikasi Antar Budaya di Era Budaya Siber. Jakarta: Prenada Media.

Nasrullah, R. (2014). Teori dan Riset Cybermedia. Jakarta: Prenada Media.

Randall, P. (2001). Bullying in Adulthood. New York: Brunner-Routledge.

Rayner, C., Hoel, H., & Cooper, C. L. (2002). Workplace Bullying. London and New York: Taylor & Francis.

Rigby, K. (2002). New Perspectives on Bullying. London and Philadelphia: Jessica Kingsley Publishers.

Satalina, D. (2014). Kecenderungan Perilaku Cyber Bullying Ditinjau dari Tipe Kepribadian Ekstrovert dan Introvert. Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan, 2(2).

Satyawati, I. A. D., & Purwani, S. P. M. . (2014). Pengaturan Cyber Bullying dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Kertha Wicara, 3(2).

Shariff, S. (2011). Cyber Bullying. London and New York: Routledge. http://doi.org/10.1201/b10718-26

Smith, W. J. (2004). Balancing security and human rights: Quebec schools between past and future. Education and Law Journal, 14(1), 99–136.

Sudarwanto, A. S. (2009). Cyber-Bullying Kejahatan Dunia Maya Yang Terlupakan.pdf. Jurnal Hukum PRO JUSTITIA, 27(1), 1–16.

Thurlow, C., Lengel, L., & Tomic, A. (2004). Computer Mediated Communication, Social Interaction and The Internet. Thousand Oaks, CA: SAGE Publications, Ltd.

Turkle, S. (2005). The Second Self, Computers and the Human Spirit. London: The MIT Press.

Wikipedia. (n.d.). Cyber Bullying. Retrieved from http://id.wikipedia.org/wiki/Cyberbullying

Ybarra, M. (2004). Linkages between depressive symptomatology and Internet harassment among young regular Internet users. Cyberpsychol and Behavior, 7(2), 247–57.

 

Kang Arul
the authorKang Arul
Dosen, jurnalis, dan penulis. Saat ini selain menjalani profesi sebagai dosen di berbagai perguruan tinggi, ia juga merupakan konsultan untuk konten digital di berbagai perusahaan, lembaga/kementerian, maupun perorangan. Profil lengkapnya sila klik http://www.kangarul.id

1 Comment

Leave a Reply

error: Konten ini terproteksi untuk dikopi