Bloggerpreneur

Blog dan Filosofi Jengkol

1.22KViews

Blog dan filosofi jengkol?

Aha… apalagi ini?

Dalam bahasa sederhana, jengkol atau sebagian daerah mengenalnya dengan sebutan jering. Jengkol secara ilmiah disebut Archidendron pauciflorum  atau bisa disebut juga dengan pithecellobium jiringa. Malaysia mengenalnya dengan jering dan Myanmar dengan da nyin thee. Sedangkan bagi urang sunda jengkol biasanya disemur dan disebut dengan ati maung.

Bagi sebagian orang, bahkan ada pendapat ulama, memakan jengkol masuk dalam hal yang sebaiknya dihindari. Sebab, mengonsumi buah polong-polongan yang khas Aisa Tenggara ini bisa menyebabkan bau mulut dan dikhawatirkan akan mengganggu orang sekitarnya.

Selain itu, urin yang dikeluarkan setelah memakan jengkol akan meninggalkan bau tak sedap. Untuk sebagian besar orang bau ini sungguh mengganggu. Uniknya bau jengkol itu kadang bertahan lama di kamar mandi meski sudah disiram air berulang kali.

Meskipun bau, namun banyak juga variasi memasak jengkol di sebagian besar wilayah Indonesia. Bahkan saya menemukan ada 99 variasi memasak jengkol, ada kafe khusus jengkol, ada krupuk jengkol, dan bahkan ada merchandise seperti kaos yang bermotif atau ikon jengkol.

Di luar kontroversi antara kubu KMP (Komisi Makan Jengkol) dan KIH (Komisi Ingin Harum), saya mencoba membawa filosofi jengkol dalam dunia perblogan. Positif dan negatifnya coba saya uraikan dengan catatan tetap dalam pandangan subyektif saya.

Blog dan Filosofi Jengkol

Berikut penjelasannya:

1. Meski Bau, Tetap Ada yang Suka

Jelas salah satu epek (pake P bukan Ep) dari jengkol adalah bau. Tapi itu tidak menghalangi para blogger untuk menulis konten, bahkan ada yang rutin setiap hari, untuk mempublikasikan di blog mereka.

Kadang konten itu bagi sebagian orang adalah hal yang bau, “apaan sih gitu aja ditulis di blog?” atau “kayak gitu aja pake ditulis?”. Kadang ada yang lebih seram lagi, “wah, posting-an bayaran, nih”,  “pasti ada pesan sponsor”, atau “dia blogger pesanan”. Beragam komentar mungkin dan bisa jadi muncul terkait topik atau soal apa saja yang ditulis oleh si blogger.

Namun, selalu saja ada orang lain yang membacanya. Apapun jenis tulisan, baik berbayar-tidak atau ada pesan sponsor-tidak, setiap yang ditulis oleh blogger selalu memberikan manfaat. Karena, secara algoritma mesin pencarian di internet, bisa jadi sebuah topik akan memunculkan entry dari posting-an blog dan bukan dari sumber utama.

Gambar bagaimana mesin pencari di web bekerja

JIka tidak percaya, coba klik tautan ini: Pencarian sebuah merk smartphone sebagai contoh. Hasil pencarian di Google menunjukkan bahwa informasi soal smartphone merk A di halaman pertama hanya dua yang berasal dari brand yang bersangkutan, sisanya dari media lain dan ada yang dari blogger.

2. Meski Bau, Tetap Ada yang Teringat

Sekali kita makan jengkol, teman atau sahabat bahkan keluarga pasti langsung mengenal kita sebagai penggemar jengkol atau jengkol addict. Tanda pengenal itu akan terus melekat walau sebenarnya kita bukanlah masuk fans berat yang di Thailand disebut dengan luk-niang ini.

Begitu juga dengan blog, terkadang meski si blogger tidak secara jelas menegaskan di blognya spesialisasi topik konten blognya, namun seringkali si pembacalah yang memberikan stempel terhadap blogger bersangkutan. Tak jarang stempel ini di suatu kondisi merugikan sang blogger.

Misalnya karena kadung dikenal sebagai blog yang sering menulis untuk brand x, maka ketika ia menulis brand y maka langsung dianggap aneh. Masih untung gak dicibir atau digosipin aneh-aneh.

Sisi positifnya, blogger menjadi semakin spesifik dan apabila bisa memanfaatkan stempel ini justru akan mendatangkan keuntungan tersendiri. Keuntungan itu dikarenakan ada semacam kesan “loyalitas” dari si blogger terhadap sebuah brand. Ketika brand berselancar di blog, maka akan ditemukan banyak konten terkait brand tersebut. Selanjutnya? Pundi-pundi pun akan dipenuhi gegara blogger selalu dilibatkan oleh brand bersangkutan.

3. Meski Bau, Tetap Ada yang Masak

Sudah tahu jengkol itu akan menghasilkan efek bau, namun tetap saja banyak yang menghidangkan makanan ini. Saya sering menjumpai olahan jengkol di beberapa rumah makan dan restoran, kerap juga menjumpai jengkol sebagai hidangan di pesta pernikahan, malah beberapa rumah yang saya kunjungi menghidangkan kuliner jengkol sebagai penghormatan kepada tamu.

Meski blog seringkali berisi remeh-temeh, namun tetap saja selalu banyak konten yang ditulis oleh orang. Selalu saja ada blog baru setiap hari bahkan setiap jam dan menit yang muncul di berbagai belahan dunia.

Apalagi jika ada yang tahu bahwa blog bisa menjadi influencer atau semacam the capacity or power of persons or things to be a compelling force on or produce effects on the actions, behavior, opinions, etc., yang dalam dunia pemasaran (marketing) keberadaan blog(ger) bisa memberikan manfaat dan pengaruh terhadap pemasaran sebuah brand. Tak heran, semakin besar ‘bau’ sang blogger di jagat maya, akan semakin (diharapkan) kuat pengaruh kontennya.

Blog dan Filosofi Jengkol

Tiga filosofi jengkol dan kaitan dengan aktivitas blogger di atas hanyalah semacam perenungan bagi blogger. Semacam sebuah kaca di dinding dan kita harus melihat seberapa bau itu di dunia online dan juga pengaruhnya di offline.

Jika memilih bau yang tidak baik, maka blogger bisa dijadikan senjata untuk menyakiti orang, menjelekkan sebuah brand dan bahkan secara tidak sadar akan memberikan ruang kesombongan diri bagi blogger yang bersangkutan. Maka, filosofi jengkol berdampak buruk ini cocok disematkan bagi blogger tersebut.

Sebaliknya, jika memilih bau yang baik, maka blogger dengan segala kemampuan dan perbedaan potensi masing-masing akan menjadikan blognya sebagai sarana menuju kebaikan. Walau isinya adalah pesan sponsor atau dibayar, tetapi ia menuliskannya dengan kejujuran dan tidak bohong. Minimal uang yang didapat bisa bermanfaat bayar tagihan listrik, air, atau bahkan rekreasi bersama keluarga.

Nah, ketika saya melihat sebuah kutipan bagus di sebuah kafe, saya mencoba memvisualisasikannya secara signifikan an sich (tsssaaahhh bahasanya). Bahwa definisi sebuah blog yang baik adalah harus dimulai dan diakhiri dengan sebuah senyuman bagi si pembaca blog.

good-blog

Sekarang tergantung bau apa yang ingin kita pilih.

Rahasiaanya adalah tetaplah menjadi blogger yang baik. Nah, biar kekinian, seperti motipator yang coba-coba bikin kutipan tapi gagal, saya mencoba ikutan membuat kutipan galau di bawah ini (WARNING: tidak disarankan bagi mereka yang mengerti bahasa english):

the-secrets-of-blog

Abaikan kutipan galau di atas….

Yang pasti, filosofi jengkol ini bisa membawa sedikit penjelasan apa itu blog dan bagaimana menghadapi kenyataan ketika seseorang memilih profesi menjadi blogger. Kita tidak bisa mengharapkan semua pembaca atau blogger lain setuju dengan kita…

tanda-tangan

Kang Arul
the authorKang Arul
Dosen, jurnalis, dan penulis. Saat ini selain menjalani profesi sebagai dosen di berbagai perguruan tinggi, ia juga merupakan konsultan untuk konten digital di berbagai perusahaan, lembaga/kementerian, maupun perorangan. Profil lengkapnya sila klik http://www.kangarul.id

14 Comments

Leave a Reply

error: Content is protected !!