CatatanMinat & HobiTeknologi

Berapa Harga Seorang Buzzer di Media Sosial?

877Views

Bagian I

Majalah Marketing  Edisi 10/XV/Oktober 2015 menurunkan topik pilihan tentang Buzzer Rules, Buzzer dalam Kampanye Brand di Media Sosial. Topik ini diangkat melihat trend yang berkembang belakangan ini bahwa banyak perusahaan yang menggunakan jasa buzzer untuk membantu promosi barang atau jasa sebuah perusahaan. Editor in chief majalah tersebut bahkan dengan jelas menegaskan:

Meskipun bukan satu-satunya kanal/saluran marketing, harus diakui kehadiran buzzer memberi peran yang penting untuk menggenjot kesadaran publik.

Mengapa pilihannya media sosial? Banyak ulasan yang sudah dibuat untuk menjawab pertanyaan ini. Mulai dari laporan media, buku-buku, maupun seminar/workshop baik yang dilakukan oleh praktisi maupun akademisi. Namun, salah satu alasan mengapa menggunakan buzzer dan media social activists (SMA) karena adanya kekuatan khalayak.

Khalayak di sini tidak hanya selaku pihak ketiga yang tidak bersentuhan dengan sebuah brand, melainkan mereka yang juga selaku konsumen sehingga mengalami pengalaman individual terhadap sebuah produk. Sebagaimana diulas Frank Jefkins (1998) jauh-jauh hari sudah mengingatkan bahwa konsumen (pemakai produk) menempati posisi pertama dalam penetrasi sentimen sebuah brand, bisa negatif atau positif, dan sebuah komentar dari konsumen bisa menyebabkan krisis komunikasi serius bagi sebuah brand.

Untuk mengetahui bagaimana pernyataan ini berlaku, saya mengutip Brown, R. (2009:17). Dalam bukunya Public Relations and the Social Web yang diterbitkan du Philadelphia, PA oleh  Kogan Page, Brown mengungkap sebuah kasus yang melibatkan perusahaan komputer dan pelanggannya yang kebetulan rajin menulis di blog.

Kasus ini sangat ramai dibincangkan terkait hubungan sebuah brand dengan realitas di media sosial. Beberapa menyebutnya sebagai “Dell Hell”. Kira-kira begini terjemahannya:

Kekuatan sesuhgguhnya dari sebuah blog bisa ditunjukkan dalam sebuah peristiwa yang terkenal dengan sebutan “Dell Hell”. Jeff Jarvis merupakan seorang warga negara Amerika yang berprofesi sebagai jurnalis dan pernah menjadi kritikus televisi untuk majalah People. Ia juga merupakan rekanan dari New York Daily News dan kolumnis untuk San Fransisco Examiner. Jeff juga pernah menjadi  penulis kolom tetap di suplemen Media Guardian di Inggris.

BuzzMachine merupakan blog pribadi yang ditulis Jeff dan menjadi contoh bagaimana melalui blog tersebut ia menuliskan pengalaman tidak menyenangkan dengan komputer bermerek Dell yang baru dibeli olehnya serta  bagaimana hubungan dengan pengaduan pelanggan perusahaan Dell di tahun 2005. Dengan judul ‘Dell lies. Dell sucks’ Jeef menuliskan bahwa ia berulangkali dan ingin mengingatkan orang lain untuk lebih berhati-hati dan mempertimbangkan apa yang telah ditulisnya.

Tulisan tersebut tidak disangka-sangka mendapatkan respon yang luar biasa dari pelanggan Dell lainnya yang juga merasa tidak puas dengan pelayanan perusahaan tersebut. Banyak pembaca blog yang meninggalkan komentar mereka terkait pengalaman berhubungan dengan Della dan juga  blogger lain bahkan menaruh tautan di blog mereka yang akan tertuju pada tulisan Jeff tersebut.

Kisah itu berlanjut dengan semakin banyaknya cerita-cerita yang tidak menyenangkan mulai dari pelayanan rumah yang tidak mereka dapatkan, penggantian perangkat yang tidak bekerja maupun surat elektronik yang tidak dibalas.

Pada awal Jeff menulis blog tersebut ia seperti tidak dihiraukan oleh Dell. Seiring dengan semakin berkembangnya tulisan di blog, komentar yang juga banyak, dan penyebaran tautan membuat akhirnya Dell memutuskan untuk mengganti perangkat komputer Jeff yang rusak itu. Namun, apa yang dilakukan Dell ternyata bisa dibilang sudah terlambat. Blog tersebut telah mendapat perhatian jurnalis dan kisahnya dipublikasikan di media massa mulai dari surat kabar maupun majalah. Tidak hanya itu, banyak blog terpicu dan juga ikut menuliskan pengalaman tidak menyenangkan terhadap Dell.

Yang terjadi adalah tingkat kepuasaan pelanggan terhadap Dell menurut drastis. Kondisi ini menyebabkan serapan produk menjadi rendah dan turut memukul keuntungan perusahaan tersebut.

Apa yang terjadi dengan Jeff dan Dell masih terus berlanjut. Pada Oktober 2007, Jeff menulis kembali sebuah artikel yang dimuat di media berpengaruh Business Week di mana artikel tersebut sebagian merupakan hasil pertemuan serta wawancara dengan Michael Dell. Dalam laporan tersebut dijelaskan bahwa sejak tulisan Jeff muncul di blog perusahaan Dell telah menghabiskan anggaran sekitar 150 juta US dolar hanya untuk meningkatkan pelayanan pelanggan (customer service).

Bersambung….

komen

Berikan komentar Anda di kolom konten ini dan dapatkan ebook Customer Service:New Rules for a Social Media World karya Peter Shankman yang diterbitkan oleh Pearson Education INC tahun 2011 melalui email yang Anda sertakan di komentar…

Kang Arul
the authorKang Arul
Dosen, jurnalis, dan penulis. Saat ini selain menjalani profesi sebagai dosen di berbagai perguruan tinggi, ia juga merupakan konsultan untuk konten digital di berbagai perusahaan, lembaga/kementerian, maupun perorangan. Profil lengkapnya sila klik http://www.kangarul.id

54 Comments

  • Ada juga cerita lain yang pernah saya baca soal ketidakpuasan pembeli. Bedanya mereka perusahaan gendongan bayi. Sama-sama fatal.
    Sayangnya buzzer masih dianggap sebelah mata dan menganggap buang uang dan tidak memberikan hasil yang signifikan. Kalau menurut saya justru sebaliknya. Plus bisa memberikan brand awarness ke target secara optimal.

    Fyuh sekalian curhat sayanya hehehehhe

  • Saya pernah hampir batal dapat hadiah menang lomba (katanya ditarik karena dalam waktu 3 hari saya tidak menghubungi padahal pengumuman tertulis di web manapun tidak ada, juga tidak ada pemberitahuan via e-mail, medsos, atau SMS. Ngakunya sih telepon2 nomor saya tapi gak ada itu di log HP saya). Lalu saya tuliskan di blog kekecewaan saya dan saya SMS salah satu EO-nya, saya bilang, “Saya bukan blogger kalau tidak menuliskan ini.”
    Akhirnya hadiah saya segera dikirim dan pihak EO meminta saya untuk mengklarifikasi tulisan di blog 😀

  • Saya pernah hampir batal dapat hadiah menang lomba (katanya ditarik karena dalam waktu 3 hari saya tidak menghubungi padahal pengumuman tertulis di web manapun tidak ada, juga tidak ada pemberitahuan via e-mail, medsos, atau SMS. Ngakunya sih telepon2 nomor saya tapi gak ada itu di log HP saya). Lalu saya tuliskan di blog kekecewaan saya dan saya SMS salah satu EO-nya, saya bilang, “Saya bukan blogger kalau tidak menuliskan ini.”
    Akhirnya hadiah saya segera dikirim dan pihak EO meminta saya untuk mengklarifikasi tulisan di blog 😀

  • Pingback: Ini Harga Buzzer yang Diundang | Dosen Galau
  • judul nya bagus banget ya, ternyata gak disebutkan juga harga REAL seorang buzzer untuk 1x action (misalnya). penasaran juga harga SMA nya

  • Wah jadi tambah penasaran, saya punya kawan blogger dan pemilik akun twitter yang punya follower ribuan yang pernah nanya berapa harga yang pantas buat dia jadi buzzer, ditunggu lanjutannya ya kang 🙂

  • Jadi penasaran sama lanjutannya.. Suka penasaran juga sama tarif buzzer. Apalagi kalo yg hire buzzernya dari brand besar. Kepengen juga tapi masih on off di socmed. Harus lebih aktif nih kayaknya. Di tunggu lanjutan ceritanya. 🙂

  • medsosmu harimaumu.. pepatah itu sekarang memang bener2 ga boleh dianggap sepele ya kang. ada yg bisa terjerembab kasus hukum (kasus pritasari mukya) ada juga yg menuai hal positif spt kasus di atas. self reminder buat saya, jangan main main dengan jarimu deh hahhaa

    thank you kang arul ^^

    [email protected]

  • Sering dengar kata buzzers sih. Tapi tak tau itu maksudnya apa. Lalu baca tulisan itu, jadi teringat sama postingan blog saya kmaren ttg penipuan di suatu minimarket. Baru tau kalau jenis tulisan yg seperti itu berpotensi bagi penulisnya utk jadi buzzer. Thank you mas 🙂

  • Mau tak mau, semua brand sekarang harus mempertimbangkan kekuatan sosmed ya Pak. Gak bisa lagi berpangku tangan dan berpikir “ah nanti juga usai ” . Bagi perusahaan mikro l seperti milik saya, yang jualannya cuma gula aren, sosmed banyak banget menolong menaikan omset. Menunggu tulisan selanjutnya

  • Aku kadang ngetwit banyak, tp dikira buzzer. Dan, ada juga yng menilai buzzer itu negatif huff

    [cewealpukat(at)gmail(dot)com]

  • Saya pernah juga komplain tentang pelayanan sebuah minimarket di dekat rumah, dimana sering kali saya menjumpai harga display tidak sesuai dengan harga di mesin kasir. Gak dapat solusi yang nyaman sih,tapi paling engga membuat pelanggan lain lebih teliti.

  • sangat menarik pembahasannya… ditunggu nih artikel selanjutnya.
    Maaf ya kang arul, ada sedikit kesalahan ketik di paragraf 3 dar bawah “medi massa”, mungkin yang dimaksud adalah media massa. Terima kasih

  • Aku juga pake dell….hehehe.

    Sejak tahu bahwa blog bisa menyampaikan aspirasiku. Aku beberapa kali menulis ttg kekecewaanku thd pelayanan pada konsumen. Seperti busway, gojek, commuterline , jaringan telpon dll.
    Dan aku berhasil mendapatkan tanggapan hasil dari menshare tulisanku di tweet.

  • Salam kenal pak, saya senang bisa kenal dan baca tulisan bapak yang sebagai seorang dosen. Kalau dalam hal buzzer, saya sih daftar di web yang dia mengurusi ini pak. kayak kemarin kalau saya baca di web tersebut, untuk bayaran per tweet cuma 1rb. Mungkin juga ini karena follower saya yag cuma 600an

    • bukan soal jumlah follower sih yang menjadi satu-satunya referensi untuk menentukan harga sebuah jasa buzzer… apa itu? next ya

  • saya pernah mengulas produk sebuah BUMN besar,dan mereka kebakaran jenggot untuk kemudia menghubungi saya untuk menghapus tulisan itu.
    salam BRid.iai

  • Waww .. tulisan seru.
    Bagi buzzer pemalas seperti saya, duit dari jasa nge-buzz itu seperti passive income. Tidak perlu melakukan apa pun, cukup mengikhlaskan akun twitter disusupi posting dari si klien.
    *Sudah nggak sabar nunggu tulisan bagian 2

  • Aku pernah daftar jadi buzzer tapi belum terlalu paham en fokus deh, jadi belum gajian hahaha…. tulisan di atas sangat bermanfaat

Leave a Reply

error: Content is protected !!