Catatan

Berapa Harga Seorang Buzzer di Media Sosial? #2

1.11KViews

Bagian 2

Olivier Blanchard merupakan pengelola Red Chair Group, sebuah badan yang melatih eksekutif untuk memanfaatkan media sosial, di tahun 2011 lalu menerbitkan sebuah buku yang berjudul Social Media Roi: Managing and Measuring Social media Efforts in Your Organization (edisi bahasa Indonesia diterbitkan oleh Gramedia). Menurutnya, penggunaan media sosial sangat penting bagi sebuah bisnis untuk menghadapi persaingan di era bisnis 4.0 ini.

Sebuah program di media sosial, masih menurut Blanchard, bukan hanya sekadar kegiatan pemasaran tambahan saja atau sekadar eksperimen penulisan blog yang tidak memiliki tujuan yang jelas selamanya. Penggunaan media sosial tidak sekadar ikut dalam perbincangan (trending topic) atau apa yang sedang hangat didiskusikan saja. Sebab, media sosial merupakan entitas baru bagi komunikasi pemasaran dan mengindikasika infrastruktur sementara komunikasi sosial mengindikasikan aktivitas di dalam dan di antaranya. Oleh karena itu, media sosial tidak sesederhana yang dipikirkan banyak orang

Saya mengutip pernyataan penting dari Blanchard:

Program media sosial yang dijalankan sepenuhnya merupakan mekanisme komunikasi terintegrasi yang memperkuat dampak dari setiap fungsi di dalam sebuah organisasi dengan memanfaatkan kekuatan jejaring manusia melalui platform jejaring sosial. Program ini merupakan pelengkap, dan bukan pengganti dari bentuk taktik komunikasi lainnya (dari iklan sampai hubungan masyarakat). Dalam istilah militer, media sosial adalah sebuah pelipat-ganda-kekuatan sebuah elemen taktik yang membuat suatu kekuatan menjadi jauh lebih efektif dibandingkan tanpa elemen tersebut (2015:8).

Di bagian lain disebutkan–bahkan menjadi saran yang semestinya diterapkan untuk memenangkan persaingan bisnis–bahwa setiap organisasi sebuah brand mesti menyiapkan struktur khusus untuk menangani media sosial. Bahkan secara drastis Blanchard menyebutkan perlu adanya Direktur Media Sosial yang memberikan fokus dan konsentrasi menangani komunikasi dan interaksi brand di internet.

Sebuah riset yang dipublikasikan oleh www.robodigitalmarketing.com menjelaskan bahwa dengan media sosial pertumbuhan konsumen baru jauh lebih meningkat sekitar 78 persen dari total seluruh konsumen. Dijelaskan pula bahwa ada kebiasaan pengguna internet yang kini mulai mencari referensi sebuah  produk atau jasa di media sosial.

Meski belum sedrastis diterapkan di Indonesia, namun beberapa tahun belakangan ini banyak brand yang mulai menyadari pentingnya media sosial dan betapa pengaruhnya SMA dalam meningkatkan reputasi brand di online; nantinya reputasi ini memberikan dampak kepada offline. Beberapa kegiatan yang digelar perusahaan seperti lauching produk, konferensi pers atau pers tour kini tidak lagi hanya mengundang kalangan media, melainkan sudah menyertakan SMA. Banyak kicauan, konten blog maupun vlog maupun status dari SMA yang isinya terkait sebuah brand. Malah ada fenomena unik saat ini bahwa isi sebuah blog, hanya sekadar kasus, 80 persen adalah review produk atau jasa dari sebuah brand dan sisanya baru jurnal pribadi si pemilik blog.

Lalu, sebenarnya berapa harga yang pantas untuk sebuah aktivitas buzzer atau SMA?

Beberapa kali saya menerima SMS, WA, Email, atau inbok (DM) di media sosial yang rata-rata memiliki pertanyaan sama, yakni: “Kang, saya diminta menjadi buzzer produk X, kira-kira berapa ya tarifnya?”

Saya bisa saja menyebutkan angka berdasarkan pengalaman menjadi buzzer (mualaf). Sebab, saya pernah menjadi buzzer yang dibayar hanya 100 ribu rupiah untuk sebuah produk asuransi dan pernah juga dibayar jutaan untuk sebuah perusahaan jasa bahkan sampai diajak ke luar negeri dari salah satu provider telko di Indonesia hanya untuk menyaksikan pertandingan sepakbola. Juga, saya pernah dibayar hanya dengan sebuah powerbank dan kebetulan kapasitasnya cuma 2000 MAh.

Semua imbalan itu tentu tidak bisa dilihat dari berapa rupiah yang diterima. Juga, tidak serta-merta profesi buzzer yang diganjar powerbank 2000 MAh lebih rendah derajatnya dibandingkan saat imbalannya diajak jalan ke luar negeri. Sebab, harga seorang buzzer tergantung dari seberapa kuat SMA itu sendiri dan seberapa jauh (reach) yang akan didapat darinya. O ya, ditambah dengan seberapa dekat SMA itu menjalin komunikasi dengan sebuah brand.

Biasanya… ketika pertanyaan di atas mampir, saya selalu memberikan jawaban seperti ini: “mereka mau bayar berapa?” atau “dengarkan dulu penawaran (rate) dari pengundang. Kalau terlalu kecil menurutmu, dinegokan saja.”

Namun, lama kelamaan jawaban yang saya berikan ini rasanya menempatkan SMA sebagai sekadar alat dan bukan sebagai profesi. Jika menjadi alat, maka SMA bisa dipergunakan sesuai dengan keinginan sebuah brand dan karena itu bayaran pun sesuai dengan maunya mereka. Bahkan ada fakta yang menunjukkan sebuah perusahaan konsultan media atau event organizer yang menaruh harga tinggi satu digit untuk bianya kampanye di medsos per-SMA sementarayang diterima SMA hanya ratusan ribu rupiah bahkan ada yang sekadar merchandise murahan. Saya akan membahas soal ini di konten khusus.

Sementara menjadi profesi, maka SMA menempatkan dirinya dan dipandang sebagai pekerja profesional. Pekerja yang memerlukan keahlian khusus dan kemampuan dalam melakukan penetrasi brand di media sosial. Pekerjaan yang tidak semua orang bisa melakukannya meski orang itu banyak memiliki akun di media sosial. Karena ia profesional, maka seorang profesional  juga harus diberikan upah yang layak sebagai seorang buzzer tentunya.

Terkadang ini yang tidak berimbang. Di satu sisi banyak brand yang sudah menyadari peran penting dari SMA sementara SMA itu sendiri banyak yang abai dan bahkan sekadar jadi alat semata. Untuk point ini akan diulas di bagian lainnya.

Sebelum menjawab secara jelas berapa (rupiahnya) harga seorang buzzer, setidaknya ada beberapa alasan mengapa seorang SMA memerlukan tarif atau imbalan tertentu: pertama, bahwa konten yang dipublikasikan SMA di akun media sosial mereka sama dengan konten iklan (baik hard selling maupun soft selling) di media massa seperti koran, majalah, radio, maupun televisi. Logika yang harus dipakai adalah sebuah iklan tentu tidak gratis muncul di media massa karena itu bagi SMA sebuah konten terkait brand juga harus diperlakukan secara sama. Hal ini terkait erat dengan semakin besarnya anggaran yang disediakan sebuah brand untuk melakukan kampanye atau beraktivitas dengan SMA di dunia online.

Kedua,  konten dari SMA itu tidak sekadar broadcast yang menyebar dan tidak jelas target atau sasaran (captive market) yang ingin dicapai. Di era media sosial saat ini sebuah akun bisa ditelusuri bagaimana capaian (reach) dan karakteristik dari jaringan yang terbentuk; entah itu dalam bentuk follower, mention, hastag, dan sebagainya. Bagi sebuah brand ini jelas sangat menguntungkan karena sasaran (calon) konsumen yang selama ini menjaring di laut lepas bisa lebih dispesifikkan lagi menjadi sasaran sesuai dengan target dan kategori sebuah produk atau jasa.

Ketiga, beberapa SMA saat ini telah menjadi selebritas di dunia virtual. Layaknya selebritas di dunia nyata, seleb SMA dianggap sebagai corong yang bisa dijadikan sandaran rekomendasi dari berbagai keputusan-keputusan yang dibuat oleh pengguna internet lainnya. Sebuah blog yang isinya khusus tentang kuliner dari berbagai daerah di nusantara akan sering didatangi dan dijadikan referensi untuk melihat kuliner apa yang cocok, unik, dan sedap seandainya akan mendatangi sebuah tempat.

Berdasarkan pengalaman, harga seorang Buzzer itu bisa  dilihat atau dinegosiasikan berdasarkan kategori berikut ini:

  1. SMA yang diundang untuk sebuah acara
  2. SMA yang mendaftarkan diri untuk sebuah acara
  3. SMA yang  secara khusus diminta menjadi buzzer
  4. SMA yang menawarkan diri menjadi buzzer

Kategori di atas memberikan salah satu point untuk menentukan berapa tarif yang layak diberikan atau diterima. Secara bertahap dipostingan berikutnya (Bagian ke-3)  saya akan menjelaskan kategori-kategori ini.

Bersambung….

komen

Berikan komentar Anda di kolom konten ini dan dapatkan ebook Advertising 2.0: Social Media Marketing in web 2.0 World karya Tracy L. Tuten  yang diterbitkan oleh Praeger Publishers melalui email yang Anda sertakan di komentar…

Kang Arul
the authorKang Arul
Dosen, jurnalis, dan penulis. Saat ini selain menjalani profesi sebagai dosen di berbagai perguruan tinggi, ia juga merupakan konsultan untuk konten digital di berbagai perusahaan, lembaga/kementerian, maupun perorangan. Profil lengkapnya sila klik http://www.kangarul.id

17 Comments

  • Senang sekali baca informasi yang berharga ini. Pesatnya pertumbuhan pengguna Sosial media di Indonesia menjadikan brand- brand terkenal untuk mengalokasikan dananya untuk beriklan di media sosial tersebut.

  • Pingback: Ini Harga Buzzer yang Diundang | Dosen Galau
  • Nah ini… bingiits…
    “Sebab, harga seorang buzzer tergantung dari seberapa kuat SMA itu sendiri dan seberapa jauh (reach) yang akan didapat darinya.”
    Kadang tergantung jg kedekatan emosional akibat hubungan pertemanan dan persahabatan 😛 hihi.. *analisa mualaf lebayatun
    so power bank itu sesuatu, apabila melihat senyum bahagia sahabat *ciee..

  • mualaf atau bukan buzzer adalah sebuah tawaran menarik bagaimana kita mengkomunikasikan pesan secara simpel dan menjangkau audiens. ini bukan lagi eranya biro iklan, beriklan di era socmed berarti menghargai keunikan personal. karenanya budget promo bagi socmed (dan juga) buzzer mestinya lebih rasional.

  • Menurut saya pengalaman atau jam terbang dr buzzer itu sendiri juga bisa menjadi pertimbangan. Selain itu hasil yg dicapai juga berpengaruh. Itu kalo menurut saya yg masih mualaf hehehehe

    • wow… alhamdulillah… rezeki om. Tapi, banyak orang yang gak tahu dan paham bahwa menjadi buzzer bisa dapat pemasukan yang dua sampai tiga digit…

Leave a Reply

error: Content is protected !!