Hiburan

Benny yang Terluka (Bagian 1)

318Views

Udara siang yang mendengkang membuat keringat Benny Siregar berkeluaran dari kulit gelapnya. Baju kaos bergambar kuda naik becak yang dikenakannya sudah sejak tadi basah. Walaupun begitu bis yang dinaikinya belum juga beranjak dari terminal Senen.

“Bang, air gelas satu,” pintanya kepada penjual minuman.

Glek! Gleeekk!! Sekali tarikan napas saja Benny sudah meneguk habis air dalam kemasan gelas plastik itu.

Setelah itu ia mengelus gitar bututnya. Biasanya kalau mau pulang ke rumah dia selalu ngamen di atas bis. Selain bakalan gratis naik bis sampai Kalimalang, hasil mengamen lumayan untuk nambah-nambah tabungannya sebelum masuk kuliah bagi remaja yang sudah setahun lulus dari SMA ini.

Tapi siang itu Benny hanya duduk manis di kursi tengah bis Mayasari warna ijo lumut itu. Matahari yang sinarnya memanggang cukup menjadi alasan untuk Benny mengaso selama perjalanan.

Tiga menit kemudian seorang nenek naik. Duduk di bangku depan, empat baris dari tempat duduk Benny.  Sebelum duduk ia sempat melihat dandanan nenek itu yang lumayan modis banget, celana jeans dan baju u can see ketek gue, plus sebuah telepon genggam yang menggantung di lehernya. Belum lagi ditambah topi koboi dan tas warna merah jambu yang terikat di pinggang. Korban mode, bisik Benny di hatinya.

Sesaat kemudian bis itu mulai beranjak.  Benny bersyukur juga, sebab kalau lama-lama dia akan merasa seperti ikan sarden yang sedang dimasak di dalam kalengnya.

Udara sejuk menyapa tubuh remaja tanggung itu dari lobang jendela. Biar begitu panasnya masih saja terasa, sebab  roda bis berputar lambat. Saking lambatnya, anak kecil yang sedang mengendarai sepeda roda tiga bisa menyusul bis ini. Dan belum lagi saat berada di persimpangan dekat Stasiun Senen, proyek under pass yang sedang dalam tahap pembangunan membuat laju kendaraan roda empat harus merayap pelan-pelan laksana kura-kura belum makan lima hari.

Bis itu masih lowong penumpang. Barulah sesampainya di depan Bioskop Rivoli ada dua hingga lima orang penumpang yang naik. Juga, seorang pengamen.

“Bapak, Ibu, Om, Tante, Pak Sopir dan kondekturnya,” seorang pengamen yang membawa galon air isi ulang memulai kata pembukanya, “saya akan memulai acara ngamen siang ini dengan membawakan sebuah lagu yang berjudul Tenda Biru yang dipopulerkan oleh Celline Dion.”

Pengamen itu mulai bernyanyi. Selain musik dari galon kosong, temannya yang satu membawa alat musik dari kumpulan seng penutup botol yang sudah digepengin dan dipaku pada sepotong kayu. Mereka membentuk suara musik yang apa adanya.

“Tanpa undangan kau buat kukesasar…” Dung-kecrek-dung-crek! “Tanpa makanan kau buat kukelaparan…” Kecrek-kecrek-dung-dung-creeeeeeekk!

Benny  yang sebenarnya mengharapkan ketenangan di siang itu jadi terganggu. Untunglah tak berapa lama kemudian pengamen itu selesai. Mulailah ia melakukan sesuatu yang sejak semalam diidam-idamkannya, tidur. Ini akibat semalaman mengajari Ipal matemetika.

Hanya saja baru kelopak mata itu meredup, persis lampu 5 watt, suara nyaring mengagetkannya. Mata orang Medan itu melotot lagi. Bah! Pengamen apa lagi ini, runtuknya kesal.

“Para penumpang sekalian!”

Benny melirik. Seorang pemuda dengan pakaian lusuh sedang berdiri di antara bangku penumpang. Di lengan pemuda itu ada beberapa tato, antara lain bergambar semut sedang push up dan gambar pohon pisang yang habis ditebang.

“Siapa bilang anak jalanan itu berandalan?”

“Betul!”

Kepala Benny menoleh ke belakang. Rupanya ada seorang lagi yang berperan sebagai echo alias penggema. Benny hafal betul gaya seperti ini, lelaki di depan ceramah sambil sedikit mengancam sementara yang di belakang tugasnya hanya ngomong ‘betul’ doang.

“Kami bukan tak ingin bekerja, bukan pula malas.”

“Betul!”

“Tapi keadaanlah yang membuat kami begini.”

“Betul!”

“Kami sa-“

“Betul!”

Pemuda yang di depan melototin temannya. Wajahnya kesal, sebab belum lagi kalimatnya selesai, sang temen sudah menyahut betal-betul aja. Yang di belakang mesem-mesem menyadari kesalahannya.

“Kami sakit, Bapak Ibu sekalian. Sakit inilah yang menyebabkan kami tidak bisa bekerja.”

“Betul!”

Setelah ada kata ‘betul’ itu sang pemuda yang di depan menarik kaosnya, memperlihatkan dadanya yang rata seperti papan pencuci baju. Beberapa penumpang yang ingin mengetahui penyakit apa yang sebenarnya diderita sang pemuda jadi tertarik memperhatikannya.

“Lihat, Bapak Ibu! Lihat!” Pemuda itu memutar-mutar badannya.

“Yak, betul! Lihat. Betul!”

“Lihatlah panu di seluruh badan saya ini.” Pemuda yang di depan itu sekali lagi memutar tubuhnya, seperti seorang penari balet di atas panggung. “Penyakit inilah yang menyebabkan kami, terutama saya, tidak bisa bekerja,” ulangnya lagi.

“Betul!”

Sementara para penumpang, begitu tahu penyakit yang diderita pemuda itu pada membuang muka. Sebal karena merasa dibohongi. Tapi biar begitu ada juga yang menitiskan air mata demi melihat kumpulan panu di tubuh pemuda itu.

“Kasihanilah kami, Bapak Ibu,” kata pemuda yang di depan lagi dengan suara yang agak memelas.

“Betuuul!” Yang di belakang jauh lebih memelas.

“Apalah artinya seribu, sepuluh ribu atau seratus ribu bagi Bapak dan Ibu sekalian.” Pemuda yang di depan mengeluarkan kantong plastik warna hitam. “Tapi bagi kami uang itu sangat bermanfaat.”

“Betul! Betul!” Kepala pemuda yang di belakang manggut-manggut.

Dalam hati Benny menyumpah. Mau-maunya pemuda yang lumayan terlihat segar bugar itu hidup dari belas kasihan orang lain. Bukankah dengan tenaga yang dimiliki oleh mereka sebenarnya bisa digunakan untuk pekerjaan yang lebih terhormat dari sekadar meminta-minta dengan jalan memaksa.

Mulanya Benny tidak begitu mempedulikan kehadiran dua pemuda itu. Akan tetapi perhatiannya mulai terusik saat pemuda yang terserang panu tadi diam-diam merampas telepon genggam di leher nenek yang duduk empat baris di depannya. Nenek korban mode itu sedang tertidur pulas hingga tak menyadarinya.

Darah muda Benny menggelora. “Hai Bung! Kalau minta, ya minta aja. Jangan pakai jambret barang orang segala!” teriaknya kepada pemuda itu.

Diteriaki seperti itu sang pemuda panuan balik membentak. “Eh, anak mana lu? Lu kagak tahu kalau gue anak Matraman ?” ancamnya.

“Bah! Mau Matraman kek, mau Mataram kek, apa peduliku! Yang penting kau sudah mengambil barang orang lain!” balas Benny tak kalah sangarnya. Jika sudah begini, darah bataknya langsung terlihat. Jangankan pada pemuda panuan itu, pada setan pun Benny tak akan takut.

Sang nenek rupanya terbangun mendengar berbalas pantun, eh,  bentakan itu. Dan saat itulah ia sadar kalau telepon genggamnya sudah berpindah tangan.

“Eh, itu henpon saya!” teriak sang nenek panik.

Pemuda panuan tadi memelototinya. Spontan tangannya menjitak kepala sang nenek. Tuk! “Diem lu, tua bangka!” hardiknya.

Penumpang lain hanya bisa terdiam memandangi kejadian yang sungguh melanggar HAM itu. Mereka memilih tidak ikut campur. Tapi tidak dengan Benny Siregar anak Gang Buntu 13 itu.

“Eh, kurang ajar lu! Berani-beraninya sama orang tua,” seru Benny, “kalau kau laki-laki, lawan aku!” Benny menebar tantangan.

“Sundal bolong, lu!” Pemuda panuan itu tampak marah. Ia pun langsung bergerak mendekat, menerima tantangan Benny.

Benny pun beranjak cepat dari kursinya. Sejak tadi dia sudah sangat ingin melayangkan satu tinju keras ke muka pemuda kurang ajar itu. Pemuda yang di belakang tampak siaga, siap membantu temannya. Sayangnya Benny melupakan teman sang pemuda yang ada di belakang itu. Dan sial baginya, pemuda yang di belakang itu dengan sigap memegang tubuhnya hingga tidak bergerak.

“Gue bilang juga apa,” kata pemuda di depan sinis. Bug! Satu bogem mentah mendarat di perut Benny. Bug! Bug! Beberapa tinju lagi bersarang di tubuh dan muka Benny.

Benny Siregar  meringis kesakitan.

“Makanya jangan sok jadi pahlawan lu! Hidup di Jakarta ini lu harus urus diri lu sendiri, jangan ikut campur urusan orang,” kata pemuda itu lagi sambil menghadiahi satu bogeman lagi di dada Benny. Bug!

Benny mencoba menahak sakitnya. Walaupun tubuhnya sulit untuk mengelak apalagi membalas, tapi ia tidak putus asa. Kepalanya cepat berpikir bagaimana cara ia membalas pukulan yang diterimanya. Saat pemuda di depannya  sedang mengambil ancang-ancang ingin memukulnya lagi, ia pun melihat kesempatan itu.

Tangan kanannya berhasil meraih ujung gitar bututnya. Gitar itu dihentakkan, dan nasib baik badan gitar itu telak mengenai kepala pemuda di depan. Juga untuk pemuda yang di belakang, karena terkejut melihat temannya dihantam badan gitar, ia lengah dan tak sempat menghindari tendangan kuda dari Benny. Tendangan itu tepat mengenai sasaran dan membuatnya meringis.

Kesempatan itu membuat Benny segera menghampiri pemuda panuan di depannya yang masih sibuk mengelus kepalanya, menahan sakit. Benny langsung merampas telepon genggam milik nenek tadi. Bukan Benny namanya jika ia tak memberikan pukulan balasan.

“Ini punya nenek,” kata Benny sambil secepatnya menyerahkan telepon genggam di tangannya. Nenek  yang modis itu menerimanya dengan senang.

“Lain kali hati-hati di perjalanan, Nek,” pesan Benny lagi.

“Duh, baiknya,” sahut sang nenek sambil memasukkan telepon genggamnya ke dalam tas merah jambunya. “Abang siapa namanya, ya?’ tanyanya kemudian.

“Nama saya? Benny, Benny Siregar.”

“Kalo eke, Cicih Ciriwiswati. Benny boleh panggil eke tante, mbak atau panggilan mesra juga nggak apa-apa. Asal jangan dipanggil nenek, emangnya eke dah tua apa?”

Benny melonjak kaget.

“Okeh, Bang Benny ganteng?” Cicih memonyongkan bibirnya yang keriput dan dibaluri lipstik tebal.

Kontan Benny mundur beberapa langkah. Ia mencoba menghindar dari serangan nenek yang ganjen itu. Bah, bisa berabe nih urusanya, kata Benny dalam hati.

Tapi itulah kesalahan yang dilakukan oleh Benny. Pemuda yang tadi terjengkang ke belakang ternyata sudah bangkit dan siap melakukan balas dendam. Di tangan pemuda itu sudah ada sesuatu, belati tajam.

Dan Ipal tidak tahu ada bahaya yang mengancamnya.

–oo0oo—

Kang Arul
the authorKang Arul
Dosen, jurnalis, dan penulis. Saat ini selain menjalani profesi sebagai dosen di berbagai perguruan tinggi, ia juga merupakan konsultan untuk konten digital di berbagai perusahaan, lembaga/kementerian, maupun perorangan. Profil lengkapnya sila klik http://www.kangarul.id

Leave a Reply

error: Konten ini terproteksi untuk dikopi