Teknologi

Belanja Virtual di Ujung Jari

156Views

Belanja virtual di ujung jari sepertinya sudah mulai akrab di telinga kita. Setidaknya mereka yang sehari-hari bersentuhan dengan internet pernah melakukan atau setidaknya mendengar apa yang disebut dengan e-commerce dan salah satu contohnya adalah jual-beli online.

Sebentar lagi Desember akan berada di ujung dan Januari akan dimulai. Seiring dengan pergantian tahun ke 2016 juga akan semakin terasa adanya pergantian prilaku para pengguna internet. Salah satunya soal kebiasaan berbelanja secara online.

Jesse Bardo melalui “The Taxonomy of Social Media” di Socialmediatoday menyebutkan manfaat media sosial dalam hal pendidikan yang disebutnya sebagai “taksonomi media sosial”.  Saya mencoba memaparkan taksonomi media sosial  dan inovasi dalam hal belanja virtual di ujung jari.

Level I – Curiosity
Ini adalah level pertama bagi di era media sosial. Inovasi yang dilakukan dalam situs belanja online memberikan rasa penasaran sekaligus jawaban bagi (calon) pelanggan tentang kekhawatiran belanja online selama ini. Kehadiran situs belanja online dan sistem jual-beli yang mengkombinasikan offline (face-to-face) merupakan alternatif baru berbelanja online.

Level II – Lurking
Ketika rasa penasaran itu muncul dan mulai membentuk kepercayaan, maka pelanggan mulai mencari-cari atau sekadar melihat apa yang ditawarkan, bagaimana sistemnya, sampai hal teknis seperti ketersediaan produk. Ketertarikan yang berkembang ini akhirnya akan memunculkan pengetahuan; hasil akhirnya adalah membeli produk.

Level III – Understanding
Di level ini keterlibatan agen offline maupun online menjadi sangat penting. Kebutuhan sekaligus kekhawatiran yang selama ini muncul dari bisnis jual beli online bisa bertanya langsung kepada agen. Pelanggan bisa bertemu dan berdiskusi dengan agen tentang keputusannya membeli atau bisa bertanya lebih detail sistem yang diterapkan di situs belanja online.

Level IV – Contributing
Ketika pengetahuan telah terbentuk dan adanya pengalaman berbelanja yang berbeda, maka pelanggan tidak sekadar menjadi konsumen semata. Pelanggan akan memberikan kontribusinya untuk memperkenalkan situs belanja online ke pihak lain.

Level V – Integrating
Di level ini posisi seller-consumer menjadi terintegrasi. Situs belanja online semestinya tidak hanya menawarkan cara bebelanja saja yang menyebabkan seseorang bisa menjadi konsumtif, melainkan juga membuka peluang jiwa kewirausahaan mereka.

Inti dari semua level dalam taksonomi media sosial ini adalah engagement atau keterlibatan pembaca (internet user) yang menjadi kunci utama. Apapun level yang dimainkan situs belanja online sebagai model bisnis yang memadukan online dan offline, selagi tidak melibatkan pembaca (pelanggan/konsumen) tetap saja akan menjadi model bisnis yang selama ini ada di situs-situs jualan online.

tanda-tangan

Kang Arul
the authorKang Arul
Dosen, jurnalis, dan penulis. Saat ini selain menjalani profesi sebagai dosen di berbagai perguruan tinggi, ia juga merupakan konsultan untuk konten digital di berbagai perusahaan, lembaga/kementerian, maupun perorangan. Profil lengkapnya sila klik http://www.kangarul.id

1 Comment

  • Aku juga suka beli mainan lewat toko online om. aku juga jualan online buku bekas anak-anak Tapi tidak terlalu laku, gimana ya om?

Leave a Reply

error: Content is protected !!