Informasi

Bagaimana Memenangi Lomba Blog

602Views

Seringkali ada banyak pertanyaan yang muncul ketika pengumuman lomba dipublikasikan. Mulai dari pertanyaan “Mengapa tulisan blog ini menang?” sampai pada “Kok, bisa ya tulisan seperti ini menang?”. Pokoknya komentar-komentar–atau sekadar ungkapan hati–dari positif ke negatif atau sebaliknya muncul begitu saja.

Ada juga komentar yang sedikit sedih, miris, bahkan sakitnya tuh di sini (sambil nunjuk dada kiri). Dan pada akhirnya yang disalahkan pihak penyelenggara lomba atau bahkan juri sebagai kambing hitamnya. “Ah, yang menang mah deket sama jurinya.”

Apalagi kalau bukan blogger yang selalu saja sekadar berharap dan selalu berharap menjadi pemenang. Belasan bahkan puluhan lomba sudah diikuti, tapi tetap saja namanya tidak tertera di pengumuman pemenang. Sudah bersusah payah menulis dan yakin bisa menang walau hadiah hiburan karena dicari 50 pemenang, eh, masih saja gak ada namanya.

meme-lomba-blog

Nah, bukan soal positif-negatif itu yang menjadi fokus tulisan ini, melainkan saya mencoba berbagi bagaimana pandangan juri ketika memilih konten blog apa yang harus keluar menjadi pemenang. Sekali lagi ini pandangan subyektif saya yang beberapa kali diminta menjadi juri lomba; baik lomba penulisan offline maupun online.

Setidaknya banyak pertimbangan bagaimana sebuah konten blog itu bisa keluar sebagai yang terbaik. Mulai dari persyaratan dalam mengikuti lomba, faktor juri, cara atau gaya menulis, sudut pandang, sampai usaha dalam menampilkan tulisan.

Ikuti semua syaratnya

L omba blog seringkali mewajibkan pesertanya mengikuti mekanisme yang terkait dengan brand atau terkait dengan tulisan. Terkait dengan brand seperti memberikan Like pada Fanpage Facebook, unggah foto produk di Instagram, Follow akun Twitter, atau pasang banner di blog. Terkait dengan tulisan misalnya menyertakan tagar tertentu, memberikan tautan (link) ke situs milik brand tersebut, mempublikaskan atau share tulisan di media sosial milik peserta.

Ketentuan atau syarat ini tidak bisa diutak-atik atau di abaikan begitu saja. Sebagai peserta, tentu blogger harus mengikuti “apa kemauan” si penyelenggara lomba. Sebab, lomba yang diadakan bertujuan tidak sekadar membagi-bagi hadiah, melainkan sebagai bentuk promosi brand tersebut agar produk atau jasa mereka dikenal melalui media sosial.

Tapi patut diingat, sekadar pengalaman saya beberapa kali menjadi juri, semua lomba blog tidak menjadikan mengikuti persyaratan ini sebagai angka penilaian. Ya, saya dan juga beberapa juri bahkan brand tersebut seringkali menjadikan ini sekadar saringan pertama untuk lanjut ke tingkat penilaian sesungguhnya.

Beruntung lomba yang saya didapuk jadi jurinya pihak penyelenggara menyisihkan terlebih dahulu blog-blog yang tidak sesuai dengan kriteria. Jadi, saat akan memberikan penilaian sudah dipastikan bahwa semua blog sudah sesuai dengan kriteria.

Faktor juri atau selera juri?

Faktor juri ini menjadi penting diperhatikan. Sebuah lomba tentu ada jurinya, entah itu dari kalangan internal atau eksternal dari brand tersebut. Siapapun orangnya yang ditunjuk, maka ia sudah dipercaya untuk memberikan penilaian konten blog apa yang terbaik di antara konten lainnya. Meskipun begitu, selalu saja ada unsur subyektif yang masuk dalam penilaian.

Ya, juri atau lebih tepatnya selera juri menjadi faktor terberat dari sebuah nilai lomba blog. Tidak ada, atau lebih halusnya adalah sangat jarang, ada selera yang sama antara satu juri dengan juri lainnya. Sebuah tulisan blog yang bagus bisa jadi dinilai terbaik oleh juri ini, namun mendapat nilai rata-rata oleh juri itu.

Selera seringkali dianggap sebagai faktor di luar tulisan blog itu sendiri. Karena itu, membaca tulisan juri (jika ia seorang blogger juga) di blognya akan mengetahui model/gaya tulisan yang sesuai. Jika tidak, maka bacalah pemenang-pemenang lomba blog sebelumnya yang diadakan oleh brand bersangkutan.

Tapi patut diingat, model juri di lomba blog itu ada dua macam. Ada seleksi pemenang itu diserahkan 100 persen kepada juri sampai penentuan juara pertama. Namun, ada juga dewan juri itu yang melibatkan perwakilan brand yang menyelenggarakan lomba. Maksudnya, pemenang ditentutkan bersama-sama antara juri dan manajemen; biasanya dalam sebuah rapat kecil offline.

Terakhir, ada juga juri yang menentukan (bahkan sudah sampai pada urutan pemenang), tetapi pemenang tetap saja ditentukan oleh brand yang bersangkutan. Artinya selera itu ada pada manajemen si penyelenggara lomba. Soal kompetensi si juri dari manajemen ini sesuai/ahlinya atau tidak itu urusan tahu sama tahu aja.

Faktor siapa juri dan siapa si penentu pemenang antara juri atau brand penyelenggara lomba menjadi faktor internal proses mencari pemenang. Bisa jadi juri sudah bekerja keras, eh, yang menang malah sesuai selera brand. Ujung-ujungnya setelah diumumkan hanya getah yang diterima juri bukan buah nangkanya yang sudah dimakan brand.

Cara atau gaya menulis

N ah, ini yang menurut pengalaman saya menjadi faktor paling utama dari sebuah penilaian lomba blog. Bisa jadi selera juri memang subyektif, tetapi menjadi juri adalah mempertahankan nama baik dan kehormatan dirinya juga sehingga tidak bisa sembarangan menyeleksi.

Gaya menulis ini yang setiap orang selalu berbeda. Blogger tentu memiliki latar belakang yang beragam dan juga profesi yang dijalani juga berbeda-beda. Mengkolaborasikan gaya menulis dengan sedikit bumbu dari selera juri bisa menjadi salah satu alasan tulisan blog keluar sebagai pemenang.

Juri, menurut pengalaman saya, sangat menyenangi tulisan yang mengalir, mudah dicerna, dan enak dibaca. Blog bukan industri media massa yang di dalam sebuah berita ada kaedah dan norma yang mesti ditaati. Blog tetaplah jurnal pribadi online si pemiliknya walau konten yang ditulisnya memakai teori maupun praktikΒ  jurnalisme.

Quotes-lomba-blog

Tapi patut diingat, cara menulis yang natural lebih disukai dan berpotensi menjadi pemenang dibanding menulis dengan seolah-olah natural. Maksudnya, blogger haruslah jujur pada tulisannya dan bukan mengandai-andai seperti ia tahu segalanya tentang produk atau jasa dari brand tersebut.

Saya seringkali memberi nilai rata-rata untuk tulisan blog yang terkesan “sangat ahli” dalam menjelaskan sebuah produk padahal produk tersebut baru dikenal oleh blogger bersangkutan. Misalnya lomba blog tentang telepon genggam. Nah, tulisan yang menceritakan bagaimana si blogger itu pergi ke penjual telepon genggam dan mencobanya jauh lebih natural dibanding tulisan yang langsung (dan hanya) menjelaskan keunggulan telepon genggam itu tanpa menjelaskan barang itu ia dapat dari mana.Β  Jangan-jangan blogger sekadar memindahkan rilis atau browsing di internet.

Sudut pandang

T idak salah dengan data-data yang didapat dari rilis atau berselancar di dunia maya tentang keunggulan dari telepon genggam itu. Hanya saja seringkali blogger lupa bahwa ia tidak punya atau belum pernah memegang produk tersebut lalu bagaimana ia tiba-tiba menjadi ahli luar biasa di blognya.

Nah, mencari sudut pandang seorang blogger tentu adalah kelebihan dari tulisan blog yang diikutkan lomba. Masih soal lomba blog tentang telepon genggam itu, bisa jadi yang ikut puluhan atau ratusan (mungkin ribuan), tetapi jika berbeda tentu akan memberikan kenaturalan dalam menyajikan tulisan di blog.

Tidak perlu malu memberikan fakta bahwa kita bertemu teman yang menggunakan telepon genggam merek tertentu dan meminta pendapatnya. Tidak salah menyatakan di tulisan blog bahwa kita pergi ke kedai-kedai penjual telepon genggam dan mencoba menggunakan beberapa menit produk tersebut. Jangan takut untuk menyatakan, bisanya di akhir paragraf tulisan, bahwa dengan spesifikasi yang disebutkan di atas kita mempertimbangkan untuk membelinya di kemudian hari.

Tapi patut diingat, blog adalah jurnal pribadi online. Orang membaca blog kita tentu tidak sekali, melainkan berulang kali. Jika selama ini kita menulis yang tiba-tiba langsung menjadi ahlinya, maka bisa jadi di kemudian hari blog akan sepi pengunjung. Menulis dengan berlebihan juga tidak baik dan bisa jadi jatuhnya malah “norak”.

Brand dengan mengadakan lomba tersebut tentu menginginkan tulisan peserta tetap ada di blog. Keberadaan tulisan akan memberikan backlink, sumber informasi lain, dan menambah algoritma pencarian yang mengarah kepada brand bersangkutan.

Usaha dalam menampilkan tulisan

P enilaian selanjutnya, pengalaman saya menjaid juri, adalah seberapa banyak usaha yang dilakukan oleh blogger dalam menampilkan tulisannya. Panjang pendek jumlah kata yang ditulis di blog tentu menjadi pertimbangan tersendiri dalam menilai. Namun, bagaimana blogger menampilkan secara visual tulisannya menjadi nilai tambah.

Konten yang dilengkapi dengan foto-foto yang mendukung, infografis yang sarat data, video atau animasi ilustrasi yang sesuai menjadi pertimbangan tersendiri.

Tetapi patut diingat, semua yang disebutkan tersebut hanya sekadar pertimbangan saja dan bukan yang utama. Loma menulis blog harus dilihat dari tulisan blognya. Hanya saja infografis atau video, sebagai contoh, yang dikerjakan oleh blogger menjadi nilai lebih yang patut diperhitungkan sebagai usaha tambahan. Namun, nilai yang biasanya diberikan juga tidak terlalu besar. Jika boleh memakai skala 1-100 paling angka yang didapat dari menambahkan infografis di tulisan blog itu kalau gak 2 ya maksimal 5 atau 10 saja.

Termasuk usaha dalam menyebarkan (share) tulisan di berbagai media sosial. Juga,Β  usaha dalam menambah banyak komentar pada konten blog yang dilombakan. Meski tidak terkait langsung dengan konten tetapi bisa menjadi bahan pertimbangan lebih saat ada dua atau lebih tulisan blog yang dinilai berimbang secara konten.

KUTIPAN-lomba-blog

B agi saya, lomba blog itu ya unsur utamanya tetap pada konten blog yang dinilai. Usaha blogger yang di luar tetap bisa dihargai sepanjang ada kaitannya dengan tulisan itu dan nilai yang diberikan tidak lebih besar dibandingkan tulisan blog tersebut sebagai fokus utama.

Semoga sekadar berbagi pengalaman saat menjadi juri ini bisa menjawab pertanyaanΒ  “Bagaimana Memenangi Lomba Blog?” itu. Meski, secara religius dan mumpung bulan puasa, saya tetap menyelipkan bahwa yang penting adalah berproses dan terus berproses.

Dan berdoa….

tanda-tangan

Kang Arul
the authorKang Arul
Dosen, jurnalis, dan penulis. Saat ini selain menjalani profesi sebagai dosen di berbagai perguruan tinggi, ia juga merupakan konsultan untuk konten digital di berbagai perusahaan, lembaga/kementerian, maupun perorangan. Profil lengkapnya sila klik http://www.kangarul.id

55 Comments

Leave a Reply

error: Content is protected !!