Find Us on Socials

Find Us on Facebook

Subscribe to Our Channel

Catatan

5 Mahasiswa Nyebelin di Kelas

810Views

M enjadi dosen bukan berarti menjadi robot yang tidak punya perasaan, baik cinta maupun benci. Dosen juga manusia yang pada dasarnya diciptakan memiliki hati dan yang namanya hati tentu harus wajib kudu ada perasaan.

Nah, kali ini saya mau jujur-jujuran soal mahasiswa di kelas. Setidaknya, ada 5 mahasiswa nyebelin di kelas yang selalu saya jumpai ketika menjadi dosen.

Terlambater

Di antara semua ciri dan jenis, soal terlambat ini saya sengaja letakkan di posisi pertama. Mengapa? banyak alasan yang bisa ditulis di blog ini mengapa banyak dosen yang tidak suka dengan mahasiswa yang suka terlambat. Sekali dua boleh lah, tapi kalau sudah sering ceritanya suka lain.

Bayangkan, ada dosen yang karena tidak ada perjanjian soal berapa waktu lamanya mahasiswa boleh terlambat, mahasiswa masuk setelah kuliah sudah berjalan selama satu jam. Sudah itu kata-kata yang muncul klasik banget, “Maaf, Pak, saya telat. Jalanan macet” atau “Maaf, Bu, saya kesiangan bangun”. Ada juga yang kreatif, “Maaf, Pak, tadi malam saya ngejaga orang sakit” dan “Maaf, Bu, tetangga saya ada yang meninggal”.

Alasan lain selain karena penyebab yang sudah klasik adalah waktu yang terbuang. Ya, ketika perkuliahan sedang dimulai tetiba ada mahasiwa yang datang tentu ada sekian menit waktu yang ter-pause alias terhenti. Minimal dosen bertanya mengapa? dan mahasiswa menjawab karena. Proses dialog inilah yang menghilangkan suasana kelas, tidak hanya dosen, tapi mahasiswa yang lain juga.

Yang suka mainin gawai alias hape.

Nah, mahasiswa macam ini biasanya merasa dirinya itu sibuk dan seleb di media sosial. Atau, kalo gak dia adalah agen yang sedang rajin-rajinnya ngelola online shop. Tanda-tandanya jelas ada dua, yang terang dan yang gelap. Yang terang itu maininnya suka terang-terangan megang hape saat perkuliahan berlangsung sementara yang gelap itu sembunyi-sembunyi di dalam tas atau di balik buku.

Banyak dosen di berbagai perguruan tinggi yang melarang pemakaian atau menyentuh gawai ketika kelas sedang berlengsung. Selain karena mengganggu kosentrasi mahasiswa, merusak suasana jika gawai tidak di silent suaranya, juga bisa sebagai pertanda bahwa tidak ada respek ke dosen yang sedang mengajar di depan kelas.

Karena itu, di awal pertemuan saya biasanya bilang bahwa “yang mainin hape di kelas langsung dapat nilai. Kalo gak F ya D”. Kejam? Ah, namanya juga dosen yang manusiawi, ini bukan urusan kejam-mengejam melainkan mengedukasi

Kelasku Kamar Tidurku

Udah bukan hal aneh lagi, mahasiswa penidur selalu ada di kelas. Apalagi kalau kelas kuliahnya kelas karyawan yang jam kuliahnya baru dimulai sore dan malam atau setelah si karyawan pulang kerja. Sudah pasti yang namanya si penidur itu bermunculan di mana-mana

Kadang ada yang langsung tidur di bangku belakang dan kadang ada aja yang menahan kantuk di matanya dan ada juga yang kepalanya angguk-angguk karena kantuk hebat yang menyerang.

Kalau sudah begini, kadang dosen muncul bencinya. Semua usaha membuat powerpoint berhari-hari, mendalami materi perkuliahan, dan strategi dialogis yang coba di bangun dosen di kelas menjadi sia-sia. Bukannya gak boleh atau membatasi hak orang untuk tidur, tapi yang namanya kuliah di kelas tetap harus dijaga suasananya.

Si perusak suasana

Meski tidak semua kelas di kampus ada mahasiswa si perusak suasana, tapi selalu saja ada 1 bahkan 2 atau lebih mahasiswa yang merusak suasana. Mahasiswa seperti ini biasanya dekat dengan kata “over” alias “kelebihan”. Kalau ketawa kelebihan ngakaknya, kalo ditanya kelebihan hapalannya sehingga keluar kepala, kalau di kelas bawaannya asyik dengan dunianya sendiri.

Biasanya, tipe mahasiswa ini suka gangguin temen duduk di sampingnya. Entah itu ngajak ngobrol atau sekadar becanda-becanda ringan.

Ada juga loh yang mahasiswa di kelas, ia tidak ganggu teman-teman di sampingnya tapi tangan dan kakinya sibuk aja sendiri dengan gerakan-gerakan seolah-olah sedang bermain drumband.

Mahasiswa “aku di mana?”

Mahasiswa jenis dan tipe ini biasanya kalau secara geografis ada di barisan belakang atau barisan paling sisi kanan dan kiri. Kebanyakan, sih, berdekatan dengan jendela kalau kelasnya ada jendela. Di antara ciri 5 Mahasiswa Nyebelin di Kelas itu yang ini kadang masih menjadi misteri… tsaahhh

Biasanya tanda-tanda yang ditunjukkan cukup aneh. Itu mahasiswa gak ribut, gak mainin hape, gak ngerusak suasana, tapi dia diem aja sepanjang perkualiahan. Juga, selama di kelas pandangan matanya kosong, raut wajahnya datar, dan seringkali melihat keluar jendela seolah-olah sedang mencari apa di luar sana.

Nah, kalau begini kadang yang bencinya itu bukan dalam konotasi negatip (pake P ya bukan F). Dosen sering merasa dan berpikir yang nggak-nggak, “ni, anak apa putus cinta ya”, “jangan-jangan mau bunuh diri”, atau “kesambet kali ya?”.

Epeknya … semua yang disampaikan dosen di kelas seperti melintas saja. Istilahnya masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Masih mending ada yang masuk, lha ini kadang kondisinya langsung lost connection sama suasana kelas.

I nilah ciri dari 5 mahasiswa nyebelin di kelas yang berdasarkan pengalaman saya sebagai dosen. Di antara semua jenis ini, kira-kira mana yang pernah atau masih menjadi ciri khas kamu? Ya, kamu yang masih menjadi mahasiswa.

 

 

Kang Arul
the authorKang Arul
Dosen, jurnalis, dan penulis. Saat ini selain menjalani profesi sebagai dosen di berbagai perguruan tinggi, ia juga merupakan konsultan untuk konten digital di berbagai perusahaan, lembaga/kementerian, maupun perorangan. Profil lengkapnya sila klik http://www.kangarul.id

27 Comments

Leave a Reply

error: Konten ini terproteksi untuk dikopi