Utang Seorang Dosen

By -

“Dik, banyak kejadian dosen yang menyusahkan mahasiswa. Ia memberikan nilai hanya untuk balas budi. Balas budi karena  pernah dikasih sesuatu atau meminta sesuatu kepada mahasiswa. Sayangnya, banyak mahasiswa yang terpaksa memenuhi permintaan dosen sementara untuk kebutuhan mahasiswa sendiri pun ia harus bersusah payah.”

O
brolan pagi itu langsung terlihat bobotnya berat sekali buat saya. Tapi, rasanya wajar terungkap ketika setelah 20 tahunan saya tidak bertemu dengan sosok yang satu ini. Ia adalah dosen saya sewaktu menempuh pendidikan di jenjang sarjana sekitar 20-an tahun lalu.

Hari ini, hari perjumpaan kami, ia merasa terkesan sekali ketika saya katakan bahwa saya mengikuti jejaknya. Saya sudah menjadi dosen di sebuah perguruan tinggi negeri di Jakarta.

“Selama kita masih ada ikatan dosen dan mahasiswa, maka selama itu pula kita harus menjaga diri. Jangan sampai menggunakan jabatan dosen untuk kepentingan pribadi apalagi jika kepentingan itu ada hubungannya dengan tugas mahasiswa seperti nilai, mengerjakan skripsi atau tesis,” suara Abdurrahman Abror itu masih terasa sama seperti dulu.

Mendengar itu saya tersenyum seraya memandang wajah yang terlihat menua tersebut. Sebenarnya ia sudah pensiun sebagai dosen, namun sampai saat ini ia masih datang di kampus. Kampus memberikannya sebuah ruangan khusus ukuran 4×6 meter di gedung perpustakaan dan setiap 2-3 hari dalam satu pekan ia pasti akan datang dari pagi untuk menyelesaikan tulisannya.

Sebenarnya sejak lama saya ingin menjumpainya, tetapi baru kali inilah saya (memaksa punya) berkesempatan. Bisa dibilang hampir semua orang di kampus itu kenal dengan  lulusan S3 dari Malaysia ini. Bahkan bisa dibilang hampir sebagian besar dosen-dosen di kampus ini adalah mahasiswanya dulu.

Saya bertemu, dan belum mengenalkan diri, pria yang berkacamata ini sedikit bertanya tentang siapa saya.

“Saya Aa, Pak,” saya mengenalkan diri dengan nama panggilan yang selalu akrab di kampus waktu itu, “saya waktu itu ketua UKM penerbitan dan teater dan sering main ke rumah…”

Belum lagi saya menyelesaikan jawaban, wajah lelaki yang pernah menjadi pemimpin tertinggi di institusi ini langsung cerah, “Oh, Dik Arul,” katanya, “lah sekarang dimana dan kabarnya?”

Maka selama 10 menit perjumpaan kami, saya pun menceritakan bagaimana profesi yang selama ini saya jalani. Profesi sebagai seorang dosen. Karena profesi itulah perbincangan di pagi itu menjadi perbincangan yang serius… tapi saya suka.

Pak Abror, begitu saya memanggilnya, mengulang lagi perkataannya bahwa jangan sampai kita punya utang kepada mahasiswa dalam urusan apapun sehingga “memaksa” kita untuk membalas budi ke mereka suatu saat. Itulah integritas yang harus dijaga oleh seorang dosen dan hubungannya dengan mahasiswa.

Bukan menjadi rahasia umum lagi jika mahasiswa sering sekali terpenjara dengan statusnya dan permintaan dosen terkait tugas. Sebaliknya, ada oknum dosen yang memanfaatkan profesinya (serta jabatannya) untuk “memeras” mahasiswa. Biasanya itu terjadi ketika mahasiswa sedang ada urusan dengan dosennya: ketika bimbingan tesis atau disertasi dan nilai matakuliah.

“Ini hanya petuah saja buat Dik Arul, kalau mau dijalani monggo kalau tidak ya kembali ke diri masing-masing,” katanya kemudian menghembuskan asap dari pipa kayu di tangannya. Dari dulu saya mengenalnya sebagai ahli hisap yang cukup militan. 🙂

Utang-Dosen-

S
aya ingat betul, konon kabarnya ia  terkenal dengan sebutan sebagai “Dosen Killer”. Disebut demikian karena untuk mendapatkan nilai B atau lulus matakuliahnya mahasiswa harus belajar super ekstra dan aktif di kelas. Hampir semua kakak kelas yang saya temui pun berkata demikian.

Ketika di kelas, kesan “killer”-nya itu terlihat sekali oleh dosen yang lulus sarjana dari dua perguruan tinggi di Yogyakarta ini. Selama mengampu ia akan lebih sering berdiri, berjalan di depan kelas dan… ini yang bikin serem.. akan mengajukan pertanyaan kepada mahasiswa dengan memanggil sebutan “Bang”. Juga, saat bertanya ia akan menatap dengan serius kepada mahasiswa tersebut sampai si mahasiswa bisa menyelesaikan jawaban atas pertanyaannya.

Nah, apabila tidak bisa menjawab, maka ia akan memberikan komentar tertentu; tidak komentar pedas atau dengan intonasi tinggi, tapi lumayan bikin napas sesak. Makanya ketika kuliah, jarang ada mahasiswa yang duduk di barisan depan. Rata-rata mencari aman duduk di belakang atau di pinggir-pinggir merapat ke dinding. Suasana pun pasti langsung hening

Untunglah, saya termasuk yang sedikit rajin dan kebetulan saya dan satu teman lainnya di kelas mendapatkan nilai A waktu itu. Bukan karena saya sering membatunya menyelesaikan naskah buku atau urusan teknis perkomputeran, tapi (katanya) karena nilai itu memang berhak diberikan.

Kalau dilihat penampilan memang tidak banyak yang menyangka bahwa Pak Abror ini dosen atau pejabat tertinggi di kampus. Sebab, sehari-hari baik pagi sebelum masuk jam kerja atau sore sepulang jam kerja ia lebih sering keliling dengan motornya demi mencari rumput. Rumput-rumput itu akan dibawanya sebagai pakan ternak kambing yang ada di belakang rumahnya.

Kabarnya… ini baru kabarnya dan saya sampai puluhan tahun ini belum melakukan konfirmasi kepada beliau… suatu hari Pak Abror sedang mengambil rumput di depan pagar kampus. Saat sedang bekerja tiba-tiba ada seseorang yang mendatanginya, bukan untuk menyapa tapi memintanya untuk membersihkan halaman rumah orang itu.

Kabarnya Pak Abror tidak tersinggung apalagi marah. Malah ia mengatakan bahwa ia hanyalah pegawai di kampus ini dan harus meminta izin terlebih dahulu kepada atasan baru bisa mengerjakan halaman orang yang bersangkutan.

Mendengar itu saya sampai tersenyum dan geleng-geleng kepala… bagaimana bisa ya di kampus ini, waktu itu, Pak Abror lah pejabat tingginya. Namun, ia tetap sederhana dan selalu rendah hati dengan kewibawaannya.

“Saya tidak tahu Dik Arul, tapi mudah-mudahan jangan sampai punya utang atau menerima apapun dari mahasiswa yang kita harus membalas budi,” katanya mengulang kembali petuah itu. Utang seorang dosen yang rasanya sungguh menyeramkan.

Utang-Dosen-2

S
ayup-sayup suara azan zuhur terdengar di kejauhan…

Pak Abror membetulkan letak kacamatanya, menggeser asbak, dan membuang abu rokok dari pipa di tangan kirinya.

Tak terasa sudah hampir tiga jam saya dan dosen saya itu duduk dan bertukar banyak sekali cerita. Namun, cerita hari ini harus diakhiri karena saya kebetulan ada janji pula dengan beberapa teman.

Sesaat kemudian lelaki yang masih senang membantu anaknya memelihara ayam itu mengambill sebuah buku; buku dengan sampul berwarna kuning, “Ini oleh-oleh dari saya buat Dik Arul,” katanya pelan.

Saya segera mengambil buku Psikologi Agama itu dan meminta tanda tangan darinya.

“Semoga bermanfaat,” katanya melanjutnya.

Saya pun tersenyum dan kemudian mohon pamit.

“Saya doakan semoga sukses selalu,” itu pesannya seraya menepuk pundak kiri saya dan mengantarkan sampai ke pintu ruangnnya.

Terima kasih Pak Abror… saya akan ingat apa itu utang seorang dosen.

(10880)

Jurnalis-Penulis-Traveler merupakan tiga rangkaian kata yang bisa menjelaskan siapa saya, selain sesekali menjadi dosen tentunya. Telah menulis 100-an judul buku. Sering memberikan pelatihan terkait PR 3.0, digital media, dan komunikasi di berbagai institusi. Selain di blog ini, ia juga memiliki weblog di www.kangarul.com dan www.dosenkomunikasi.com

36 Comments to Utang Seorang Dosen

  1. uun machsunah

    Praktik dosen yg memanfaatkan mahasiswanya sy saksikan sendiri. Mestinya institusi (kampus di mana dosen ini mengajar) memberikan sanksi tegas. Dan mahasiswa tidak usah takut nilainya “hancur” jika melaporkan dosen semprul macam gini. Krn institusi jg mestinya bertanggung jawab ut pemulihan nilai mahasiswa yg dimanfaatkan oleh dosennya.

  2. Sebagai dosen muda, artikel kang arul mencerahkan saya tentang integritas seorang dosen. Tidak boleh kasih nilai krn balas budi. Harus objektif.

    Btw saya juga salut sama kang arul, meskipun sibuk sbg dosen tapi blognya tetap update. Blog saya sudah setaun ngga diupdate. Hiks.
    Bahkan dari biodata yg kang arul buat juga bekerja sbg jurnalis traveler. Sumpah saya ingin bgt tuh jadi jurnalis traveler online. Tapi skrg saya hanya bisa traveling saat liburan semester

  3. Saya dokter, dosen saya juga dokter. Saya menempuh studi kedokteran saya di rumah sakit.

    Tentang isu dosen memeras mahasiswa ini, saya juga mengalaminya sendiri. Tapi bukan uang atau materi yang diperas, melainkan waktu.

    Mau janjian untuk bimbingan private dengan dosen? Dosen minta mahasiswa menunggu di luar ruangannya. Setelah menunggu berjam-jam, dosen membatalkan janji sepihak. Padahal untuk menemui dosen itu, mahasiswa harus membolos jadwal kuliah dengan dosen lain.

    Mahasiswa sudah bikin tugas dan menunggu dievaluasi. Pada beberapa hari kemudian, mahasiswa tanya, bagaimana progress kinerja dirinya? Si dosen malah tepok jidat dan tanya balik, “Oh, kamu sudah menyerahkan tugasmu ke meja saya ya?”

    Memeras waktu lebih parah daripada memeras material. Dosen mestinya menghargai mahasiswanya dengan lebih baik. Minimal jangan membuang waktu mahasiswa nya dong.

  4. AFDHOL SYMASUMAR

    Bersikap professional , jujur, & amanah, menang tidak mudah dlm tugas kehidupan masa kini. Apapun profesi kita, ternasuk dosen tentu sering menemui godaan2 serta kendala. Tulisan kang Arul cukup memotivasi & menginspirasi kita untuk tetap menjaga professiobalisme & objektifitas kita sehingga kita betul2 merasa lega, tdk punya beban berhadapan dgn siapapyn dlm menjalani tugas yg kita emban. Terima kasih
    Afdhol Syams

  5. Santosa AyahDelisaAdib

    Luar biasa….INSPIRATIF…
    Semoga semua orang dengan profesi itu (dosen),
    Selalu berusaha untuk tetap OBJEKTIF

  6. Hmm.. jadi keinget waktu nyusun skripsi. dapat dosen pembimbing yang paling ditakuti mahasiswa, terus dosen pengujinya adalah dosen yang selalu tak akur dengan dosen pembimbing saya. penuh perjuangan. tapi alhamdulillah mental saya jadi tertempah 🙂

  7. Cyber69

    Sewaktu dulu saya menjadi seorang dosen di Semarang, dikarenakan ada kelas sore dan mayoritas mahasiswanya adalah orangtua2 yang sudah 40thn ke atas yang masih semangat utk melanjutkan studi hingga S1, suatu ketika saya mengampu matakuliah yang bisa dikatakan susah bagi mahasiswa yaitu pemrograman mobile, sewaktu ketika tiba saat ujian uas, salah satu mahasiswa saya yang sudah berumur tadi mendekat kepada saya dan bercerita bahwa dirinya sangat antusias dalam mengikuti perkuliahan saya namun karena faktor umur dan pekerjaan yang membuatnya sulit menyerap materi dari saya oleh krn itu beliau mencoba menyuap saya utk mendapatkan nilai ya minimal B lah, tapi saya menolak dgn halus dan juga kemudian saya berikan kepada beliau nilai yg beliau minta, perjalanan pulang dari kampus rasanya pengin nangis, bisa menolak korupsi & gratifikasi berbentuk godaan spt itu buat saya luar biasa, iman saya brtambah kuat. 😀

  8. Amrullah Hayatudin

    Inspriratif bgt, saya paling ga suka sama dosen yg tidak objekti, ngajar jarang, ngeluarin nilai pun telat mlulu….alhamdulillah saya bukan tipe dosen seperti itu, dan selalu berusaha untuk objektif, masuk kls tepat waktu, dan mengeluarkan nilai pun tepat waktu.

  9. arifeffendyz

    diambil hikmahnya saja… di sisi lain sebagai mahasiswa yg menuntut ilmu, kita juga diharuskan tetap menghargai dan patuh thd guru / dosen.. sebagai pendidikan juga bhwa orng yg mencari ilmu haruslah “manut” kpd yg memberi ilmu.. biar barokah… disisi dosen..juga gak boleh memanfaatkan jabatan dN tdak menghargai siswa cz nmanya dosen hanpir sama dg guru, bakal diliat, diamati, serta ditiru murit/ mahasiswanya…

  10. Modarama

    tulisannya bagus kang arul dan banyak hikmahnya. Setidaknya membuat paradigma dosen yang semestinya. jadi Penasaran sama bukunya. bisa di cari dimana ya kang arul ?

  11. modarama

    Tulisannya bagus kang arul, banyak hikmah yang bisa didapat dari cerita beliau. jadi penasaran sama bukunya . bisa dapet dimana ya?

  12. rofandi

    Ketika saya menguji skripsi mhs, dia membawa bingkisan yang saya anggap berlebihan, yaitu satu parsel buah-buahan. Saya mengancam mhs ybs untuk tidak melakukan spt itu. Karena hak dia sbg mhs untuk ujian skripsi dan memperoleh nilai sesuai usahanya. Masih banyak koq di negeri ini dosen yang punya integritas….

    • Sayang sekali, beberapa PT di daerah saya malah sudah menjadi budaya memberikan bingkisan untuk sang DOSEN. Jauh sekali dari apa yang bung rofandi uraikan. Kang Arul, tulisan mu telah membuka mata saya. Terima kasih…cukup berkesan.

  13. Alhamdulillah, sejauh ini saya tidak punya “utang’ kepada mahasiswa, sehingga tidak punya beban untuk memberikan nilai seberapapun. Semoga bisa mengikuti kearifan Pak Abror.. 🙂

  14. Kang alul, bila kelas malam karyawan saat sidang skripsi dosen ada pertimbangan2/ toleransi ga ya? koq saya bisa ga lulus ya? sebaiknya bgmn bersikap?

  15. senang bisa baca cerita2 kang alul yang sangat menginspirasi…..yahh “jngan sampe punya utang dgn mahasiswa..”?

  16. Saya sedang dalam keadaan diperas dosen dipaksa membayar sejenis kegiatan seminar yg beliau adakan dengan biaya sejuta lebih sekian, jika tidak membayar maka saya tidak diperbolehkan ikut remedial suatu mata kuliah, sedangkan keadaan ekonomi orangtua saya sedang dalam keadaan kurang baik. Saya cuma bisa berdoa semoga ada jalan keluarnya..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *