Hiburan

The Sad Man

“Tes…tes…” Arlen sekali lagi mencoba mik di tangannya. “Testing… dites pake gunting.”

“Zae, gimana undangan, sudah pada datang belum?” tanya Ipal yang sedang mengatur hidangan prasmanan di atas meja.

Zae langsung memeriksa catatan di tangannya. “Lu tenang aje. Tinggal nunggu babeh gue, kalo tu orangtue dateng, acara bisa dimulai dah,” jawab Zae yang sedang sibuk ngurusin soundsystem.

Di halaman depan, Dudung dan Benny sedang sibuk-sibuknya menyambut tamu lain yang datang. “Silahkan Bang, bangkunya masih kosong,” tawar Benny mencoba ramah.

“Iiih… enak aja ya panggil kita Abang, emangnya kita-kita tukang becak apa,” kata salah seorang tamu sewot.

Menyadari kesalahannya, Benny cuma mesem, “Eh iya, maaf, Mbak. Silahkan masuk deh,” katanya meralat. Ia sadar kalau tamu-tamu yang datang di pembukaan Salon Mumun Ceria ini bukanlah ‘lelaki beneran’ semuanya, tetapi rada-rada sama persis dengan tuan rumah, Mumun.

“Nah begichu, dong,” sambut yang sempat sewot tadi. “Nanti kalau mau potong sama akikah aja. Akikah kasih free of charge alias nggak perlu bayar,” tawar sang tamu yang menggunakan baju senam itu.

“Potong apaan?” tanya Benny penasaran.

“Ya terserah situ. Mau dicincang, mau dipotong kotak-kotak, mau dibuat sop buntut, mau bulet-bulet juga boleh,” jawab sang tamu genit, “apalagi dikasih bumbu, hmmm… lebih enak nelannya,” lanjut sang tamu sambil mengerjap-ngerjapkan matanya.

Benny langsung melonjak kaget. Ni bencong ganas banget, batinnya. Lebih kaget lagi sewaktu sang tamu menuliskan namanya di buku tamu. S-U-M-A-N-T-O-W-A-T-I. Kontan saja bulu kuduk Benny berdiri. Hii… syeremmm!!

“Eh, Om, potoin kita-kita, dooong,” pinta para tamu saat melihat Sokat dengan tustel di tangannya.

Sokat sang wartawan partikelir sigap mengambil satu dua frame. Tugasnya hari itu memang merekam dalam bentuk foto. Walau Mumun hanya membayar film dan cuci cetaknya saja tapi Sokat senang. Setidaknya ia bisa mengasah keterampilan jepretannya. (Ketapel kali!!)

“Om katanya wartawan, ya? Kalau gitu bisa nggak akikah dipotret dan dimasukin koran?” tanya tamu yang pake gaun merah jambu, namanya Pince Surace.

“Iya nih Om, si Pince itu sudah kebelet banget masuk ke koran,” sela Susi, yang datang bersama si gaun merah jambu itu.

“Apalagi kalau matanya di tutupin kotak hitam dan ada di halaman kriminal,” tambah tamu lainnya yang langsung disambut tawa. Hanya si Pince saja yang mendelik kesal.

“Tes…tes… oke tamu-tamu yang terhormat. Berhubung Ketua RT sudah datang, maka acara ini bisa daku mulai,” kata Arlen saat melihat Haji Sapei datang bersama Billy Rangga, sekretaris RT 007 yang belakangan suka memanjangkan rambut ikalnya.

“Aye cuman mau bilang, kalo yang namanya rezeki itu kadang tak terduga datangnye. Nyang ditunggu eh malah ilang, sementara nyang kagak diarepin malah keamprokan ama kite. Karena itu kite harus bersyukur. Bersyukur pada Allah yang merupakan sumber rezeki manusie,” kata Haji Sapei mengakhiri pidato sambutannya.

Hadirin langsung mengamini. Lalu bertepuk tangan.

“Acara selanjutnya adalah gunting rambut sebagai pertanda mulai beroperasinya Salon Mumun Ceria ini,” seru Arlen lantang.

Ipal maju. Ia didaulat anak-anak Gang Buntu 13 sebagai perwakilan pelanggan pertama di salon ini. Mulanya remaja dari ranah Minang itu menolak, namun atas desakan dan rasa  solidaritas, ia pun mengiyakan juga keinginan itu.

“Undangan yang terhormat, terutama warga Gang Buntu 13,” Mumun memulai pidatonya. “Terima kasih karena telah memberikan kepercayaan kepada akikah untuk menerima penghargaan sebagai artis berpenampilan terbaik. Karena film yang-”

“Eh, Mumun, emang ini acara penganugerahan piala Oscar apa?” potong Pince dari tempat duduknya sambil cekikikan.

“Lagian situ main film apa? Kura-kura ninja kali, ye,” sela Susi yang punya nama lengkap Susi Susilowati Susano Seneng-seneng Selalu.

Mumun tersadar kalau sudah tersalah ngomong. Ia langsung menutup mulutnya dengan sapu tangan merah jambu. Sementara hadirin hanya mesem-mesem saja.

“Duh maaf nih para undangan, maklum akikah grogi. Baru kali ini akikah ngomong di depan banyak orang, apalagi ada pejabat RT,” kata Mumun sambil menahan malu. “Tapi sungguh akikah sangat berterima kasih kepada warga Gang Buntu 13. Karena tanpa bantuan Arlen dan teman-temannya sangatlah mustahil Salon Mumun Ceria ini bisa terwujud.”

Entah siapa yang memulainya, tiba-tiba ruangan salon itu bergema dengan tepuk tangan para undangan. “Hidup Bang Arlen!” ujar Susi dan Pince hampir bersamaan. “Suit-suit….”

Mumun melemparkan senyum kepada anak-anak Gang Buntu 13 yang langsung disambut dengan senyuman pula. Sementara Haji Sapei malah mengusap goloknya karena menyangka senyuman Mumun, sang wanita jadi-jadian itu, tertuju padanya.

“Karena itu sebelum akikah sendiri yang memulai acara gunting rambut ini, maka akikah berharap dan memberi penghormatan kepada warga Gang Buntu 13 untuk menggunting pita, eh salah, mengunting rambut.”

Kontan Ipal terlonjak dari tempat duduknya. Apa-apan nih, janjinya kan hanya satu orang? Begitulah tanya di hatinya. Namun ketika melihat wajah  Mumun yang memelas, akhirnya ia pun pasrah juga.

“Nggak sering-sering kok, Pal,” kata Zae sambil menggunting sedikit rambut Ipal.

Ya, Ipal tahu itu. Sekali-kali berkorban apa salahnya, batin Ipal. Lagi pula menurut kesepakatan, hanya sedikit bagian rambutnya yang akan digunting.

“Buat Daeng Sokat da Costa yang sudah bantu akikah bikin plang nama.”

Ipal pun kembali menghibur diri. Sekumpulan kecil rambutnya terpotong lagi.

“Buat Dik Asong Chow, yang meskipun bukan warga sini tapi banyak ngebantu akikah.”

Cress! Beberapa helai rambut Ipal melayang jatuh ke lantai.

“Giliran Dik Benny Siregar yang rela menggadai gitar kesayangannya.”

“Hanya gitar bisa saja,” elak Benny sambil mengambil gunting dari tangan Mumun. Cress!

“Kemudian Dik Dudung Suradung atas sara-saran kebersihan ruangan salon.”

Cress! Cress!

Sabar, sabar…, batin Ipal masih berusaha menghibur dirinya.

“Terlebih lagi buat Dik Arlen Gibran. Terima kasih atas bantuan yang diberikan, dan akikah doakan semoga Dik Arlen akan mendapatkan cita-cita seperti yang diharapkan, menjadi pemain bola ternama.”

Semua hadirin langsung berdiri. Memberikan standing applaus alias tepuk tangan sambil berdiri untuk Arlen si pemain sepakbola.

“Khusus untuk Dik Arlen, akikah kasih bonus spesial untuk empat kali guntingan.”

Arlen maju dengan senyum lebar, bangga. Cress, cress, cress, cress!

“Juga, buat Susi yang sudah memberikan kredit barang-barang salon dengan harga murah. Semoga jodohnya dekat,” sambung Mumun menyebut nama rekannya yang sama-sama merintis karir di bidang persalonan itu.

“Idih, bisa saja deh ih,” sambut Susi sambil mencubit pipi Mumun. Lalu, cress!

Ipal masih duduk diam di kursi, sambil terus menguatkan diri. Ia mulai merasa ada yang tidak beres dengan rambutnya. Semoga habis ini selesai, harapnya cemas.

“Kehormatan ini juga akikah berikan kepada Pince, Yanti, Lola, Desy, Sumantowati…”

Cress! Cress! Cress!

Setitik air mata kini mengalir di pipi Ipal.

“Akhirnya tak lupa buat Haji Sapei, atas sambutannya dan izin yang diberikan sehingga akikah bisa membuka salon ini.”

Haji Sapei maju. Ia menolak gunting pemberian Mumun, karena ia akan memotong rambut Ipal dengan golok kesayangannya. Breeeett!!

Ipal merinding, tapi rasa di hatinya sudah tidak bisa menerima kenyataan ini dengan iklas. Bagaimana mungkin rambutnya yang bagus ini menajdi tumbal.  Butiran air matanya jatuh, membasahi berhelai rambutnya yang sudah menumpuk di lantai.

“Nah, sekarang giliran akikah.” Mumun dengan perasaan terharu langsung mengambil gunting. Karena saking terharunya ia sampai tersalah, bukan gunting rambut yang diambilnya melainkan gunting rumput.  “Bersama ini saya resmikan Salon Mumun Ceria,” Zreeeep!!

Sekali lagi hadirin yang datang memberikan standing applaus, kali ini ditujukan kepada pemilik salon. Di tengah kemeriahan itu Mumun tak bisa menutupi rasa harunya. Ia pun sesegukan menahan rasa sedih campur bahagia yang melingkupi hatinya saat ini.

“Karena acara resminya sudah selesai, sekarang para undangan dipersilahkan untuk menyantap hidangan,” kata Arlen, sebagai pembawa acara.

Wajah-wajah ceria itu langsung memburu hidangan di atas meja.

Tinggal Ipal yang duduk termenung di atas bangku sendirian. Tanpa kata, tanpa suara. Memikirkan nasib rambutnya. Oh… nasib, gumannya lirih sambil melihat kepalanya di cermin yang sudah nyaris botak itu.

–oo0oo–

Jam meja berbentuk panda itu menunjukkan pukul 23.15 malam. Mumun sejak tadi masih termangu di tempatnya. Sorot matanya menyapu seluruh ruangan tamu rumah kontrakannya yang sekarang sudah berubah menjadi ruang salon. Ia pandangi kursi, peralatan-peralatan salon, botol-botol sampo dan barang make-up dan sampai akhirnya ia melihat dirinya sendiri di dalam cermin.

Di cermin itu Mumun melihat matanya yang basah. Ia menangis. Tapi tak lama, ia segera menyeka butiran yang luruh di pipinya itu sebelum jatuh ke lantai salon. Salon Mumun Ceria.

Kemudian dengan sigap tangan Mumun memberesi sisa-sisa makanan yang berserakan. Menyatukannya ke dalam kantong sampah yang akan dibuangnya.

Sesampainya Mumun di depan rumah, ia sempat melihat ke arah depan gang. Di sana matanya menangkap sekumpulan anak-anak Gang Buntu 13 yang sedang menikmati indahnya nongkrong di malam Senin itu. Mumun mencoba menatap wajah-wajah mereka di bawah penerangan seadanya dari lampu-lampu yang masih menyala.

Sampai akhirnya air mata Mumun  mengalir lagi, tapi kali ini ia tidak ingin menyeka apalagi menahan tangisnya. Biarlah butiran bening itu meresap ke dalam tanah di Gang Buntu 13 ini. Terima kasih semua, katanya membatin.

Perlahan Mumun kembali ke dalam. Rasanya ia tidak cukup sekadar mengucapkan kata terima kasih itu. Ada yang seharusnya lebih pantas untuk dihaturkan rasa syukur di hatinya.

Menjelang tengah malam, Mumun sedang memegang sesuatu di dalam kamarnya. Sesuatu yang dibelinya di Pasar Mester Jatinegara, kemarin sore.

Mumun mencobanya. Sarung dan kopiah itu sungguh pas buatnya. Terima kasih Tuhan, bisik hatinya yang paling tulus.

Sementara di kamar lain, dua rumah dari Salon Mumun Ceria, ada seseorang yang sedang meratapi kepalanya. “Huaaaa…. huhuhuuu….” Tangisan itu begitu pilu dan menyayat hati. Tangisan Ipal, yang memecah keheningan malam.

“Rambutkuuu…….!!”

—oo0oo—

Kang Arul
the authorKang Arul
Dosen, jurnalis, dan penulis. Saat ini selain menjalani profesi sebagai dosen di berbagai perguruan tinggi, juga sebagai konsultan untuk konten digital di berbagai perusahaan, lembaga/kementerian, maupun perorangan

2 Comments

Leave a Reply