Catatan

Saya Dosen Galau yang Killer

Berteman dengan dosen boleh, tetapi ada batasan di dalam kelas dan di ruang sidang ujian akhir mahasiswa

Mungkin saya adalah dosen yang rada santai bahkan sangking santainya saya bisa duduk-duduk di pinggir jalan dengan mahasiswa. Sekadar ngopi atau main game online di hape.

Di kelas pun saya paling enggan dipanggil dengan awalan “bapak”. Baik dari kelas di sarjana maupun jenjang doktoral. Panggilan “Kang Arul” sudah cukup mengakrabkan dan sekaligus menjadi penjenamaan diri.

Namun, kalau urusan ujian apalagi sidang tugas akhir sikap saya bisa berubah 180 derajat. Ketawa bareng yang akrab itu tidak akan mengistimewakan siapapun saat mempertahankan skripsi, tesis, atau disertasi mereka.

Mungkin kita pernah bercanda di kafe atau warung bubur hijau entah dimana saja, tapi saat itu kita adalah kawan. Di ruang sidang, ada batasan yang mendadak selalu muncul dalam diri dan sampai-sampai banyak omongan yang menyatakan “kalau sampai diuji Kang Arul, kelar deh idup lo!” atau “jangan deh jangan coba-coba ngajuin Kang Arul jadi penguji” dan “Lo diuji Kang Arul? Terima aja nasib lo”.

Apapun itu… yang pasti perubahan sikap dan rentetan pertanyaan di ruang sidang adalah salah satu episode penting sebuah perkuliahan. Di saat sidang tugas akhir itulah mahasiswa tidak sekadar diuji risetnya atau cara mengumpulkan data saja, melainkan sikap selama sidang itu berlangsung. Percuma riset beres kalau sikapnya ada yang kurang layak.

Ya, hidup bukan urusan matematis lo pinter atau gak, IP kamu tinggi atau gak, atau lulus cepat atau lambat saja. Hidup setelah menjadi sarjana, master apalagi doktor itu soal kedewasaan berpikir, mengambil keputusan, dan mengelola emosi.

Oleh karena itu, apa yang berlaku di ruang sidang adalah upaya saya sebagai dosen untuk menyiapkan apakah mahasiswa teruji ini pantas atau tidak menerapkan capaiannya di dunia nyata. Mungkin saya akan mencecar secara detail, tapi itu untuk memastikan bahwa tidak sekadar ada persoalan ilmiah yang harus diselesaikan saja melainkan juga untuk melihat nilai sikap dari merespon cecaran itu.

Maka, jangan heran kalau kemarin kita tertawa bareng dan pas saat sidang saya berubah menjadi killer.

Kang Arul
the authorKang Arul
Dosen, jurnalis, dan penulis. Saat ini selain menjalani profesi sebagai dosen di berbagai perguruan tinggi, ia juga merupakan konsultan untuk konten digital di berbagai perusahaan, lembaga/kementerian, maupun perorangan. Profil lengkapnya sila klik http://www.kangarul.id

1 Comment

  • Sejauh ini berteman dengan Kang Arul ga merasa di-killer-in sih, ga tahu kalau para mahasiswanya. Tapi tetep gimanapun juga, sekiller apapun Dosen Galau ini tetap hatinya selembut salju di puncak gunung rinjani. Uhukkk…

Leave a Reply

error: Content is protected !!