Budaya

Rambu Solo dan Jalan ke Surga

Ke’de’ ko anta unbating … 

Pagi sekali saya dan beberapa rekan tiba di Tana Toraja.

Perjalanan malam sekitar 8 jam di atas mobil yang ditempuh dengan kecepatan tinggi, nyaris sedikit pengereman, tentu melelahkan apalagi saya duduk di kursi paling belakang. Satu-satunya yang diinginkan adalah berbaring di kasur yang empuk dan memejamkan mata. Namun, itu dalam kondisi normal. Menjejak Tana Toraja tentu rugi kalo dilalui dengan hanya terlelap saja.

“Di sini, pesta pernikahan tidak semeriah pesta kematian.” 

Ungkapan itu seolah-olah membuat energi saya bertambah. Lelah, pegal, dan kantuk menjadi hilang seketika. Bagaimana tidak, di berbagai daerah–kecuali Bali yang pernah saya datangi–yang namanya pernikahan selalu dilakukan secara meriah dan kalau perlu si empunya hajat berhutang ke sana-sini demi gengsi kepada tetamu. Nah, ini kebalikannya.

Beruntungnya, tim perjalanan saya itu mendapatkan informasi bahwa ada pesta kematian tak jauh dari lokasi istirahat kami di Hotel Milisiana.

“Paling sekitar 10 menit ke lokasi,” begitu petunjuk arah yang saya dengar.

Maka, dipaculah mobil mencari lokasi itu. Sempat kehilangan arah, tetapi ada seorang dari penduduk setempat yang berbaik hati mengantarkan dan menjadi petunjuk arah dengan motornya. “Saya baru dari sana. Ramai. Ada pejabat juga,” katanya sebelum memacu motor.

Selang berapa lama kemudian saya dan rekan-rekan tiba di lokasi. Mobil tidak bisa masuk ke area upacara kematian itu digelar, maka kami harus berjalan kaki sekitar 10 menit ke lokasi.

Ketika saya tiba lokasi upacara di Desa Parinding, Rantepao dari kejauhan sudah terdengar prosesi upacara Rambu Solo, yakni upacara mengistimewakan kematian sebagai salah satu adat istiadat masyarakat di sana. Upacara atau pesta ini sebagai prosesi mengantarkan yang meninggal menuju siklus baru di Puya atau surga.

Lazimnya pesta ini dilaksanakan selama tiga hari, hari pertama jasad diarak dari rumah ke lokasi upacara dan dibaringkan di rumah Tongkonan. Hari kedua diadakan persembahan, biasanya berupa babi atau kerbau, dengan diiringi tarian Ma’Badong. Hari ketiga barulah dari rumah Tongkonan jasad dikebumikan di pemakamam yang biasanya di bukit-bukit.

Kedatangan saya dan rekan-rekan ternayta sudah di hari ke-2 dari rangkaian Rambu Solo itu.  Saya pun melihat langsung bagaimana tarian yang terdiri dari sekitar 70 orang yang saling berpegangan tangan dengan masing-masing jari kelingking yang ditautkan, melingkar, dan menggerakkan kaki-badan dengan bersamaan. Itulah Ma’badong.

Ke’de’ ko anta unbating … Madarinding sola nasang…

Kedengarannya begitu menyayat hati. Syair yang diucapkan oleh pemimpin ritual tarian, disebut dengan Pa’badong, langsung disambut dengan sahutan dari anggota yang lainnya.

Ma’badong merupakan ritual tarian dalam upacara kematian yang digelar di Tana Toraja. Tarian ini memang dilakukan secara berkelompok dengan jumlah minimal tiga orang dan bisa diikuti oleh puluhan bahkan ratusan orang. Mereka menyanyikan syair-syair yang dilagukan (kadong-badong) sebagai pengingat akan kematian dan kenangan yang ditinggalkan. Biasanya di tengah-tengah lingkaran itu ada hewan yang siap di korbankan.

O ya, jenis Badong ini terdiri dari ratapan, bearak, nasihat, dan pemberkatan. Syairnya mulai dari cerita tentang asal-usul manusia dari langit, masa kanak-kanak, kebaikan-kebaikan yang dilakukan sebagai bentuk pujian. Tidak hanya ditujukan kepada si mayat, syair dalam Badong juga ditujukan kepada orang-orang yang hidup agar mendapat berkat.

Ma’badong dilakukan di halaman atau pelataran tempat upacara berduka, biasanya di depan rumah Tongkonan, yakni rumah tempat jenazah dibaringkan selama upacara sebelum di  kebumikan. Ritual ini bisa dilakukan selama satu dua jam dan bahkan bisa dilakukan selama tiga hari tiga malam tergantung si empunya hajatan.

Tarian ini dilakukan oleh kelompok pria maupun kelompok yang hanya wanita dari segala umur. Biasanya pakaian yang dikenakan berwarna gelap atau hitam.

Di lokasi acara juga saya lihat di kiri kanan dari rumah Tongkonan ada semacam tempat yang diisi oleh para tetamu maupun keluarga. Mereka berpakaian serba hitam sebagai bentuk rasa duka yang ditunjukkan.

Selama prosesi Tarian Ma’badong dilakukan, di bagian lain hewan-hewan dikorbankan. Dagingnya dimasak dan kemudian dibagikan kepada pengunjung yang hadir.

Rambu Solo dan jalan ke surga merupakan tradisi yang dipercayai oleh sebagian besar penduduk Tana Toraja. Bagi mereka melaksanakan upacara kematian adalah bentuk penghormatan kepada yang meninggal dan upaya untuk mengantarkannya melalui siklus dari kehidupan menuju kehidupan yang lebih abadi.

Memang tidak semua penduduk bisa melakukan tradisi ini. Selain melibatkan banyak orang, juga karena faktor biaya yang tidak sedikit. Beruntunglah saya dan rekan-rekan bisa menyaksikan upacara yang sudah terbilang langka ini.

Yang pasti… selalu ada cerita kebaikan dalam sebuah tradisi

Ke de’ ko anta umbating … Madarinding sola nasang … marilah kita menguraikan sedih di hati… agar kita sekalian bahagia… (kira-kira begitu artinya)

Kang Arul
the authorKang Arul
Dosen, jurnalis, dan penulis. Saat ini selain menjalani profesi sebagai dosen di berbagai perguruan tinggi, ia juga merupakan konsultan untuk konten digital di berbagai perusahaan, lembaga/kementerian, maupun perorangan. Profil lengkapnya sila klik http://www.kangarul.id

6 Comments

Leave a Reply

error: Content is protected !!