Catatan

Profesi copywriter

Menjalani profesi copywriter

profesi copywriter tidak sekadar mengandalkan kemampuan menulis semata, melainkan imajinasi yang dicampur dengan riset yang kuat

Saya lupa waktu persisnya, tapi tidak tahunnya. Sekitar 2004 di antara bulan Januari sampai Desember  😀  saya mulai menekuni profesi copywriter di sebuah agensi periklanan; sebut saja agensi bunga atau agensi yang tidak untuk disebut namanya. Rekanan yang saya pegang waktu itu seingat saya adalah PLN, Indonesia Power dan beberapa pemerintah daerah.

Sebagai copywriter, saya itu dulu lumayan kurus dan agak ganteng sebenarnya. Nah, foto yang saya unggah di blog ini adalah satu-satunya foto yang sempat diambil dengan kamera dari gawai  jadul. Sayang pesona itu tidak ketangkap gara-gara piksel kamera yang masih di bawah 6 megapiksel. Kalau seandainya gawai sudah secanggih saat ini, saya yakin foto itu akan mengundang selera… selera setiap orang yang melihat untuk buru-buru shut down power hape or laptop mereka.

Namun, bukan pesona itu yang ingin saya ceritakan, melainkan kisah keceburnya saya ke dunia kreatif sekaligus penuh dengan tekanan dalam profesi copywriter ini.

Bagaimana tidak, sepekan sebelum diterima di agensi ini saya sebenarnya sudah dipanggil kerja di sebuah PH infotainment. Lah, rasanya mau saja saya ambil pekerjaan ini selai karena alasan senang jadi pemburu informasi juga karena bisa ketemu artis. Eh, siapa tahu saya kena getahnya artis yang makan nangka: ada produser yang terpesona melihat ketampanan saya dan menawarkan saya main sinetron “Beranak dalam Baskom”.  🙄

Menerima Profesi Copywriter

Saat menerima tawaran tersebut saya langsung menelpon Munaroh lewat warung telepon.  Saat itu saya dan Munaroh menjelang hari-hari akad nikah dengan mas kawin gelang emas 4 kilo, mobil alphard, rumah 4 tingkat, deposito 6 miliar, dan sebuah puisi.

Hasilnya? Munaroh melarang saya menerima pekerjaan itu. Jadilah saya menerima profesi  copywriter. Lucunya lagi saya tahu ini adalah dunia baru buat saya. Bayangkan, sekitar delapan tahunan saya jadi pemburu berita di lapangan, eh, sekarang jadi menekuni profesi copywriter yang lebih banyak duduk di belakang meja dengan tumpukan buku dan bahan-bahan tulisan.

[edsanimate_start entry_animation_type= “bounceInRight” entry_delay= “0” entry_duration= “1” entry_timing= “linear” exit_animation_type= “” exit_delay= “” exit_duration= “” exit_timing= “” animation_repeat= “1” keep= “yes” animate_on= “load” scroll_offset= “” custom_css_class= “”]Setelah menekuni profesi ini, saya baru memahami bahwa profesi copywriter tidak sekadar mengandalkan kemampuan menulis semata, melainkan imajinasi yang dicampur dengan riset yang kuat.[edsanimate_end]

Kayaknya saya harus lanjutin cerita ini deh di-posting-an mendatang…

Kang Arul
the authorKang Arul
Dosen, jurnalis, dan penulis. Saat ini selain menjalani profesi sebagai dosen di berbagai perguruan tinggi, juga sebagai konsultan untuk konten digital di berbagai perusahaan, lembaga/kementerian, maupun perorangan

7 Comments

Leave a Reply