Percaya Sajalah Pada Smartphone Kita

By -

Kini, kita cukup berbicara kepada perangkat.

S
uatu malam, saat sedang membaca bahan kuliah untuk esok hari, konsentrasi saya teralihkan dengan suara dering di telepon genggam. Sambil meraih perangkat itu saya melihat jam terlebih dahulu, ternyata jam sudah hampir menunjukkan pukul satu dini hari. Lalu, saya membaca pesan singkat di telepon genggam itu, “Pak, besok siang masuk kan?” begitu isinya.

Pagi harinya, ketika saya baru saja selesai mandi, sebuah pesan singkat masuk dalam perangkat saya. Kali ini dengan pesan yang berbeda, yakni ada seorang teman ingin meminjam uang kepada saya. Karena kebetulan sedang ada sedikit rezeki dan kebetulan juga kebutuhan teman itu tidak begitu banyak saya pun membalas pesan singkatnya untuk menemui saya selepas saya mengampu kuliah siang nanti.

Tidak hanya itu, saat saya sudah sampai di dekat kampus dan membeli cokelat panas di salah satu warung cepat saji saya mendapatkan pesan singkat lagi. Kali ini, tetap sebuah pertanyaan, dari mahasiswa bimbingan skripsi yang menanyakan kapan jadwal ia bisa bimbingan.

Beberapa menit kemudian saya seperti merenung sejenak. Begitu hebatnyakah sebuah perangkat teknologi komunikasi itu?

Interface itu

S
aya memang tidak bisa memungkiri bahwa hampir keseluruhan hidup manusia tidak bisa lepas dari perangkat teknologi. Dalam pengertian yang positif, kita tidak lagi menunggu bayangan dari sinar matahari atau melihat ke angkasa hanya untuk mengetahui waktu saat ini. Penemuan terhadap jam yang terpasang di dinding atau melingkar di lengan atau muncul di layar telepon genggam kita merupakahn capaian yang luar biasa.

Begitu juga dengan perangkat telepon. Pada mulanya hanya berupa pengiriman perpaduan bunyi singikat-panjang, teks, suara, sampai akhirnya berinteraksi melalui panggilan video. Telepon genggam seakan menghapuskan jarak yang terbentang antara komunikator dan komunikan.

Inilah yang dikatakan oleh Gane dan Beer (2008:53-54) tentang karakteristik media baru saat ini. Bahwa teknologi baik itu perangkat keras (hardware) seperti telepon genggam maupun perangkat lunak (software) seperti perambah daring telah menghubungkan beragam entitas melalui jejaring. Lalu lintas informasi telah menjadi bagian dari kehidupan kita; tidak hanya sekadar menjadi alat bantu, melainkan telah menjelma menjadi bagian dari proses komunikasi serta bagaimana hubungan itu terjalin.

Inilah salah satu karakteristik dari media baru lainnya yang disebut dengan Interface  sebuah benda material maupun virtual yang menjelaskan bagaimana media baru beroperasi dan bagaimana  produksi informasi itu memberikan efek dari pola-pola hungunan manusia di dalamnya. Menurut Steven Johnson  (1997:14) menjelaskan bahwa kata ‘interface’ merupakan perangkat lunak yang menghubungkan interaksi antara pengguna (user) dengan komputer. Interface berfungsi semacam alat penerjemah hingga  memediasi antara dua entitas dalam sebuah network.

Dengan menggunakan terminologi ini, maka dapat dipahami bahwa interface bisa dipahami fungsinya sebagai penggabung dua tubuh atau lebih (bodies) dan juga bisa berarti sistem yang berbeda sehingga bisa menyatu, yakni antara manusia (human) dan mesin (komputer, telepon genggam), antara manusia dengan manusia, dan bisa jadi di antara mesin-mesin yang berbeda. Interfaces juga memungkinkan sebuah formasi atau tata aturan dari jaringan itu terjadi, baik secara bersilang maupun di antara sesuatu (being), objek, dan bahkan media.

Interfaces tidak hanya digunakan untuk kajian dalam media baru saja  yang menjelaskan bagaimana manusia dan teknologi terhubung dan tidak pula hanya untuk menjelaskan bagaimana teknologi itu digunakan. Term ini menurut Gane dan Beer juga bisa digunakan untuk konsep-konsep yang berada dalam media komunikasi, entah itu media baru maupun media lama (konvensional). Sejalan dengan pemahaman penggunaan term tersebut, Lev Manovich menegaskan bahwa media lama seperti buku dan majalah merupakan penghubung atau interfaces dari penulis kepada pembaca (Manovich 2001: 73)

Dalam media baru, perangkat komputer bisa dikatakan sebagai interfaces. Perangkat-perangkatnya seperti tetikus, papan ketik, layar, perangkat lunak itulah yang mengubungkan manusia dengan jaringan. Sebaliknya, di dalam tubuh manusia juga ada interfaces berupa jari yang menekan papan ketik maupun memainkan tetikus atau mata yang memerhatikan gambar di layar.

Kehampaan

H
anya saja keberadaan perangkat itu telah mengubah cara-cara kita berhubungan di antara keluarga, teman, rekan kerja, dan sebagainya. Tidak ada lagi yang namanya basa-basi atau sekadar cerita ringan sebagai pencair suasana di antara dua orang yang bertemu. Semuanya di atur oleh transaksional kebutuhan; yang saya maksud adalah kita hanya berposisi sesuai dengan maksud yang ingin diutarakan, tidak lebih tidak kurang.

Saya sedikit bernostalgia. Jika ada yang ingin meminjam sesuatu, apalagi uang, ia pasti akan bertemu tatap muka dengan orang yang ingin diutangi itu. Ia akan membuka perbincangan tidak langsung mengutarakan kebutuhannya, melainkan istilahnya ngalor-ngidul dahulu. Karena dari ngalor-ngidul itulah ia akan mengetahui bagaimana kondisi (emosi) hati dan tentu saja kondisi keuangan yang bersangkutan. Seandainya dalam obrolan itu tiba-tiba orang yang mau diutangi menyampaikan keluhan yang berkaitan dengan finansialnya, maka tentu maksud menghutang itu akan dipendam dalam-dalam.

Namun, kehadiran perangkat menjadi dan mengubah arah ngalor-ngidul itu menjadi seperti transaksi. Tidak ada lagi istilah mengakrabkan diri atau sekadar bertanya kabar yang ada hanyalah seperti transaksi, langsung pada keinginannya.

Begitu juga dengan hubungan, sebagai misal, mahasiswa dengan dosennya. Saya mau bernostalgia sedikit. Belasan tahun lalu saya ingat betul bahwa saya bersama teman-teman yang lain menunggu hingga dua jam lebih di kelas. Ya, saat itu kami sedang menunggu dosen apakah ia datang dan mengampu di hari itu atau tidak. Bukan berarti saat itu tidak ada telepon rumah, tetapi sekadar bertanya kepada dosen apakah ia masuk atau tidak rasanya lebih “sopan” bertanya langsung dibandingkan melalui telepon atau melalui warung telepon (wartel).

Atau saya suatu ketika melihat bagaimana suami istri saling bercakap melalui jejaring sosial. Percakapan yang sepele soal bagaimana mereka menghabiskan liburan sekolah anak-anak mereka. Juga, bagaimana sebuah perayaan seperti kelahiran dan kedukaan seperti kematian seseorang cukup dengan menyampaikan perasaan itu melalui status di kolom komentar Facebook atau mention di Twitter.

Akhirnya, saya yakin dari hubungan yang diwakili oleh benda itu akan memunculkan kehampaan. Tidak ada lagi istilah ngalor-ngidul dan sebagainya hanya sebagai pembuka perbincangan. Tidak ada lagi kehangatan dari sebuah silaturahim yang terjalin.

Mungkin saya yang terlalu berlebihan melihat bagaimana perangkat itu telah menjadi perantara antarindividu. Tetapi, saya tetap percaya bahwa hubungan yang terjalin melalui komunikasi atatp muka akan melahirkan ikatan emosional yang jauh lebih tinggi dan laus dibandingkan mewakilinya melalui perangkat seperti telepon genggam atau komputer.

Toh, bisa saja terjadi pada awalnya kita mungkin tidak mau meminjami uang karena satu dan lain hal, akan tetapi ketika melihat ekspresi teman yang sangat membutuhkan maka pendirian kita ikut berubah. Kalau tidak sanggup meminjami uang, kita bisa berempati dan menjadi sahabat yang baik dalam mendengarkan kesusahaan orang lain.

Tetapi rasanya kini lebih banyak kita berbicara dengan peragkat saja… menolaknya dengan “dignin” dan tanpa ikatan emosional. “Maaf, sedang tidak ada uang”. Lalu pesan singkat melalui telepon genggam pun terkirim… sudah itu saja… tanpa basa-basi.

Wallahua’lam

(28)

Jurnalis-Penulis-Traveler merupakan tiga rangkaian kata yang bisa menjelaskan siapa saya, selain sesekali menjadi dosen tentunya. Telah menulis 100-an judul buku. Sering memberikan pelatihan terkait PR 3.0, digital media, dan komunikasi di berbagai institusi. Selain di blog ini, ia juga memiliki weblog di www.kangarul.com dan www.dosenkomunikasi.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *