Nasib dosen yang tidak semua orang tahu

By -

Ketika mendengar sebutan “Dosen”, maka yang terbayang adalah seorang (pria/wanita) pendidik yang ada di perguruan tinggi. Dalam jenjang pendidikan dosen ini minimal harus bergelar master atau telah lulus jenjang pascasarjana S2. Namun, ada realitas tersembunyi yang tidak semua orang tahu.

Berikut ini saya mencoba menjelaskan mitor-mitos tentang nasib dosen yang tidak semua orang tahu.

Dosen berpendidikan tinggi.

Dosen memang harus berpendidikan tinggi. Undang-undang tentang dosen mewajibkan dosen yang mengampu di semua jenjang pendidikan harus lulus magister. Malah ada aturan administratif yang menjelaskan bahwa dosen yang ingin naik jabatan fungional ke Lektor Kepala harus sudah selesai pendidikan doktor atau S3.

Untuk menyelesaikan doktor pun sang dosen harus mengorek tabungannya sendiri dan pihak perguruan tinggi dengan berbagai dalih seperti angkat tangan denganย  biaya yang dikeluarkan dosen. Malah ada dosen yang sekolah sampai ke luar negeri dan di perguruan tinggi ternama. Sayangnya pendidikan tinggi ini tidak selaras dengan upah yang diterima.

Dosen bergaji tinggi.

Nah, ini adalah mitos yang sebenarnya sebagian besar patut dikoreksi. Buat mereka, khususnya dosen yang ada di perguruan tinggi swasta (PTS), bergabung dengan kampus yang mahasiswanya banyak dan modal PTS-nya besar, maka sang dosen akan mendapatkan gaji beserta tunjangan yang layak.

Nah, sayangnya tidak semua dosen memiliki kesempatan untuk bergabung menjadi PNS Dosen atau PTS yang bagus. Ada dosen yang “terpaksa” bekerja di PTS yang hanya menggaji dosen dengan ala kadarnya saja. Bahkan ada perguruan tinggi yang memberikan upah perย  bulan sekitar Rp500 ribu dan baru ditambah honor mengajar per sks. Sayangnya lagi ketika liburan semester seperti Juli-Agustus yang cenderung tidak ada jam mengajar, maka sang dosen hanya menerima upah saja tanpa pemasukan yang lain.

Upah Dosen yang mengurut dada.

Jangan bayangkan dosen bisa bergaji tinggi apalagi saat menjadi dosen honor. Ada perguruan tinggi yang memberi upah Rp50 ribu per masuk dengan beban 3 sks. Bayangkan selama 1,5 sampai 2,5 jam dosen yang sudah menyandang gelar master atau doktor itu hanya diberi upah Rp 50 ribu saja.

Dosen bekerja santai.

Mungkin sebagian orang termasuk mahasiswa banyak yang melihat dosen di kelas bekerja dengan santai. Dosen hanya masuk pada saat mengampu di jam-jam matakuliah yang sudah ditentukan. Bahkan ada dosen yang sekadar memberikan tugas dan mahasiswa yang bergantian diskusi di kelas.

Bahwa ada nasib dosen yang tidak semua orang tahu soal pekerjaan dosen. Dosen tidak sekadar bekerja di kelas saja atau unsur pendidikan saha, ia harus menerapkan tridharma perguruan tinggi seperti penelitian dan pengabdian. Dua unsur ini kadang memberikan atau lebih tepatnya menyita waktu dosen dengan segala aturan-aturan administrasi yang kadang membuat banyak dosen putus asa.

Dosen administratif.

Sayangnya, pekerjaan dosen yang semestinya lebih banyak berinteraksi dengan mahasiswa di kelas atau lapangan praktik sering dipaksa untuk berkutat dengan pekerjaan administratif. Setiap waktu dosen harus mengerjakan laporan-laporan terkait pekerjaan yang menjadi bebannya sebagai dosen.

Belum lagi ditambah tugas-tugas yang diberikan oleh yayasan tempat perguruan tinggi dosen tu bernanung. Yayasan sering memberikan target kepada dosen per semester, misalnya untuk ikut seminar nasional, mempublikasikan jurnal, menjalin kerjasama dengan pihak lain, dan membuka jaringan. Sayangnya target-target itu tidak disertai dengan dukungan dana dari pihak yayasan, kalaupun ada jumlahnya hanya secukup-cukupnya dan ada kemungkinan dosen yang nombok.

Dosen yang terpenjara.

Selain pekerjaan administratif, nasib dosen yang tidak semua orang tahu adalah dosen sebagai pekerja kadang terpenjara oleh perguruan tinggi tersebut. Dosen dengan upah seadanya dipaksa untuk memberikan pengabdian 101 persen kepada yayasan atau pihak institusi perguruan tinggi.

Sayangnya, ketika dosen sudah sadar dan ia mendapatkan tawaran pindah homebase ke perguruan tinggi lain seringkali pohak yayasan enggan bahkan menolak melepas sang dosen. Ada saja alasan demi alasan untuk menjegal upaya pindah dan bahkan ada saja yang sengaja menghilangkan data dosen di sistem komputer dosen yang apalagi telah memiliki NIDN atau Nomor Induk Dosen Nasional. Akirnya dosen seperti terpenjara dan tidak bisa mengembangkan dirinya.

 

(28642)

Jurnalis-Penulis-Traveler merupakan tiga rangkaian kata yang bisa menjelaskan siapa saya, selain sesekali menjadi dosen tentunya. Telah menulis 100-an judul buku. Sering memberikan pelatihan terkait PR 3.0, digital media, dan komunikasi di berbagai institusi. Selain di blog ini, ia juga memiliki weblog di www.kangarul.com dan www.dosenkomunikasi.com

83 Comments to Nasib dosen yang tidak semua orang tahu

  1. Tidak sedikit juga yang mementingkan gayanya saja jadi dosen kang, apalagi menjadi dosen honorer hehe, seperti saya. Dikiranya banyak duit, beberapa kali tetangga mau pinjam uang dalam jumlah jutaan. Ampun dah…

    • Yg paling sedih lagi, pengalaman saya jadi dosen honorer, gaji dah pas pasan, kmd dibayar 6 bulan sekali, jadi utk uang bensin nomboki sendiri dulu. Ini di Univ Negeri terbesar lho ! Saya sempat ngajar selama 22 th. Skrg karena usia saya dah mundur.

    • muh rustan

      Berat jadi dosen karena darma kedua yg harus diselesaikan seperti penelitian, jurnal dsb, lalu anggaran dari pemerintah kurang sehingga anggaran pribadi harus keluar

      • Tapi kalo mau jeli, sebetulnya bisa sejahtera seperti Kang Arul Pak Deski, pertama honor ngajar jangan dihitung. Anggap saja pengabdian, tapi dari royalti, panggilan jadi narasumber, belum lagi nulis artikel, dana penelitian, ugh banyak itu hehe, saya juga lagi nyuri ilmunya dikit-dikit dari kang Arul, jadi dosen honorer nikmatin aja, biar pun gajian 6 bulan sekali hehe

        • Savante Arreneuz

          Tidak semua bidang yang ditekuni dosen bisa dijadikan sumber penghidupan, narasumber, bagi yang membutuhkan celotehan sang dosen. Dan juga semua dosen bisa memenangkan kompetisi penipuan ala pendidikan tinggi, proposal penelitian. menulis artikel.. berapa sih sebuah tulisan dihargai oleh media cetak di Indonesia? Apa selama 6 bulan bisa menunggu kebutuhan anggota keluarga?

  2. Astaga…banyak banget yaa kerjaan dosen. Saya pribadi tidak tahu menahu sih seberapa banyak hal yang harus dikerjakan dosen.

    Tapi, beberapa temen saya yang menjadi dosen, pun mengatakan demikian ,kalau gaji yang didapat tidak ‘sebesar’ yang saya kira.

    Tulisan ini setidaknya bisa menjadi pencerahan bagi sesiapa saja yang masih mempertanyakan, “apa saja sih kegiatan dosen?”

    Terima kasih Kang, tulisannya meluruskan sesuatu yang bengkok, di otak saya maksudnya.

  3. evylia hardy

    Suamiku dulu dosen fulltime, sekarang part time (disamping pekerjaan utamanya). Ketika fulltime penghargaannya memang ndak sejalan dengan tingginya pendidikan dan tuntutan pekerjaan.

  4. Apalagi dosen baru di kampus yg senioritasnya masih kerasa banget. kerjaannya banyaaakkk
    *bukan curhat =))

  5. apalagi kalau dosen baru di kampus yang senioritasnya masih kerasa banget, kerjaannya banyaakkk
    *bukan curhat =))

  6. Atmazaki

    Dosen yang diceritakan Kang Arul itu pastilah dosen setengah matang. Ya dosen tapi kompetensinya tanggung sehingga dapatnya di PTS ranking bawah. Kalau dosen itu hebat, walau di PTS ranking bawah, dia akan berusaha meneliti (bisa dapat ratusan juta lho…) atau menulis buku (dapat royalti). Kalau dosen baru tamat S2, baru ngajar dua tahun pengen penghasilan besar kayak profesor tentu tidak mungkin. Secara berangsur kesejahteraan akan baik. Yang senior akan pensiun, tentu yang yunior jadi senior. Perasaan kurang dihargai itu hampir semua dialami dosen yunior, tapi setelah 10 tahun semua berubah lebih baik.

    • muh rustan

      Dosen yg berat dilakukan adalah karya B berupa penelitian dan jurnal ini memerlukan biaya yg cukup banyak lalu anggaran dari pemerintah kurang sehingga kadang uang pribadi dipakai untuk meneliti dan membuat jurnal mengharap dari Pergiruan Tinggi untuk biaya penelitian dan jurnal tdk ada inilah suka duka dosen lalu kalau tdk meneliti dan membuat jurnal jangan harap bisa naik pangkat

  7. Tapi dosen jg susah di buat kompak seperti guru honorer dan tenaga kesehatan tempo hari yg dapat haknya setelah demo ?. …biasa dosen berprinsip klu mereka itu pintar padahal di Indonesia ini yg dicari bukan orang pintar tapi minterin..????????

  8. Kok semua tulisan artikel diatas tepat adanya? alias sesuai dgn yang terjadi. terutama pada diriku ini…. hehe. makasih tulisannya sdh menginspirasi.

  9. masbro_ok

    Mantap masbro, setiap kinerja dosen ada yg dihargai, dan ada yang tidak dihargai sama sekali. mungkin yang punya wewenang sekeluarga, hahaha…biasalah status generasi antar keluarga, akhirnya manajemen kampus jadi tidak kondusif.

  10. Evri Ekadiansyah, M. Kom

    DOSEN = kerja sak DOS, gaji sak SEN

    tapi semoga semua yang kami lakukan sebagai DOSEN menjadi ladang amal tersendiri bagi kami dan keluarga, walaupun kami tidak kaya di dunia, semoga kami mendapatkan tempat yang indah di akhirat nanti..

  11. yang sabar yah Boss ..He..he… : kata Sopo ( pemeran kartun anak Adit Sopo Jarwo yang ditayangkan TPI)

  12. I. K. Maranressy

    Dengan tugas dan beban yg banyak namun harus lulus dari semua administrasi baru bisa antrean terima sertifikasi. Belum lagi aturan sekarang yg Dosen PNS dpk tidak terima Uang lauk pak. Pak menteri tau g sih, kalau kita punya gaji tidak cukup untuk kebutuhan sehari hari. Blom lagi kita harus potong gaji per bulan buat bayar kredit di bank. Ada pegawai birokrasi kerjanya dikit dikasihi tukin, lah kita apa yg kita dapat, sertifikasi g, ULP g, tapi kita dipaksa seperti kerja rodi. Akhirnya kita cuma bisa gali lubang tutup lubang…Mohon perhatikan nasib kami juga dong……..tq

  13. Apa yg diuraikan di atas, hanya berlaku pada dosen pemula. Jika dosen sudah sertifikasi meski non PNS tentu lain cerita. Demikian pula jika dosen banyak kolega (Daerah-Pusat), dia bisa mendapat proyek-proyek riset. intinya, jika dosen kreatif ia dapat berpenghasilan lumayan. yas seperti ungkapan ” berakit-rakit ke Hulu, berenang renang ke tepian. bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian”. berdedikasi pada satu bidang itulah yang seharusnya. masalah-masalah di atas, memang dari aspek “Materi” menderita, tetapi dari aspek “spiritual” kebahagiaan tersendiri, dan tentu lebih baik jika balance. ikut-ikutan comen krn turut merasakan/mengalaminya.

  14. Sebenernya tergantung juga pada kreativitas dan bobot dosen ybs. Ada dosen yg hampir tidak bisa pulang ke kampus karena kesibukan meniadi nara sumber berbagai forum ilmiah, dan konsultan di berbagai lembaga pemerintah, swasta, dan aktivis penelitian dengan karya2 yang kredibel, tapi banyak juga dosen sahabat saya yang naik pesawat aja tidak pernah, jadi narasumber forum ilmiah juga tidak pernah dan namanya tidak pernah dikenal dalam kalangan bidang ilmunya
    Sebagian teman dosen adalah hidup di awang2, hafal kata2 dari text book tapi tidak pernah berbuat apa2 sepanjang hidupnya, baik dalam bidang profesinya maupun dalam kehidupan bermasyarakat

  15. Kalau si dosen bekerja di PTS yg terkenal & sdh go internasional, pasti akan digaji lbh besar dari dosen (maaf) yg PNS dlm hal ini di PTN. Ini terbukti dari teman saya yg bekerja sebagai dosen di salah satu PTS Jakarta, gajinya sebagai dosen 6 juta rupiah. Itu blm termasuk honor mengajar.

  16. Umar congge

    Yah…..itu yg patut disyukuri…kalau org di luar dosen mengira bahwa dosen itu banyak duit….tapi sesungguhnya bulan banyak duit…tapi banyak utang karena gali lobang tutup lobang atau dari bank yg satu ke bank yg lain…melalui proses take over pinjaman….hehehe kasihan nasibmu dosen…..

  17. Walaupun sebagian yang diceritakan adalah kisah saya, namun saya tidak mau berpikir negatif, yang saya ingin dan terus lakukan adalah give the best all situation, pribadi yang siap, materi yang tepat guna, dosen yang inspiratif, tidak mau membatasi dengan batasan uang saja. Itu pikiran dangkal, kalau mau kaya tidak usah jadi dosen tapi pengusaha. Dosen berarti siap membagi kehidupan, amal
    Percaya bahwa kita juga mampu membeli mobil.dan penghidupan lainnya

    • zainal arifin

      Ikutan ya membagi pengalaman jadi dosen, kebetulan sy bergulat di PTS namun dosen dpk, apa yg.di.ceritan pada awal menjadi dosen 1985 bila.di nilai dgn financial pas pasan.bahkan minus, oleh.karena itu pd saat itu kebanyakan sarjana tdk ada yg mau jadi.dosen.atau.pun juga jadi guru, image dimasyarakat sdh terpatri umar bakry nya, Tuntutan pemerintah sekarang luar biasa kinerja dosen yg kompotensi aturan aturan jenjang pendidikan semakin ganas dgn dalih utk meningkatkan kualitas dosen di imbangi dgn pendapatan. Jadi dosen guru sekarang berpacu dalam melodi. Agar tdk keluh kesah kerja ikhlas utk amal jeriyah sbg tujuan hidup. Krn sudah pilihan utk.ngabdi mnjafi DOSEN. semoga amanah.AAMIN. (by. Palembang SUMSEL)

  18. Artikelnya judulnya “nasib” sih. Tergantung dosennya mo mengubah nasib ato ga lho. Saya dosen juga, dan bener semua mitosnya. Untuk LK hrs S3 maksudnya spy ntar jd GB. Kan ada tunjangan GB. Plus skrng ada tunjangan Serdos. Honor, bhs kerennya “upah” ya tergantung PTS dan dosen tsb udh punya Jab Akademik ato blm. Kalo PTS gurem dan dosennya baru lulus S2 ya honornya kecil. Iya bener banget, banyak Yys yg ga ngerti ttg dana penelitian. Banyak dosen penelitian mandiri pake duit sendiri. Tapi kan ada hibah penelitian dan hibah u manajeman PTS. Dosennya atuh bikin proposal yg ciamik. Yys nggondeli spy dosen ga pindah homebase sungguh terjadi, termasuk saya. Alhamdulillah bisa lepas. Lapor aja ke Kopertis. Bahkan ada koq dosen yg menempuh jalur hukum, krn ga dikasih lolos butuh, dan nama ybs msh muncul di forlap.dikti. Jadi apapun, mo dosen ato apa, pilihan koq. Kalo ga cocok yaa cari profesi lain… ?

  19. Semua itu piiihan hidup,, kalo mau bekerja dan beramal ya jadilah pengajar,, pendidik itu pekerjaan yang mulia kok,, taapi kalo orientasinya materi maka kerja lah diperusahaan yang bonafit pasti akan kaya raya ๐Ÿ™‚

  20. tulisan di atas sudah pernah sampai ke pusat (kementrian/lembaga) terkait belum kang ?
    Penasaran dengan tanggapan mereka terhadap fenomenA yg demikian

  21. Peluang bagi dosen pts ut dapat nilai rupiah yg bisa membatu cicil rumah dan kendaraan : penelitian dana dikti, beasiswa S-2 & S-3, -menulis buku ajar, ikut dlm penelitian kementrian, pembimbingan mahasiswa S-1:S-2; S-3. Asal bisa bagi waktu termasuk urus keluarga

  22. nasir ibrahim

    Sebenarnya kalau ingin berubah dosen harus bersatu untuk membalik arah, bahwa dosen bukan sapi perahnya yayasan, memang dosen punya kesempatan meneliti, dan kegiatan tri darma pt lainnya, namun itu memang kewajiban yg dibiayi pemerintah namun kita harus juga berpikir tentang hak intelektual, (jika memang benar ada yayasan yg berani menghargai dosen dibawah umr) tentu kita prihatin dengan keadaan itu saran saya selagi hangat mari memperjuangkan hak dosen dengan membentuk kekuatan yg ter organisir dengan baik, sehingga kharisma keilmuan yang dimilki dapat mengubah keadaan dan kewibawaan seorang dosen akan di imbangi pendapatan yang diperoleh, intinya dosen punya segalanya, punya ilmu, komunitas, relasi, namun tidak punya nyali untuk melawan, sehingga hanya ” given” dengan ke adaan , maka “bersatulah”

  23. Nur Muhis

    Tulisannya baru satu sisi, mungkin masih ada sisi-sisi lain yang perlu dijabarkan. Kalau menurt saya nasib dosen sekarang mestinya jauh lebih baik dibanding nasib dosen tahun-tahun sebelumnya. Buktinya saya punya GB yang pada awal beliau berkarir hanya bisa KPR dipinggiran kota dan sampai sekarang masih ditinggali bedanya dulu cuman punya 1 kapling saja, sekarang kanan kirinya sudah terbeli kendaraanya sudah tergolong mewah. Sementara dosen-dosen yang baru malah bisa lebih baik buktinya bisa beli KPR di kota, melanjutkan pendidikan ke LN. semua tergantung seberapa daya juangnya. Tapi apapun itu dosen adalah pilihan profesi dengan segala resiko yang melekat padanya.

    Saya paling tidak suka dengan dosen dengan alasan remunerasi atau penghargaan kinerja lah, terus melupakan tugas pokoknya. Tugasnya mengajar dan membimbing mahasiswanya. eh malah lupa kewajiban tapi malah sibuk dengan pekerjaan diluar, konsultan lah, komisaris lah, audit lah.sementara giliran mengajar ya gitu-gitu saja, giliran tugas membimbing bisanya mencak-mencak, tidak punya waktu atau sulit di temui.

    Kalau pekerjaan diluar lebih menjanjikan ya lepaskan status dosennya, jangan mau gajinya tidak mau kerjanya, Kalau profesi lain lebih menarik ya tinggalkan saja profesi mengajarnya fokuskan saja jadi konsultannya. Kalau kemana2 bawa nama kampusnya. sementara tugas utamanya di kampusnya diabaikan begitu saja. Nanti kalau sudah disentil jadi brabe loh. Banyak contoh GB atau dosen senior yang sudah kaya (rumah mewah, mobil mewah, deposit bejibun, royalti yang mengalir deras, bonus komisaris) baru tersadar saat di-jewer dengan sakit entah itu stroke atau lainnya. atau yang ahli pajak malah tersangkut pajak, yang konsultan hukum malah terseret kasus hukum atau konsultan konstruksi yang terbawa kasus proyek infrastruktur ataupun contoh lainnya. Profesionalitas dan Kecakapan dibidangnya yang dikuasai tiba2 hilang untuk jangankan presentasi sekedar ngomong saja susah. kalau sudah begini baru balik ke khitahnya. Kemudian “Sang Guru” telah kembali mengajar. Kalau sudah begini melaksanakan tugas mengajar juga hanya “sekedar” menggugurkan kewajiban. Mengajar untuk memenuhi jam ngajar, membimbing cukup tanda tangan tanpa koreksi dan masukan. Tak perduli hasil mahasiswanya baik saat ujian tugas akhir atau nantinya di dunia kerja.

    Buat guru-guruku dari yang mengajarkan hijaiyah sampai alfabet buat guru-guruku yang mendidik adab hingga etika profesi, salam takdim dan hormat saya setinggi-tingginya, betapapun ilmu yang engkau ajarkan begitu banyak tapi saya sedikit bisa menyerap moga inilah amalan engkau guru-guruku yang tidak akan pernah berhenti nilai-nilai kebaikannya. Apapun adanya engkau guru-guruku darimulah saya dibentuk dan digiring hingga kini menjadi seseorang yang harapannya lebih baik. Kalaupun saya atau murid-muridmu yang lain lalai maafkan kami, doakan kami agar bisa lebih menghargai engkau guru-guruku.

    Buat guru-guru dan dosen-dosenku yang idealis dan konsisten dengan profesimu moga kesehatan, kecukupan dan keberkahan hidup selalu bersamamu dan keluarga tercinta, dan buat guru-guru dan dosen-dosenku yang lebih asyik dengan “sampingan alias ngobyek” moga bisa segera kembali khitah bukan hanya mengejar materi bejibun. Sudah banyak bukti yang pada hijrah ke profesi lain ternyata tidak lulus ujian dan banyak yang berujung jadi penghuni prodeo. Eggkaulah cukup jadi pahlawan tanpa tanda jasa. Bukankah sebaik-baik ilmu adalah yang dimanefestasikan dalam kebaikan hidup sehingga menjadikan namamu lebih harum di hati murid-muridmu sekalipun ketika engkau pulang ke rumahmu bisa jadi pernah atau sering sedikit bertengkar sama pasangan gara2 masalah kekurangan keuangan. Tapi inilah seninya hidup yang engakau sering ajarkan kepada kami murid-muridmu tinggal sebaerapa jauh kita berproses dalam hidup. Sebagaimana juga pohon yang kelihatannya diam tapi juga berproses, dari kecil tumbuh besar kemudian ada yang menjadi papan, kusen, meja, kursi, lemari dan furniture serta barang antik atau lainnya bahkan menjadi bantalan jembatan yang kemudian aus dan rapuh terseret derasnya air yang mengalir. Semuanya tinggal kitanya mengikuti proses yang mana.

    Kalau ada mantan pacar, mantan pegawai, mantan atlet maka jangan jadikan saya mantan muridmu wahai guru-guruku. Engkaulah guruku dulu sekarang dan juga nanti karena ilmu-ilmu yang ada padaku sekarang dan nanti adalah proses dari ilmu yang dulu engkau ajarkan. Bukankah sebaik baik manusia adalah yang banyak memberi manfaat bagi banyak manusia lainnya.

  24. Vidy Annisa

    saya dari dulu bercita-cita menjadi dosen. dan sekarang sayapun menikmatinya. kalau fokus pada materil ya mungkin di awal memang agak miris ya. Tapi nyawanya mengabdi dan belajar sepanjang waktu adalah ketika menjadi dosen. nyawanya menginspirasi manusia jadi (read: mahasiswa) dan bersinggungan dengan tuntutan ilmiah sepanjang waktu adalah juga menjadi dosen.

  25. Wahhh, untuk kondisi kekinian di jakarta dan tangsel, dosen muda yg berstatus dosen tetap homebase di pts-pts yang baru dibuka, rata-rata gajinya mulai dari 5jt-10jt, profesi dosen sebenarnya profesi masa depan yang menjanjikan dan berprospek ceraaah, ditambah aturan pemerintah (ristek dikti) yang sudah mulai mendukung kesejahteraan dosen, sumber penghasilan dosen yang ber nidn dan memiliki homebase di pt tertentu bisa didapat dari hibah penelitian dan pengabdian masyrakat yang disediakan oleh ristek dikti (dana hibah mulai dari 25jt – ratusan juta), selain itu banyak hibah-hibah penelitian lainnya diluar ristek dikti, untuk setudi s3, saat ini sudah banyak beasiswa baik yg disediakan oleh ristek dikti, depkeu (lpdp), atau kedutaan besar negara luar, kuncinya adalah ketekunan dan selalu update info terbaru. Berdasarkan pengalaman, kalau kita totalitas sebagai dosen dan menjalankan tridharma pt dengan benar, tidak sampai 10 tahun kisaran dalam waktu 5-6 tahun hasilnya bisa dirasakan dan bisa mendapatkan sertifikasi dosen (per 3-4 bulan mendapatkan intensif dari pemerintah yg jumlahnya “cukup”),

  26. irwandi

    saya senang jadi dosen karena menjiwai, kalau soal duit itu relatif. sekarang gaji 4jt dan membiayai 4 anak sekolah dan istri cuma dirumah saja. jadi jangan mikir duitnya hidup sederhana naik motor aja yg penting banyak bersyukur.

  27. Ya bgtulah nasib honor tenaga kependidikan..jangankan dosen sy sebagai guru jg sangat miris dengan honor yg di berikan..tdk sebanding dengan tugas2 dan laporan2 yg harus kita berikan kepada yayasan..coba tenaga kependidikan di berikan honor UMR..u/ tenaga honorer.he..he..

  28. agung kurniawan

    saya mengalami seperti tulisan yang tertera di atas…..
    entah mau ngomong apa lagi….
    mau demo….apakah layak seorang dosen demo seperti pekerja buruh pabrik…..???
    mau menangis….apakah layak seorang dosen menangis meratapi hal itu…??

  29. Akcinin

    Yah…itulah indonesia…ketika feodalisme (dalam bentuk seniorisme) suka tidak suka berlangsung dan berlaku….. karena AWAL keluhan kang Heru.
    Saya bukan Dosen…tapi, punya adik dan adik (maaf saya sulung) yg sdah Dosen dari mereka saya tahu bahwa mereka bisa nyaman (bukan santai loh) karena membuat nilai tawar thdp senior yg suka ngajak kerja sama tapi ga mau sama- sama kerja, caranya dg 2 sampe 3 tahun memperdalam sedalam-dalamnya materi kuliah secara spesifik apalgi kalau diikuti kompteni vokasional sesusai mata kuliah yg diampu…selanjutnya akan anda rasakan eksistensi anda di kampus
    (2-3 tahun tadi agak sedikit ngebandel lah…yg penting.ngurus mahaswa dan terus memperdalam keahlian, mngkn gaji agak kurang, mungkin dicuekin..yg penting ngga ganggu yan lain)
    Nah ide ini dari ucapan seorang Bruce Lee (bisa di search…) : bahwa dia lebih taut kepada lawan yg menguasai satu jurus tapi dilatih seriba kali dari pada kepada lawan yang tahu seribu jurus tapi berlatih satu kali untuk tiap jurusnya (kurang lebih begitulah). Dan ini saya terapkan di tempat saya kerja……

  30. Saya apalagi gak punya gaji pokok sedih. nidn tau tau udah keluar padahal dulu cuma ngelamar. saya merasa dirugikan. Karna gak bisa pindah . Semoga tuhan menolong kita amiiin

  31. Alhamdulillah… Dulu waktu Saya mau pindah homebase sama sekali tidak dipersulit, malah surat2 yang dibutuhkan langsung jadi 2 hari (waktu itu rektor sedang tdk bisa tanda tangan di hari itu). Saya terharu karena Wakil Rektor waktu itu bilang bahwa beliau tidak akan menghalangi rejeki seseorang, dan kesuksesan adalah hak Saya.

  32. yg lebih miris lagi dosen PTS baru/sedang berkembang di daerah2, sudah ngajarnya ngoyo karna dapat mahasiswa sisa dari seleksi PTN yg tdk lulus dengan kemampuan, motivasi dan ekonomi nya yg pas2an, belum lagi ditindas dan tidak dimanusiakan oleh yayasan, alaah mak, malang nian nasipmu dosen sang “pahlawan tanpa tanda jasa”, tiada harapan lain dan doa smoga ilmu yg di ajarkan bisa bermanfaat, berkah :'(

  33. Hermanto

    Menjadi dosen adalah panggilan jiwa, mengajar berarti kita belajar (kita tambah ilmu), meneliti berarti kita mencari tahu (kita tambah tahu/pintar) , Abdimas berarti kita bersosialisasi (kita tambah rezeki tanpa kita sadari) ikut seminar , workshop dls berarti kita bertambah pengetahuan ujung2nya sumber rezeki akan menghampiri kita yg berprofesi Dosen. yakinlah apapun yg kita lakukan iklhas dan tawakal bersyukur. Alhamdulillah selamat Allah Swt selalu bersama kita wahai DOSEN.

  34. Saya sepakat dengan artikel kang arul, nasib dosen banyak yang tidak sesuai dengan penghasilannya dan tidak diatur standar gajinya, mungkin pemerintah bisa lebih bijak mengatur upah pokok baik dosen kontrak dan honorer di kampus negri atau kampus swasta.

  35. Secara mayoritas, perguruan tinggi di Indonesia justru tempat berkubangnya pembodohan dan perbudakan. Lucunya, yang dibodohi dan dibudaki justru dosennya sendiri. Anehnya, para dosen justru tidak mau tahu mencari tahu akar-akar pembodohan dan perbudakan tersebut. Seolah-olah, kedua hal itu taken for granted: dosen itu ya harus mau terima upah minim dengan beban kerja yang menumpuk.

    Padahal, para dosen kita pintar sekali berkoar-koar tentang keadilan, pemberantasan korupsi, membangun institusi negara yang bagus, menghapuskan human trafficking, atau mengadvokasi upah buruh pabrik agar layak dengan retorika yang berapi-api, mulai dari media sosial daring hingga sampai dibela-belain agar tembus di jurnal akademik internasional bereputasi.

    Anehnya, kepintarannya itu tiba-tiba meredup bagai api lilin yang tersambar angin badai saat diminta untuk menyuarakan ketimpangan pada profesinya sendiri. Bahkan ada juga solusi yang ditawarkannya itu cenderung lari dari kenyataan, misalnya, kalau mau dapat upah bagus, ya harus mau kerja sambilan di bidang lain, ikut proyek-proyek penelitian (Loh, dana penelitian itu harus kompetisi, tidak relevan dengan sifat upah bulanan yang memang wajib dibayarkan oleh pimpinan yayasan PTS tiap bulan kepada para dosen yang dipekerjakan oleh mereka), atau tinggalkan profesi dosen dan cari pekerjaan lain (Loh, kalau ada seorang pegawai yang tidak punya skill mengajar apa iya harus dipaksa jadi dosen juga? Itu namanya tidak menghargai bakat dan juga karakter individu!).

    Pertanyaannya, apa dasar hukumnya bahwa dosen harus digaji layak? Toh, buktinya selama ini yayasan PTS tenang-tenang saja tuh membayar gaji tetap dosennya lebih rendah daripada upah PRT.

    Untuk mendapatkan kejelasan tentang dasar hukum pengupahan dosen, sudi Kang Arul mampir ke artikel saya ini: http://riko.web.id/regulasi-tidak-amanatkan-memiskinkan-dosen/

    Sudi mampir ke blog saya, Kang Arul. Semoga kita bisa saling bersinergi.

    Salam kenal.

  36. Sama, banyak sekali cerita dosen perjuangan menjadi dosen sebenarnya sangat mahal, mengapa saya membuat ……, akhirnya saya sambilan menjadi blogger, youtuber, membuat tutorial agar dapat penghasilan lain selain nunggu dana hibah yg hampir 8 bulan belum turun.

  37. Rio Wirawan

    Standarisasi honorarium dosen bisa saja dibuat, yayasan yg mengatas namakan instansi sosial yg tdk profit tp selalu berkembang baik fisik maupun kemapanannya…

    Dosen seakan dituntut ikhlas dan sudah mapan jika ingin menjadi dosen.

  38. Yaah begitulah dosen. Terkadang orang pinter kalah dengan orang beruntung. Semoga dosen jaminan surga..

  39. enimmmmm

    sekedar usul, buat asosiasi dosen honorer, aspirasikan suara kita. ramai-ramai ngadap kemenristek. perhatikan nasib dosen honorer

  40. Asdisalim

    Ya perlu bersukur aja….kita dapat membagikan ilmu ke Mahasiswa semoga nanti ilmu yang kita tularkan bermanfaat bagi anak didik kita..amiinn..

  41. Asyik asyik sedap juga ya jadi dosen? Pengen juga jadi dosen seperti Kang Arul. Ngajar di kampus, jadi pembicara di luar, tapi tetap terus menulis blog dan buku….

  42. Sedih euy dosen muda… Mengabdi tanpa batas.. Yg lain saling sapa remun masuk, serdos masuk. Lahhhh dosen muda cari utangan..
    Gue banget dah

  43. Irwan Hariyanto

    saya dosen dan memilki jabatan struktural….. bila owner kampus menilai staf kampus cabang tdk sejalan dgn keinginannya… kena SP, Nah SP 3 bukan pemberhentian kerja tapi potong gaji pokok 25%. Dan bersifat kolektif bisa all staf… pimpinan sampai OB atau keamanan kena dampaknya.

  44. Irwan Hariyanto

    maka oktober 2015…. mundurlah saya dari kampus tersebut. Kampus tempat saya mengabdi selama 13 tahun.

  45. Gistya M

    Menjadi dosen itu panggilan jiwa, bukan untuk mencari materi semata. Karena dosen adalah profesi yang istimewa, hanya insan dgn keikhlasan yang mampu menjalaninya.

    Saya dosen LB di salah satu PTN Jambi, soal gaji jangan ditanya, pasti sudah kebayanglah. Tapi itu bukan masalah bagi saya, saya menjalaninya dengan suka cita. Saat ini saya sudah terbeli Yaris Sportivo, alhamdulillaah. Kok bisa? Bersyukur adalah kuncinya.

    Salam sukses dan sejahtera untuk dosen Indonesia! ๐Ÿ™‚

  46. Saya juga seorang dosen PTS yayasan. Memang beginilah nasib dosen PTS. di tempat saya seorang dosen lebih banyak berkutat menjadi admin daripada menjadi sosok asli seorang pendidik. Ya intinya beli 1 dapat 2 lah. Ya dosen, ya admin.
    Sedangkan kl dosen mau pindah homebase saja susahnya setengah mati.
    Padahal pindah demi kesejahteraan adalah hal yang manusiawi terutama yang sudah berkeluarga.
    Apa yang di ungkapkan di situs ini hanya 1 dari 1001 kisah yang kebanyakan orang tidak tahu. Paradigma masyarakat hanya berpatok pada dosen PTN dengan status PNS yang notabene kesejahteraannya terjamin. Yang lebih miris lagi ada teman yang nyeletuk gajinya kalah sama tukang parkir.
    Tp dibalik itu semua ya bisa diambil hikmah bahwa menjadi seorang pendidik merupakan kesadaran dan panggilan jiwa. dimana pahala dari seorang pendidik ini menjadikan “pahlawan tanpa tanda jasa”.

  47. Tenang pak, setiap Ilmu yang bapak berikan, akan terus mengalir, yang akan menjadi amal baik Bapak yang tulus mengajar kami…

  48. wahh ternyata sperti itu, brati dosen saya yang pernah bilang itu tidak bohong. dosen kerjaan sak set tumpukan uang hanya 1 sen. itu kata dosen saya,,,

  49. gaji dosen honorer
    di sini (kalsel)
    ada yang per sks 50.000 (dibayar tiga bulan sekali)
    ada yang per pertemuan 30.000 (dibayar enam bulan sekali)
    ada yang per sks 25.000 (dibayar enam bulan sekali)
    dan hanya bisa ngambil satu kampus, nggak bisa dicabang, karena ijazah terpakai hanya bisa di satu kampus untuk akreditasi

    sedang gaji guru honorer
    SD: satu bulan 250.000
    SMP: 5.000 satu jam pelajaran
    SMA: 10.000 satu jam pelajaran
    paling banter bisa ambil sedikit jam, karena rata-rata jam mengajar sudah full untuk keperluan sertifikasi guru PNS yang mengharuskan 24 jam mengajar

    benar-benar 99% pengabdian
    1% gaji

  50. Abdul Wahab

    Alhamdulillah….
    Masih jadi Dosen, penghasilan di luar 10 x lipat gaji dosen tetap yayasan, hasil menjadi Trainer.

  51. Salmi yustizar

    Trims kang raul atas tulisannya saya baru mau menjadi dosen karena ingin peningkatan diri saja karena dasarnya saya guru smk semoga saya bisa menjadi dosen yg ikhlas

  52. Salmi yustizar

    Saya ingin dibantu oleh para dosen senior apa lagi bila ada tawaran menjadi dosen dan bila ada perkumpulan dosen honorer saya tolong di input no saya wa 0818499448

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *