Kuliner

Menikmati Kopi O di Pangkalpinang

Menyajikan Teh Tarik

Pesona Pangkalpinang di Pulau Bangka tidak hanya pantai dan bangunan heritage semata, melainkan juga tradisi duduk di warung kopi. Tradisi yang menempatkan warung kopi sebagai ruang publik untuk bersenda gurau, berbagi cerita bahkan untuk mendiskusikan masalah-masalah pemerintahan. Kopi O salah satu saksi sejarah itu.

etika saya mempublikasikan status ingin mengunjungi Pangkalpinang selama kurang lebih sepekan di Facebook, maka beberapa komentar langsung memberikan saran satu dua. Mulai dari kulineran, menginap di mana, sampai pada apa yang bisa dinikmati di kota yang terletak di Pulau Bangka tersebut.

“Coba duduk dulu di warung kopi.”

Begitu salah satu yang menyita perhatian saya. Apalagi beberapa saat sebelumnya saya melihat salah satu teman penulis yang sudah pergi ke sana terlebih dahulu dan di akun media sosialnya ia mempublikasikan foto-foto  tentang suasana warung kopi dan bungkusan kopi asli dari Pangkalpinang.

“Setiap pagi sampai malam warung kopi selalu dipenuhi oleh orang-orang. Bahkan ada yang sampai buka 24 jam penuh.”

“Sebentar… 24 jam? Serius?” tanya saya.

Kawan saya itu memastikan kembali, “Iya. Selain kopi juga ada roti bakarnya yang enak banget,” jawab kawan saya itu, “juga jangan lupa gue nitip.”

“Nitip apaan?”

“Kopi..”

“Kopi?”

“Iya, Tung Tau.”

“Apaan tuh?”

“Pokoknya kalau sudah sampai ke Pangkalpinang lo harus nyobain duduk di kopi Tung Tau. Tidak hanya warung kopi, di situ lo bisa beli kopi olahan dengan merk dagang yang sama dengan nama warung kopinya.”

Perbincangan itu jelas melekat dalam benak saya. Tentu rasa penasaran seperti menyelimuti kepala saya dan selama penerbangan ke Pangkalpinang sekitar sejam saya selalu diusik oleh gambaran warung kopi… Tung Tau namanya.

Terus terang saya bukan coffeaddict, tetapi saya selalu menikmati sudut-sudut kedai, toko, atau warung kopi modern dan tradisional yang menjual kopi. Saya pernah pergi ke berbagai propinsi dan saya rasanya selalu menemukan warung kopi atau kedai kopi di pinggiran jalan sampai di tanjung pulau. Kedai yang selalu penuh jelang sore dan malam. Kedai yang selalu banyak cerita bertukar di sana.

Apalagi hampir setiap hari saya yang bekerja sebagai dosen di salah satu perguruan tinggi ini kerap duduk di kedai-kedai kopi. Menghabiskan dua kadang lima jam duduk untuk menyelesaikan tugas atau membuat artikel ilmiah sambil ditemani secangkir kopi.

Memang setelah menikmati sajian kopi, rasanya belum sah ke Pangkalpinang jika tidak menikmati beragam kulinernya. Olahan dari laut seperti udang, ikan, maupun kepiting menjadi menu utama. Tapi, tak lengkap rasanya jika belum ditutup dengan Kopi O.

Maka, ketika untuk ketiga kalinya berkunjung ke Pangkalpinang ini, dan karena dua kunjungan sebelumnya belum sempat mampir, tentu Kopi O menjadi pilihan di hari pertama. Kebetulan kali ini ada ritual Ceng Beng yang akan berlangsung tengah malam sampai menjelang pagi, pilihan menjajal kopi di asal mula kopi tiam ini menjadi pilihan.

Salah satu yang harus didatangi adalah Warung Kopi & Roti Panggang Tung Tau (Est.1938). Warung kopi yang dikenal Waroeng Tung Tau ini adalah warung kopi legendaris dan tertua di Kota Sungailiat dan melegenda di Pangkalpinang.

Waroeng Tung Tau

M enu andalan di Tung Tau adalah Kopi O atau Kopi Hitam dan aneka roti panggang. Nama warung ini diambil dari nama pendirinya dan kini dikelola oleh generasi ketiga, yakni Cheche Mariani.

Di Kota Pangkalpinang sendiri ada tiga lokasi warung kopi ini. Selain ada di Jalan Toniwen dan Jalan Depati Hamzah-Semabung Lama juga ada di Jalan Soekarno Hatta.

Waroeng Tung Tau selalu ramai dikunjungi pelanggan. Selain karena cita rasa Kopi O yang terjaga keasliannya, juga karena warung ini buka 24 jam setiap hari.

Menurut Deni (28) yang sudah bekerja selama dua tahun di warung ini, hampir setiap hari 17 meja, terdiri dari 15 meja dengan empat kursi dan dua meja dengan enam kursi, selalu ramai pengunjung.

“Wah, ramai sekali, Pak. Kalau di Jalan Toniwen ini penuh biasanya mereka akan lari ke lokasi cabang Tung Tau lainnya,” kata pria kelahiran Pangkalpinang ini.

 

engunjung tidak hanya disuguhkan menu untuk menikmati Kopi O semata, ada minuman lainnya seperti jus, juga ada cemilan roti panggang beragam rasa dan juga nasi goreng.

Nah, bicara soal roti panggang, di Waroeng Tung Tau yang saya singgahi bersama rekan-rekan ini menjadi cemilan nomor satu yang wajib dicoba. Ada beragam macam jenis roti panggang dan juga variasi selai.

“Roti panggang telor keju,” begitu salah satu rekan saya memesan.

Saya tidak mau ketinggalan. Dua roti juga langsung saya pesan dan uniknya saya seperti penasaran bagaimana mereka mebuat roti panggang ini. Beruntung lokasi dapur tempat semua minuman dan makanan diolah menjadi satu dengan meja kursi pengunjung, jadi saya langsung bisa menyaksikan bagaimana roti panggang itu dibuat.

“Bisa dua tiga hari sekali stok rotinya,” demikian jawaban salah satu karyawan yang saya tanya.

Tak jauh dari lokasi saya, ada keranjang besi tumpuk tiga yang langsung menarik perhatian. Saya mendekatinya dan ternyata.. oh ini dia rupanya. Satu dua bungkus saya pegang saya lihat kemasannya dan di sana tertulis Tung Tau. Inilah olahan kopi Waroeng Tung Tau dengan brand atau merek Tung Tau. Bungkusnya berwarna cokelat dengan logo di bagian atas berwarna dasar merah dan tulisan berwarna putih.

“Ini olahan sendiri?” tanya saya penasaran kepada karyawan tadi.

“Iya, Pak, ini buatan warung ini,” jawabanya, “beli, Pak, buat oleh-oleh di Jakarta.”

Saya tersenyum. Rasanya sejak sebelum masuk ke pesawat pikiran saya memang ingin membeli kopi yang katanya melegenda ini.

Maka tanpa berpikir panjang lagi saya mengambil sekitar enam bungkus. Dengan per kemasan 225 gram per bungkus dan dengan merk dagang Tung Tau, kita bisa membelinya seharga Rp 28 ribu rupiah. Lumayan buat stok kopi pribadi atau sekadar oleh-oleh.

Rasanya lagi nih saya akan tetap merasakanan suasana duduk di Waroeng Tung Tau sambil menikmati malam di rumah nanti. Menjual olahan atau bubuk kopi tidak sekadar membawa oleh-oleh dari Pangkalpinang semata, melainkan juga membawa suasanannya.

Cukuplah menjajal dan menikmati Kopi O jika singgah di Waroeng Tung Tau dan rasakan suasananya. Toh, ini adalah warung kopi yang tidak sekadar warung, melainkan tempat berbagi cerita juga. Setidaknya untuk para pengunjung yang merupakan warga Pangkalpinang dan sekitarnya.

Nah, buat yang mau ke Pangkalpinang, jangan sampai lupa singgah di Waroeng Tung Tau ini.

O ya, jangan lupa saya titip beli ya satu dua bungkus kopinya dan di teras rumah saya kita nikmati bersama….

 

Kang Arul
the authorKang Arul
Dosen, jurnalis, dan penulis. Saat ini selain menjalani profesi sebagai dosen di berbagai perguruan tinggi, ia juga merupakan konsultan untuk konten digital di berbagai perusahaan, lembaga/kementerian, maupun perorangan. Profil lengkapnya sila klik http://www.kangarul.id

17 Comments

Leave a Reply

error: Content is protected !!