Membimbing atau menyiksa mahasiswa?

By -

“Udah selesai revisinya?”

“Selesai apaan? Buntu dan  bingung iya.”

“Lha, pekan lalu kan udah bimbingan?”

“Ketemu iya, dicoret iya sampai lima halaman lagi, disuruh ganti juga.”

“Terus gak diganti?”

“Lah, apanya yang mau diganti? Dosennya cuma bilang masukkan teori budaya di sini.”

“Tinggal masukin aja, toh?”

“Eh busyet… teori budaya ratusan, teori yang mana?”

***

“Cie yang udah bimbingan. Udah bab kesimpulan ya?”

“Apaan yang bimbingan. Cuma coretan doang.”

“Coretan?”

“Iya, ini cuma disuruh taruh di meja, kemudian diambil, dan hasilnya cuma berhalaman-halaman yang dicoret tanpa keterangan apapun.”

***

Memang… soal di atas bisa diletakkan dalam konteks “tergantung sudut pandangnya”. Bisa jadi apa yang dilakukan dosen adalah upaya untuk membuat mahasiswa belajar. Setidaknya berusaha untuk mencari sumber referensi yang dibutuhkan untuk menyelesaikan tugas akhir mereka.

Namun, apakah semua mahasiswa memiliki kemampuan yang sama untuk menelusuri saran atau coretan dari dosen pembimbing itu? Ini bagi saya adalah persoalan serius.

Setidaknya ada dua dasar untuk melihat ini. Pertama, daya sekaligus pengalaman membaca referensi dosen jauh lebih banyak dari mahasiswa. Dosen, apalagi yang sudah mengampu dan membimbing belasan tahun, tentu memiliki pengalaman keilmuan yang mumpuni. Kedua, setiap dosen lebih sering membimbing sesuai dengan bidangnya. Artinya, jika di lembar sertifikasi dosen keilmuannya di bidang kajian budaya, maka kebanyakan topik tugas akhir mahasiswa yang dibimbing adalah terkait kajian budaya.

Masalahnya adalah apakah yang dipikirkan dan diinginkan dosen itu sampai ke mahasiswa? Banyak mahasiswa yang mengeluh setelah keluar dari ruang bimbingan. Mengeluh karena bukan mereka bodoh atau tidak mampu, melainkan sang dosen pembimbing hanya menyoret berlembar-lembar halaman yang dibuatnya tanpa solusi. Ya, TANPA SOLUSI.

Dosem pembimbing lebih banyak menyoret dan bukan memberikan solusi.  Kalau pun ada kata-kata yang dikeluarkan paling jauh “Diganti” atau “Masukkan teori baru di sini”. Mahasiswa yang cenderung pengelamannya tidak sebanding dengan dosen tentu tidak bisa menerjemahkan kata “diganti” dan “teori baru” itu secara praktiknya.

Lha… teori barunya apa dan siapa yang menulisnya, di mana didapatkan referensi itu, buku apa yang harus dirujuk, atau jurnal apa yang harus dibaca.

Saya tidak mencoba menyalahkan kolega atau dosen lain untuk kasus ini. Saya hanya merefleksikan diri tentang apa yang pernah saya lakukan juga ketika awal-awal lulus dari doktoral salah satu PTN di Jawa Tengah.

Ketika kembali ke kampus asal dan saya pun mulai aktif melakukan bimbingan yang jumlahnya kadang melebihi beban yang semestinya. Tapi its oke, bagi saya tugas seorang dosen adalah melakukan bimbingan karya akademik berupa tugas akhir mahasiswa.

Nah, masalah mulai muncul ketika saya mencoba tetap berada di standar saat menyelesaikan doktoral dengan standar mahasiswa yang hanya menyelesaikan skripsi. Saya mulai menggunakan “kuasa” mencoret-coret draft skripsi mahasiswa dan menyusuh ganti sana-sini. Dan …. sering tidak menunjukkan buku atau jurnal apa yang dirujuk.

Di lain kesempatan. Saya melakukan bimbingan yang ideal sekali. Mahasiswa akhirnya menyelesaikan skripsinya hampir setahun setengah dengan ketebalan lebih dai 320 halaman. Saya puas dengan nilai terbaiknya selama sidang skripsi. Kebetulan sang mahasiswa tergolong pandai, tapi apakah semua mahasiswa memiliki kemampuan yang sama? Itu yang sering saya lupakan.

Di waktu berbeda saya juga sering memaksa mahasiswa untuk mengikuti “kemauan” saya. Hasilnya? Topik risetnya menjadi berubah dari proposal yang disetujui sewaktu ujian proposal. Semua teori menjadi baru dan tanpa sadar saya lupa bahwa mahasiswa ternyata tidak menyiapkan diri dengan topik baru itu. Pokoknya skripsi/tesis ini harus sesuai dengan maunya saya dan bukannya sebagai dosen pembimbing saya coba “mendengar” apa yang mau diteliti sang mahasiswa.

***

“Pak, saya sudah revisi” Pesan itu masuk di telepon genggam saya.

Pagi ini saya sepertinya harus melakukan instropeksi diri: “Apakah saya sudah menjadi pembimbing yang baik untuk tugas akhir mahasiswa atau malah menjadi penyiksa mereka?”

Saya pun bergidik sesaat.

Tiba-tiba saya pun seperti nyeri saat membayangkan ada pertanyaan yang disampaikan oleh mahasiswa saya, “Oke, Pak, saya akan melakukan revisi, tapi bisakah saya membaca karya ilmiah baik jurnal atau buku referensi yang telah Bapak tulis untuk saya jadikan rujukan?”

Jangan-jangan kita, eh, saya hanya pandai mencoret tapi tidak pandai menulis…

 

(2276)

Jurnalis-Penulis-Traveler merupakan tiga rangkaian kata yang bisa menjelaskan siapa saya, selain sesekali menjadi dosen tentunya. Telah menulis 100-an judul buku. Sering memberikan pelatihan terkait PR 3.0, digital media, dan komunikasi di berbagai institusi. Selain di blog ini, ia juga memiliki weblog di www.kangarul.com dan www.dosenkomunikasi.com

5 Comments to Membimbing atau menyiksa mahasiswa?

  1. Salam kenal kang Arul.. Saya juga dosen. Di jurusan saya diberikan kebijakan bahwa satu dosen maksimal membimbing 5 mahasiswa untuk satu periode seminar proposal, yg biasanya diselenggarakan 3 kali dlm setahun. Tujuannya itu supaya beban membimbing tdk banyak dan dosen optimal membimbing mahasiswa

  2. Arie Restu Wardhani

    Wah tulisannya sangat bagus mas, mengingatkan diri sendiri untuk selalu kritis terhadap phenomena yang cenderung merugikan orang lain. Sangat menarik, karena saya pun pernah jadi mhs, dan sekarang jadi mahasiswa lagi. Cuman bedanya ditempat saya studi pembimbingnya helpful dan perfeksionis (saya sangat bersyukur). Btw, mungkin perlu kajian mendalam lagi tentang hal2 yang sudah disampaikan, agar tidak menjadi bias. Mungkin nantinya bisa menjadi rekomendasi untuk para pembimbing mahasiswa, barangkali akan ada kebijakan entah di universitas atau ditingkat kementerian ristek dan dikti. Bagus itu, untuk kajian psikologi, social science, atau bidang pendidikan.

  3. Wah Mantap Kang Arul tulisannya, biar diri kita (dosen) bisa introspeksi diri…! hehehhehe…!
    Oh iya, saya murid Kang Arul Waktu di FLP dulu angkatan 7 Kang. Alhamdulillah Ilmu menulisnya sangat bermanfaat Kang. Terimakasih Kang Arul. Semoga sehat selalu…!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *