Catatan

Lima kebiasaan di toko buku

Baca buku diem-diem dari satu rak ke rak yang lain sepertinya menjadi kebiasaan setiap Akang datang ke toko buku, Mun

kebiasaan di toko buku

Kebiasaan di toko buku itu bukan sekadar karena alasan tidak ada uang dan mau membaca gratis saja. Namun, ada kerja-kerja intelektual di dalamnya. Hahaha… bahasanya.

Eh, tapi beneran loh, Mun. Rasa-rasanya saya selalu bertemu dengan orang-orang yang “berada di dunianya sendiri” saat berada di dalam toko buku. Pernah suatu kali Akang melihat seseorang yang sudah terbilang umurnya sedang terlelap di sudut rak. Di pangkuannya ada buku yang terbuka halamannya.

Dan pas hari ini (14/05/2018) kebetulan Akang ke toko buku juga melihat hal yang hampir mirip. Seseorang yang duduk dengan asyiknya, tidak memedulikan situasi sekitar, sedang asyik membaca halaman demi halaman. Usianya terbilang sudah tua, terlihat dari bagaimana mata, buku, dan jarak di antara keduanya yang selalu disesuaikan.

Akang lupa apakah orang tadi adalah orang yang sama yang dijumpai beberrapa waktu lalu. Pastinya, kebiasaan di toko buku itu selalu ada yang unik-unik.

Tapi, ada juga sih kabarnya kebiasaan aneh di toko buku, yakni merobek halaman yang diinginkan. Alhamdulillah ya da Akang mah gak pernah begitu dan kalaupun Akang liat ada yang begitu pasti akan dilaporkeun ke pihak berwenang.  Sakit tahu Mun kalau seandainya buku yang kita tulis dengan susah payah dan bercucuran keringat tiba-tiba halamanya ada yang ngerobek.

Kebiasaan Di Toko Buku

Jujur aja, nih, ada kebiasaan yang sepertinya selalu Akang lakukan saat berada di toko buku. Kebiasaan di toko buku yang rasa-rasanya sih masih membekas.

Pertama, kaver buku, halaman biodata atau profil penulis, dan daftar isi menjadi tiga bagian yang harus dilihat terlebih dahulu. Judul, mah, udah biasa dan kaper, mah, gak ngaruh soal keputusan Akang membeli buku. Tiga hal tersebut bagi Akang penting untuk mengetahui unsur “NAON” atau “WHAT”  yang ada di dalam buku.

Sayangnya untuk mengetahui profil dan daftar isi lebih banyak di dalam buku. Nah, bukunya lebih banyak dibungkus plastik transparan. Makanya, kedua,  kebiasaan di toko buku yang sering akan lakukan ya membuka plastik pembungkus itu. Ini dilakukan diem-diem loh, Mun, dan plastiknya itu ditaruh di antara tumpukan buku.  😆

Nah, kalau ada bagian atau halaman yang menarik sementara Akang rasa lebih banyak bagian yang tidaknya, ketiga, Akang langsung deh ngeluarin si A7 dan langsung pula cekrak-cekrek lalu upload ke Google Drive. Buat yang ini sering banget deh rasanya, Mun.

Tapi, kalau isinya lebih banyak bagusnya dan sementara kondisi di dalam dompet tidak mendukung, ya mau gak mau, keempat, cari spot asyik buat baca. Tau gak Mun, Akang teh jarang baca bari duduk di lantai. Da kumaha perut maupun body Akang yang udah maju ini kadang bikin susah buat berdiri seandainya tiba-tiba ditegur satpam.

Soal spot-spot itu Akang lakukan, kelima,  sambil keliling di antara rak demi rak. Satu halaman di rak ekonomi bari nyender ke kayu pembatas, halaman lain di rak kesehatan sambil pura-pura liat tumpukan buku, halaman lain lagi di rak Komputer sambil pura-pura mikir dan mengangguk-angguk. 10-20 halaman rasanya sudah selesai tuh tour de’rak buku Akang kelilingin.

Nah, Munaroh, sekarang jadi tahu kan lima kebiasaan di toko buku yang sering Akang lakukan dan rada-rada anti mecin ini.

Kang Arul
the authorKang Arul
Dosen, jurnalis, dan penulis. Saat ini selain menjalani profesi sebagai dosen di berbagai perguruan tinggi, ia juga merupakan konsultan untuk konten digital di berbagai perusahaan, lembaga/kementerian, maupun perorangan. Profil lengkapnya sila klik http://www.kangarul.id

3 Comments

  • Kebiasaan paling sering adalah membuka segel. Padahal sudah jelas tertulis ya, Kang : Dilarang membuka segel atau merusak segel berarti membeli.”
    Padahal kalau rajin mencari, ada buku contoh hehehe. Dan ini perlu kecepatan mata, saat karyawan toko buku lengah hahahaha

Leave a Reply

error: Content is protected !!