Catatan

Lawan Hoaks dengan Sebarkan Berita Baik

Saya adalah korban hoaks soal jengkol yang bisa menyembuhkan penyakit. Rasanya sakit banget. So, yuk ah sebarkan berita baik saja

Sebarkan berita baik kayaknya memang perlu dilakukan deh buat netizen yang sering utama di media sosial, Bukan apa-apa, berita yang menyesatkan atau istilahnya hoaks itu epeknya (sangking ngerinya jadi pake “P”) bisa betul-betul menyesatkan. Saya buktinya.

Bagaimana tidak, sebagai seseorang yang tamfan rufawan dan seperti yang saya katakan t salah satu kuliner asli Indonesia itu. Kabarnya yang saya dapat – waktu dulu banget– bahwa ” Jengkol itu menjadi obat penyakit kanker “. Nah, nasi uduk semur jengkol, dah, denger kabar itu saya jadi semangat mengonsumsi jengkol dengan berbagai olahan.

Sedihnya lagi saya sampai halu loh. Sampai-sampai kata orang lain soal fakta ( menyesatkan ) ini. Kemudian sampailah saya benar-benar nyari informasi yang betulannya. Mengonfirmasi masalah jengkol penyembuh kanker itu yang katanya dimuat di salah satu jurnal ilmiah.

Kesimpulannya? Sampai saat ini saya belum menemukan data pasti itu … saya jadi tersesatkan dan menghitung hoaks.

Makanya, saat diajak untuk bercengkerama dan ngobrol sambil minum kopi bareng jajran Polda Metro Jaya saya langsung mengiyakan.

Sebarkan Berita Baik di Media Sosial

Intinya sih jajaran Polda Metro Jaya mengajak netizen untuk sebarkan berita baik di media sosial. Juga, saya, saya sebut spanduk keikutsertaan alias pernyataan untuk menghitung hoak dengan konten-konten yang baik di media sosial.

Dalam sambutanya, Kapolda Metro Jaya yang diwakili oleh Inspektorat Pengawas Daerah, Kombes Pol Komarul Zaman menyampaikan ajakan untuk tetap menjaga keutuhan NKRI dan sekaligus ‘meresmikan’ tagar #SebarkanBeritaBaik.

“Polda Metro Jaya mengajak semua netizen yang aktif di media sosial bersama-sama untuk menyebarkan berita yang baik, berkonten positif, dan mengirimkan pesan yang bermanfaat bagi masyarakat. Karena di tengah masifnya berita hoaks dan ujaran kebencian di media sosial, netizen harus bisa lebih bijak dalam menggunakan media sosial, dan tidak mudah terprovokasi atas pesan atau pun berita yang belum jelas kebenarannya. “

Di internet dan media sosial, masih menurut Kombes Pol Komarul Zaman, berita baik dan berita tidak baik menjadi keniscayaan masyarakat awam langsung yakinini kebenarannya. Banyak warga negara yang menerima informasi yang datang begitu saja, nyatanya banyak hal yang sebenarnya banyak hoaksnya.

Gerakan Sebarkan Berita Baik ini perlu agar tidak terjadi pemicu perpecahan di tengah masyarakat. Banyak contoh yang menyampaikan informasi yang menyesatkan tersebut.

Hal yang sama disampaikan oleh Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Argo Yuwono. Menurutnya, Konten negatif banyak bertebaran. Netizen perlu memyebarkan konten positif. “Sekecil apapun tetap berguna untuk bangsa,” katanya.

Sebuah tulisan yang dibagikan oleh CatatanDosen (@catatandosen) di

Jadi, mulai saat ini – saya sih bilang ke diri sendiri dan syukur-syukur bisa diikutin sama mahasiswa saya dan orang-orang yang suka membaca blog ini– ayolah sebarkan berita baik di media sosial. Menyaring dulu sebelum berbagi konten.

Kang Arul
the authorKang Arul
Dosen, jurnalis, dan penulis. Saat ini selain menjalani profesi sebagai dosen di berbagai perguruan tinggi, ia juga merupakan konsultan untuk konten digital di berbagai perusahaan, lembaga/kementerian, maupun perorangan. Profil lengkapnya sila klik http://www.kangarul.id

1 Comment

Leave a Reply

error: Content is protected !!