Keraton Kesepuhan Cirebon mah Gak Ada Apa-apanya

By -

“Keraton, mah, gak ada apa-apanya. Begitu aja.”

Ini komentar singkat yang saya dapat ketika bertanya ke oknum warga. Mungkin… komentar ini tidak jauh berbeda bisa dijumpai di berbagai daerah, tidak hanya di Cirebon saja yang saya kunjungi dengan Munaroh di akhir pekan (23/09/2017) kemarin.

Saya sih gak bisa nyalahin itu warga, apalagi kalau yang komentar adalah orang setempatan. Mengapa? Karena eh karena (Rhoma Irama mode on) yang berkomentar mungkin sudah terlalu sering datang ke lokasi tersebut. Terlalu seringnya datang sehingga ya komentar yang muncul karena ‘bosen’nya.

Yup, berapa kali saya mengunjungi lokasi atau spot wisata di berbagai provinsi selalu ketemu komentar itu. Komentar yang mengatakan bahwa di lokasi “gak ada apa-apanya”. Lah… gimana ceritanya kalau yang datang itu baru pertama kali ke sana?

Kemarin saja ketika datang ke Bali dengan tiket pesawat promo, ada yang bilang bahwa Pantai Kuta, “udah gak asyik lah buat wisatawan. Udah rame banget.” Lah, iyalah karena dia tinggal di Bali. Buat yang baru datang ke Bali dan di top of mind-nya  hanya kenal Kuta dan Sanur, sepertinya wajib datang ke lokasi tersebut.

Jadi, persoalan ‘gak ada apa-apa‘nya itu memang subyektif. Sing penting mah  sudah pernah ke sana dan kalaupun memang terbukti omongan tadi, maka pengalaman sudah pernah datang ke sana menjadi modal buat narsis-narsis di media sosial.

Nah, balik maning ke soal kunjungan ke Keraton Cirebon.

Saya menemukan wisata heritage yang banyak menyimpan sejarah. Salah satunya masjid yang konon kabarnya dibangun oleh salah satu dari Wali Songo, lokasi ini dibangun sekitar tahun 1489 dengan nama Agung Sang Ciptarasa. Kabarnya lagi pembangunan masjid oleh Sunan Gunung Djati ini dibantu oleh Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga. Kononnya yang kedua lagi, pembangunan fisik dilakukan oleh Pangeran Sepat, eks arsitek Majapahit.

Masjid Agung Sang Ciptarasa, Cirebon #lensadosen #wisata #cirebon

A post shared by lensadosen (@lensadosen) on


Menurut inpormasih yang saya dapat…. tahun pembangunan tersebut sesuai dengan Candra Sangkala Masjid yang berisi Mungal Mangil Mungup Jembling Gateling Asu sebagai penanda untuk tahun 1411 Saka atau 1489 masehi. Pembangunan diperkirakan selesai pada tahun 1422 Saka atau 1500 masehi sesuai dengan keterangan melalui Candra Sangkala yang berbunyi Waspada Panembahe Yuganing Ratu.

Nah, kalau datang sebaiknya pas menjelang salat. So, kita bisa merasakan suasana “magis” saat menjalankan ibadah di sana. Kalau pas lohor alias zuhur yang udaranya lumayan panas, bisa adem tuh kesiram air wudhu.

Ok… saya gak concern ke masjidnya, saya kemudian membawa Munaroh ke Keraton Kasepuhan Cirebon yang letaknya bersebelahan. Cuma memang lewatnya harus dari luar dulu, setidaknya bisa lihat spot-spot (teileh bahasanya) yang jualan kaos, gelang sama minuman. Udara di siang itu saat saya berkunjung lumayan lagi hot alias panas-panasnya.

Pas datang dengan tiket lima belas rebu untuk pengunjung lokal dewasa (kalau turis dua puluh rebu dan anak-anak cuma ceban atawa sepuluh rebu) sudah ada beberapa bis berpenumpang 52 seat  yang terparkir. Dan betul saja, pas saya masuk, banyak pengunjung yang mengabadikan momen narsis karena “pernah mengunjungi” itu di berbagai lokasi.

Termasuk juga Munaroh. Pas lihat beragam bangunan yang unik dan terlihat masih terjaga keasliannya, darah narsis dan memanfaatkan spot-spot yang instagramable tak bisa dilewatkan. Akhirnya, saya lah yang menjadi potograper (pake p) dadakan. Crek.. crek aplot...

Di Keraton Kesepuhan Cirebon

A post shared by lensadosen (@lensadosen) on

Kabarnya kedatangan Sunan Gunung Djati atau yang lebih femes dikenal dengan Syarif Hidayatullah, dianggap sebagai anak yang pulang kampung. Atas suruhan Sunan Ampel, setelah berdakwah di Banten, Sunan Gunung Djati disarankan ke Caruban Larang atau Cirebon kini. Tujuannya untuk membantu Pangeran Walangsungsang atau Haji Abdullah Imam yang juga dipanggil sebagai Mbah Kuwu Cakra Buana.

Haji Abdullah Imam yang telah menjadi tumenggung di Caruban dan bergelar Sri Mangana ini merupakan kakak dari ibunda Sunan Gunung Djati. Maka, itu dia kedatangannya ke Caruban Larang dianggap sebagai pulang kampung.

Kemudian, sang tumenggung menempatkannya di Padukuhan Pesambangan demi mengelola Pesantren Amparan Jati sekitar tahun 1470-an.  Karena itulah, gelar Sunan Jati diperoleh.

Di sini pulalah, ini cerita romantisnya nih, Sunan Gunung Djati menikah dengan  Nhyai Babadan yang tak lain merupakan putri Kigede Babadan tahun 1471. Kemudian ketika di Banten menikah dengan Nhay Mas Kawungetan tahun 1475 dan dikaruniai Ratu Wianon (lahir 1477) serta Pangeran Sabakingkin (lahir 1479).

Tahun 1478, ternyata eh ternyata, Sunan Gunung Djati menikah lagi dengan  Nhyai Mas Pakungwati. Sayangnya, puteri dari Tumenggung Sri Mangana yang konon cantik jelita ini meninggal pada tahun 1549 saat berusaha membantu memadamkan api yang membakar Masjid Sang Ciptarasa.  🙁

 

Sampai akhirnya, sekitar 1479-an Sunan Gunung Djati ditunjuk menggantikan Sri Mangana memimpin Caruban dan diberi gelar Susuhunan Djati dan mendapat sebutan:

Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Jati Purba Panetep Panatagama Awliya Allah Kutubid Jaman Khalifatur Rasullullah

Saat kepemimpinannyalah, wilayah atau bangunan Keraton Kesepuhan Cirebon diperluas. Keraton lama Dalem Agung Pakungwati dibangun tembok sekeliling sekitar 20 hektar dengan tinggi sekitar dua meter dengan ketebalan  sekitar 80 centimeter. Tidak hanya itu, tembok juga dibangun di sekeliling ibukota seluas 50 hektar dan di beberapa sudut juga dibangun pintu gerbang.

Sunan Gunung Djati juga memperbaiki pelabuhan Muarajati dan yang terpenting adalah memugar mercusuar yang dibangun oleh Ki Ageng Tapa dan dibantu pasukan Laksamana Cheng Ho.

Dari Keraton Berakhir di Cendol

Oke… yang awalnya gak ada apa-apanya itu, saya malah mendapatkan momen. Momen aha banget yang saya lihat sambil berselancar di internet dan kaki melangkah di setiap sudut Keraton Kesepuhan Cirebon.

Terakhir… perjalanan saya di suasana yang cukup panas dan matahari lagi anget-angetnya, saya menutup napak tilas sejarah ini dengan es cendol. Yup, di pintu keluar banyak penjaja minuman dingin, tapi pilihan saya dan Munaroh jatuh pada es cendol yang satu ini. Gulanya? Manis banget… ya iya lah, beb!

Tapi, pas makan eh minum cendol, di depan juga bisa dipakai buat narsis loh. Tulisan yang menerangkan lokasi, gapura, apalagi gerbangnya juga bisa dijadikan spot buat mejeng di instagram.

Kalau sedikit berani nih ya, poto ama petugas penjaganya. Sebab… mereka berpakaian ala-ala tradisional gitu lengkap dengan blangkon dan beskapnya. Pokoknya pas masuk jangan khawatir, suasanya keratonnya terasa banget.

Butuh guide? Ada kok… mereka sopan-sopan…

Ngetrip di Keraton Kesepuhan Cirebon

Buat yang baru datang ke Cirebon, jangan terpengaruh soal gak ada apa-apanya itu. Cobain dulu  berdasarkan pengalaman, baru deh bisa komentar soal lokasi yang dikunjungi itu.

Buat yang, kali aja nih ya, cuma punya waktu mepet alias beberapa jam aja buat singgah ke sini. Jangan khawatir, yang saya lakukan  sama munaroh ai lope yo uh kemarin cukup singkat padat dan membuat memori kamera plus smartphone saya penuh dengan foto narsis. Tentunya 99,5 persen poto munaroh… hiks  🙄

Sekadar berbagi nih trip saat berkunjung ke Keraton Kesepuhan Cirebon.

Nah, bagi saya sih udah jelas banget, kalau yang namanya Aha moments saat traveler itu ketika tidak sekadar bangunan buat lokasi cekrek-cekrek upload aja, tetapi ada cerita yang luar biasa di balik bangunan itu. Tidak sekadar ‘memaksa’ bangunan menjadi background buat foto-foto selpih dan menuai komen atawa like di instagram saja tetapi ada sejarah yang saya dapatkan. Sejarah yang bisa meningatkan bahwa Indonesia itu besar… uhuk.

Tapi beneran emang, kadang kita perlu juga memerhatikan omongan orang soal suatu spot yang akan kita kunjungi. Hanya saja jangan ditelan mentah-mentah, deh.

Kalau saya kepikiran yang katanya gak ada apa-apanya itu dan akhirnya memutuskan untuk tidak datang, maka gak kecoret tuh destinasi yang wajib saya kunjungi di seluruh Indonesia. Oke, saya gak dapat pesona sebagus keraton lainnya, dan ‘rese’-nya diteror oleh peminta sumbangan, tetapi saya mendapatkan banyak hal atau minimal sejarahnya.

So, sekali lagi kalau datang atau melintas ke Cirebon, jangan sampai lupa datang ke Keraton Kesepuhan Cirebon. Kesepuhan ya… temen saya protes ketika saya nulis begini… karena di hampir semua sudut bebatuan saya malah menemukan tulisannya kesepuhan bukan kasepuhan.

Nah, buat yang nggak mau ketinggalan traveling dan mendapatkan aha moments buat mengulik yang kata orang gak ada apa-apanya itu, yuk ah sebentar aja puter video di bawah ini…

(147)

Jurnalis-Penulis-Traveler merupakan tiga rangkaian kata yang bisa menjelaskan siapa saya, selain sesekali menjadi dosen tentunya. Telah menulis 100-an judul buku. Sering memberikan pelatihan terkait PR 3.0, digital media, dan komunikasi di berbagai institusi. Selain di blog ini, ia juga memiliki weblog di www.kangarul.com dan www.dosenkomunikasi.com

31 Comments to Keraton Kesepuhan Cirebon mah Gak Ada Apa-apanya

  1. Keraton Cirebon wajib jadi destinasi wisata berikutnya nih, terutama karena ada sejarahnya dan di sini pernah hidup Sunan Gunung Jati dan Laksamana Cheng Ho. Hehehe dua nama itu favorit saya dan selalu exciting dengan kisah2 mereka.

  2. Paling suka memang dengan destinasi2 wisata dengan unsur kekentalan sejarahnya. Cuma… Menurut saya sih memang keraton kecirebonan yang tidak begitu banyak dikenal hingar bingarnya.

  3. Pinter dongeng sejarah juga ni kakak galau.., jadi mau tau banyak sejarah-sejarah jadul kaya apa abis baca ini..

  4. udah puluhan kali lewat Cirebon tapi belum pernah mampir ke sini padahal pengen banget.
    mudah-mudahan pan kapan bisa mengunjungi tempat bersejarah ini.

  5. Membaca sejarang dengan gaya penceritaan Kang Arul membuat saya membaca habis setiap katanya.
    Tapi memang benar ya, saya juga termasuk golongan “yang penting pernah ke sana” dalam hal travelling. Apa kata orang, kita kepinggirkan dulu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *