Karena Kita Bukan Blogger Lagi

By -

Jangan-jangan kita bukan blogger lagi

Dalam sebuah sesi sharing tentang bloggerpreneur di #kelasblogger, salah seorang peserta yang juga blogger mengajukan pertanyaan: “Kang, bagaimana menulis blog yang enak dibaca?”

“Menulislah sesuai dengan bidangnya,” jawab saya singkat.

“Tapi, tetap saja saya gak bisa menulisnya. Seperti hal-hal teknis smartphone atau spesifikasi barang elektronik,” elaknya.

Saya meminta ia menunjukkan tulisannya di blog. Ternyata… salah satu konten blog yang ditunjukan bisa dibilang kalimat-kalimatnya sudah bagus, penuh hal-hal teknis, diuraikan secara detail, ditambah foto yang bagus-bagus dan panjang.

“Tapi, gak ada yang komentar, Kang. Di Google search juga gak masuk.”

“Kalau begitu… menulis blog saja.”

“Menulis blog? Kan saya sudah menulis dan mempublikasikannya di blog, Kang?”

Saya mengangguk, “Coba baca lagi, yang nulis konten ini blogger atau orang yang seolah-olah tahu segalanya?”

Percakapan di atas bukan sekali dua kali saya jumpai, baik offline maupun online. Dimulai dari pertanyaan lebih tepatnya kegelisahan tentang konten blog yang ditulis oleh sang blogger. Kegelisahan yang dilandasi oleh pengunjung yang sepi, komentar yang nyaris nol di setiap konten, dan konten yang tidak terindeks oleh mesin pencarian.

Hal ini tidak hanya terjadi kepada blogger yang baru (newbie) merasakan keuntungan memiliki blog, tapi juga yang sudah lama. Blogger yang sering diundang oleh brand untuk menghadiri acara/kegiatan yang dalam sehari bisa dua sampai tiga agenda bahkan bisa lebih. Blogger yang mulai menikmati keuntungan dari aktivitasnya.

Padahal dari segi tulisan, tata bahasa termasuk tanda baca, tulisan yang dibuat sudah memenuhi kaedah. Gaya yang ditulisnya pun seringkali bisa menunjukkan bahwa ia sudah sering (atau profesional) dalam menulis blog. Malah saya curiga jangan-jangan sebelumnya si blogger itu adalah mantan atau masih menjadi wartawan.

Bagi saya ini tidak ada masalah sama sekali. Jika tidak ada yang bertanya, mungkin saya tidak sadar dan memikirkannya setelah pelatihan itu selesai. Saya juga selama ini mulai merasakan gejala tersebut, tetapi saya mencoba membiarkannya.

Puncaknya ketika saya menjadi salah seorang juri di lomba penulisan blog. Lomba itu diadakan oleh sebuah brand otomotif terkenal yang tengah meluncurkan produk dua mobil baru. Saat itu ada ratusan blogger yang mendaftar untuk bersaing dan meraih hadiah puluhan juta rupiah.

Dari membaca setiap blog yang mendaftar saya menemukan satu kata kunci, yaitu isi blog peserta bisa dikatakan hampir 85 persen nyaris sama dan seragam. Selain itu, seolah-olah saya melihat para blogger itu sudah khatam di luar kepala spesifikasi dan hal-hal teknis dari produk yang di-review.

Yang membuat saya bertanya adalah mengapa dari ratusan yang menulis blog hanya beberapa yang betul-betul menjadi blogger saja? Mengapa para blogger itu beralih rupa jadi si ahli pengulas produk yang bahkan produknya pun tidak mereka miliki?

Kita Bukan Blogger Lagi?

Bagi seorang bloggerpreneur, ini yang sering diabaikan. Seringkali kita seperti “membohongi” diri sendiri dan juga pembaca blog soal konten yang dipublikasikan. Kita seolah-olah menjadi blogger produk yang pakar mengulas produk dari brand yang mengundang.

Misalnya, dalam acara lauching sebuah smartphone dan biasanya blogger dipinjami smartphone itu selama lima menit untuk melihat. Nah, ketika menulis konten blog, tulisan yang dibuat seolah-olah blogger itu sudah memiliki dan memakainya selama lebih lima bulan.

Belum lagi Hal-hal teknis yang dimasukkan ke dalam konten blog. Hal teknis yang hanya sekadar menyalin ulang apa yang diberikan di rilis media atau dari situs brand yang bersangkutan. Hal-hal teknis yang ketika tidak melihat konten blog, maka si bloggernya akan lupa apa yang pernah ditulis olehnya.

Ini yang menyebabkan blog sering ditinggal oleh pembacanya. Blog yang sebenarnya ditulis oleh bukan blogger lagi.

Mengapa? Karena blogger lupa bahwa blog adalah jurnal pribadi online milik sang blogger. Karena blog adalah jurnal pribadi, maka menulislah dengan gaya seseorang yang sedang menceritakanΒ  kesehariannya.Menulislah dengan hal-hal unik serta menarik di sekitar blogger.

bukan blogger

Jika ada produk yang harus diulas, menulislah dengan jujur. Jujur mengatakan di awal paragraf bahwa kita diundang untuk menghadiri launching smartphone. Jujur mengatakan dalam tulisan di blog bahwa spesifikasi mobil didapat setelah mendengarkan sales mobil di sebuah showroom. Jujur mengatakan bahwa kita diundang merasakan sajian makanan tertentu dan bukan membuat seolah-olah kita membelinya.

Ini yang sering saya jumpai di blog. Banyak yang menuliskannya dengan seolah-olah, saya ulangi lagi, dia adalah blogger (yang pakar/ahli dan memiliki) produk. Konten blognya yang susah membedakan mana yang jujur menulis karena keinginan dan mana yang pesanan dari brand.

Tak heran kalau ada yang berseloroh, “Ah, blognya pesanan sponsor semua.”

Jadi, jangan salahkan jika blog kita sepi dari pengunjung.

Karena kita menganggap semua pembaca mau begitu saja menelan apa yang kita tulis.

Karena kita mengira blog kita selalu ramai dikunjungi dan disenangi pembaca.

Karena kita mengira sudah menulis konten yang maksimal, tetapi sebenarnya membohongi diri sendiri bahkan orang lain yang membacanya.

Karena kita sudah tidak menjadi blogger lagi.

Karena kita bukan blogger…

tanda-tangan

 

 

 

 

 

 

(1150)

Jurnalis-Penulis-Traveler merupakan tiga rangkaian kata yang bisa menjelaskan siapa saya, selain sesekali menjadi dosen tentunya. Telah menulis 100-an judul buku. Sering memberikan pelatihan terkait PR 3.0, digital media, dan komunikasi di berbagai institusi. Selain di blog ini, ia juga memiliki weblog di www.kangarul.com dan www.dosenkomunikasi.com

177 Comments to Karena Kita Bukan Blogger Lagi

  1. Makjleb tulisannya..
    Ember cyiin, penomenal blogger sekarang emang begituh kaka,
    Hanya mengikuti Arul eah Alur aja, tapi insyaallah mesti seimbang diselingi dengan curcol keseharian kita, seperti pertama kali ngeblog.

    Kalo aku sih Have Fun Ngeblog.
    Pokoe mkasih banyak sharing2nya ya kaka.

  2. Nah, lho.. kok saya ngerasa tersindhr ya. πŸ™‚
    Menulis tidak jujur demi untuk berpartisipasi dalam sebuah acara. Sip, kang. Saya jadi banya belajar. Dan satu hal yang akan selalu saya ingat, bahwa blog adalah jurnal pribadi saya. *sudahdicatat

  3. Curhat juga gak, dapat job apalagi. Jadi blogger apaan si gw?

    Tapi memang membosankan, kalo baca blog yang isinya pesanan, seakan penulisnya ahli dalam segala bidang.

    Tulisan kang arul mengingatkan saya yang baru 3 bulan terakhir aktif ngeblog, mau diapakan sih sebetulnya blognya.

    Boleh nyambung dengan tulisan ya kang buat isi blog? Hehe

  4. Saya juga lagi mencari, bagaimana gaya menulis yang tetap blogger meski lagi mengerjakan paid review *padahal jarang juga dapat paid review. Makasih kang, sudah diingatkan ^.^

  5. Hatur nuhun pisan Kang Arul. Ini ilmu yang selama ini saya cari. Gak rugi deh kemarin berpanas-panas datang ke kelas blogger, mem postpone beberapa aktivitas.
    Saya undang main ke kebun saya yang masih gersang. Insya allah resolusi tahun 2016, saya mau jadi blogger yang baik.
    Oh ya, alamat kebun saya : http://www.ceumeta.com

  6. makjleb banget. Memang benar-benar menjawab ke gundahgulanaan hati saya selama ini yang telah perang sendiri dengan kenyataan hidup. namun jeritan hati tetap ingin kejujuran. terimakasih pencerahannya dosen galau. salam#flpblogger.

  7. Semenjak seminar tempo hari yang di adakan BRID bareng PWI SulSel dan mendengar penjelasan dari Kang Arul, perlahan-lahan saya mencoba menenerapkannya.

    Makasih juga udah mengingatkan kembali lewat tulisan ini. Salam hangat dari saya, blogger Wakatobi yang sedang menuntut ilmu di Makassar.

  8. Kalo blog saya isinya tentang keseharian saya mengatasi masalah dengan pc atau handphone android, biar gak lupa saya masuk kan ke blog kali aja pengalaman saya berguna untuk pada pengunjung blog atau juga klo saya lupa saya bisa cari lagi di blog saya

  9. semoga blog saya gak terkesan pesanan sponsor, walaupun gak ada yang mensponsori hihihi.

    mengikuti seminar – seminar blog memang pertanyaan hampir mirip, dan yang paling gila adalah pertama belajar ingin langsung dapat duit, mungkin ini yang menjadikan blogger lebih mengejar dollar daripada upgrade elmu untuk mengkualitaskan konten, walaupun berkualitas terkadang konten terkesan kaku, bener tulisan mas.

    blog saya hanya sebagai pengingat pribadi saya mas..

    eh panjang lebar, salam kenal dululah

  10. Setuju kang \^^/
    Saya malahan kalau memang ngerasa suka dan cocok dengan suatu produk, ya saya ceritakan saja di blog. Walaupun produk tersebut gak pesan artikel :D. Dan iya..teman-teman memang akan lebih ramai berkomentar pada tulisan yang ‘alami’. Dibanding tulisan-tulisan ‘pesanan’ πŸ˜€

  11. Duh, merasa tercerahkan banget baca tulisannya kang πŸ™‚

    Sayang sekali kemaren saya gak bisa ikutan kelasnya di Bandung, tapi untunglah masih sempat ketemuan di acaranya Hisense hehe…

    Sampai saat ini masih sering berasa dilema kang, blog ku isinya curhat semua dan kalo dapet job review selalu berusaha soft selling dan tetap nulis dengan gaya curhat. tapi kadang suka agak sulit kalo ikutan kontes blog Kang, hard selling nya langsung keluar deh hehehe…

    Makasih sudah diingatkan untuk bisa lebih seimbang lagi dalam membuat tulisan yah kang πŸ™‚

  12. wah kalo saya malah kebalik, awal ngeblog saya merasa tau segalanya tulisan saya kurang lebih kayak yang dijelaskan diatas. tapi lama kelamaan saya ngeblog buat senang senang dan nemuin banyak hal menarik. haha πŸ˜€ seru ih ada kelas blogger semoga dikota saya juga ada kelas blogger.

  13. Halo Kang Arul, salam kenal. Pas saya lihat postingan ini langsung ngerasa terpecahkan kegelisahan saya (ciiieeee…). Karena blog saya lebih membagi pengalaman pribadi, pun kalau ada kerjasama dengan sebuah brand, selalu berusaha tetap mengutamakan pengalaman pribadi dulu. Main2 ke blog saya, ya. Minta saran dan kritiknya. Hatur nuhun,

  14. Kalau saya masih hal hal yg terjadi di keseharian saya kang sesekali review dan itupun produknya saya pakai. Kdng kita latah ikut2an pingin kyk blog org lain bisa nulis yg wow pdhal msing2 kita punya keunikan tulisan masing2 yg mncari ciri khas dr blog kita.

  15. Salam kenal Kang Arul, tulisannya membuat saya semangat untuk terus menulis di blog. Hatur nuhun πŸ™‚

  16. Halo mas, saya Andy dari Jogja.. kalau ada kelas blogger di Yogyakarta mohon saya di colek hehehe. Mau belajar banyak tentang blog

  17. Kok buat saya ga nge-jleb ya? Oh ternyata saya ga pernah nge-review. Blog saya cuma curhatan. Berarti saya masih jauh dan perlu banyak dan banyak belajar lagi. Hehe..

  18. Ehm, nganu, ini tulisan kok ya terasa makjleb gitu. πŸ˜€
    Seingat saya pernah mengulas hal yang tidak saya miliki, sekali apa dua kali gitu. hehehe…

    • Wkwkwk Uni lucu #eh.
      Kok sy malah komen disini. Hihihi
      Punten ah

      Sekalian nanya sm punya blog…
      Blog sy personal tp belakangan mulai terima sponsored post…memang mostly sy coba pake soft selling.
      Nah sayangnya ada brand yg malah merasa tulisan terlalu personal dan kurang menjual ketika kita tdk menjembrengkan spesifikasi produknya.
      Bagaimana itu mengakalinya?
      Tp mmg semua yg sponsored post sdh sy labelin khusus jd sdh berusaha jujur sm pengunjung blog

  19. Yanti Mariyana

    Salam kenal kang Arul…
    Ilmu yang bagus n oke binggitss…buat akyu newbee….(lebah baru) terimakasih buat share info nya…kang …
    semoga bisa selalu menulis dengan hati…(dan jari offcross)

  20. Hhhmmm… Indikasinya memang seperti itu sih, mungkin bisa kasih masukan mengenai blog saya dari sudut pandang Kang Arul. Thanks a lot before… πŸ™‚

  21. Awal aku bikin blog karena aku cari tempat buat menulis. Dulu aku menulis di buku harian, tapi lama-lama pegal juga, hihihi. Well, meskipun gak 100% pindah ke blog sih, kalau yang soal yang bikin blushing masih aku tulis di buku harian bergembok :p
    Kadang ada tawaran review, endorse, sponsorship atau apalah namanya. Kalau aku terima tetap diusahakan faith sama tujuan awal aku punya blog. Soalnya aku sendiri lebih nyaman baca tulisan yang ada sentuhan personalnya. Cheers! Happy holiday! πŸ˜€

  22. saya pernah dulu ikut di undng dalam laundching motor. di ajak makan enak. dan dicemarahi seluk beluk motor. tpi saya tetap menulisnya di blog sebagaimana yg terjadi. bahwa saya sama sekali nggak ngerti ttg spesifikasi motor itu πŸ™

  23. deny andis

    Pondasi ngeblog yang harus dipegang teguh ini buat saya,,, makasih dosengalau hihihi

    • setiap orang kadang memang harus memilih, termasuk memilih “mau bagaimana” dengan blog kita.
      Selamat membaca semoga bermanfaat…

  24. hihihi iya bener juga mas Arul. Blog walking kalo isinya pesanan sponsor males baca sampe tuntas hehe.
    Blogger yang ngejar SEO melulu juga menyebalkan hehe menulis tidak pake bahasa manusia tapi bahasa mbah Google. tapi alhamdulillah belakangan hasil pencarian google lebih baik lah.

    salam..

  25. Saya usahakan menulis dengan gaya sendiri, apa adanya tapi apa adanya saya ya begini, lempeng aja gak bisa nyante apalagi kocak..
    Jadi, kalau begitu diriku masih blogger bukan ya Kang?
    Qeqeqe, modus minta di BW in.

  26. Atuhlah jadi kedah kumaha atuh jd blogger teh kadang yg pengen direview pengen soft jgn ketahuan kita blogger yg diundang review…. Tp kt kang Arul hrs jujur bilang klo qt diundang….hehe….

  27. emang bikin dilema kang arul , bikin tulisan otentik kadang tetep sesekali tanya google , apa itu masih bisa di bilang otentik , orisinil …??? mbah google udah kepinteran wkwkwkwk . ngejar Seo ada yang bilang harus 500 kata , padahal kata segitu banyaknya orang cenderung jenuh bacanya.

  28. Keren ini tulisannya..,
    Dulu masih inget begitu polosnya saya pas di undang ke jakarta oleh telkom dan idblognetwork, diwawancarai dan di tanya “blog nya tentang apa.” Saya jawab “Buat ikutan Lomba” hahahaha πŸ˜€
    .
    Dulu awal ngeblog taunya langsung mau cari uang sih saya, tapi lewat jalur lomba blog, tapi tulisan lomba blog saya bukan yang ngarang atau mengada2 tetapi saya lebih suka menceritakan langsung pengalaman gitu….,
    .
    Makin kesini saya tau bahwa blog itu bisa ikutan yang namanya job review dan placement hingga akhirnya saya ikutan juga
    .
    Tapi akhir2 ini saya sering galau dan menceritakan pengalaman atau curhatan di blog,
    Aku malah bingung aku ini blogger apaan ya kang πŸ˜€

  29. silaturahmi kang.. baru saya kesini..
    hehe

    yah namanya juga orang pengen hadiah kang, opo ae dilakoni. yang penting dia bisa juara. padahal ada esensi lain yang kang Arul sampaikan diatas yaitu menjadi diri sendiri, dengan gaya menulis seperti biasanya.

    saya juga dulu waktu ikut lomba seperti ngerti betul produk yang saya review padahal NOL besar. pakek ajah nggak haha..

  30. Nah, ini kebalikan, mas.
    Saya malah belom pernah nyobain review barang atau produk. Hehehehe
    Ya emg blom wktunya aja kali ya. Tpi wktu itu prnh ikutan review produk dan kbtulan emg saya mnggunakan produk itu sih. Nulisnya smngat, enak, eh ga juara. Sedih.
    Tapi bca tulusannya mas, jd pelajaran buat saya nanti sih. Klo misalnya ada yg nyuruh nulis review produk, sya harus nulis dgan gay bhs sy sndri. Weheheh
    Matur suwun, mas.
    Perdana nih main d blognya

  31. Wah ini yang sedang saya rasakan. Terkadang terus terang karena waktu yang terbatas, jadi kurang seimbang pesanan dan asli tulisan keinginan diri sendiri. Terimakasih sudah diingatkan=)

  32. Aku review acara, ya sesuai ciri khas aku yg harus ceritain awal keberangkatan kek gimana, atau kejadian2 lucu ketika di tempat acara. Alhamdulillah, belom pernah dapet job review yang mengharuskan ini itu. Setidaknya, aku sudah berusaha untuk bercerita tentang suatu produk atau kegiatan sesuai ciri khas aku. Bahkan banyak yg bilang, tulisan aku lengkap bgt kalau review kegiatan. Apa nya yang lengkap???
    Intinya, menulislah dengan gayamu sendiri.

  33. Masalah pada pengemasan penyampaian produk. Sebagai pembaca, kadang sudah tau kok, tulisan ini job review apa ngga. Tulisan ini hasil dΓ tang ke acara atau ngga.

  34. Tulisan ini memberikan pembelajaran bagi kita untuk selalu memperhatikan blog kita biar nggak jamuran (alias harus diisi dengan konten) yang menggunakan bahas blogger banget, terima kasih Kang Arul. Mantap dech πŸ™‚

  35. Naaaahhhh…. akhirnya ada juga yg menulis ini. Ini yg saya rasakan sejak setahunan yg lalu yg menjadikan saya agak agak malas ngeblog lagi karena membaca begitu banyak postingan para blogger yg nyaris sama (nyaris ya, meski dgn kata2nya sendiri, namun intinya sama. Sehingga seperti terasa hilang keunikan postingan tsb thd yg lainnya).

    Tulisan pesanan yg ditulis tidak jujur.

    Membuat saya berpikir ulang untuk terus ngeblog atau tidak. Namun tetap menjadi diri sendiri sepertinya kunci yg harus dipegang para blogger.
    Makasih sharing hot nya Kang Arul πŸ™‚

  36. Artikelnya bagus, bisa saya bagikan ke teman saya nih biar jadi pengingat buat dia πŸ˜€

    Kalau saya mah blogger abal-abal, nulis hanya sekadar cerita keseharian dan cerita fiksi yang sebenarnya tidak 100% fiksi karena isinya ya kejadian yang saya lalui sendiri.. hehehe

  37. Saya sependapat karena saya juga beberapa kali berlagak seperti ahli smartphone, pakar otomotif, dan lain-lainnya.
    Nah sekarang malah ditambah lagi. BW kemana-kemana ketemu artikel yang membahas hal yang sama yaitu “sosok blogger”

    Terima kasih ulasannya.
    Salam hangat dari Jombang

  38. DEG!!!
    Saya tercerahkan! haha.. intinya jujur ya kang. Saya juga sering melakukan kesalahan itu kalo mau ikut lomba atau review produk, nulis semuanya padahal saya gak punya barangnya. πŸ™

  39. ya allah, mau komen panjang bener. hiks πŸ™
    aku masih blogger, kang?
    aku sukanya makan sama jalan2. pasti isinya gituan :9
    hiks πŸ™

  40. Jujur dah kalau aku bw terus lihat isi blognya review semua. Aku langsung close tanpa membaca sedikitpun. Soalnya kalau review produk aku lebih suka baca langsung dari website seh bukan dari blog. Kalau blog ya cerita. Misal cerita dia baru beli hp baru. Baru beli mobil baru. Atau pinjem keteman buat direview.

  41. Scroll down panjang jauh..hanya untuk komen. Mantaps kang Arul! Terima kasih sudah mengingatkan kembali esensi ngeblog. At least saya masih dalam kategori blogger dong krn lolos 3 besar lomba otomotif itu, dong ya? Hahahaha Lega.. alhamdulillah. Postingan ini akan jdi reminder jangan sampai hanya ngeblog karena ‘membela yang bayar’ .

  42. Halo Kang Arul, salam kenal dari Aceh. Saya termasuk yang baru sekali soal job review dan content placement. Selama ini saya selalu menulis keseharian saya sebagai seorang istri dan ibu juga mahasiswi tingkat akhir. Alhamdulillah, meski ga ada yg komentar, tp seneng tiap jumpa temen pasti pd blg “saya sering ke cutdekayi(dot)com, tulisannya menginspirasi” saya bingung di bagian mananya yg menginspirasi. Lagi2 krn sy sering berbagi keromantisan suami istri.

    Begitupun sekarang, ketika job review datang, ato ada lomba yg sesuai dengan pengalaman sy sebagai ibu muda, hal-hal dari mengurus anak dan suami ga pernah sy tinggalkan. Terlepas dr menang atau tidak, menulis bagi saya adalah energi. Semoga dg begitu, masih pd betah baca blog saya. Terimakasih sharingnya mas. Artikel ini akan saya sodorin ke suami, buat beliau baca. Biar semangat ngeblognya membara kembali meski ia ga gabung komunitas seperti istrinya πŸ™‚

  43. Saya justru pernah merasa minder baca tulisan para blogger yg bisa mereview sebuah produk dengan segitu hebatnya…. lalu nyoba2 ikut lomba2 dan berusaha menulis seperti mereka… tp kok susah dan jenuh ya… merasa kalau itu bukan saya

  44. Aaahh.. saya bangeet niihh.. masih gak bisa menemukan gaya tulis sendiri. Udah gitu, sering banget pakai bahasa yg sangat baku. Dan benar, karena di portal lokal, suka menulis berita daerah, ya mau gak mau mesti baku. ?

  45. Ah, saya jarang pula mereview produk, lebih sering cerita tentang kegiatan pribadi. Ada sih beberapa, tapi nggak paham apakah saya menuliskannya dalam keadaan sedang tidak berperan sebagai blogger, tapi sales. Jadi ikut galau ih. πŸ™

  46. Tulisannya bagus pisan kang.. Kebetulan saya menulis blog memang untuk latihan menulis resmi plus curcol.. Terima kasoh sudah mengingatkan lewat postingan ini.. Salam kenal Kang.. πŸ™‚

  47. Wahahahaha…. aku banget dulu. Makanya sekarang pensiun repiu produk elektronik ataupun gadget. Lebih fokus ke cerita soal anak dan personal. Jujur ya lebih enjoy aja nulisnya dan gak ada tekanan. Walaupun sekarang blog nya lumutan dikit karena jarang update ?

  48. Bener kang, saya blogger newbie, saya sering bw rata-rata blogger sekarang isinya produk, jadi males baca, isinya seragam semua, kayaknya blogger sekarang udh kayak wartawan, kebanyakan liputan, jadi isinya gak greget lagi, semua event didatengin, hehehe sori ya utk blogger, piss ah

  49. :’)

    Khilaf kang, *yaelah mbak ahahahahaha

    Dear Kang Arul, sebelumnya saya berterima kasih sekali dengan banyaknya konten yang Kang Arul tuangkan dengan bagus di sini. Saya sedang proses skripsi membahas blogger, dan banyak inspirasi yang saya temukan di blog Anda. Termasuk di buku-buku Kang Arul.

    Nuhun, Kang, nuhunnn ^^

  50. Ini tulisan yang saik banget …
    KIta (or biar aman … SAYA) di drive untuk membaca press release atau media release atau product knowledge sheet yang di bagi oleh ahensi …
    Tinggal kopi paste … ganti-ganti dikit kalimatnya … publish … lalu tunggu pengumuman … siapa tau menang lomba GA

    Terima kasih tulisannya Kang Arul

    Salam saya

  51. Salam kenal, Kang.

    Pengalaman saya memang menjadikan blog sebagai catatan harian online. Awal 2014 lalu saya pernah suka dengan sepatu lalu saya ceritakan di blog. Dari cerita itu akhirnya saya dihubungi pengrajin sepatu di Cibaduyut dan kita berbisnis sampai sekarang. :))

  52. Jadi salah satu indikator yah dari komentar ya Kang…
    Kayaknya beberapa blog saya ada yang fakir komen. Apalagi yang di awal-awal, soalnya masih grasa-grusu ngeblognya.
    Mampir atuh Kang…
    Hahaha… modus

  53. Jleb… nyesek juga bacanya, tapi setuju sih. Begitu ngereview produk misalnya, ruh ditulisannya langsung beda. Duh ya

  54. Ah syukurlah saya masih newbie dan selalu bingung2 bila diminta review produk atau apapun.. Mentok2 nulisnya kayak orang berhikayat dan bertutur.. Bagus bilang bagus.. Jelek ya bilanb kurng bagus.. G paham.y g paham..

    Tp blog saya masih sepi pengunjunng mastah! Huhuhu

  55. terima kasih pak, atas share yang diberikan. menambah wawasan, mengingatkan saya akan esensi blog. dahulu 2015, mau salah jalur, kayak di atas. kemudian 2016, saya mulai sadar dan kembali lagi. saya menulis apa yang saya lakukan, sudah dilakukan, dan akan.
    Jadi esensi blog kembali lagi. πŸ™‚

  56. Saya ngeblog buat contekan ujian, hihihi.
    Buat pengingat pernah ngapain aja dulu.
    Kalau dpt job ya dsyukuri.

    Dan kalau mbahas yg Saya kuasai, dalam Hal ini pekerjaan asli Saya. Dijamin yang komen makin gak ada. Wong mbahas yang umum aja nggak ada yg komen.

    Ahihihihi.

    Salam dari mantan blogger.

  57. Pesannya mendalam banget ini mas. Saya jadi sadar bahwa blog isinya ya menurut gaya bahasa dan penulis dari bloggernya, jadi apa yang baik dikatakan baik dan apa yang kurang baik dikatakan sejujurnya, jadinya blog adalah pesan, isi hati, serta tulisan yang secara pribadi ingin disampaikan dan dibaca oleh para pembaca di blog. πŸ™‚

  58. kalau aku sih;.;.

    yang penting ngeblog….
    tulisan banyak yg baca ya alhamdulillah
    sedikit ya oh masih ada yg baca ….
    kebutuhan berbagi ma curhat sudah tersampaikan yo uwes…

  59. Mau komen udah panjang banget, hahaha. Top deh. Tulisan yang bikin saya jadi mikir-mikir. Selama ini sih nulis memang selalu berusaha supaya kembali ke diri sendiri

  60. Ketika nulis buku, apa aja saya tulis. Giliran nulis blog, eh…kok sama ya. Malah mungkin lebih karena ada yang lebih ditulis di blog daripada dijadiin buku.

  61. Membaca tulisan ini seperti diingatkan kembali bahwa blog adalah ‘jurnal pribadi’. Jadi enggak akan kaku kalau yang ditulis adalah tentang keseharian. πŸ™‚

  62. Alhamdulillah kalau blog saya masih dipakai untuk berbagi kisah sehari-hari, membagikan pengetahuan saya seputar teknologi dan sesekali menulis artikel review jika ada permintaan. hehehe

  63. Saya masih newbie soal blog dan gak pernah dapat review dr brand or semacamnya.
    Blog saya isinya kegiatan sehari2. Pernah review tempat tapi itu murni karena keinginan saya dan tentunya minta ijin dulu pada si empunya. Dimana saya bilang kepada pemiliknya. Bahwa saya akan menulis konten apa adanya.
    Yang jadi pertanyaan saya Kang, Apakah ada sangsi tersendiri jikalau mendapat job untuk review produk seprti smartphone, otomotive dan lainnya. Tapi kita menebutkan di review bahwa mendaptka informasi itu dr salesnha dll?
    Terima kasih Kang.

  64. Halow, Kang Arul. Ini dgn Ulu di Bandung. Kalo saya dateng utk mereview tempat, dalam hal ini diundang, saya jarang tulis klo saya diundang. Karena produk/jasa yg saya dapat kan gratisan. Dan menurut saya produk gratisan mengaburkan objektivitas.

    Kecuali kalo acaranya launching gitu sih, biasanya selalu saya sebut aja datang ke acara peluncuran produk/tempat.

    Saya udah bener belum ya? Kemaren aja baru nulis ttg Trizara Resorts & saya gak sebut diundang gitu di tulisannya. Heuheu πŸ˜€

  65. Alhamdulillah ada yg punya pendapat sama. Salam kenal pa Arul dari Bandung. Bingung saya dengan blog yang isinya review produk, apalagi produk kecantikan. Hehe…Blog saya yaa blog saja. Mau ada yg BW dan komen, ya saya jawab. Ga ada yg berkunjung yaa tidak apa2. Belum pernah ada yg minta direview produknya, yaa tidak apa2 juga.
    Kalau ada yang seru, dan meminta BW, ya saya kunjungi dan tinggalkan jejak.
    Intinya sih menulis, menulis, dan menulis, serta berbagi kebaikan saja. πŸ™‚

  66. Realita Blogger sekarang,,, hiks hiks beda banget sama jaman dulu, dulu juga ada blogger yang mengulas produk tapi bener bener dari pengalamanya sendiri, dan ulasanya juga jujur apa adanya, karena memang niatnya untuk berbagi dan tidak di bayar

  67. bener juga, kadang saya juga mengabaikan bahwa menulis blog harus berdasarkan pengalaman keseharian kita ya, Kang :). Tapi tetep ada sih sponsor yang memilih pemenang bukan berdasarkan cerita pengalaman si blogger melainkan konten tulisan dan gambar-gambar grafisnya yang memikat.

  68. Suka tulisanya ini. Saya malah merasa ga bisa nulis sehebat mereka yang ngulas produk, karena tulisanya saya justru Malah curhatan saya Dan kegiatannya sehari2 saya. Pernah Coba review produk Malah saya ga suka karena enggak dari Hati saya. Share ya ?

  69. What a good reminder. Bisa dibilang awal-awal ngeblog juga karena sharing pengalaman mencoba produk.

    Sama mau sekalian nanya, Mas. Berarti content placement itu pun sudah keluar dari kaidah blog ya?

  70. Makasih banyakkkk tulisannya kang.., ini jd reminder buat saya sekaligus penyemangat untuk menulis apa adanya dng gaya sesuai karakter kita πŸ™‚

  71. Jujur saya pernah minder pas BW ke blog teman2, soalnya blog mereka banyak sponsored postnya. Membuat saya jadi ragu mau nulis hal2 yang berbau curhat. Tapi saya pikir, masa jadi nggak ngeblog kalau nggak ada sponsored post, so biar aja deh klo isi blog saya sekarang banyak curhatnya hehe.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *