Hati-hati membagi data di media sosial

Kejadian bobolnya 50 juta lebih data pengguna Facebook dalam kasus Cambride Analytica, semakin menjadikan masyarakat harus sadar akan pentingnya data yang diunggah di media sosial. Entah itu data pribadi maupun aktivitas dalam bermedia sosial.

Pengamat media sosial, Rulli Nasrullah, mengatakan, hal yang justru menjadi kehati-hatian pengguna media sosial adalah aktivitas yang sering diposting. Menurutnya, selain data pribadi yang diunggah, aktivitas dalam bermedia sosial juga tak kalah penting yang mampu direkam untuk dijadikan sumber komoditas media sosial itu sendiri.

“Mesti dipahami dulu bahwa Facebook adalah sebuah perusahaan dan kepemilikannya jelas. Perusahaan ini berjalan juga tidak gratis. Komoditasnya itu informasi soal data pengguna, baik itu data pribadi ataupun aktivitas si penggunanya. Tapi bagi saya, data aktivitas pengguna di wall media sosialnya, itu jauh lebih besar untuk dikomoditaskan,” jelasnya kepada Merdeka.com, Kamis (5/4).

Ia menilai, pada dasarnya sebelum memiliki akun di sebuah media sosial, pengguna disodorkan form yang harus diisi. Namun, tidak semua informasi yang ada di form tersebut harus diisi. Terlebih dengan informasi yang real dan lengkap. Pengguna bisa mengisi form tersebut sesuai dengan batas keamanan data pribadi. Misalnya tidak mengisi informasi mengenai alamat rumah, tanggal lahir, atau bahkan nomor handphone.
“Itu kan optional,” ungkapnya yang juga dosen di UIN Jakarta.

Selain itu, ia juga mengatakan di era digital seperti saat ini, masyarakat juga perlu untuk dibantu peningkatan dalam literasi digitalnya. Hal ini bertujuan agar masyarakat tak asal dalam memberikan data atau informasi yang dibagikan di media sosial.

“Digital literasi semestinya harus dipahami oleh pengguna Facebook. Jangan seluruh data diserahkan ke Facebook,” jelasnya.

Hal senada juga diutarakan oleh pengamat kejahatan siber, Gildas Lumy. Seperti yang dikutip dari Liputan6.com, ia menghimbau agar seluruh warganet teliti terutama membaca secara detail mengenai kebijakan layanan internet atau aplikasi yang digunakan. Cara ini mencegah masyarakat agar tidak hanya menjadi korban penyalahgunaan data, melainkan pula keluhan-keluhan yang dikhawatirkan terjadi di masa mendatang.

Di sisi lain, Gildas pun menyadari bahwa masih banyak orang yang malas membaca syarat layanan dan aplikasi yang mereka gunakan. Di luar kasus penyalahgunaan data, menurutnya, kemalasan tersebut pada akhirnya mengorbankan data-data penting. Gildas pun menyarankan masyarakat agar lebih peka pada segala informasi yang diberikan di internet.

“Jika kita setuju menyerahkan semuanya (setuju dengan persyaratan), kita tidak boleh keberatan,” tutur Gildas dalam acara dikusi publik ‘Skandal Facebook, Dampaknya bagi Kita’, di kawasan Jakarta, Selasa (3/4). [ega]

Kamis, 5 April 2018 12:24
Reporter : Fauzan Jamaludin
Tautan: https://www.merdeka.com/teknologi/hati-hati-membagi-data-di-media-sosial.html

(8)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *