Apa ItuTeknologi

FoMO, Penyakit Blogger yang Berbahaya

Baru dapat hadiah ngeblog, Tweet!

Baru dapat goodiebag, bikin status FB!

Apalagi… dapat doorprize misalnya iPhone 6S… wuih penuh itu akun medsos dengan kata-kata “berkah ngeblog”.

I tu belum seberapa… bayangkan seandainya ada blogger diundang ke sebuah acara: mulai foto bangun, pakaian, barang yang disiapkan, naik angkot, tiba di depan pintu acara, sebelum acara, di tengah acara, di akhir acara, sampai saat mau menikmati hidangan pun before-after-nya diupload di Path dan Istagram.

Secara sederhana adalah pernahkah pamer angka Klout, angka Alexa, angka DA, angka PA, dan angka-angka lainnya yang menyangkut blog kita? Pernahkah merasa ingin selalu hadir di acara-acara yang mengundang blogger? Pernahkan merasa ‘bagaimana gitu’ karena setiap posting blog tidak ada komentar atau komentarnya sedikit?

Tidak sesekali dan jarang, tetapi sering.

[alert style=”red”] Ingat: hal-hal di atas baru pertanda sederhana dari penyakit blogger ini… [/alert]

Jika jawabannya YA, maka bisa jadi kita sedang terkena penyakit blogger. Penyakit yang biasanya disebut-sebut sebagai “pamer” prestasi blogger di dunia virtual. Bukan karena pamernya (yang lebih dekat ke narsis sebagai sebuah gejala psikologis), melainkan karena ingin dianggap kekinian atau seperti blogger pada umumnya itu.

Berbeda dengan menunjukkan prestasi, pamer dalam konteks ini adalah untuk mengikuti atau seolah-olah ia bisa menjadi blogger seleb idolanya yang sering mendapat hadiah atau berkah dari ngeblog. Seolah-olah ia merasa tidak ketinggalan kekinian dan menganggap pamer prestasi itu sebagai bagian dari pekerjaan menjadi blogger.

Atau jika tidak atau belum sadar, maka dalam kondisi sadar dan dari hati yang terdalam pernahkah kita “merasa iri” dengan deretan prestasi blogger lain di media sosial? Rasa yang begitu luar biasanya sehingga ketika kita mendapat sesuatu dari blog, pertama kali yang kita lakukan adalah upload di media sosial.

Kalau saya, sih, iya. Dan mungkin sampai saat ini saya tidak mengerti sudah stadium berapa. Saya bahkan jujur mengakui sebagai penggiat media sosial dan sekaligus peneliti cum akademisi yang meriset media sosial dan terlibat di dalamnya, saya sudah terserang penyakit FoMO…

FoMO ? Yup… Fear of missing out atau bahasa sederhananya sindrom takut kehilangan (ketinggalan). Penyakit ini sudah mulai ramai dibincangkan di antara peneliti media sosial, terutama prilaku penggunannya. Uniknya pengidap FoMO tidak sadar apa yang hilang dari dalam dirinya. Yang pasti ia tidak bisa menguasai diri atau merasa ketakutan apabila ketinggalan informasi terbaru di internet.

Misalnya, ada orang lain mendapatkan sesuatu atau berprestasi dan mengumumkannya di media sosial, maka ia harus tahu informasi itu. Kemudian jika ia mendapatkan sesuatu dari blog, maka ia langsung menjadi apa yang dilihatnya itu.

Dalam sehari, eh, ambillah dalam satu jam, blogger yang mengidap FoMO ini tidak hanya sekali dua kali melihat layar gawainya, melainkan sering. Setiap bangun tidur yang dicarinya adalah gawai, cek status blogger lain, dan bikin status.

Lebih parah lagi, jika kehilangan atau ketinggalan gawai, maka di hari ini sang blogger merasa ia berada di dunia terasing; ada juga yang stress dan depresi seperti gambaran survei di bawah ini.

Phone-Addiction-Lost-Feelings

Tidak hanya blogger, orang biasa pun sering mengalami gejala ini, gejala takut ketinggalan informasi dan pada akhirnya takut eksistensi dirinya tidak diakui karena seolah-olah tidak menjadi bagian dari kekinian.

Misalnya jika kita sering melihat status di media sosial tentang foto liburan, foto sedang terbaring di rumah sakit, sedang membeli sesuatu, sedang mendapat sesuatu, bahkan sedang makan sesuatu pun di upload. Dasarnya bukan berbagi, tetapi biar dianggap kekinian atau seperti orang lain atau akun-akun media sosial lainnya.

Kondisi di atas menunjukkan bahwa memang benar di satu sisi kita ingin memberi tahu orang lain apa yang sedang dilakukan atau dicapai. Namun, di sisi lain yang lebih psikologis jangan-jangan apa yang dilakukan itu bukan untuk memberi tahu melainkan pamer dan ingin diakui sebagai “orang penting” di media sosial.

Situs https://www.jwtintelligence.com menjelaskan tentang FoMO:

People who grapple with FoMO might not know exactly what they are missing, but can still hold a fear that others are having a much better time or having a much more rewarding experience on the spur of the moment.

Definisi FoMO menurut kamus Oxford:

FOMO - definition of FOMO in English from the Oxford dictionary 2016-01-04 07-07-07

Dalam kajian Psikologi, FoMO merupakan level terendah kebutuhan psikologis akan kepuasan dan sekaligus pengakuan akan kepuasaan itu. Teori ini dekat dengan kajian tentang Teori Determinasi Diri (self-determination theory) yang menurut  tulisan dari Deci & Ryan (1985) teori ini muncul dari kondisi psikologis di mana seseorang membutuhkan pengakuan dari orang-orang yang sebenarnya tidak terelasi atau terkoneksi dengannya.

Dikaitkan dengan FoMo, bahwa orang-orang yang ada di sekitarnya sering memberikan pengalaman yang tidak diharapkan. Bisa jadi di dunia nyata orang itu tidak mendapatkan penghargaan dan penghormatan yang selayaknya. Oleh karena itu, seseorang yang “mengidap” FoMO akan mencoba masuk ke dalam situasi dan atau lingkungan orang lain yang baru di mana ia tidak kenal atau ada hubungan sebelumnya; salah satunya melalui media sosial.

Sebuah riset bahkan menyebutkan bahwa kondisi FoMO muncul karena kurangnya kebutuhan psikologis seperti cinta dan penghormatan. Di dunia perbloggeran, kondisi ini bisa muncul karena adanya rasa iri terhadap blogger lain dan mengira bahwa capaian-capaian tersebut adalah sebuah standar sehingga harus juga dipenuhi.

Jelas ini adalah penyakit blogger.

Penyakit Blogger

A pakah FoMO berbahaya? Secara psikologis sebenarnya hal ini bisa membahayakan. Bahkan menurut Catherine Chen, Ph.D  maupun Gabriel Mizrahi  FoMO bahkan bisa ‘membunuh pengidapnya. FoMO yang akut bisa menyebabkan depresi dan menimbulkan penyakit mental lainnya.

Bahkan menurut Claire Cohen, apa yang dilakukan oleh pengidap FoMO sebenarnya hanya mengejar simbol status sosial di dunia virtual. Uniknya, FoMO ini muncul karena ada keinginan untuk menjadi apa yang juga dicapai oleh orang lain atau ‘personal brand’. Sebuah pengejaran fatamorgana yang tidak akan terwujud dan juga hanya terjadi di dunia online saja.

Keinginan yang kuat untuk mengumbar “berkah-berkah” di medsos itu salah satu pertandanya. Jangan-jangan sebenarnya kita, blogger, sudah mengidap “penyakit” ini sejak lama…

Di awal bulan di tahun 2016 ini, saya mencoba menulis seri tentang FoMO ini, tentang penyakit blogger ini…

Untuk mengetahui media sosial dalam berbagai perspektif, bisa baca buku terbaru saya.

Media-sosial

Referensi

Catherine Chen, Ph.D (06 Februari 2014) The Fear of Missing Out — and How It’s Killing You, dari http://www.huffingtonpost.com/catherine-chen-phd/the-fear-of-missing-out-and-how-its-killing-you_b_5432120.html

Claire Cohen (May 16, 2013), “FoMo: Do you have a Fear of Missing Out?”, The Daily Telegraph dari http://www.telegraph.co.uk/women/womens-life/10061863/FoMo-Do-you-have-a-Fear-of-Missing-Out.html

Deci,E.L.,& Ryan,R.M. (1985), Intrinsic motivation and self-determination inhuman behavior, Plenum Press

Gabriel Mizrahi (04 November 2014), “Could Your FOMO Kill You?” http://www.huffingtonpost.com/gabriel-mizrahi/fomo_b_5130364.html

Kristi Hedges (27 Maret 2014), “Do You Have FOMO: Fear Of Missing Out?” dari http://www.forbes.com/sites/work-in-progress/2014/03/27/do-you-have-fomo-fear-of-missing-out/

https://en.wikipedia.org/wiki/Fear_of_missing_out

http://www.oxforddictionaries.com/definition/english/fomo

http://www.huffingtonpost.com/news/fear-of-missing-out/

http://www.huffingtonpost.com/2013/08/02/fomo-fear-of-missing-out_n_3685195.html

http://psychcentral.com/blog/archives/2011/04/14/fomo-addiction-the-fear-of-missing-out/

Customer Account Ads

Kang Arul
the authorKang Arul
Dosen, jurnalis, dan penulis. Saat ini selain menjalani profesi sebagai dosen di berbagai perguruan tinggi, ia juga merupakan konsultan untuk konten digital di berbagai perusahaan, lembaga/kementerian, maupun perorangan. Profil lengkapnya sila klik http://www.kangarul.id

197 Comments

Leave a Reply

error: Content is protected !!