FoMO, Penyakit Blogger yang Berbahaya

By -

Baru dapat hadiah ngeblog, Tweet!

Baru dapat goodiebag, bikin status FB!

Apalagi… dapat doorprize misalnya iPhone 6S… wuih penuh itu akun medsos dengan kata-kata “berkah ngeblog”.

I
tu belum seberapa… bayangkan seandainya ada blogger diundang ke sebuah acara: mulai foto bangun, pakaian, barang yang disiapkan, naik angkot, tiba di depan pintu acara, sebelum acara, di tengah acara, di akhir acara, sampai saat mau menikmati hidangan pun before-after-nya diupload di Path dan Istagram.

Secara sederhana adalah pernahkah pamer angka Klout, angka Alexa, angka DA, angka PA, dan angka-angka lainnya yang menyangkut blog kita? Pernahkah merasa ingin selalu hadir di acara-acara yang mengundang blogger? Pernahkan merasa ‘bagaimana gitu’ karena setiap posting blog tidak ada komentar atau komentarnya sedikit?

Tidak sesekali dan jarang, tetapi sering.

Ingat: hal-hal di atas baru pertanda sederhana dari penyakit blogger ini…

Jika jawabannya YA, maka bisa jadi kita sedang terkena penyakit blogger. Penyakit yang biasanya disebut-sebut sebagai “pamer” prestasi blogger di dunia virtual. Bukan karena pamernya (yang lebih dekat ke narsis sebagai sebuah gejala psikologis), melainkan karena ingin dianggap kekinian atau seperti blogger pada umumnya itu.

Berbeda dengan menunjukkan prestasi, pamer dalam konteks ini adalah untuk mengikuti atau seolah-olah ia bisa menjadi blogger seleb idolanya yang sering mendapat hadiah atau berkah dari ngeblog. Seolah-olah ia merasa tidak ketinggalan kekinian dan menganggap pamer prestasi itu sebagai bagian dari pekerjaan menjadi blogger.

Atau jika tidak atau belum sadar, maka dalam kondisi sadar dan dari hati yang terdalam pernahkah kita “merasa iri” dengan deretan prestasi blogger lain di media sosial? Rasa yang begitu luar biasanya sehingga ketika kita mendapat sesuatu dari blog, pertama kali yang kita lakukan adalah upload di media sosial.

Kalau saya, sih, iya. Dan mungkin sampai saat ini saya tidak mengerti sudah stadium berapa. Saya bahkan jujur mengakui sebagai penggiat media sosial dan sekaligus peneliti cum akademisi yang meriset media sosial dan terlibat di dalamnya, saya sudah terserang penyakit FoMO…

FoMO ? Yup… Fear of missing out atau bahasa sederhananya sindrom takut kehilangan (ketinggalan). Penyakit ini sudah mulai ramai dibincangkan di antara peneliti media sosial, terutama prilaku penggunannya. Uniknya pengidap FoMO tidak sadar apa yang hilang dari dalam dirinya. Yang pasti ia tidak bisa menguasai diri atau merasa ketakutan apabila ketinggalan informasi terbaru di internet.

Misalnya, ada orang lain mendapatkan sesuatu atau berprestasi dan mengumumkannya di media sosial, maka ia harus tahu informasi itu. Kemudian jika ia mendapatkan sesuatu dari blog, maka ia langsung menjadi apa yang dilihatnya itu.

Dalam sehari, eh, ambillah dalam satu jam, blogger yang mengidap FoMO ini tidak hanya sekali dua kali melihat layar gawainya, melainkan sering. Setiap bangun tidur yang dicarinya adalah gawai, cek status blogger lain, dan bikin status.

Lebih parah lagi, jika kehilangan atau ketinggalan gawai, maka di hari ini sang blogger merasa ia berada di dunia terasing; ada juga yang stress dan depresi seperti gambaran survei di bawah ini.

Phone-Addiction-Lost-Feelings

Tidak hanya blogger, orang biasa pun sering mengalami gejala ini, gejala takut ketinggalan informasi dan pada akhirnya takut eksistensi dirinya tidak diakui karena seolah-olah tidak menjadi bagian dari kekinian.

Misalnya jika kita sering melihat status di media sosial tentang foto liburan, foto sedang terbaring di rumah sakit, sedang membeli sesuatu, sedang mendapat sesuatu, bahkan sedang makan sesuatu pun di upload. Dasarnya bukan berbagi, tetapi biar dianggap kekinian atau seperti orang lain atau akun-akun media sosial lainnya.

Kondisi di atas menunjukkan bahwa memang benar di satu sisi kita ingin memberi tahu orang lain apa yang sedang dilakukan atau dicapai. Namun, di sisi lain yang lebih psikologis jangan-jangan apa yang dilakukan itu bukan untuk memberi tahu melainkan pamer dan ingin diakui sebagai “orang penting” di media sosial.

Situs https://www.jwtintelligence.com menjelaskan tentang FoMO:

People who grapple with FoMO might not know exactly what they are missing, but can still hold a fear that others are having a much better time or having a much more rewarding experience on the spur of the moment.

Definisi FoMO menurut kamus Oxford:

FOMO - definition of FOMO in English from the Oxford dictionary 2016-01-04 07-07-07

Dalam kajian Psikologi, FoMO merupakan level terendah kebutuhan psikologis akan kepuasan dan sekaligus pengakuan akan kepuasaan itu. Teori ini dekat dengan kajian tentang Teori Determinasi Diri (self-determination theory) yang menurut  tulisan dari Deci & Ryan (1985) teori ini muncul dari kondisi psikologis di mana seseorang membutuhkan pengakuan dari orang-orang yang sebenarnya tidak terelasi atau terkoneksi dengannya.

Dikaitkan dengan FoMo, bahwa orang-orang yang ada di sekitarnya sering memberikan pengalaman yang tidak diharapkan. Bisa jadi di dunia nyata orang itu tidak mendapatkan penghargaan dan penghormatan yang selayaknya. Oleh karena itu, seseorang yang “mengidap” FoMO akan mencoba masuk ke dalam situasi dan atau lingkungan orang lain yang baru di mana ia tidak kenal atau ada hubungan sebelumnya; salah satunya melalui media sosial.

Sebuah riset bahkan menyebutkan bahwa kondisi FoMO muncul karena kurangnya kebutuhan psikologis seperti cinta dan penghormatan. Di dunia perbloggeran, kondisi ini bisa muncul karena adanya rasa iri terhadap blogger lain dan mengira bahwa capaian-capaian tersebut adalah sebuah standar sehingga harus juga dipenuhi.

Jelas ini adalah penyakit blogger.

Penyakit Blogger

A
pakah FoMO berbahaya? Secara psikologis sebenarnya hal ini bisa membahayakan. Bahkan menurut Catherine Chen, Ph.D  maupun Gabriel Mizrahi  FoMO bahkan bisa ‘membunuh pengidapnya. FoMO yang akut bisa menyebabkan depresi dan menimbulkan penyakit mental lainnya.

Bahkan menurut Claire Cohen, apa yang dilakukan oleh pengidap FoMO sebenarnya hanya mengejar simbol status sosial di dunia virtual. Uniknya, FoMO ini muncul karena ada keinginan untuk menjadi apa yang juga dicapai oleh orang lain atau ‘personal brand’. Sebuah pengejaran fatamorgana yang tidak akan terwujud dan juga hanya terjadi di dunia online saja.

Keinginan yang kuat untuk mengumbar “berkah-berkah” di medsos itu salah satu pertandanya. Jangan-jangan sebenarnya kita, blogger, sudah mengidap “penyakit” ini sejak lama…

Di awal bulan di tahun 2016 ini, saya mencoba menulis seri tentang FoMO ini, tentang penyakit blogger ini…

Untuk mengetahui media sosial dalam berbagai perspektif, bisa baca buku terbaru saya.

Media-sosial

Referensi

Catherine Chen, Ph.D (06 Februari 2014) The Fear of Missing Out — and How It’s Killing You, dari http://www.huffingtonpost.com/catherine-chen-phd/the-fear-of-missing-out-and-how-its-killing-you_b_5432120.html

Claire Cohen (May 16, 2013), “FoMo: Do you have a Fear of Missing Out?”, The Daily Telegraph dari http://www.telegraph.co.uk/women/womens-life/10061863/FoMo-Do-you-have-a-Fear-of-Missing-Out.html

Deci,E.L.,& Ryan,R.M. (1985), Intrinsic motivation and self-determination inhuman behavior, Plenum Press

Gabriel Mizrahi (04 November 2014), “Could Your FOMO Kill You?” http://www.huffingtonpost.com/gabriel-mizrahi/fomo_b_5130364.html

Kristi Hedges (27 Maret 2014), “Do You Have FOMO: Fear Of Missing Out?” dari http://www.forbes.com/sites/work-in-progress/2014/03/27/do-you-have-fomo-fear-of-missing-out/

https://en.wikipedia.org/wiki/Fear_of_missing_out

http://www.oxforddictionaries.com/definition/english/fomo

http://www.huffingtonpost.com/news/fear-of-missing-out/

http://www.huffingtonpost.com/2013/08/02/fomo-fear-of-missing-out_n_3685195.html

http://psychcentral.com/blog/archives/2011/04/14/fomo-addiction-the-fear-of-missing-out/

Customer Account Ads

(2794)

Jurnalis-Penulis-Traveler merupakan tiga rangkaian kata yang bisa menjelaskan siapa saya, selain sesekali menjadi dosen tentunya. Telah menulis 100-an judul buku. Sering memberikan pelatihan terkait PR 3.0, digital media, dan komunikasi di berbagai institusi. Selain di blog ini, ia juga memiliki weblog di www.kangarul.com dan www.dosenkomunikasi.com

197 Comments to FoMO, Penyakit Blogger yang Berbahaya

  1. Saya agak bingung FoMO ini “menyerang” orang yang sering pamer di medsos atau orang yang iri karena melihat orang pamer di medsos?

    Jujur sikap ini saya alami, kapan saya dapat segitu yah? atau kenapa saya ga dapat dan dia dapat? Ini saya rasakan sekitar satu atau dua tahun belakangan…..

    Katanya pamer itu juga bisa jadi pemicu agar termotivasi tapi saya pernah malah tidak pernah termotivasi dan lebih putus asa,

    “ya udahlah itu rejeki dia”

    Kalau menurut saya mungkin lebih ke perasaan “kalau orang lain bisa kenapa saya enggak?”

    Permasalahannya tidak semua orang mendapatkan penghargaan atau rejeki yang sama

  2. Wah… saya banget ini. Saking gak ingin terlupakan, saya malah sering update status disisipi #berkahngeblog.. padahal dapet dari suami, tetangga atau malah besek kondangan hahaha. Penyakitnya udah parah banget ini mah :))

  3. Wah bisa jadi reminder nih. Memang awalnya mau berbagi kesenangan karena telah mencapai sesuatu. Tapi kalo berujung jadi penyakit, serem juga ya. Hehehe.

  4. Yah begitulah dampak dunia maya ya, Kang. Jaman dulu paling iri2an itu antar tetangga. Tetangga beli kulkas 10 pintu, dia beli 100 pintu. Sekarang hatta si A di kota lain, di negara lain, si B bisa tahu dia beli kulkas 1000 pintu. Hihi. Tapi ya ada baiknya sama2 menjaga supaya personal branding yg dibangun tidak membuat orang lain merasa sedih, apapun bentuknya, dan si orang lain itu paham bahwa si dia lagi personal branding, bukan lagi pamer. #selfreminder jg utk saya. 🙂 TFS ya.

  5. Kalo sebaliknya gimana kang? Kadang saya gak PD untuk posting-posting ‘keberkahan itu’. selama ini jika dapat berkah gak di share sama sekali. Cukuplah disimpen diblog tanpa dishare di medsos.

    Serasa nyambung dengan status saya kemaren tentang refleksi di tahun 2015. Apakah FoMO juga bagian dr penyakit kerendahdirian diri kang? Untuk menyembunyikan kelemahan atau ketidakmampuannya di masa lampau lalu dia posting sesuatu yang seakan2 wah dan hebat. Sehinggo merk sesungguhnya di dunia nyata di mark up (hyperreal) melalui dunia maya.

    Sepertinya seri lanjutannya jangan lama2 kang biar gak loss hehe

  6. Pamernya sekali kali doang. Ya eyalah… Dapetnya cuma sekali2 hahaha.
    Mudah2an terhindar dr FOMO inih…kadang2 tujuannya sekedar ngeboost semangat diri ajah. Ternyata bisa berbahaya ya scr psikologis.
    Hmmm harus bs menahan diri niih

  7. Saya masih baru dalam mengenali dunia blog. Dan belum pernah mendapati penghasilan dari blog saya. Semoga saja, jika mendapati keberkahan dari blog, tidak seperti yg diceritakan diatas.

  8. Wkwkwkwk…. aku pernah bljr ttg hal ini juga dan suka merhatiin org2. Ujung-ujungnya, kl udah pada rame pamer di medsos atau grup, aq matiin notifnya dan mute.
    Bukan apa-apa sih. Bagi aq itu mengganggu bgt. Kl ga pamer terkenal, malah pamer diri paling berjasa, atau malah -yg ingin aku tulis-, pamer diri paling menderita.
    Hadeeh, capek dweh. Males bertemen sm org2 kyk gt.

  9. ternyata sesuatu..itu selalu menyangkut keadaan psikologis seseorang ya….

    ada…alam bawah sadar… ternyata disebut sebagai “penyakit”

    kadang perasaan itu ada…. semoga masih stadium 0,00000000000000000000001 hahahaha….

    tapi tergantung niat seseorang itu…hnya Allah yg tau..kita ga bisa langsung tunjuk..: ni fomo..ni orang..hi2

  10. Keren ulasannya, referensinya oke banget.
    Haiya, saya belum dapat “berkah ngeblog” nih belum dapat hadiah dan uang 🙂

  11. Bagus , Suhu.
    Dulu orang punya penyakit menimbun (hoarding) , apa apa disimpan.

    Sekarang malah apa apa dibuka.
    Memang , kebutuhan aktualisasi sekarang bukan di puncak spt kata piramida Maslow. Tapi malah kebutuhan dasar

  12. Jadi bahan introspeksi, lagi mau pamer atau branding hmmm.

    Kang Arul salam kenal, boleh oot? Dpt jurnal2 international yg free bagaimana caranya?

  13. Sepertinya sy jg sudah terserang FoMO. Untungnya, karena sy punya banyak keterbatasan, serangan itu tidak akut. Semoga. Terima kasih atas pencerahannya, kang arul!

  14. Aku kadang suka kepoin orang yang pergi jalan2…
    Kalo ga gitu gimana aku tahu tempat yang bagus untuk kita kunjungi. Smoga teman2 yang suka pamer tempat2 bagus di sosmed ga termasuk penyakit FoMO…hehehe.

  15. Gak pernah pamer kang. Mau pamer malu, lah dapatnya segitu doank. Sementara ini medsos malah sering dipakai buat share postingan. Siapa tahu ada yg tertarik baca 😀 *blogger miskin pembaca

  16. Awalnya sih saya bingung, ini yang kena penyakit fomo orang yang suka pamer prestasi blognya atau orang yang selalu merasa resah+iri kalau lihat kesuksesan blogger lain. Tapi sepertinya keduanya berkaitan yaa. Bisa jadi dari yang awalnya iri dengan prestasi blogger lain, kemudian saat sekali saja menang atau dapat apa gitu dari ngeblog langsung deh semua medsos dibombardir dengan berita kemenangannya tersebut. Gitu ya kang?

    Apa heboh banget saat menang lomba dan kalem plus sembunyi saat gagal di suatu lomba juga termasuk? *kemudian ngaca*

  17. Hmm…. FoMO ya. Baru tahu yang begituan namanya FoMO. Untung saya blogger yang tidak berprestasi, jadi aman deh dari upload-upload pengen pamer. Hahaha

  18. Saya ini penikmat diam-diam blog Kang Arul meski gak pernah koment.Tapi tiap mau buka facebook comment moderation tools pasti klik blog Kang Arul yang ada postingannya itu.Soalnya males dan gak hafal postingan fb comment moderation.Itu buat blog saya yang satunya.

    Alhamdulilah sepertinya saya jarang sekali pamer.Soalnya kalau mau pamer itu pasti mikirin perasaan saudara-saudara jauh atau teman-teman yang gak ngerti maksud kepameran saya untuk branding.Kalau temen blogger mungkin ngerti.Tp teman fb kan beragam.Jadi jarang pamer sejak tiga tahun lalu.Hehe..

  19. Saya juga sdh terjangkit virus fomo karena suka ngaplud fotoapasaja hehehe…tapi repot juga karena umumnya yang saya aplud itu adalah reportase yg suatu saat (kalau sempat) saya kembangkan jadi tulisan panjang di blog hehe….

    artikek menarik kang, terutama referensinya dahsyat, ditunggu tulisan berikutnya…..
    Salam…

    http://www.nurterbit.com

  20. Aku sering ngeshare hadiah atau ‘berkah berkah’ itu di sosmed, karena buatku (dari pengalaman), itu membuka banyak peluang dan kesempatan baru buat aku. Jadi berkah melahirkan berkah. Karena pamer kan, orang-orang jd tau kita bisa apa, pinter dalam bidang apa, bisa dikasih kesempatan apa.

    Apakah ini termasuk FoMo? Kalau iya, brarti aku malah seneng kena FoMo x))

  21. Kalau upload foto di instagram sudah berkurang upload foto sendiri. Kadang status masih suka kebawa-bawa. Tapi levelnya udah berkurang

  22. Kalau saya mungkin sekedar berbagi pengalaman mas sekedar memotivasi teman dan “Pamer” prestasi hanya untuk hal hal yang sulit dicapai untuk blogger kebanyakan misal daftar adsense susah begitu saya bisa diterima saya bagikan tuh info tersebut maksudnya sih biar yang lain tetap semangat untuk mencoba tapi kalau untuk hal hal kecil trus dipamerin sih “norak” deh.Salam kenal mas

  23. Kalo aku dulu iya, sering iri sama yang didapat blogger lain. Tapi itu malah jadi motivasi supaya aku bisa lebih baik lagi, jadi punya keinginan untuk belajar dan bukan sekedar iri 😀

  24. begitu baca langsung pengen komen “wowww ada nama penyakitnya juga ya” 😀 Sadar sih agak terjangkit penyakit butuh eksis. baru tahu kalo namanya FoMo. Ma’kasih info nya *langsung nelen obat biar ga makin parah*

  25. Beberapa tahun yg lalu waktu awal2 booming socmed mungkin iya, tapi bbrp tahun belakangan ini sdh agak menurun gejala Fomo saya krn kesibukan yg padat jd aktivitas ngeblog kini mengalir saja seperti air, kalau dpt rejeki ya ‘Syukur’ kalau ngga dpt ya ‘Sokor’ kwkwkw

    Nice post Kang….

  26. Waah saya udah akut banget ini, lha gimana profesi sebagai blogger menuntut kita untuk sering-sering share mulai dari foto hingga tulisan.Apalagi kalo hubungannya sama job review harus disharing karena tujunnya mempromosikan brand yang kita ulas. Saya rasa ini tergantung niat masing-masing dan hanya diri kita dan Allah sajalah yang tahu isi hati kita.

  27. Udah FoMO, nge-seleb pula, itu yang gawat. Anti kritik, nge-sosial dengan yang berada di lingkarannya saja, atau di tingkatan tertentu nggak peduli. “Elo mau apa, gue mah seleb!”

    Soal pamer nggak pamer, proporsional aja. Walaupun ya kadar masing-masing orang beda. Cuma kalau selalu mikirin anggapan orang lain, ya susah juga. Ibarat kata, kalau ngehadapin yang sirik bin dengki, kentut nggak sebau hari kemarin pun mereka bisa iri 🙂

    Jika memamerkan sesuatu sebagaimana tuntutan partner (perusahaan yang mengajak kerja sama) ya sah-sah saja menurutku.

  28. Semoga saya dihindarkan dari penyakit Fomo.
    Sebenarnya tidak semua yang pamer itu Fomo, Kang. Bisa saja pihak penyelenggara lomba atau siapapun yang memberi sesuatu kepada blogger diminta upload ke social media. Pinter-pinternya blogger menjaga niat aja sih hehe.. menurut saya lho, Kang 😀

    • Kalo buzzer beda dengan FoMO. FoMO itu penyakit atau kelainan mental… Kalo buzzer itu kebutuhan dan kewajiban biar dapur ngebul… Saya juga mau dong jadi buzzer

  29. iya skrg ini lagi banyak Fomo 🙂
    semoga jadi intropeksi saya yg masih pemalu, dan masih bingung gimana mau personal branding yg anggun, hehe

  30. Kadang pengin pamer begitu, tapi apalah aku ini. Blogger yg enggak punya prestasi segudang seperti yg lainnya. Ketimbang nggak ada yg ngelike, mending enggak usah dishare. ??

  31. Saya pengidap FoMO aktif, tulen 🙂
    Tapi saya fine-fine aja 😀 ^_^
    Yang muak mual di timeline biar unfollow aja 🙂

  32. Alhamdulillah belum kena…lha gimana mau pamer, apa yang mau dipamerin? belum pernah dapet apa-apa dari ngeblog..hahaha…*siapa tahu habis komentar gini malah dapet banyak, terus kena FoMo langsung tahap akut. Amit-amit lah…

    E tapi jujur kalau IRI kadang iya Mas..hehehe..bukan IRI sih, tapi pengen ngerasain apa yang dirasain sama orang lain. Tapi ya sudahlah…sekarang udah baca tulisan ini, bisa siap2. Kali aja kelak jadi blogger femes trus terserang FoMo :))

  33. Semoga kita dijauhkan dari penyakit seperti ini, karena jiwa manusia itu siapa yang tau kecuali dirinya sendiri dan Allah ta’ala…

  34. Waduuhhh …
    Termasuk golongan Fomo gak ya … Hihihihi

    Apa iya setiap aktivitas yang kita lakukan lalu share ke medsos ada indikasi fomo juga ?
    antara eksis dan fomo ?
    Hhhmmm, beda atau sama ya … Heheheheh

  35. Kadang saya share hobi, kegiatan dan pencapaian. Sah-sah saja menurut saya. Niatnya juga bukan untuk pamer yang riya tetapi pamer yang menginspirasi. Jika ada sesama pemusatan di kota saya (yang sering saya kunjungi dan ikuti komunitasnya) bertanya, saya jelaskan berkah ngeblog yang tak terhingga. Alhamdulillah saya jadi bisa bikin kelas gratis sinau ngeblog di perpusda. Berkah beneran karena menginspirasi, kan?

    Fenomena Fomo ini memang sedang trend dan dituduhkan pada penggiat medsos akut. Karena blogger salah satunya, mungkin artikel ini bisa jadi pengingat juga. Yah… meski kadang diingatkan itu sakit. Tetapi… mungkin memang kata blogger (bukan penggila socmed) memang kurang adil, karena bukan hanya blogger yang melakukannya.

  36. mungkin kalo sekali-dua kali fine2 aja ya? Alias nggak FOMO …

    Aduh ini kuatir typo ngetiknya hehe

    Artikelnya selalu sarat pendalaman – makasih kang Arul

  37. FoMO, istilah yang baru saya tau…
    Terima kasih Kang Arul, sudah berbagi tentang apa itu FoMO.
    Semoga kita tidak terjebak dalam FoMO ya…

  38. #selfreminder banget, tfs kang. Karnanya mulai kemarin2 saya selalu inget kembali tujuan ngeblog di setiap saat hendak memosting sesuatu bahwasanya “sharing is caring”.
    Semoga tulisan yg saya, kamu, kita buat bisa bermanfaat buat pembaca di sana ^^

    Btw mas2 di youtube kece jugak *eloooh :)))

  39. eh tapi iri ke arah positip boleh donk ya?
    saya bbrp kali juga iri tapi juga ikutan seneng kalau ada tmn sukses dalam dunia perblogan
    irinya lbh ke arah memotivasi diri juga supaya ikutan berkarya hehehe

  40. FoMO, jujur ini hal baru bagi saya. Kagak nyangka juga ternyata ada juga penyakit model seperti ini. Kalau melihat diri sendiri, mungkin, mungkin, mungkin, saya baru kena gejalanya aja (mirip tipes dan gejala tipes). Mudah-mudahan tidak sampai deh. Aminin kang…

  41. Yap setuju. Saya sama beberapa teman sering ngobrolin ini. Penting nggak sih apa yang kita share? Bermanfaat atau nggak? Dan kebanyakan sih buat “pamer”. Kalo lihat postingan orang lain bawaannya jadi ‘iri’, jadi suudzon bilang “dia mah suka pamer ya” padahal yng mosting cuma pengen berbagi. Jadi gimana dong kang? Haruskah saya deactive fb saya? hahha, nnti nggak dapet job :p

  42. Punten, Kang Arul.
    Saya rada bingung baca artikel ini. Udah baca ulang sampe 3 kali saking penasaran, malah makin bingung. Jadi FOMO ini menyerang “orang yang blingsatan ngeliat orang lain posting sesuatu yang “KEREN” di socme” atau “orang yang suka ‘pamer’ sesuatu di socmed”? Ini dua hal yang berbeda.
    Sedangkan di referensi yang Kang Arul sampaikan, pengertian saya, FOMO ini menyerang tipe orang yang pertama. Artinya, dia blingsatan sendiri dan kelojotan aja ngeliat orang lain posting keriaan dan rejeki yang didapat orang lain. Dan ini didukung dengan referensi dari Kang Arul sendiri di paragraf selanjutnya: di mana pengidap FOMO bisa mengalami depresi dan penyakit mental lainnya. Nyambung.

    Yang bikin bingung, di paragraf selanjutnya, kenapa jadi FOMO ini penyakitnya blogger yang (katakanlah) suka pamer prestasi dan hadiah2 menang lomba blog atau job buzzer dll dsb? Jadi sebenernya maksud Kang Arul itu, yg sakit itu, yang pamer atau yang blingsatan liat orang pamer di socmed? #gagalpaham 🙁 *otak gak nyampe*

    Last one, saya paham kenapa Kang Arul menyebut FOMO ini sebagai penyakit blogger (walaupun masih belum paham, blogger yang mana, terkait pertanyaan di atas), karena Kang Arul membahas dari kacamata blogger tentunya (sebagai blogger ngehits abad ini). Tapi kalau baca dari referensi Kang Arul, ini bukan semata penyakit blogger, melainkan penyakit warga social media, yang notabene isinya bukan cuma blogger. Hehehehe.

    Terima kasih ilmu barunya. Jadi dapet istilah baru, FOMO. Kita bikin komunitasnya aja apa, Kang? :)))

    • Itu dua sisi mata uang mbak. Awalnya bisa iri atau karena keseringan bikin status.

      Pertanyaan kedua rasanga sudah pas jawabannya. Tidak hanya blogger tapi warga internet khususnya medsos. Cuma ya itu tadi karena saya mencoba mengupas dunia blogger

  43. Waduh gagal nih jadi psikiater kLau waktu mau ikut tes ppds aja udah kena FoMo. Tapi sejauh itu tidak mengganggu kerjaan di dunia nyata, waktu luang, sosial, dan masih bisa membedakan mana fantasi dan kenyataan, its okay. Btw berkah ngeblog saya tahun ini apa ya?

  44. “Pernahkah merasa ingin selalu hadir di acara-acara yang mengundang blogger? Pernahkan merasa ‘bagaimana gitu’ karena setiap posting blog tidak ada komentar atau komentarnya sedikit?” —-> *jleb* kena banget. Balada blogger yg jarang di undang dan jarang yg komentarin blogpost.

  45. Kayaknya sayaaaa… hmmm… aduh FOMO gak sih guweh?? Mending nyetok obat anti FOMO dulu dah sebelum tetiba akut.

  46. Berbagi sama pamer memang tipis ya batasannya. Tapi semua tergantung niatnya aja deh 🙂

    Duh aku FOMO gak ya? Fear Of Monday mOrning sih yang jelas #buangkalender

  47. kalo FOMO slalu update status ato foto apapun di medsos, berarti aku ga termasuk kyknya :D.. justru aku jrg mengupdate status di twitter, fb ato medsos2 lain… pamer DA, klout dan nth apalagi itu, lebih2… ngerti juga gak ngeliatnya gimana :D.. buatku sih, blog itu pelampiasan utk nulis aja.. bukan utk nyari duit, krn kerjaan di kantor udh lbh dari cukup menghasilkan ;D

  48. Bisa, bisa jadi. But somehow memang ada yang harus posting di sosmed setelah kita menerima sesuatu kan.. Di dunia beauty blogger sering nya seperti itu sih kang, dan tergantung yang endorse or brand nya juga.

  49. Sepertinya saya mulai mengalami gejala Fomo. Bahkan saya sampai dua kali menulisnya di Blog. Lebih ke yang minder, sih, bukan pamer. Duh. Bisa jadi pembelajaran biar nggak terjerumus lebih jauh lagi, nih.

  50. Hiduup FoMo…

    Kalo di dunia internet marketing itu adalah sebagian dr pada teknik promosi, ngebranding ya, biar percaya klien dengan penampakan berupa skrinsut2 $$$, harta benda, dan pencapaian yg diraihnya.

    Tapi..
    sekarang mulai merambah di Blogger, skrinsut2 job ripyu, gudibek, dll.
    Ahh..Aku paham , sebut saja kata kang arul penyakit blogger. Sah2 aja …
    Mari kita memandang dr sudut mana menilai.

  51. Aku biasa2 aja kalo ada yang pamer ” berkah berkah” itu. Jadi bikin semangat ngeblog. Tapi kadang, kalau mau pamer trus ada tulisan “berkah ngeblog” nya itu jadi mikir, jangan2 malah nggak berkah.

  52. Aku kayaknya rada FoMO. Lebih ke rasa nggak mau kalah sama yang lain. Tapi abis itu mawas diri lah. Usaha orang lain buat sukses itu berattt, masak mau iri sama suksesnya aja, tapi nggak mau repot2 jatuh bangunnya? Hehe..

  53. semua kan tergantung niatnya, kang. kita niatnya baik2, trus yg baca udah punya maksud jelek. ya udah, jelek jadinya..

    kan, AKU INI SEPERTI APA YANG KAU PIKIRKAN. KALO PIKIRANMU BAIK, MAKA BAIK PULA AKU. KALO PIKIRANMU BURUK, MAKA BURUK PULA AKU.

    saya mah, let it flow ajaa.. ga ngrus orang mau ngomong ini itu, yg tau saya gimana, ya hanya saya, keluarga dan Tuhan yang tahu.. gak perlu menJUDGE orang dengan tulisan apa lagi memberi label macam2..

    Apalagi, skrg banyak yg jadiin BLOG sbg pekerjaan utamanya, jadi saya anggap itu tuntutan dari agency atau pemberi job untuk ‘pamer’ di sosmed. ENDORSE itu, juga termasuk kan.. Termasuk hadiah lomba. Karena di sana mengandung ‘titipan’ iklan. Jdi, pemenang wajib ngshare di sosmednya..

    #BerkahNgBlog

  54. Kayaknya menarik nih utk bahan penelitian lebih lanjut. Misal, mekanisme hormonal apa yang terjadi saat terserang sindrome FoMO. Apakah adrenalin naik, serotonin turun dll…

    Btw, sama nggak kasus fomo ini dg semacam ini… krn masa muda kurang bahagia, seorang nenek masih saja kena euforia saat ada pertunjukan layar tancap mampir di desanya…?

  55. heheheh…. ya ya ya…
    kalo saya pamer prestasi dengan tujuan agar orang lain tertarik dg pencapaian saya apa itu termasuk fomo gan?

  56. Saya baca postingan kang arul yg ada test FoMO nya pas saya coba ternyata saya di batas 0 pengidap FoMO dan itu sesuai sama sifat saya yg nggak suka share2 suatu hal kecuali pencapaian yg bezarrrrrr ehehhhe

  57. kalo saya komen di sini dianggap penyakit numpang tenar gak ya? semua udah dikuliti di sini, saya mah blogger biasa. sesekali pamer, sesekali narsis, makanya hasil Fomo test saya masih wajar, belum akut

  58. semakin mudahnya internet, dan semakin banyak penyakit narsis.. narsis kan macam2 ya.. pokoknya intinya pamer… pamer beli tas baru, pamer liburan, pamer beli motor baru, pamer dapat hadiah.. dll…

    Tapi akhirnya kasian sama orang lain yg malah jadinya iri, trus maksain diri buat ikutan liburan, pergi umroh, beli mobil baru, dll tapi maksa, dan pake ngutang2 lagi… demi pingin ikutan seperti teman2 lain yg di medsosnya.
    Semoga ga kayak gitu ya…

  59. semua tergantung captionnya.. 😀
    kalo ‘monoton’ gak informatif atau memberi ajakan dan jika dilakukan terus menerus itu menyebalkan..

    saya malah lebih suka status yang nggambus daripada status informatif seperti: ‘muncul jerawat nui, cebel deh’.. hahaha 😀

  60. Kayaknya saya kena juga, Kang. Mudah2an masih level rendah. Saya pernah bertahun2 di-bully, sampai depresi habis, sampai rasa percaya diri saya terkikis habis dan tidak bisa menghargai diri sendiri.
    Tapi kini, saya tidak mau masuk ke tahap yang sebentar2 upload status mengenai kegiatan keseharian. TFS.
    Bukunya bagus, pengen baca. Ada giveaway-nya, tidak, Kang? *eh* 🙂

  61. ahahhaha..kayaknya saya terkena gejala ini deh…tapi masih sangat sangat ringan 😀
    meskipun belum pernah mendapatkan prestasi dari blog tpi saya merasa sudah sangat bangga memliki blog pribadi 😀

  62. Ternyata ada namanya ya… cuma kadang kalau liat orang yang terlalu update suka bingung aja sih hehe kok bisa ya update banget. Tidak taunya orang2 sperti itu dekat2 dengan penyakit fomo

  63. owwh walah baru tau hal macam ini sudah dikategorikan penyakit. Istilahnya Fomo. Hmm distraksi sosial media, inflasi informasi.

    salam..

  64. ahaaaaiii terkadang ada yang share katanya sebagai motivasi buat yang lain mas. Jadi motivasi dengan FoMo dibatasi dengan kertas yang tipis ya mas 🙂

  65. Sure, saya bukan FoMO kalau begitu ya hehe. hape hilang malah enjoy aja. ogah-ogahan buka fesbuk. Ayo dilanjut penelitiannya Kang, karena FoMo udah kayak epidemi dan bisa akut juga kayaknya. Hehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *