Dunia Hitam Blogger

By -

Oke… untuk mengawali tulisan ini saya akan menyampaikan ucapan terlebih dahulu: “Selamat Hari Blogger Nasional” Mohon maaf lahir dan bathin dan semoga di hari yang ngeblog ini dunia per-blogger-an tanah air semakin ramai dengan tulisan-tulisan yang santun, berkah, dan berilmu.

Jujur. Butuh waktu lumayan lama untuk menulis konten ini. Apalagi dengan judul yang rada seram ‘Dunia Hitam Blogger’, bisa dipastikan konten ini akan banyak menyinggung orang, membuat benci, bahkan melukai yang sakitnya tuh di sini (sambil nujuk dada sebelah kiri). Namun, sebagai akademisi sekaligus praktisi per-blogging-an, rasanya saya harus menyampaikan hal-hal yang menurut pandangan saya perlu diketahui oleh khalayak blogger.

Setidaknya ada tiga hal yang akan menjadi perhatian dalam konten ini. Ketiganya merupakan intisari dari riset saya soal blog yang sudah saya lakukan sejak tahun 2006 yang berujung pada penyelesaian disertasi di jenjang pendidikan S3. Awalnya naskah disertasi saya itu menyentuh angka 700-an halaman, akan tetapi di kemudian hari terpangkas menjadi sekitar 170-an halaman saja. Nah, sebagian hasil riset dan sisa halaman itulah yang coba saya sampaikan di sini.

Pertama, jangan percaya dengan tulisan di blog. Mengapa? Ini adalah pernyataan yang bagi saya sangat sederhana dan sedikit provokatif. Ada pergeseran paradigma dari blogger di tanah air ini soal konten yang akan dan sudah dipublikasikan. Contohnya bisa dilihat di blog yang ‘menempel’ pada media mainstream dalam pengertian media konvensional-digital yang menyediakan fasilitas blog dengan embel-embel jurnalisme warga. Banyak ditemui bahwa tulisan itu tidaklah murni hasil pelacakan, peliputan, dan pengalaman si pemilik akun. Konten yang dikreasikan tidak lain hanyalah hasil sulaman dari informasi, berita, dan konten lainnya yang tersebar di dunia maya; yang membedakan adalah adalah satu dua paragraf komentar sang blogger di tulisan itu. Selebihnya… Anda bisa melihatnya sendiri di sumber-sumber lain. Belum lagi kalau isinya adalah iklan tersembunyi….

Kedua, blogger adalah ‘anak emas’ dunia periklanan. Sejalan dengan kenyataan di atas,tidak semua menyadari bahwa apa yang ditulis oleh sang blogger dan apa yang dilakukan oleh blogger sebagai user experiences murni. Apalagi menyangkut sebuah produk, jasa, atau jualan merek-merek tertentu. Sejak awal 2010 para penguasaha, manager PR perusahaan hingga dunia periklanan banyak yang melirik blogger sebagai word of mouth atau viva voce mereka. Sederhana saja alasannya karena “harga” blogger yang sangat “murah” bahkan (menurut pengakuan di konten salah seorang blogger) ada yang rela dibayar Rp20.000 untuk melakukan “kerja” review. Nah, si ‘anak emas’ ini akan selalu menjadi idaman perusahaan iklan. Kalau ada job, maka yang diundang selalu itu-itu saja.

Efek dari ‘anak emas’ itu adalah, ketiga, terbentuknya ‘jaringan mafia’ di antara blogger. Jaringan ini memang tidak terlihat secara kasat mata apalagi terbuka. Tetapi modusnya mudah ditebak, jika ada perusahaan atau lembaga yang mengadakan kuis, maka si pemenangnya berputar di situ-situ saja. Kalau ditanya, jawabannya karena yang bersangkutan memiliki follower banyak, komen di statusnya selalu di atas angka 500-an, dan dia masuk kategori ‘seleb blog’. Tetapi itu masih dianggap sedikit wajar, toh, bagi saya asal kontennya bagus dan jangkauan (reach) pembacanya banyak tidak ada salahnya memenangkan ‘teman’ sendiri di komunitas blogger. Namun, ini yang bikin mau nabok, hanya gara-gara sering mendapat ‘job’ membuat sang blogger menelantarkan komunitasnya, hanya hadir kalau komunitasnya mengundang acara yang ada doorprize-nya, dan sampai pada titik kulminasinya sang blogger malahmeninggalkan komunitas blogger. Istilahnya hanya menggunakan komunitas dan atau organisasi blogger sebagai batu loncastan.

So, di hari yang bagi blogger istimewa ini…. tidak ada salahnya untuk bertaubat. Kembalilah wahai blogger ke dunia putih. Kalaupun ada blogger yang masih di dunia hitam, ya, menurut saya sah-sah saja. Tidak ada larangan menggunakan blog-nya untuk menjadi ladang mata pencarian dan biar asap dapur bisa ngebul. Hanya saja, ini catatan merah saya, ada etika dan kejujuran yang harus tetap dipegang. Karena menjadi blogger itu adalah istilah yang mulia di dunia siber. Lihatlah beberapa peristiwa di dunia memiliki kontribusi seorang blogger di dalamnya. Kontribusi blogger yang tanpa bayaran itu mau membagi informasi kepada dunia bahkan dengan taruhan keselamatan dirinya sendiri. Blogger sudah dipandang sebagai kekuatan kelima setelah eksekutif, yudikatif, legislatif, dan press. Jangan sampai blogger terjerumus, secara sadar mauapun tidak sadar, dan apalagi sebagai pemicu yang menyebarkan kebencian.

Anda, blogger, boleh setuju atau tidak dengan tulisan ini.
Bagi saya… saya tetap menjadi blogger yang pleksibel… (pake p bukan f). Tetap setia nge-blogging, tetep menerima job review, tetap ikutan lomba blog, tapi saya BERETIKA atau setidaknya saya mencoba menuju ke arah itu.

sumber gambar: https://info.examtime.com/files/2013/07/blogging.jpeg

(148)

Bagaimana menurut Anda tentang tulisan ini...
  • Tulisan ini mencerahkan
  • Tulisan ini memberi informasi
  • Tulisan ini provokatif
Total Score

Description...

Jurnalis-Penulis-Traveler merupakan tiga rangkaian kata yang bisa menjelaskan siapa saya, selain sesekali menjadi dosen tentunya. Telah menulis 100-an judul buku. Sering memberikan pelatihan terkait PR 3.0, digital media, dan komunikasi di berbagai institusi. Selain di blog ini, ia juga memiliki weblog di www.kangarul.com dan www.dosenkomunikasi.com

1 Comment to Dunia Hitam Blogger

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *