Hiburan

Derita Mumun

“Gimana kakinya, Bang” tanya Arlen Gibran yang tiba-tiba nongol di kios koran Benny siang itu. Pakaiannya masih putih abu-abu, bertanda tu anak baru saja pulang dari sekolah.

“Lumayan. Tapi untuk saat ini aku belum boleh ngamen lagi,” jawab Benny Siregar.

Arlen nyengir. “Om Togar mana, Bang?”

“Biasalah, mencari jas di Atrium Senen.”

“Jas? Buat apaan?”

“Bah! Macam mana kau ini. Bapakku itu kan mau kawin lagi, makanya dia sibuk sekali selama sebulan ini menyiapkan segalanya.”

“Oh, jadi betul gosip yang beredar di gang kita?”

“Gosip apa?”

“Kalau bapak Abang itu sudah melamar Cicih Ciriwiswati.”

Benny melotot. “Kerbau bengong, kujitak palamu bisa benjol dua tahun kau. Bukan sama nenek ganjen itu, tapi dengan anaknya,” kata Benny kesel.

Cengiran Arlen semakin menjadi. Sore-sore begini dia berhasil ngerjain tetangganya.

“Tumben kau siang-siang sudah pulang. Tak sekolah?” tanya Benny sesaat kemudian.

“Lagi libur. Gurunya rapat.”

“Ah rapat terus, kapan ngajarnya?”

“Habis rapat dong.”

Benny cuma bisa garuk-garuk kepalanya yang gak gatel itu.

“Lagi pula aku memang sengaja datang, mau gunting rambut di Atrium Senen, Bang.” Arlen memegang-megang rambutnya yang belah tengah itu. “Jadi aku minta ditemani.”

“Tumben kau potong rambut?” tanya Benny heran.

“Kan mau kompetisi sepakbola, nih.”

“Bah, apa hubungannya?”

“Jelas ada. Tahukan Ronaldo yang hanya menyisakan setelapak rambut di ujung kepalanya waktu Piala Dunia kemarin, atau David Beckham yang jadi bintang minyak rambut itu.”

“Terus?”

“Ya siapa tahu ada pencari bakat dari tim besar seperti Persija, dan mereka melihat gaya rambutku. Kan lumayan bisa masuk klub sepakbola yang profesional.”

Gedubrak! Mendengar itu Benny pusing tujuh keliling. Apa hubungannya rambut sama keterampilan main sepakbola?

“Bang Ben, temenin ya!”

“Tunggu ya sampai bapakku pulang.”

Lima belas menit kemudian, setelah Om Togar pulang belanja jas, Benny dan Arlen langsung menuju pusat perbelanjaan yang terletak di segitiga Senen itu. Ramainya pengunjung di akhir pekan cukup membuat mereka mewaspadai dompet di kantong masing-masing. Apalagi saat keduanya tiba, pengelola Atrium Senen baru saja menyambut kedatangan rombongan darmawisata dari narapidana LP Cipinang.

Sesampainya di Salon Pony Andrean, kedua remaja tanggung itu tidak melihat wajah Mumun. Bahkan setelah ditunggu pun si pemilik nama asli  I Made Getuk Lamuna itu belum juga kelihatan sosoknya.

Baik Benny dan Arlen tentu saja sama-sama heran. Biasanya Mumun selalu menyambut dengan suka cita kedatangan anak-anak Gang Buntu 13 di tempat kerjanya. Bahkan pernah Mumun menyuruh pelanggannya menggunting rambutnya sendiri hanya karena melihat ada anak-anak gang yang lewat.

Kemana wanita jadi-jadian alias waria itu? Keduanya membatin heran.

“Ceu Mumun sudah tidak kerja di sini lagi sejak dua hari lalu. Dia terkena program perampingan karyawan gara-gara uang dolar naik,” jawab salah seorang karyawan salon yang sempat ditanya Benny.

–oo0oo–

Wajah I Made Getuk Lamuna, alias Mumun, tampak ditekuk kayak dompet akhir bulan. Sejak tadi mantan pegawai salon itu duduk termangu di depan rumahnya, seperti orang baru habis kena setrum. Matanya menerawang. Awan mendung di atas laksana perwakilan hatinya yang sedang dirundung duka.

Ia ingin sekali menangis menghadapi kenyataan hidup yang dialaminya kini. Walaupun dalam penampilan dia sering berlagak bahkan berdandan seperti seorang wanita, akan tetapi kodratnya adalah lelaki. Itu tidak bisa dibantah. Dan karena itu pula ia tidak ingin menangis.

Tapi tetap saja dua butir air matanya mengalir beberapa saat kemudian. Hiks! Dia sesegukan. Apalagi saat melihat lembaran uang di depannya, Mumun semakin sedih. Tidak hanya dua butir air mata kini, melainkan dua ember.

“Ceu Mumun!” panggil seseorang dari balik pintu.

Mumun segera menyeka air matanya. “Siapa, ya?” tanyanya seraya bergegas membuka pintu. “Oo… Dik Khalil Gibran, eh, Dik Arlen Gibran. Tumben pagi-pagi sudah mampir di rumah akikah?”

Arlen senyum. Kebiasaannya untuk menampakkan barisan giginya yang rapih lagi putih itu. “Mau gunting rambut. Eh, tapi bisa kan di sini?”

“Oh tentu dong.” Senyum Mumun merekah indah. Setidaknya ia bisa melupakan tragedi yang menimpanya pagi ini, meski sesaat.

“Dik Arlen tidak sekolah hari ini?” tanya Mumun beberapa saat kemudian.

“Gurunya rapat lagi.”

“Rapat lagi?”

“Iya, ke marin rapat soal kebersihan, sekarang soal ujian, dan besok nggak tahu rapat apa lagi.”

“Enak ya bisa rapat.” Mumun mengusap wajahnya. “Ngomong-ngomong tumben Dik Arlen motong rambut?”

“Persiapan untuk  tebar pesona sama penonton.” Arlen memainkan rambut belah tengahnya itu. “Ada kompetisi antar klub sepakbola nih, Ceu Mumun.”

Mumun melihat senyum Arlen dari cermin. “Oh ya?”

“Jelas bukan? Sebagai seorang penyerang tengah ternama seperti Rud Van Nistelroy, mau tidak mau aku harus berpenampilan baik dan menawan,” kata Arlen sok percaya diri.

“Wah, pasti deh mereka mau.”

Arlen tersenyum kesenangan. Tapi sebentar aja.

“Mereka emang mau. Cuma maunya mau muntah?” sergah Mumun bercanda.

Tawa Arlen langsung meledak. Duooorr! Eh, salah, “Huahaha, ada-ada saja Ceu Mumun ini,” ucapnya.

Mumun tak kalah gelinya.

“Habis ini dikeramas juga ya Ceu, biar wangi,” pesan Arlen.

“Oke,” jawab Mumun.

Dua puluh tujuh menit kemudian.

“Nah, sudah tuh. Potongan rambut model petak sawah,” kata Mumun mengakhiri tugasnya.

Arlen mematut dirinya di depan cermin. Rambutnya sudah tersisir rapih dan sedikit basah karena habis di keramas pakai sampo lidah buaya dan lidah ayam.

“Akikah jamin deh Dik Arlen akan ngetop kayak bintang film.”

Arlen nyengir kuda. “Berapa, Ceu?” Arlen merogoh saku celananya.

“Aduh nggak usah dibayar, akikah kasih gratis buat tetangga-tetangga,” tolak Mumun halus.

“Gak bisa begitu dong, Ceu. Kan Ceu Mumun sudah bekerja, orang bekerja itu selayaknya dapat imbalan.”

“Beneran, akikah senang aja bisa membantu sesama tetangga.”

“Lumayan kan buat nambahin modal,” kata Arlen masih memaksa. Mumun tersentak kaget, apa tetangganya itu tahu apa yang sedang dialaminya? “Siapa tahu Ceu Mumun mau buka salon sendiri, kan sudah tidak kerja lagi di Salon Poni Andrean,” sambung Arlen lagi.

Tiba-tiba mendung itu kembali menyapa kelopak mata Mumun. Dia kembali merasa sedih dengan kondisi yang sedang dihadapinya. “Maunya sih begitu, Dik Arlen, tapi uang simpanan akikah rasanya jauh dari cukup untuk membeli barang-barang. Belum lagi ditambah harus memugar rumah kontrakan ini, itu pun kalau Pak Haji Sapei setuju,” kata Mumun pilu.

“Memangnya kalau boleh tahu, Ceu Mumun kurang berapa?” tanya Arlen ragu-ragu.

“Aih…aih… jumlahnya sedikit. Setelah akikah hitung jumlahnya tak sampai satu setengah juta.”

Arlen manggut-manggut.

“Memangnya Dik Arlen mau bantu pinjemin modal buat akikah?” selidik Mumun ragu-ragu, tetapi ada cahaya harapan di hatinya.

“Nanya saja sih, Ceu,” jawab Arlen.

Mumun yang sudah kegirangan duluan jadi lemah. “Kirain dapat uang gusuran.”

“Nanti deh kalau aku dikontrak sama Manchester United, honornya pasti cukup buat bantu Ceu Mumun buka salon.”

“Loh, memangnya Manchester United kekurangan tukang cuci pakaian?”

Arlen nyengir. Persis kayak kuda habis minum pop ice.

Tapi sungguh, di balik cengiran kuda itu sebenarnya Arlen Gibran adalah kuda beneran, eh maaf bukan, sebenanya Arlen Gibran itu memang punya hati yang tulus ingin membantu Mumun. Karena dia tahu Mumun sedang kesusahan, tapi dia punya kemampuan untuk mengelola salon. Cuma persoalan sekarang yang menjadi masalah hanyalah modal.

“Kau jual sajalah gitarku itu,” tawar Benny saat Arlen menceritakan persoalan itu saat mereka kumpul di mulut Gang Buntu 13.

“Mau berhenti jadi pengamen?” tanya Arlen masih belum yakin dengan tawaran Benny.

“Gampanglah itu. Lagi pula kalau bapakku jadi menikah, dia akan menyerahkan kiosnya untukku,” jelas Benny, “jadi mana lah sempat aku mau mengamen lagi. Paling si Ipal  saja yang akan berhenti belajar main gitar.”

“Onde mandeh, urusan ambo jangan terlalu dipikirkan. Tak ada gitar, dengan tali jemuran pun ambo bisa belajar,” tegas Ipal. “Ambo menyumbang lah seratus ribu,” lanjutnya sambil meletakkan uang seratus ribu di tangan Arlen.

“Owe nyumbang kaca dua meter. Lumayan buat cermin di dinding,” kata Asong.

“Urusan izin rumah kontrakan mau dijadiin salon, serahin gue aje. Biar gue yang  ngomong ke Babeh,” timpal Zae.

“Aku bantu apa, ya?” tanya Sokat, sang calon wartawan partikelir, bingung. “Oh ya, aku nyumbang buatin papan nama salon deh,” ujarnya kemudian.

“Lu mau nyumbang ape, Dung?” tanya Zae pada Dudung Suradung.

Mahasiswa kedokteran itu membetulkan letak kacamatanya, lalu katanya, “Kalau obat pencuci perut bagaimana?” tanyanya polos.

–oo0oo–

Arlen mengumpulkan uang yang bertaburan di atas meja. Ia baru saja memecahkan celengan miliknya yang berbentuk ayam jago tidur di atas springbed. Ia tersenyum setelah mengetahui berapa hasil tabungannya selama dua tahun itu.

Si penyair menghitung lagi jumlahnya. Dari hasil sumbangan Ipal dan gitar Benny yang dijual di depan pasar  Mester, Jatinegara, uang yang ada saat ini berjumlah Rp 600 ribu. Ditambah  dengan uang hasil celengannya selama dua tahun berarti jumlahnya sekarang menjadi Rp 610.500 alias cuma nambah Rp 10.500. Jumlah tabungannya selama dua tahun lumayan banyak bukan? Hehehe…

Tapi jumlah itu belum lagi setengah dari yang diperlukan Ceu Mumun, gumam hati Arlen. Ia lalu berpikir keras bagaimana agar keinginan menolongnya tetap bisa diwujudkan.

Banyak jalan menuju Roma. Mugkin ini yang menjadi moto Arlen untuk melakasanakan niatnya itu. Setelah mempertimbangkan secara seksama ia pun memberanikan diri untuk ngamen di atas bis. Bukan menyanyi tetapi membacakan puisi. Toh, dia sudah sering melihat orang ngamen di dalam bis dengan modal baca puisi.

Tapi dasar Arlen bakatnya main sepakbola dan bukanlah seorang penyair, ia ngamen baca puisi dicoba dengan penuh penghayatan. Terlalu bahkan. Mau tahu apa yang dilakukannya? Saat membacakan puisi di atas bis ia tidak hanya cukup dengan satu puisi saja, melainkan seluruh puisi dalam satu buku. Dan ia baru sadar setelah semua penumpang turun di terminal.

Satu minggu  kemudian.

Arlen sedang menghitung penghasilannya di kamarnya. Setelah dipotong uang makan, uang beli teh botol dan uang jajan per hari, maka jumlah dana bantuan yang ada saat ini terkumpul sebanyak Rp 575 ribu dari sebelumnya Rp 610.500. Loh, kok tekor? Bahkan Arlen sendiri bingung bagaimana mungkin setelah mengamen jumlah uang bantuan bukannya bertambah malah semakin berkurang.

“Temen-teman hanya bisa bantu segini, Ceu,” kata Arlen saat menyerahkan uang itu kepada Mumun. Ia datang bersama kawan-kawannya yang lain.

Mata Mumun berkaca-kaca. Dia tidak menyangka penghuni Gang Buntu 13 sangat baik. Setelah tinggal selama satu tahun lebih, baru kali inilah ia melihat bagaimana Jakarta yang disangka kejam ternyata masih menyimpan tetangga-tetangga yang merasa senasib sepenanggungan.

“Aduh..hik.. akikah ucapin terima kasih..hik..hik,” kata Mumun sambil menahan tangisnya. Apalagi saat ia mendengar kalau ia juga  akan mendapat bantuan cermin, papan nama salonnya dan yang lebih penting izin membuka salon, semakin terharu birulah hatinya.

“Tapi ape jumlahnya cukup tuh?” tanya Zae sesaat kemudian.

“Hik… lebih dari cukup, sebab…hiks… ada teman akikah yang mau bantu kredit perlengkapan salon dengan harga murah,” ujar Mumun masih menahan isaknya.

“Ya ude, minggu besok Ceu Mumun bisa mulai bukan tu salon. Biar kite-kite pade ngebantuin persiapannya,” kata Zae.

Tangis Mumun akhirnya  meledak juga. “Terima kasih…terima kasih..” ucapnya seraya ingin memeluk anak-anak Gang Buntu 13. Tapi tidak jadi karena 7 sekawan itu sudah kabur entah kemana.

–oo0oo–

 

Kang Arul
the authorKang Arul
Dosen, jurnalis, dan penulis. Saat ini selain menjalani profesi sebagai dosen di berbagai perguruan tinggi, juga sebagai konsultan untuk konten digital di berbagai perusahaan, lembaga/kementerian, maupun perorangan

2 Comments

Leave a Reply