Catatan

Blogger Pesanan

PERINGATAN: Mungkin ini adalah konten yang saya tulis lumayan panjang. Jadi, jangan pernah mengambil sebuah kesimpulan apapun sebelum menyelesaikan bacaannya sampai di akhir artikel.


Saya akan memulai tulisan Blogger Pesanan ini dengan dua ilustrasi sederhana:

1.

Suatu siang saya sedang duduk sambil menikmati teh hangat pahit di sebuah kantor. Saya memang sedang mengunjungi seorang teman yang bekerja sebagai tenaga alias manajer hubungan masyarakat sebuah perusahaan yang memiliki jaringan hotel, salah satu, yang terbesar di Indonesia.

“Kang.”

Saya menoleh.

Ia mengalihkan layar laptop di meja ke hadapan saya. “Coba baca,” katanya.

Dengan seksama saya membaca sebuah isi email yang tertuju kepadanya. Email itu dari seorang blogger yang menawarkan diri untuk menulis pengalaman menginap di hotel tempat teman saya bekerja itu. Namun ada syaratnya, yakni pihak hotel menyediakan satu kamar, makan pagi siang dan seluruh fasilitas di hotel itu bisa digunakan atau dirasakan secara gratis buat blogger tersebut.

“Kang Arul kenal?”

Saya mengernyitkan kening sejenak, “Kayaknya saya pernah tahu blog dan orangnya,” jawab saya diplomatis. Sebenarnya saya kenal dengan blogger itu, tetapi rasanya situasi saat ini pilihan jawaban tadi jauh lebih baik.

Dan benar saja…. “Sekarang blogger berani-berani ya? Kayak seleb saja mereka,” komentar teman saya itu kemudian menghela napasnya, “semestinya gak begini lah, kalau hotel kita perlu tentu kita akan undang dan beri pengumuman.”

2.

“Kang, ikut nginep, yuk!”

Saya yang sedang sibuk mainin telepon genggam rada terkejut. Sore itu saya bersama beberapa blogger sedang nongkrong di sebuah kafe di bilangan Jatinegara.

“Ini saya dapat undangan nginep semalem di hotel,” ujar blogger itu sambil menunjukkan layar telepon genggamnya.

“Hotel apaan?” tanya saya.

Rekan blogger saya itu menyebutkan sebuah nama hotel. “Lumayan buat malam mingguan. Ayolah ikut, hanya semalam saja kok dan fasilitasnya ada mandi uap, refleksi dan makan malam spesial langsung nenyaksikan chef hotelnya memasak.”

Saya hanya tersenyum.

Rekan itu melirik lagi layar telepon genggamnya. “Saya sendiri kok heran bisa ya diundang. Padahal saya gak pernah nulis loh soal hotel di blog saya.”

“Kok, bisa?” tanya saya.

Ia hanya menaikkan dua pundaknya.


Salah satu aspek yang berkembang dari marketing atau pemasaran di era media sosial dan menjamurnya blog  ini adalah iklan (advertising). Iklan menurut The American Marketing Association diartikan sebagai pengumuman atau pesan yang persuasif dalam suatu waktu atau ruang yang mengunnakan media massa oleh institusi bisnis, organisasi nonprofit, pemerintah, maupun individu dengan maksud menginformasikan dan atau membujuk khalayak terhadap barang, jasa, organisasi atau ide-ide sebagai sasaran target pemasaran atau audiensi. Dari pengertian ini jelas digarisbawahi bahwa penggunaan media massa menjadi kata kunci dalam praktik periklanan.

Menurut Tuten (2008:2-4) kehadiran internet memberikan lingkungan virtul baru bagi praktik-praktik pemasaran. Ada tiga praktik yang bisa dilihat dari munculnya media sosial terhadap praktim pemasaran tradisional ini, yakni:

  1. jenis media yang digunakan,
  2. iklan sebagai komunikasi berbayar, dan
  3. komunikasi satu arah dalam iklan.

Aspek pertama terkait jangkauan terhadap jenis media dan khalayak yang digunakan. Merujuk pada defenisi periklanan sebelumnya, bahwa jangkauan khalayak di media massa seperti koran, majalah, radio, atau televisi sangat mudah untuk melihat batasan-batasannya. Sebuah tabloid, misalnya, memiliki captive market atau sasaran pasar yang berbeda dari segi usia, jenis kelamin, pekerjaan, dan sebagainya. Tabloid yang terbit dengan segmentasi pasar kepada pembaca wanita jelas memberikan keterbatasan jangkauan konten; apalagi kategori wanita ini masih dibedakan lagi sesuai dengan umur, status atau profesinya.

Kehadiran media sosial juga blog dalam pemasaran di era digital bisa dilihat dari dua sisi, yakni sisi pengiklan dan sisi pengguna media sosial dan blogger. Dari sisi pengiklan media sosial memberikan tawaran yang beragam konten. Iklan tidak hanya bisa diproduksi dalam bentuk teks semata, melainkan juga bisa memiliki turunan mulai dari audio, visual, sampai audio-visual. Produksi iklan dan pemanfaatan media sosial ini juga cenderung membutuhkan biaya yang lebih murah. Tidak hanya itu, target terhadap calon konsumen juga bisa ditentukan berdasarkan prosedur dari perangkat yang ada di media sosial.

Praktik ini misalnya bisa dilihat dalam praktik iklan di Facebook. Perusahaan atau individu bisa menentukan bahwa suatu iklan bisa muncul berdasarkan kategori pengguna seperti usia, hobi, jenis kelamin dan sebagainya.Tidak hanya itu, iklan yang muncul dan diakses oleh pengguna khusus tersebut baru dibayar berdasarkan akses terhadap materi iklan tersebut atau pay-per-klick (bayar sesuai jumlah klik). Biaya yang dikeluarkan juga bisa disetel atau disesuaikan dengan anggaran, seperti satu klik sebuah iklan di Facebook akan dibayar sebesar Rp250. Bandingkan dengan sebuah iklan di media seperti televisi yang membutuhkan biaya puluhan bahkan ratusan juta rupiah sekali tayang. Selain keuntungan biaya yang cenderung murah dan biaya itu akan keluar seandainya iklan itu diakses, juga target pasar dan khalayak bisa dikalkulasikan secara tepat jumlahnya. Pemasang iklan di Facebook bisa melihat dengan jels siapa yang mengklik iklan mereka, berasal dari daerah mana, kapan atau jam berapa iklan ini diakses, sampai pada iklan pesaing apa saja yang juga diakses oleh pengguna media sosial tersebut. Kondisi ini sangat sulit dibandingkan iklan di media massa dimana jumlah pembaca atau yang melihat iklan tidak bisa dipastikan berapa banyak kuantitasnya.

Aspek selanjutnya terkait kehadiran media sosial dan blog bahwa periklanan tradisional bahwa iklan merupakan ‘komunikasi berbayar’. Keterbatasan pilihan media dan terkait sasaran pembacanya menyebabkan besarnya biaya yang harus dikeluarkan. Pengeluaran biaya ini jika mempertimbangkan keragaman media sekaligus keragaman khalayak yang ingin dicapai sebagai sasaran pemasaran produk atau jasa. Konsep dasar iklan ini juga bisa dilihat dari program berbayar atau halaman berbayar (advertorial) yang sering kali menjadi arena yang digunakan oleh pengiklan dengan membeli slot milik media massa.

Kehadiran media sosial dan blog memberikan alternatif pilihan bagaimana praktik pemasaran di era digital ini bisa berubah dari iklan berbayar menjadi iklan berdasarkan pengalaman pengguna (user experiences) yang cenderung berbiaya kecil dan kadang tanpa biaya sama sekali.

Fasilitas di media sosial dan bagaimana pengguna itu memanfaatkan media sosial untuk berbagi realitas diri offline-nya secara online memberikan arah balik bagaimana periklanan itu bekerja. Pengguna, secara sadar maupun tidak, menginformasikan pengalaman mereka dalam menggunakan produk atau jasa. Banyak riset yang menyebutkan bahwa media sosial dianggap sebagai sarana untuk pengguna berbagi pikiran, pengalaman, bahkan pandangan terhadap sebuah peristiwa. Karena itu tidak mengherankan apabila pengguna media sosial adalah juga konsumen yang bisa mempromosikan sebuah produk atau dalam istilah Tuten (2008) sebagai CGM atau consumer-generated media.

Bisnis Jurnal Rosid

Gambar promosi yang dilakukan melalui blogger

Terkait dengan evolusi konsumen dari sekadar mengonsumsi menjadi bagian dari periklanan, praktik CGM terbagi atas beberapa tipe. Praktik ini juga memberikan kategorisasi bagi blogger dalam kaitannya dengan praktik pemasaran di era digital. Kategori itu adalah seperti:

  1. Consumer-generated multimedia (CGM2), yakni tipe konsumen (blogger) yang mengunggah pengalaman dan pendapat mereka tentang sebuah produk atau jasa dalam berbagai bentuk media. Media itu bisa berupa audio, video sampai pada animasi. Konten ini sangat berbeda dengan citizen advertising dimana iklan sengaja dibuat untuk mempengaruhi atau mengajak penguna lain untuk secara verbal memakai sebuah produk/jasa. CGM2 lebih kepada pengalaman pengguna di media sosial.
  2. Consumer-solicited media (CSM) merupakan tipe konsumen (blogger) yang diundang untuk berkontribusi terhadap sebuah konten terkait produk atau jasa. Tipe ini menujukkan konsumen dilibatkan dalam periklanan dan cenderung tidak berbayar. Perusahaan menyediakan panduan maupun sepesifikasi dan dalam beberapa kasus mengundang konsumen untuk melihat aset/pabrik milik mereka.
  3. Incentivized consumer-generated media (iCGM). Tipe ini menujukkan konsumen  (blogger) di media sosial yang diberikan insentif, dibayar atau diberikan produk dari perusahaan. Namun, pemberian kompensasi ini dalam bentuk hadiah. Misalnya, konsumen di media sosial membuat sebuah tulisan tentang produk tertentu dalam rangka lomba penulisan (review) yang dilaksanakan oleh perusahaan tertentu.
  4. Consumer-fortified media (CFM) merupakan tipe konsumen (blogger) yang menyebarkan atau mendiskusikan sebuah konten. Tipe ini menujukkan bahwa sebuah konten terkait produk/jasa menjadi bahan diskusi dari konsumer yang juga pengguna media sosial. Melalui jejaring media sosialnya konsumer menuliskan pendapatnya dan juga kadang melampirkan tautan (link) terhadap informasi produk atau jasa.
  5. Compesated consumer-generated media (cCGM). Tipe terakhir ini menjelaskan bagaimana konsumen (blogger) dibayar untuk tulisan atau publikasi mereka di media sosial oleh perusahaan. Blogger, misalnya, dilibatkan secara khusus dengan undangan dan kesepakatan ternetu untuk mendukung kampanye produk/jasa yang sedang diluncurkan oleh perusahaan.

Dengan demikian, sepertinya sah-sah saja jika blogger masuk dalam kategori ‘blogger pesanan’. Karena, baik secara teori maupun praktis, ada simbiosis mutualisme antara blogger dan institusi dalam rangka pemasaran sebuah produk atau jasa. Ini juga membuktikan bahwa ada kekuatan blogger yang bisa termanfaatkan dalam rangka viral marketing.

Aspek terakhir adalah periklanan di era media sosial ini tidak lagi bersifat satu arah. Secara tradisional praktik pemasaran menggunakan iklan dalam konsep satu arah. Konsep ini menempatkan pengguna (konsumer) hanya sebagai objek pasif yang menerima terpaan informasi atau konten iklan begitu saja tanpa melibatkan konsumen itu sendiri. Kehadiran media sosial, secara khusus, memberikan arah komunikasi yang lebih interaksi. Iklan yang ada di media sosial—merujuk pada tipe-tipe CGM sebelumnya—adalah konten yang bisa dan menjadi perbincangan di antara pengguna di mana hubungan antarpengguna itu adalah hubungan perteman atau dalam jaringan.

Friendvertising merupakan konsep yang diperkenalkan oleh Tracy L. Tuten (2008:33-54) untuk menunjukkan bagaimana komunikasi yang terjadi di antara bentuk-bentuk komunitas sosial secara online. Konsep menunjukkan bahwa adanya keruntuhan penggunaan media massa sebagai sumber dari periklanan. Hal tersebut dikarenakan adanya hubungan yang pasif antara pengiklan-media-konsumen yang terjadi. Bandingkan dengan hubungan yang ada di media sosial dimana semua pengguna yang ada di dalam jaringan terdekat memiliki interaksi dan komunikasi yang lebih intens.

Media sosial dengan beragam bentuknya mulai dari forum, situs jejaring sosial, berbagi media, atau berbagi opini, memberikan medium bagi pengguna untuk berinteraksi sekaligus berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan sosial virtual. Semakin lama dan sering interaksi yang terjadi di antara pengguna tersebut semakin kuat ikatan relasi virtual yang terjadi di antara pengguna tersebut. Karena itu, sebuah produk atau jasa bisa saja menjadi jauh lebih efektif apabila di promosikan oleh pengguna di media sosial. Selain adanya kedekatan interaksi pengguna, berdasarkan pengalaman pengguna, juga karena hubungan yang ada di media sosial berdasarkan kepada kepercayaan serta apa yang disebut dengan ‘contact comfort’. Media sosial dan juga blog memberikan semacam contact comfort di antara pengguna yang memberikan kepuasan serta kenyamanan untuk berafiliasi maupun bersosialisasi di antara kegiatan memproduksi dan mendistribusikan sebuah konten secara online (Benkler, 2012).


Kembali ke cerita di awal paragraf tulisan ini…

“Mungkin si blogger itu bermaksud baik kali,” kata saya membela keputusan seorang blogger yang menawarkan diri.

“Alah, wartawan dan media saja gak pernah loh seperti ini, nawar-nawarin diri dengan meminta fasilitas. Kalau orang marketing media mungkin banyak.”

“Wartawan kan beda bro ama blogger.”

“Iya, tapi bedanya ama media yang dipakai doan kan? Soal cara kerja sih sama lagi.

“Kalau bloggernya kategori selebritas dumay dan pengunjung  blognya banyak pasti akan banyak juga yang tahu soal hotel ini.”

Manajer humas itu langsung serius ke laptopnya. Kemudian, “Aduh… Alexa aja jauh dan Googre Pagerank-nya masak cuma 1. Jangan-jangan pengunjung blognya cuma di bawah 100.”

Saya hanya tersenyum.

“Bagi gur sih menawarkan diri ya gak apa-apa. Bahkan baik kok buat kita karena dari sekian ribu bahkan juta blogger yang ada kita gak tahu mana yang punya passion untuk menulis soal hotel.”

Saya mendengarkan dengan serius.

“Hanya saja kadang blogger itu harus sadar diri. Mereka gak bisa sekadar menjadi blogger pesanan.”

Duduk saya tiba-tiba menegak. “Blogger pesanan?”

“Iya. Pernah loh salah satu anak perusahaan bikin acara, ngundang puluhan blogger, kita kasih pengganti transport dan oleh-oleh plus ada doorprize dan hadiah lombanya. Tapi, ya pas kita lihat isinya yang ditulis semuanya hampir seragam.”

“Ya, namanya juga blogger. Gak bisa semuanya disamakan, dong.”

“Betul, sih, cuma kan di era kebutuhan perusahaan akan blogger dan keinginan perusahaan agar produknya jadi viral marketing kita butuh yang unik dan khas disetiao publikasi. Kalau semuanya sama sih lebih baik gue panggil lo aja Kang. Gue tinggal bikin rilis dan lo sebarin ke blog yang lo ternak itu.”

“Busyet dah sapi kali…”

“Lah, apa bedanya dengan blogger yang kita undanh itu kalo mereka nulis semua isinya sama? Lo bayangin lah, kita perusahaan udah ngeluarin duit dan namanya bisnis duit yang keluar itu harus ada ROI-nya alias return of investment alias balik modal.”

Saya ngangguk-ngangguk.

Rekan saya itu kembali sibuk dengan laptopnya. Beberapa saat kemudian, “Nah, ini dia. Blogger kayak gini yang wajib diundang buat review hotel gue.”

Saya melirik. “Siapa?”

“Lo kenal?”

“Kenal. Tapi rasanya blognya belum pernah deh nulis soal hotel.”

“Itu masalahnya… kalau hotel gue bisa tembus di blognya artinya menjadi konten yang unik kan? Apalagi pengunjungnya banyak, Alexanya ok dan pagerank-nya lima.”

Ia pun mengetik sesuatu dan beberapa saat kemudian dipencetlah enter. “Sending… done!”

“Lah, gue gak diundang nyobain hotel, nih?” protes saya.

“Alah.. lo tinggal WA gue. Mau hotel yang mana?” jawabnya, “tapi tetep wajib nulis ya.”

Saya hanya garuk-garuk kepala saja.

“Ntar gue kasih goodie bag, deh, sendal hotel.”

“Jengkol busuk lo, ah…”


Referensi:

Benkler, Y. (2012). Sharing Nicely. In The Social Media Reader (pp. 17–23). New York: New York University Press.

Fuchs, C. (2004). Social Media a Critical Introduction. Los Angeles: SAGE Publications, Ltd.

Fuchs, C. (2008). Internet and Society, Social Theory in the Information Age. Madison Ave, NY: Routledge.

Nasrullah, Rulli. (2015). Teori Media Sosial: Perspektif Komunikasi, Kultur, dan Sosio-Teknologi. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.

Tuten, T. L. (2008). Advertising 2.0. Connecticut: Praeger.


Buku Gratis…

Buat blogger atau siapapun pengunjung blog yang ingin mengetahui lebih dalam tentang teori blog dan bagaimana media sosial dalam perspektif komunikasi, kultur serta sosio-teknologi bisa mendapatkan gratis buku terbaru Kang Arul. Sila komen di konten blog berikut : http://kangarul.com/buku-gratis-teori-social-media/

 

Kang Arul
the authorKang Arul
Dosen, jurnalis, dan penulis. Saat ini selain menjalani profesi sebagai dosen di berbagai perguruan tinggi, ia juga merupakan konsultan untuk konten digital di berbagai perusahaan, lembaga/kementerian, maupun perorangan. Profil lengkapnya sila klik http://www.kangarul.id

44 Comments

  • Wah …
    Ini info baru nih bagi saya …
    terutama mengenai jenis-jenis CGM atau consumer-generated media

    Mengenai pesanan atau tidak pesanan. Yang jelas ini adalah konsekuensi dijadikannya Blogger sebagai profesi.

    Thank you Kang

  • Wah.. fenomena dunia perbloggingan naik lagi satu tingkat…

    Semakin banyak yg ngeblog akan semakin banyak motivasi yg melekat didalamnya..

    Saya sendiri aja dari yg hanya sekedar menulis ringan ringan saja ..semakin tertarik untuk beranjak ke level berikutnya…

    Mulai dari yang hanya diberikan. Ucapan terimakasih sudah membantu menuliskan sampe yang memberikan transport dan gimick lainnya

    Dan level berikutnya ya itu, mulai dari meminta transport sesuai jarak hingga fasilitas ..karena memang merasa (dan memang pantas) di berikan harga segitu…

    Kalau menerima yg kecil atau rendah nanti dianggap tidak menilai posisi blogger sebagai media yang netral.

    Yah. Kembali lagi fenomena blogger atau anomali blogger kang Arul????

    #opiningaco

  • Selama ini saya suka nulis semacam endorsement terhadap suatu tempat dan suka rela dan saya kasih lihat mereka lalu mereka suka dan berharap saya nyinyir di kumpulan gossiper ibu2 makanya saya di kasih imbalan berupa sesuatu. Baru-baru ini juga kasih endorsement hotel di blog yang kami bentuk dengan 2 teman lain dan mereka mengirim pesan kalau ingin nginep gratis mereka welcome. Belajar dari sini kalau nulisnya tulus dan ihklas kayanya mereka juga ga tutup mata, ya? Belajar dari tulisan Kang Arul sebelumnya tentang “Bukan Blogger lagi” membuat saya ingin menulis alah saya, sesuai perasaan saya.

    Salam dari Bali, Kang 🙂

  • Wah, jadi harus gimana dong? Saya mah sebagai newbie sadar diri saja, gak berani deh minta-minta. Tapi kok sepertinya topik ini jadi pembicaraan di beberapa event yang dihadiri blogger, termasuk event Niasan di Bandung kemarin.

  • Wkwkwkwk…ujungnya itu yang kagak enak…
    Tapi keren kang arul. Belajar banyak nih dari tulisannya kang arul yang mengalir jernih ….
    Baru tahu juga ada namanya blogger pesanan.
    Btw, jdnya blogger kayak apa tuh yg disukai mgr temennya kang arul yg diundang nginep itu?

  • Aku sih biasanya nunggu tawaran dateng atau malah beli sendiri kalo mau review sesuatu tapi “belum dapet tawaran” (biasanya gadget), tapi yaa tergantung isi dompet dan beberapa pertimbangan sih kalo mau beli sendiri. Belum berani sampai menawarkan diri seperti itu. Aku mah sadar diri, cuma blogger kelas remah roti :’D

    Di sisi lain, kadang salut juga sama mereka yang cukup PD untuk menawarkan diri seperti yang disebut diawal itu, meskipun yaa caranya agak kurang elegan aja..

    Mungkin kedepannya bisa bikin bahasan soal “meningkatkan kualitas” diri kita sebagai blogger, Kang 😀

  • ulasannya bagus, saya sering mendapat tawaran mereview beberapa brand. Entah apa yang mereka pertimbangkan dalam memilih seorang blogger untuk mereview. Pernah saya bertanya pada salah satu yang menawarkan, bener sob, Alexa, Pagerank, Domain authority adalah sebagian kecil yang mereka lihat dahulu sebelum memilih blogger mana yang cocok….

  • Kayanya jadi blogger pesanan itu untung2an ya? Kita bisa menawarkan diri, tapi mereka juga punya pilihan kriteria Blogger gimana yg mereka pilih.

    Pengalaman sendiri, saya bukan blogger dan tidak merasa mumpuni nulis dalam bidang apapun. Eh, dasar rezeki, mau jelang puasa, ada tawaran nulis kisah sendiri yang ada kaitannya dengan program kerja mereka. Bayarannya lebih dari sebulan gaji PNS golongan IIIB.
    Alhamdulillah… Rejeki buat lebaran, saya gak bilang dong 🙂

    Jadi dari pengalaman, saya ambil kesimpulan yg penting terus aja nulis dan ngeblog sesuai passion sendiri. Kalo sudah rezeki, gak usah nawarin diri, rezeki datang sendiri. Hanya syaratnya yaitu tadi, kualitas dan kekonsistenan masing2 dalam menulis atau ngeblog yang bisa dilihat orang lain…

  • ulasannya panjang, tapi kontennya menarik dan “masuk akal” juga 🙂
    jadi inget, beberapa waktu lalu, saya sempat ngobrol dengan pr salah satu konsultan ternama di negeri ini
    katanya, saat ini banyak perusahaan/ brand kakap cenderung “beriklan” via blogger ketimbang di media mainstream (elektronik, cetak, online)

    baca artikel ini jadi berasa ada korelasi no 1 (Consumer-generated multimedia (CGM2),
    konon -ini konon, saya belum verifikasi lebih lanjut kebenarannya- katanya beriklan sama blogger/buzzer (blog/twit, etc) lebih tepat sasaran ketimbang di media mainstream

    ini menarik buat diulas, sayangnya saya belom dapat referensi tambahan
    *mandi dulu ah 🙂

    • Yup.. realitas sekarang memang banyak perusahaan yang lebih aman dan nyaman menggunakan blogger untuk praktik kehumasan dan pemasaran. Secara teori saya ulas di buku terbaru Teori Media Sosial .. #numpangpromo

  • Wadawwww… itu screenshotnya gak nahan. 😀

    Tapi sekedar meluruskan Om, tulisan “Aplikasi Mandiri Fiesta Poin Bikin Irit Banyak Benefit” itu masuk kategori “Consumer-generated multimedia (CGM2)”, ko. Saya menulisnya dengan sukarela… by experience. Walau akhirnya dikontak pihak bank yang bersangkutan untuk menyampaikan rasa terimakasih karena saya sudah mengulasnya.

    Nah, yang jadi pertanyaan adalah admin DOSENGALAU(DOT)COM ini masuk kategori blogger apa, dalam kaitannya dengan praktik pemasaran di era digital? 😀

Leave a Reply

error: Content is protected !!