Hiburan

Bintang Sinetron

“Kalian mau tidak main sinetron?” Tante Elshi mengipas-ngipas wajahnya dengan kipas bambu. “Perannya sih memang figuran, tapi biar figuran bayarannya gede dan lagi pula episodenya banyak.”

7 sekawan Gang Buntu 13 saling berpandangan. Mereka mencoba mencari satu keputusan di mata teman-teman. Tawaran Tante Elshi main sinetron memang menarik, akan tetapi ada sesuatu yang rasanya mengganjal dalam hati mereka.

“Kalian mikir apa, sih?  Kesempatan yang ada belum tentu datang untuk kedua kalinya loh?” tegas Tante Elshi .

Anak-anak masih saling pandang-memandang.

“Kalau yang kemarin mungkin perannya memang tidak menguntungkan,” Tante Elshi seperti bisa tahu apa yang ada dalam pikiran para remaja tanggung di depannya itu, ”tapi yang satu ini Tante jamin 100 persen deh kalian nggak akan kecewa, perannya bagus-bagus. Dari judul sinetronnya saja Tante bisa jamin akan meledak di pasaran. Judulnya Pernikahan di KUA, bagus kan?”

–oo0oo–

“Gue sih kok susah percaya!” Zae ngusap-ngusap jenggotnya yang baru tumbuh itu.

“Memangnya kenapa kau, Zae?” tanya Benny Siregar.

“Kalian ingat nggak tahun lalu, berita Tante Elshi  yang heboh jadi bintang iklan?” tanya Zae.

“O… yang iklan obat batuk itu?” tanya Sokat memastikan.

“Iye. Kalian liat sendiri, pan yang nongol cume tangan tu janda aje, sedang megang gelas,” lanjut Zae.

“Betul juga ya, dan belum tentu itu tangan dia,” timpal Asong.

Anak-anak yang lain manggut kayak burung Pelatuk.

“Gue sendiri sebenarnya pernah kecewa ama Tante Elshi,” tambah Zae sesaat kemudian. Menekankan betapa sedih bin kecewanya dia dengan janda ceria itu.

“Awak pernah juga ditawari main sinetron sama tante Elshi itu, Zae?” tanya Ipal yang hari itu tampil baru dengan kepala plontos.

“Pernah lagi, malah gue ude datang ke lokasi sutingnye,” jawab Zae.

“Sinetron atawa iklan?” tanya Ipal lagi.

“Iklan, iklan obat nyamuk semprot,” kata Zae.

“Terus kenapa awak tak mau?” kejar Ipal sambil menggaruk-garuk kepalanya yang licin itu.

“Gimane gue mau nerusin, masak gue disuruh jadi nyamuk. Dan menurut skenarionye gue disemprot ama lima orang dengan obat nyamuk itu.” Zae menahan gemuruh dadanya yang mau meledak. “Dudung saksinye,” sambung Zae sambil menujuk ke arah Dudung

Dudung mendekat. Tangannya mengusap-ngusap punggung Zae. “Sabar aja, Zae,” katanya.

“Itu belum seberapa teman-teman. Habis disemprot gue harus meranin satu adegan lagi, yaitu jatuh dari atas genteng dengan kepala duluan yang harus nyungsep ke dalam tanah. Kata sutradaranye biar nandai tu nyamuk ude mampus!” sambung Zae, tapi kali ini debaran di dadanya seperti tak tertahankan. Matanya jadi berkaca-kaca.

Anak-anak cuma bisa melongo mendengar penuturan itu. Tapi sebentar saja, sebab rasa duka yang mendalam sepertinya juga mulai menyapa hati anak-anak Gang Buntu 13.

Tiba-tiba  Arlen Gibran angkat bicara, “Nasibku tidak jauh berbeda dengan dirimu, Bang Zae” katanya.

Semua mata memandang ke arah Arlen sang pecandu sepakbola itu.

“Lu kenapa lagi, Len?” tanya Sokat.

“Aku pernah ditawari Tante Elshi main sinetron misteri, judulnya Misteri Hantu Ganjen. Nah, aku dapat peran sebagai hantu yang bangkit dari kubur. Hanya saja syarat yang diajukan sutradara teramat berat, aku harus dikubur dulu tujuh hari tujuh malam. Katanya sih buat penghayatan peran,” jelas Arlen dengan suara yang miris sekali, “jangankan menghayati peran, setengah jam saja dikubur aku pasti sudah almarhum.”

Kepala anak-anak Gang Buntu 13 menunduk semuanya. Rupanya dua cerita itu sudah cukup menjadi sandaran mereka untuk memikirkan lebih jauh lagi soal tawaran main sinetron si janda ganjen itu.

“Kalau saya pernah ditawari peran ditabrak kereta api,” kata Dudung pelan. Pengakuan mahasiswa kedokteran itu mengagetkan anak-anak. Tidak disangka Dudung Suradung yang oon alias kalau ngomong sering tidak konek dengan materi yang diomongin itu juga salah satu korban Tante Elshi.

“Aku juga ditawari jadi bintang iklan oli. Pada saat syuting itu oli harus diminum dua kaleng,” tambah Asong Chow.

“Ambo menjadi maling yang ketangkap dan dipukuli 20 orang,” kali ini Ipal buka suara. Rupanya dia juga punya pengalaman sendiri soal tawaran dari Tante Elshi.

“Bah, kau juga ditawari peran itu?” tanya Benny kaget, karena itu juga pernah ditawari kepadanya.

Tiba-tiba Sokat menutupi wajahnya dengan kedua tangan, “Masih mending 20 orang, sementara aku ditawari peran main sinetron yang diinjek-injek orang sekampung,” ujarnya sedih.

Gubrakss…… sengsara banget!

Mereka saling berpandangan. Antara percaya atau tidak, tapi inilah kenyataannya. Kenyataan bila semua anggota Gang Buntu 13 pernah menjadi korban bujuk rayu Tante Elshi.

“Mungkin saja tawaran kali ini benar  adanya,” kata Dudung Suradung lima menit kemudian.

Keenam pasang mata itu memandang tajam ke arah Dudung. Mengesankan kalau mereka sangat terkejut dengan perkataan teman mereka itu.

“Loh, siapa tahu kenalan Tante Elshi itu benar-benar memberikan peran figuran yang bagus, tidak sengsara dan tragis seperti tawaran kemarin,” bela Dudung lagi.

Keenam remaja tanggung itu masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan Dudung. Apakah tu anak tidak belajar dari pengalaman apa? begitu setidaknya yang ada di pikiran mereka.

“Tidak ada salahnya kan dicoba?” Dudung masih berusaha meyakinkan teman-temannya.

Entah siapa yang memulai, satu-persatu bangkit meninggalkan mulut Gang Buntu 13. Meninggalkan Dudung Suradung yang masih duduk sendirian di bawah sinar bulan purnama.

“Siapa tahu saja ini kesempatan baik,” kata Dudung pelan seperti meyakinkan dirinya sendiri.

Sepuluh menit kemudian Dudung masih terpaku di tempatnya. Benaknya sejak tadi sudah melayang jauh, mengkhayal dirinya sedang syuting bersama Anjasmara dan Tamara Blezinsky dalam sinetron Tersandung Melulu. Bahkan saat pulang ke rumah pun ia bermimpi tengah menerima piala Oscar karena terpilih sebagai aktor terbaik dalam film layar lebar, mengalahkan aktor besar semacam Brad Pitt ataupun bintang film Matrix, Keanu Rivers.

–oo0oo–

“Dung, mau kemana awak?”

Dudung yang sudah rapih dengan kemeja kotak-kotak warna kuning telor dipadu dengan celana kain warna merah jambu menoleh. Lalu ia melemparkan sebuah senyuman ke arah Ipal. Ternyata hal yang sama juga dijumpai Ipal keesokan harinya lagi.

“Main sinetron sama Anjasmara.” Itulah jawaban yang diterima Ipal saat ia bertanya kembali kepada Dudung sebulan kemudian.

“Rupanya mahasiswa itu main sinetron,” lapor Ipal saat anak-anak sudah ngumpul di ujung depan Gang Buntu 13. “Berarti dia benar-benar menerima tawaran Tante Elshi yang centil itu.”

“Pantas saja aku lihat dia pagi-pagi sekali sudah ke luar rumah dan malam hari baru pulang.  Bah! Berpakaian rapih pula dia,” Benny menguatkan analisa Ipal.

“Mau-maunye si Dudung Kesandung itu masuk perangkapnye Tante Elshi,” sambung Zae lagi sambil mlesetin nama belakang Dudung.

“Wah, berita besar nih,” kata Sokat. Naluri wartawannya semakin tajam melihat situasi yang langka ini.

“Bang,  apakah Abang tidak memikirkan nasib Dudung itu. Sudahlah otaknya telmi sekarang dibohongi pula sama orang lain. Mana rasa solider kita, Bang?” potong Arlen Gibran.

Sokat mau membalas komentar Arlen, tapi tiba-tiba Butet, adiknya Benny, melintas di depan mereka. Dari gerak-geriknya terlihat sekali bila Butet sedang tergesa-gesa.

“Katanya mau belajar bersama, kok sudah pulang?” tanya Benny.

“Belajarnya dibatalin Bang, Butet mau nonton sinetron,” jawab Butet, “pemainnya ada Bang Dudung.”

Mendengar nama Dudung, kontan saja anak-anak Gang Buntu 13 kaget luar biasa.

“Apa kau bilang tadi, Dudung main sinetron?” tanya Benny heran.

“Iya, Dudung main sinetron, Bang. Judulnya Pernikahan di KUA,” jawab Butet singkat. “Ayo Bang kita nonton, nanti keburu habis!” sambungnya bersemangat kemudian pergi dari kerumunan itu.

Antara percaya dan tidak, keenam remaja tanggung itu boyongan datang ke rumah Benny. Berdesakan di ruang tengah rumah Om Togar sambil memasang tatapan tajam pada televisi 21 inci. Sementara acara yang ditayangkan saat itu baru iklan.

Apa benar Dudung main sinetron? Pertanyaan itu masih menghinggapi pikiran kepala anak-anak Gang Buntu 13.

Iklan pun selesai. Sinetron Pernikahan di KUA kembali ditayangkan. Semua orang di ruang tengah rumah Om Togar itu jelas-jelas menyaksikan Anjasmara dan Tamara Blezinsky sedang berperan sebagai pasangan suami istri dengan seorang pembantu di belakang mereka. Akan tetapi yang menjadi perhatian mereka malah si pembantu yang ada di belakang dua bintang terkenal itu.

“Bah, pandai pula si Dudung itu berlakon,“ puji Om Togar saat melihat Dudung Suradung yang tampil membawakan peran pembantu itu.

Jelas saja anak-anak Gang Buntu 13 menyesal tidak terkira. Menyesal karena tidak menerima tawaran dari Tante Elshi untuk main sinetron. Jika saja tawaran itu diterima, bisa jadi yang tampil di layar kaca itu tidak hanya Dudung Suradung.

Apalagi dua hari kemudian, entah bagaimana caranya, Tante Elshi berhasil membawa Anjasmara ke Gang Buntu 13 dan memperkenalkan kepada mereka. “Eh, kalian kenal kan sama Anjasmara? Itu loh bintang sinetron papan atas yang main sama Dudung,” promosi Tante Elshi kepada anak-anak Gang Buntu 13.

“Sayang kalian tidak ikut serta,” kata Dudung sambil merangkul bahu Anjasmara. Terkesan akrab dan sudah kenal lama. Dan entah kenapa, Dudung tidak terlihat telmi kali ini.

Mulut anak-anak hanya bisa senyum saja. Jelas senyum mesem. Sebab jauh di dasar hati sebenarnya mereka menyesal karena tidak menerima tawaran Tante Elshi waktu itu. Dan  juga mereka jauh lebih menyesal karena telah mengabaikan pendapat Dudung,  menyangka Dudung tidak waras berpikir karena mau-maunya menerima tawaran tante Elshi, menyesal karena… ah!

“Dung, besok kamu datang?” tanya Anjasmara sesaat kemudian

“Datang ke mana, Anjas?” Dudung balik bertanya sambil membetulkan letak kacamatanya.

“Itu loh, acara peluncuran album baru lagu-lagu di sinetron kita,” ingat Anjasmara.

“Di puncak, kan?” Dudung ingin menegaskan lagi.

“Iya,” jawab Anjasmara sambil meminum jusnya, lalu, “Jangan sampai  tidak datang, Dung. Sebab, di sana kamu bakalan ketemu artis-artis lain,” sambung Anjasmara.

Dudung memandang wajah teman-temannya.

“Kenapa, Dung?” tanya Anjasmara kemudian

“Eem… teman-teman, saya boleh ikutan nggak?” tanya Dudung beberapa saat kemudian.

Bahkan seorang Dudung Suradung yang kadang otaknya telmi saja masih setia kawan. Sementara mereka? Duh… malu rasanya

—oo0oo—

 

Kang Arul
the authorKang Arul
Dosen, jurnalis, dan penulis. Saat ini selain menjalani profesi sebagai dosen di berbagai perguruan tinggi, juga sebagai konsultan untuk konten digital di berbagai perusahaan, lembaga/kementerian, maupun perorangan

Leave a Reply