Berdiskusi dengan orang yang malas membaca buku

By -

Saya pun sampai pada sebuah kesimpulan  bahwa “berdiksusi dengan orang yang malas membaca buku itu membuat kita tambah bodoh dan menyia-nyiakan waktu saja”.

Mengapa? Karena ibarat hukum alam besi berani. Kalau dua kutub disatukan rasanya langsung saling bertolak belakang. Yang satu beralasan dan berargumentasi dengan referensi maupun bahan bacaan yang telah dilahap habis bahkan tak jarang mengorbankan tenaga, waktu, dan bahkan uang. Sementara yang satu modalnya hanya “menurut perasaan saya” saja.

Agak susah kalau memaksakan diri menghadapi orang yang “menurut perasaan saya” saja. Berapapun referensi ilmiah yang disodorkan, maka lawan diskusi kita akan menolaknya dengan tegas; bahkan tak jarang penolakan ini disertai dengan sikap atau intonasi bernada emosi.

Oleh karena itu, sebagai akademisi yang seringnya galau saya kerap melihat arena bertanding dahulu. Bukan karena saya takut untuk berdiskusi. Bukan pula karena saya tidak punya kemampuan retorika untuk terlibat dalam diskusi. Pengalaman saya aktif di organisasi kemahasiswaan dan juga organisasi profesi yang cukup lama telah menempa mental saya untuk berada di tengah arena.

Melihat dengan jeli arena bertarung itu karena sekadar untuk menyamakan dan menyesuaikan gelombang saja. Jangan sampai gelombangnya berbeda jauh sehingga untuk menyamakannya perlu usaha dan tenaga yang tidak sedikit. Kalau hanya beda satu dua tangga masih boleh lah, toh yang namanya berdiskusi kita pada hakikatnya juga mengasah kemampuan diri.

Tapi, berdiskusi dengan orang yang malas membaca buku adalah hal yang sebaiknya dihindari.

Juga, terkait dengan komentar atau opini yang akan kita lontarkan dalam sebuah forum. Entah itu forum ilmiah atau akademik atau forum-forum resmi bahkan nonresmi sekalipun. Menahan diri untuk tidak buru-buru mengeluarkan komentar adalah hal yang sangat bijak.

Makanya, saya terlalu sering menolak permintaan menjadi narasumber untuk mengomentari situasi politik terkini. Mulai dari media cetak, radio, online, sampai televisi. Bukan karena saya tidak pantas berada di arena itu, melainkan gelombang saya tidak pas untuk topik yang diajukan.

Saya, sekali lagi, hanyalah akademisi yang cocok berkomentar seputar budaya dan media siber. Semua atau sebagian besar riset saya soal fenomena yang ada di dunia virtual. Buku-buku yang saya tulis adalah buku teori tentang media sosial. Jurnal-jurnal yang saya mengisi di dalamnnya terkait langsung dengan realitas online. Bahkan saya menyelesaikan pendidikan tingkat doktor dengan disertasi tentang internet.

Maka… hikmah yang saya dapat adalah jangan memanfaatkan situasi untuk menjadi populer dengan bidang yang tidak atau sedikit kita kuasai. Godaan muncul di media sebenarnya adalah godaan menarik untuk dikenal oleh banyak orang. Namun, lagi-lagi, jika sekadar menjadi komentator untuk semua bidang, maka apa bedanya kita dengan istilah tong kosong nyaring bunyinya?

Di jalur akademisi ini saya banyak belajar untuk tetap teguh berada di bidang yang dikuasai. Menghabiskan waktu dengan membaca buku atau tulisan jurnal. Sesekali bolehlah ikut seminar ilmiah yang harus bayar  sekadar untuk menyebarkan gagasan dan pengetahuan.

Saya mencoba mendekati orang-orang cerdik pandai yang menguasai atau setidaknya risetnya berdekatan dengan dunia yang saya geluti. Bukan saya memilih-milih teman atau pergaulan, tapi ini bagian dari ikhtiar saya untuk meningkatkan kualitas diri.

Secara alamiah, ketika kita sudah menguasai sebuah bidang dan banyak referensi yang dibaca, maka orang tidak akan ragu lagi dengan kemampuan kita. Orang akan mengatakan, “kalau ingin tahu tentang hal ini, coba tanyakan kepadanya. Ia pakar di bidangnya.”

Karena sejatinya saya memahamai tidak ada orang (akademisi) yang pintar dan menguasai semua bidang. Kalimat ini saya dapat dari seorang teman juga yang lulusan S3 Sosiologi dari kampus di Depok sana. Malah, patut dikasihani orang-orang yang mau (memaksa diri?) untuk mengomentari persoalan atau kajian yang bukan pada bidangnya.

Selevel di bawah itu adalah orang-orang yang mengomentari sebuah persoalan dengan emosinya dan bukan dengan pengalaman dari bahan bacaan dan luasnya pengetahuan. Bukan karena ia tidak bisa membaca, tetapi malas untuk membaca dan punya ego untuk mengetahui bahwa ada pengetahuan yang luasnya lebih dari himpunan samudera di manapun.

Duhai mahasiswaku… wahai rekan-rekan dosen…

Jangan malas membaca buku. Bacalah apa saja yang menarik minat dan kuasasi bidang itu sehingga betul-betul banyak pengetahuan yang menjadi pakaian kita dalam pergaulan. Jangan pandai berbicara dan berargumen, melainkan sebenarnya yang kita ucapkan itu sekadar menurut (emosi) saya saja.

Jika kita sadar itu, maka mungkin pilihan diam jauh lebih baik daripada berkata-kata.

Berdiskusi dengan orang yang malas membaca buku? Sekali lagi… baca buku dulu.

Dan ini juga sebagai pengingat kepada diri saya sendiri

(95)

Jurnalis-Penulis-Traveler merupakan tiga rangkaian kata yang bisa menjelaskan siapa saya, selain sesekali menjadi dosen tentunya. Telah menulis 100-an judul buku. Sering memberikan pelatihan terkait PR 3.0, digital media, dan komunikasi di berbagai institusi. Selain di blog ini, ia juga memiliki weblog di www.kangarul.com dan www.dosenkomunikasi.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *