Hiburan

Benny yang Terluka (Bagian 2)

Creep!!

Benny mencoba menghindari serangan tusukan benda tajam itu sambil naik ke atas bangku bis. Rupanya sambil menghindar dia tidak lupa menghadiahi satu tendangan keras yang telak mengenai muka pemuda berandalan itu.

Melihat temannya terkapar tak berdaya di lantai bis, pemuda yang panuan mencoba melarikan diri. Untung saja Cicih Ciriwiswati berpikir cepat. Si pencuri handphone yang mau melarikan diri  itu ia tarik rambutnya dengan kencang. Terjungkanglah berandalan itu, yang langsung ditangkap oleh kondektur bis.

Sopir bis Mayasari ijo lumut itu tahu apa yang terjadi. Ia pun langsung menghentikan mobilnya. “Pak, ada maling di mobil saya, nih!” serunya pada Polantas yang sedang patroli di deket Pasar Genjing.

Akhirnya bis Mayasari dibawa ke kantor Polsek Matraman. Bis itu untuk sementara jadi TKP alias tempat kejadian perkara yang akan diselidiki oleh tim forensik dan tim gegana, siapa tahu saja dalam bis itu ada bom yang ditaruh oleh kedua berandal itu. Sementara para penumpang dimintai keterangan atas kejadian tersebut.

Seorang wartawan muncul. Dari rompi yang dikenakannya Benny tahu kalau wartawan itu berasal dari harian kriminal terbesar di Jakarta.

“Pak, wawancara saya saja, saya yang tahu kejadian itu,” seorang lelaki dengan pakaian coklat PNS mendekati sang wartawan. “Tahu nggak? Saat dua berandalan itu mencuri handphone milik korban, saya langsung berdiri dan meneriakinya,” kata PNS itu bangga.

“Lalu apa yang Bapak lakukan selanjutnya?” tanya wartawan tadi.

“Ehm, saya nggak berbuat apa-apa sih…”

Mulut sang wartawan melongo, tapi PNS itu segera memperbaiki kalimatnya, “Tapi mata saya melotot lho, ke arah cecunguk-cecunguk itu. Dari kedua mata yang melotot ini saya mau bilang kalau mereka tidak akan berhasil mencuri.”

Benny yang melihatnya jadi sengak habis. Kesal juga dia melihat ada orang yang mau-maunya memanipulasi keadaan demi mencari popularitas. Apalagi saat ia melihat sang PNS bergaya ala James Bond di depan kamera sang wartawan, rasa dongkolnya sudah tak tertahan.

Dari pada nggak betah ngeliatin sang PNS, Benny pun keluar sebentar. Dia mau nyari teh botol sambil menunggu gilirannya ditanya pak polisi.

“Ada apa, Ben?” Seseorang menyapa Benny di halaman depan.

“Oh, Kang Surya,” jawab Benny. Tiba-tiba paha kanannya yang sejak dari dirasakan panas mulai  terasa sakit. Sakitnya luar biasa. Dia pun linglung dan hampir jatuh. Surya sigap menangkapnya. Ia melihat ada cairan merah yang merembes di celana jeans tetangganya di Gang Buntu 13 itu.

–oo0oo–

 

“Mak dikipe tu orang. Emangnya nyali kite sebiji nangka ape ngadepin die,” Zae marah-marah. Melihat Benny terluka dan dijahit sampai 8 jahitan hatinya geram juga.

“Aku kira aku sudah bisa menghindarnya, eh, ternyata gerakanku kurang cepat,” kata Benny sambil memegangi kakinya di atas tempat tidur.

“Tapi awak tak merasa habis ditusuk pisau, Ben?” tanya Ipal. Dia datang sambil membawa martabak telor yang belakangan dimakannya sendiri.

Benny menggeleng. “Itu juga aku baru sadar saat ketemu Kang Surya di halaman polsek.”

“Hanya kebetulan saja. Saat Akang sedang ada perlu di Pasar Genjing, Akang melihat keributan di bis Mayasari Bakti. Eh, tiba-tiba Akang melihat Benny. Makanya Akang ikutin sampai polsek,” jawab Surya yang datang bersama istrinya.

Ya, Benny patut berterima kasih kepada Surya. Penyuluh agama kecamatan itulah yang mengantarkannya ke rumah sakit di Jatinegara, mengurus semua administrasi dan bahkan menebus obat. Tidak hanya itu, Teh Herni, istri Kang Surya, juga membantu seharian di rumah Benny. Sejak ibunya meninggal lima tahun lalu, Benny tinggal dengan bapak dan adik perempuan satu-satunya yang sekarang duduk di kelas 3 SLTP.

Tidak lama, Om Togar datang. Di belakangnya menyusul Arlen. Si pemain sepakbola itu memang diutus menghubungi Om Togar, bapaknya Benny, yang menjadi distributor koran di belakang Pasar Senen.

“Kenapa kau, Cok?” tanya Om Togar saat melihat anaknya tak berdaya di atas tempat tidur. Matanya tampak berkaca-kaca. Biarpun wajah Om Togar terlihat keras, tapi hatinya jauh lebih baik. Bahkan konon jauh melebihi kelembutan putri keraton Solo sekalipun.

“Hanya luka kecil, Pak,” jawab Benny. Pipinya memerah, sebab di depan orang-orang Om Togar mengusap kepalanya bagai anak kecil.

“Bapak ucapkan terima kasih, Dik Surya,” kata Om Togar beberapa saat kemudian sambil menyerahkan plastik hitam yang sejak tadi ditentengnya dari Pasar Senen. “Ini aku beli sebotol sirup markisa cap Pohon Pinang. Sebagai ucapan terima karena telah menolong anakku,” lanjutnya.

“Tak perlu repot, Om. Itu juga kebetulan saja saya lewat,” tolak halus Surya.

“Bah, ini baru sebotol sirup saja. Kalau aku kasih satu kontainer baru kau boleh bilang begitu,” timpal Om Togar sambil tersenyum.

Surya jadi kikuk. Menolong orang adalah kebajikan yang memang harus dilakukan dengan iklas, dan ia merasa itu sudah menjadi kewajibannya sebagai muslim. Tapi menolak pemberian Om Togar, rasanya tak enak juga.

“Begini saja, bagaimana kalau sirup ini kita buat di sini dan diminum oleh kalian?” sela Om Togar. Pengalamannya yang banyak makan asam garam itu membuatnya mengerti apa yang ada dalam pikiran Surya.

“Sini sirupnya. Kebetulan tadi saa sempat mengambil es batu di rumah,” kata Arlen sambil mengambil botol sirup dari tangan Om Togar lalu ngeloyor pergi ke dapur rumah Benny. Pertanyaannya adalah, sejak kapan Arlen sempat-sempatnya mengambil es di rumah? Dasar pemain sepakbola kelaperan.

Tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depan rumah.

Zae langsung melongok ke depan dan melihat Mercedez Benz warna hitam mengkilat, kendaraan mewah keluaran terbaru. Dia mengira kalau itu mobil engkohnya Asong Chow, satu-satunya anak yang sering ngumpul di mulut gang tapi bukan penghuni Gang Buntu 13. Dia keturunan Cina, anak orang kaya yang tinggal di komplek sebelah. Tapi saat Zae melihat seseorang keluar dari mobil itu, mulutnya bergumam, “Ni orang nyasar kali, yak?”

Tanpa mengucap salam lagi, orang yang baru keluar dari dalam mobil itu langsung menerobos masuk. “Aduh… Bang Benny gimana kabarnya?”

Benny hapal suara itu. Nenek Cicih Ciriwiswati ada di rumahnya. Mata Benny terbelalak, hatinya komat-kamit merapal doa semoga nenek ganjen itu tidak macam-macam di depan penghuni Gang Buntu 13.

“Eke jadi khawatir loh, Bang Benny,” kata Cicih sambil mengerjap-ngerjapkan matanya.

Semua orang yang melihat adegan itu pada mesem habis. Benny kenalan di mana dengan nenek itu? Jangan-jangan di rumah sakit jiwa? Setidaknya itu yang ada di hati Ipal dan Arlen.

“Apa kabar, Nek?” tanya Benny mencoba ramah, tapi yang didapat Benny malah pelototan dari Cicih Ciriwiswati. “Eh, apa kabar, Tante Cicih?” Benny meralat ucapannya.

Cicih tersenyum senang dipanggil begitu. “Kabar eke? Baik dong. Bang Benny pegimandang?” tanya Cicih ganjen.

“Baik,” jawab Benny singkat. Bakalan jelek nih penghabisannya, batin Benny. Dia mengira peristiwa ini akan menjadi bahan olok-olokan penghuni Gang Buntu 13.

“Oh iya, eke sampai lupa. Markum…!!” teriak Cicih kencang memanggil seseorang. Tak lama orang yang dipanggil Markum nongol sambil membawa sebuah gitar. “Ini buat Bang Benny, kan gitarnya rusak waktu di bis,” kata Cicih sambil menyerahkan gitar di tangannya.

“Nek, eh, Tante Cicih tak perlu repot,” Benny menolak, tapi keburu Cicih menggantungnya di dinding kamar. Kaki Benny yang luka menyebabkan dirinya susah bergerak dan ia hanya bisa melihat saja.

“Anggap saja sebagai pengikat persahabatan antara ye dengan eke.” Mata Cicih mengerjap-ngerjap lagi.

Seseorang menyela di antara kerumunan itu, “Maaf ya, Bapak Ibu, ibu saya itu memang lagi ceria-cerianya,” kata seorang wanita berpakaian rapi. Wajahnya yang putih tampak lebih menawan disapu oleh make up tipis.

“Hehe,” Cicih nyengir kuda, dia pun langsung memperkenalkan siapa adanya wanita itu. “Nah, itu anak eke. Namanya Ratih,” katanya.

“Tolong dimaklumi ibu saya,” kata Ratih sambil menyambut salam dari Herni, istrinya Surya. “Oh ini ibunya Nak Benny? Masih muda, ya,” ujarnya sambil mencium kedua belah pipi Herni.

“Bukan, Bu. Saya tetangganya, dan itu suami saya,” jelas Herni sambil menunjuk ke arah Surya.

Wanita yang bernama Ratih itu tersipu malu. “Lalu ibunya Nak Benny mana, ya?” tanyanya kepada Benny. “Saya mau mengucapkan rasa terima kasih karena telah menolong ibu saya.”

“Ibunya telah meninggal lima tahun lalu,” suara Om Togar menggema ke seluruh sudut kamar.

Semua mata memandang trenyuh ke arah Om Togar. Juga mata Ratih yang sejak masuk tadi tidak menyadari kehadiran bapaknya Benny itu yang berdiri agak ke belakang.

“To…gar? Bang Togar?” tanya Ratih terbata-taba saat melihat pemilik suara itu.

“Ya saya Togar, Togar Siregar,” kata Om Togar sambil berdiri.

Pipi Ratih jadi terlihat lebih memerah. Dadanya seperti bergemuruh.

“Rupanya ye-ye sudah pada saling kenal? Oh my God, eke jadi senang deh,” sela Cicih Ciriwiswati tiba-tiba.

Belakangan barulah diketahui kalau antara Om Togar dan Ratih rupanya memiliki hubungan pertemanan lama. Mereka pernah sama-sama satu sekolah pada tahun 70-an di SMA Bulungan I, sebelum jadi SMA Negeri 6. Sampai sejauh mana tingkat pertemanannya hanya mereka yang tahu. Jika masih penasaran, tanyalah pada rumput yang bergoyang. Hehe!

Malamnya suasana rumah mulai sepi. Benny di kamar sendirian memandang ke arah kakinya yang kadang nyut-nyutan. Adiknya, Butet, sedang belajar di ruang tengah. Sementara Om Togar merenung sendirian di depan sambil menghisap rokok kretek.

Mata Benny melirik lagi ke arah gitar yang tadi sore digantung oleh Cicih Ciriwiswati. Gitar itu masih baru, mengkilat dan bermerk terkenal. Harganya? Bisa-bisa kalau ngumpulin sendiri dia bakalan tidak jajan selama setahun.

Jam menunjukkan pukul 11 malam. Saat mata Benny sudah berat mau tidur, pintu kamarnya dibuka seseorang.

“Belum tidur, Cok?” tanya Om Togar pada anaknya.

“Baru mau,” jawab Benny.

“Kakimu masih sakit?”

Benny mengangguk.

Setelah basa-basi pertama itu Om Togar langsung mengutarakan niat awalnya masuk ke kamar Benny. “Ben, bagaimana kalau Bapak kawin lagi?”

Mendengar itu Benny tersentak. “Sama siapa, Pak?” tanya Benny, walau sebenarnya dia sudah bisa menebak siapa orangnya.

“Sama Ratih. Dia teman dekat bapak kau ini sewaktu kami masih sekolah menengah dulu. Tapi baru saja aku mau melamarnya, eh, dia pindah entah ke mana.” Om Togar seperti melihat putaran film masa lalu di depannya.

Benny hanya diam. Di kepalanya hanya ada satu wajah. Bukan wajah Ratih yang putih bersih, tapi wajah Cicih Ciriwiswati yang bakal jadi calon neneknya itu.

“Bagaimana menurutmu?” tanya Om Togar lagi.

Wajah Cicih semakin jelas terbentuk di benak Benny. Mata nenek ganjen itu sedang mengerjap-ngerjap seraya memainkan mulutnya yang monyong ke depan. Kontan seluruh persendian Benny merasa lemas.

–oo0oo–

Kang Arul
the authorKang Arul
Dosen, jurnalis, dan penulis. Saat ini selain menjalani profesi sebagai dosen di berbagai perguruan tinggi, juga sebagai konsultan untuk konten digital di berbagai perusahaan, lembaga/kementerian, maupun perorangan

Leave a Reply