Catatan

Belajar Menjadi Besar dari Syafrizaldi

“Saya Rizal,” suara itu begitu tegas, “Syafrizaldi.”

Siang itu saya bertemu dengannya. Lelaki berkacamata itu mengenakan topi abu-abu, berkaos hitam yang dibalut sweater merah dan bercelana jeans warna gelap.

“Olah fisik ini bagi saya adalah seni. Saya menganggap ini sebagai sebuah karya seni dan bukan sekadar olahraga.”

Samar-samar saya mengingat wajah dan nama lelaki ini. Pengalaman menjadi redaktur sebuah media yang salah satunya memegang rubrik olahraga seperti muncul kembali. Benar saja…  setelah saya mengingat, dengan bantuan browsing di google, saya seperti tersadar. Dialah Rizal  seorang  atlet binaraga Indonesia yang dijuluki sebagai Raja kelas 75kg.

Bertahun berlalu dan di siang Kamis (03/12/2015) kemarin saya bertemu dengannya di bilangan Jakarta Selatan. Tidak tanggung-tanggung sebuah kabar gembira dibawa oleh lelaki itu, Juara I Mens Master Bodybuilding 50-59 years  dan Juara III Mens Bodybuilding 75 kg di World Bodybuilding and Physique Sports Federation yang diadakan di Bangkok, Thailand pada 27-29 November 2015.

Dua buah mendali dan piala dengan ukiran seorang atlit binaraga dari kayu dibawa pada kesempatan itu. Sebuah kerja keras menjadi besar yang dilakoninya sejak tahun 1986. Prestasi mendunia yang berhasil mengalahkan peserta utusan dari lebih 40 negara.

Binaraga-Koran

“Saya memulainya dari nol, dari tidak punya modal apa-apa,” suaranya terdengar berat, “bahkan beberapa kali saya dan teman-teman harus mengeluarkan modal sendiri.”

Ada senyum yang terlihat dari lelaki kelahiran Medan, 10 Juni 1965 itu. Namun, saya tahu senyum itu adalah kumpulan pahit-getir kehidupan profesional seorang Syafrizaldi menekuni bidangnya.

“Bahkan nyaris saja kami berangkat di kejuaran ini dengan biaya yang tidak ada dukungan dari pemerintah. Pas mau berangkat baru kita dipanggil (kemenpora.red),” jelas lelaki yang sehari harus mengonsumsi daging sebanyak satu kilo ini, “tapi demi Indonesia apapun itu bahkan jika harus merogoh kantong sendiri.”

Kutipan-Syafrizaldi

Ketiadaan perhatian bukan hal baru baginya. Tahun 2008 ketika ingin mengikuti  1st Asian Beach Games ia pun harus berjuang sendiri dengan merogoh kocek dan usaha demi membeli suplemen serta latihan sebesar Rp12 juta per bulan. Hasilnya? Di ajang itu Rizal menyabet juara satu pada Body Building Beach kelas 75 kg.

Bahkan, sejarah mencatat, Rizal yang mengabdikan dirinya untuk olahraga binaraga dan fisik ini sempat berharap ada orang baik hati yang mau memberinya rumah dan modal untuknya menyambung hidup (lihat DetikSport 20/10/2008). Berpuluh tahun menjadi atlit hanya profesi itu ditekuninya.

Menjadi besar memang tidaklah mudah bagi Rizaldi. Tetapi dengan menjadi besar fisiknya dan besar kepercayaannya serta besar kecintaannya untuk Indonesia memberikan kekuatan untuk terus berkiprah secara profesional.

“Saya… alhamdulillah… dengan olahraga ini bisa naik haji dan bersama ibu,” katanya dengan suara bergetar, “setiap hari saya berdoa dan doa itu akhirnya terkabulkan pada tahun 2006 saya menang di Qatar dan hadiahnya saya buat untuk modal pergi haji bersama ibu.”

Binaraga-InfografisBeruntung setelah menjadi besar dengan segudang prestasi ada brand suplemen kesehatan yang mendekatinya. Sejak beberapa tahun lalu Rizal merupakan atlit endorser yang sering dipakai untuk iklan. Istri dan anaknya pun mulai bisa sedikit bernapas lega. Bahkan salah satu dari anaknya sudah mengenyam pendidikan di bangku kuliah.

“Bagi saya semua itu adalah rezeki dari Allah,” kata Rizal merendah, “saya selalu berdoa kok bahwa dengan seni fisik ini saya ingin bentuk tubuh saya seperti Rasulullah. Bentuk fisik yang bagus dan sehat. Kalau tidak sehat mana mungkin saya seperti ini.”

Tapi menjadi seperti ini, lanjut lelaki yang sudah jarang makan tanpa garam ini, apa yang diperjuangkannya melalui jalan yang tidak mudah. Di tahun-tahun awal merintis karir menjadi binaraga dan olahraga fisik, ia banyak mejumpai kesulitan. Belum lagi saat itu ia telah mempersunting seorang gadis menjadi istrinya.

“Wah, jangan ditanya. Kita pernah gak ada uang sama sekali dan saya belum jadi juara apapun. Tapi, itulah hebatnya istri saya itu, ia selalu sabar dan selalu mendukung kegiatan saya. Karena istri saya itu tahu banget saya menjalani ini karena minat saya dan ia yakin suatu saat pasti akan ada hasilnya,” tambah Rizal serasa melepas kacamatanya.

Rizal menikahi Sumarni saat masih baru menekuni olahraga ini. Dari pernikahannya itu ia dikaruniai tiga permata, yakni Mariofaceb A S, Viradessy Arisandi, dan Fairuz Imtiyaz Arizal.

“Waktu SD-SMP saya sempat ngajari anak laki-laki saya untuk olah fisik, tapi gak ada satupun akhirnya yang ngikut saya,” tawanya renyah terlihat, “Malah yang satu sukanya ke musik dan yang kedua di bidang broadcasting kayak wartawan.”

Rizal memang menjadi besar karena cinta ibu, istri, dan anak-anaknya. Lihatlah foto Facebook miliknya, foto kedua anaknya dijadikan sebagai kaver di profil Facebooknya.

Rizal adalah gambaran kesuksesan atlit yang konsisten dengan pilihannya. Sebenarnya di luar sana masih banyak atlit binaraga dan olahraga fisik yang masih berjuang bahkan untuk kebutuhan makan sehari-hari. Jumlahnya tidak lagi hitungan jari, melainkan ratusan bahkan ribuan yang tersebar di seluruh Indonesia.

“Di pelosok-pelosok Indonesia masih banyak binaragawan yang perlu diperhatikan,” tukas Kemalsyah Nasution, manajer tim Indonesia di World Bodybuilding and Physique Sports Federation, yang siang itu turut mendampingi Rizal. “Kita selalu berusaha agar cabang olahraga ini jangan dianaktirikan.”

Rizal pun mengamini. Menurutnya, setiap cabang olahraga memiliki potensi untuk berprestasi tidak hanya ditingkat nasonal, tetapi juga internasional asal ada perhatian dari pemerintah dan badan olahraga yang menaunginya. Sekaligus ia mengulangi keprihatinan jika ada atlit yang harus merogoh koceknya sendiri hanya untuk latihan.

“Kita selalu berharap ada perhatian untuk cabang olahraga ini, meskipun saya sendiri kadang bingung kok di Asian Games, sebagai tuan rumah, justru tidak mempertandingkan cabang binaraga padahal ini lumbung emas,” tukas Kemalsyah Nasution.

Melihat kenyataan itu Syafrizal hanya bisa tersenyum.

“Saya tetap menjalani profesi ini sampai kapanpun. Hanya ini yang bisa membuat saya, keluarga dan bangsa Indonesia bangga,” katanya menutup perbincangan.

Saya melihat jam, sudah pukul setengah empat sore. Di luar gedung saya melihat matahari bersinar cerah dan sepertinya sore ini akan diakhiri dengan cerah juga. Besok? Tidak siapapun yang tahu apa yang akan terjadi…

Tetapi hari ini saya sudah belajar bagaimana menjadi besar dari seorang Syafrizaldi.

Terus berjuang, Bang!

Kang Arul
the authorKang Arul
Dosen, jurnalis, dan penulis. Saat ini selain menjalani profesi sebagai dosen di berbagai perguruan tinggi, ia juga merupakan konsultan untuk konten digital di berbagai perusahaan, lembaga/kementerian, maupun perorangan. Profil lengkapnya sila klik http://www.kangarul.id

10 Comments

Leave a Reply

error: Content is protected !!