Catatan

Bagaimana Cara Bersedekah dengan Ilmu?

Bagaimana Cara ersedekah dengan IlmuBagaimana Cara ersedekah dengan Ilmu

Bagaimana cara bersedekah dengan ilmu? Jawabannya bukan sekadar memakai logika, tetapi ini soal rasa dan keiklasan si pemilik ilmu.

Suatu ketika di kelas pascasarjana yang saya ampu, di akhir perkuliahan saya meminta perwakilan mahasiswa untuk membawa penyimpanan eksternal. “Buat nyalin semua ebook buku dan jurnal sama data-data soal komunikasi,” begitu saya menerangkan saat ditanya, “jumlahnya ada sekitar 32 ribu berkas.”

“Banyak amat, Kang?” salah satu mahasiswa saya bertanya.

“Ini hasil download setiap hari,” jawab saya.

“Gak rugi?” tanya mahasiswa yang lain.

“Rugi? Kenapa?” Kening saya mengernyit, seperti saat melihat isi dompet di akhir bulan.

“Dosen lain gak ada yang mau bagi-bagi buku yang dipakai.”

“Ada buku sakti yang diumpetin”

“Kita cuma dikasih satu buku pegangan doang.”

“Ditanya bahan lain, eh, jawabnya suruh nyari sendiri.”

Saya tersenyum, mirif apgan sih kalo dipikir-pikir, “Ini bagi saya adalah jawaban atas pertanyaan ‘Bagaimana Cara Bersedekah dengan Ilmu?‘ dan tidak akan berkurang.”

Mahasiswa saya itu langsung tersenyum dan beberapa menit kemudian kami sudah duduk di warung kopi depan gedung kelas. Tertawa bersama dan saling bercerita soal kegiatan sehari-hari.

Menanam melalui bersedekah dengan ilmu

Saya, sih, tidak mau membandingkan dengan rekan sejawat. Bagi saya setiap dosen punya gaya dan cara masing-masing dalam memberlakukan soal referensi atau pustaka. Da saya teh pernah ketemu dosen yang saat berinteraksi cuma coret-coret makalah dan harus nambah referensi sementara buku atau jurnalnya yang mana tidak mau diberi tahu.

Prinsip saya sih soal Bagaimana Cara Bersedekah dengan Ilmu? salah satunya ya membagikan referensi, baik jurnal, buku, hasil penelitian, dan data-data lainnya, kepada mahasiswa di kelas. Di semua jenjang dari sarjana, magister sampai doktoral.

Saya tidak pernah khawatir soal mahasiswa yang lebih pandai dari saya selaku dosennya gara-gara lebih banyak membaca referensi yang disalin dari laptop saya. Pun saya tidak pernah merasa tersaingi apalagi ilmu yang ada semakin berkurang.

Bagaimana Cara Bersedekah dengan Ilmu?
Bagaimana Cara Bersedekah dengan Ilmu?

Bagi saya… catat ya… ini bukan soal main dengan logika atas kelelahan dan pengorbanan mengumpulkan referensi yang jumlahnya 32 ribu itu. Bukan pula soal logika tentang ‘kitab sakti’ yang jurusnya tidak boleh diketahui oleh mahasiswa. Apalagi soal ada pengorbanan, yah minimal bayar wifi di rumah atau tagihan kopi di kafe, saat mengunduh berkas.

Ini bagi saya soal rasa dan keiklasan. Bagaimana Cara Bersedekah dengan Ilmu? itu pertanyaan yang harus dijawab dengan dua hal itu. Bisa juga dengan logika, asal egonya diturunin dikit.

Bagaimana Cara Bersedekah dengan Ilmu?

Juga, ini soal menanam kebaikan. Kebaikan yang ibarat pohon buah yang dari satu benih menghasilkan tidak hanya satu buah, melainkan buah-buah lainnya di setiap cabang bahkan ranting. Membuat mahasiswa banyak membaca dan tinggal pilih dari ribuan berkas yang mereka salin dari laptop saya merupakan salah satu buah dari bersedekah dengan ilmu itu.

“Kang, makasih. File-filenya bermanfaat banget.”

“Wuah.. jadi deh proposal disertasi saya. Udah bingung tujuh keliling.”

“Kemarin mentok… buyar, eh, ada jurnalnya yang bisa dijadikan rujukan. Keren, Kang.”

Atau…

“Terima kasih, Kang, semoga Allah membalas kebaikan Kang Arul.”

Bayangin… kalau Allah sudah balas, itu jumlah butiran pasir dan air lautan tidak akan bisa menandingi.

So, kalau ada yang bertanya soal Bagaimana Cara Bersedekah dengan Ilmu? bagi seorang dosen macam saya ini, ya paling salah satu jawabannya adalah memberikan referensi yang saya punya. Memberikan bimbingan menggunakan referensi tersebut.

Sungguh, ilmu itu tidak akan berkurang jika diberikan, tetapi akan bertambah… setidaknya mahasiswa yang lulus atau mereka yang terbantu selama proses perkuliahan akan mengingat nama kita dalam doa mereka.

Doa adalah balasan buat sedekah ilmu saya itu. Doa sudah lebih dari cukup… doa agar saya bisa menjadi dosen yang berilmu, baik sikapnya, halal rezekinya, berkah hidupnya, tambah istrinya… eh yang terakhir typho  😳

Kang Arul
the authorKang Arul
Dosen, jurnalis, dan penulis. Saat ini selain menjalani profesi sebagai dosen di berbagai perguruan tinggi, juga sebagai konsultan untuk konten digital di berbagai perusahaan, lembaga/kementerian, maupun perorangan

5 Comments

Leave a Reply