CatatanTeknologi

Ayo Tebar Cinta di Media Sosial

Berapa banyak netizen yang menjadi korban dari informasi hoax, ujaran kebencian, maupun radikalisme di media sosial? Jangan sampai kita menambah panjang daftar dari korban-korban tersebut. Yuk, kita sebarkan berita baik di media sosial

55 orang di tahun 2017 dengan jumlah kerugian Rp1.899.604.000

Bayangkan… jumlah ini kalau dibelikan ketoprak berapa bungkus coba? Mungkin seribu bungkus lebih. Eh, tapi beneran loh, ini adalah data kerugian dari 55 korban tebar cinta palsu di media sosial. Data ini baru  dalam satu tahun  dan masih sedikit yang berhasil diungkap dari tindak kriminalitas penipuan menggunakan media sosial.

Ya, ternyata media sosial juga bisa dijadikan sarana untuk menipu atas nama cinta. Cinta? Iya loh, para pelaku ini berpura-pura menjadi orang lain–dengan foto orang lain tentunya–di media sosial, kemudian menjerat para wanita, baik janda maupun gadis. Jurus rayuannya adalah berpura-pura jadi abdi negara seperti Polisi, Anggota TNI, Pilot maskapai terkenal atau memiliki profesi yang menjanjikan lainnya. Pada akhirnya, ada saja modus pelaku untuk meminjam atau meminta uang.

Sayang oh sayang, para korban yang semuanya wanita ini, tidak hanya gadis atau janda dalam pengertian masih berstatus single. Ada juga korban yang masih memiliki suami. Tidak  hanya Tenaga Kerja Indonesia (TKI) saja sampai pengusaha pun tak luput dari jeratan cinta palsu ini.

Kerugiaan uang mungkin bisa diganti, namun banyak korban yang juga mengirimkan foto telanjang kepada penipu. Foto itulah yang dijadikan alat ancaman kepada korban dan jika tidak memenuhi permintaan trasnfer uang, maka foto telanjang tersebut langsung disebar ke media sosial.

Tragis memang. Niat awal untuk berkenalan dan mencari jodoh demi masa depan yang lebih baik, eh ternyata harus berakhir tragis.

Beruntunglah ada Relawan Waspada Scammer Cinta (WSC) yang hadir sejak tahun 2012.  Didirikan oleh Fenny Fatimah yang dikenal dengan Bunda Fey Down dan juga netizen lainnya, mereka melakukan upaya untuk mencegah semakin banyaknya korban scammer cinta di media sosial.

O ya, salah satu pembina dari WSC ini adalah Kompol Bayu Suseno.  Abdi negara yang banyak melakukan penelitian tentang tindak kriminal scammer cinta ini sampai ditulis dalam disertasi S3-nya, mengungkap bahwa pelaku penipuan cinta rata-rata adalah narapidana dengan hanya memiliki kemampuan merayu dan sedikit edit foto. Edit foto diperlukan untuk mengubah wajah foto asli yang biasanya adalah anggota TNI atau Polisi aktif dengan wajah  pelaku.

Sejak tahun 2012 WSC lahir atas keprihatinan karena korban kejahatan ini semakin hari semakin bertambah. Awalnya kami fokus pada kampanye untuk mencerdaskan netizen tentang bahayanya kejahatan ini, kampanye dilakukan dengan menggunakan medsos juga karena korban-korbannya adalah pengguna medsos terutama Facebook.

Bersama WSC atau relawan Waspada Scammer Cinta, pria yang pernah bertugas sebagai Kapolsek  Cipondoh, Tangerang ini bersama WSC berhasil membongkar sindikat penipu cinta. Tidak hanya itu, mereka juga telah menyelamatkan pengguna media sosial dari jeratan jahat pelaku tebar cinta di media sosial.

Korbannya? Siapa lagi kalau bukan para janda dan gadis yang tertipu di media sosial. Bahkan yang menyedihkan banyak korbannya adalah TKI di luar negeri, yang sudah bersusah payah mengumpulkan uang, tetapi berakhir tragis.

Media Sosial adalah Medium Publik

Mengapa scammer cinta  ini bisa terjadi?

Itu karena di akun media sosial kita seringkali tanpa sadar mengumbar informasi pribadi. Informasi tentang lokasi pekerjaan, identitas diri, foto-foto bersama keluarga, sampai pada status di Facebook, misalnya, yang berkeluh kesah atau sekadar curahan hati alias curhat.

Informasi inilah yang menjadi bahan dasar bagi pelaku untuk mendekati calon korban. Misalnya nih ya, ketika korban telah menulis status soal kesendiriannya dan merindukan pendamping hidup, maka pelaku akan segera berkomentar atau mengirim pesan pribadi kepada calon korban.

So, walaupun media sosial adalah medium publik akan tetapi tetap saja akunnya yang bersifat pribadi tersebut tidak benar-benar hanya pemilik akun dan teman-teman dekat saja yang bisa mengetahuinya. Apa yang ditulis dapat diakses oleh orang lain.

Apalagi di media sosial kita bisa menjadi siapa saja. Artinya, berapa banyak teman kita di Facebook  yang pernah kita jumpai secara tatap muka alias face-to-face? Jangan-jangan dari 5000 pertemanan di Facebook yang baru bertemu hanya sebagian kecil saja.

Bukan berarti netizen tidak boleh berkenalan dengan orang lain di media sosial, apalagi sampai beranggapan bahwa dilarang keras jatuh cinta. Toh, saya aja dengan istri pada awal-awal perkenalan juga dilakukan melalui perantara media sosial, kok. Ada DO dan DON’T yang setidaknya mesti dipahami oleh netizen.

Nah, biar tidak ketipu sama meraka yang tebar cinta di media sosial, tapi cintanya palsu, lihat cara-cara atau modus berikut ini ya…

Sedih kan sudah rugi uang tidak kembali, eh, foto tak senonoh diri pun terlanjur dikirim ke pelaku scammer cinta. Cinta tulus yang ingin diraih, tapi yang didapat cinta palsu.

Betul kata orang-orang bijak… penyelasan itu selalu datang belakangan.

Tebar Cinta di Media Sosial

Penipuan cinta di media sosial hanyalah satu kasus kecil bagaimana kejahatan bisa terjadi di internet. Tindakan ini didasari oleh informasi palsu atau hoaks (hoax) yang seolah-olah informasi itu menjadi benar adanya.

Selain itu, di media sosial juga ada ujaran kebencian dan radikalisme yang mesti menjadi perhatian netizen. Bukan apa-apa, akibat dari ujaran kebencian dan radikalisme di media sosial terutama, dampaknya bisa mengkhawatirkan dan tidak hanya kerugian material dan psikologis loh seperti dalam scammer cinta, tetapi juga dapat meretakkan persatuan dan kesatuan kita sebagai warga negara.

Kompas.com bahkan merilis kasus-kasus ujaran kebencian dan hoaks (hoax) yang menyedot perhatian selama tahun 2017 lalu. Sila untuk mengklik berita dengan judul “11 Kasus Ujaran Kebencian dan Hoaks yang Menonjol Selama 2017“.  Data ini rasanya sudah cukup bikin kita geleng-geleng kepala dibuatnya.

Bahkan pemerintah, salah satunya, melalui Kementerian Kominfo telah melakukan upaya pencegahan terhadap penyebaran hoaks dan ujaran kebencian serta radikalisme di media sosial. Menurut Menteri Kominfo Rudiantara pada Selasa (15/05/2018) lalu bahwa empat media sosial yaitu Facebook, Instagram, YouTube, dan Telegram, telah menghapus konten serta akun yang menebar provokasi serta mengajarkan paham radikal dan diduga berkaitan dengan jaringan teroris. Lebih dari 1.000 akun sudah di-remove.

Juga, ada 280 akun Telegram yang dihapus lantaran mengandung unsur provokasi dan teror. Adapun dari 450 akun penyebar konten negatif yang ditemukan di Facebook dan Instagram, 300 akun sudah dihapus. Di situs berbagi video YouTube, ditemukan 250 konten yang sarat muatan radikalisme dan ajaran teroris. Namun, kata dia, baru 40 persen konten yang sudah dihapus. Adapun di situs microblogging Twitter ada 60-70 akun radikal, setengahnya telah dihapus.

Di tingkat Polda Metro Jaya sendiri ada unit khusus yang dibentuk untuk mencegah/menindak kejahatan yang terjadi di media sosial, namanya Subdit Cyber Crime Polda Metro Jaya.

Perlu diingat bahwa pemerintah memang berkewajiban menjaga serta melindungi warga negaranya dari penyalahgunaan media sosial. Namun, adalah tugas kita selaku netizen untuk aktif juga menebarkan cinta di media sosial. Bersama pemerintah dan aparat, netizen memiliki kewajiban untuk mencegah kerugian dari penyebaran hoaks, ujaran kebencian dan radikalisme.

Makanya, tebar cinta di media sosial itu perlu. Cinta yang beneran tapinya ya.

Kecil Tapi Berguna

Jangan sampai kadung sudah menyebar dan menimbulkan dampak bagi kesatuan dan persatuan bangsa. Ibarat penyakit, lebih baik dihindari daripada sudah terkena dan susah mengobatinya. Media sosial juga menuntuk tindakan sekecil apapun yang kita lakukan sebagai netizen.

Sekali lagi, adalah tugas netizen untuk selalu mengingatkan betapa literasi digital perlu untuk menangkal kebencian di media sosial, mencegah radikalisme di media sosial menyebar dan memecah belah, dan juga tidak turut aktif menyuburkan berita palsu alias hoaks kepada orang-orang yang ada di sekitar kita.

Sekadar mengingatkan keluarga, teman baik, atau orang-orang di sekitar kita sudah merupakan salah satu tindakan kecil untuk mencegah penyalahgunaan media sosial. Senada dengan hal itu Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Argo Yuwono pun menegaskan bahwa konten negatif banyak bertebaran. Netizen perlu menyebarkan konten positif. “Sekecil apapun tetap berguna untuk bangsa,” jelasnya saat bersilaturahmi dengan netizen pada awal bulan Mei (8/05/2018) lalu.

Nah, kalau netizen menemukan ‘sesuatu’ di media sosial, catat info kontak di bawah ini ya…

Kembangkan sikap peduli untuk menjaga kesatuan dan persatuan bangsa di medsos. Yuk laporkan jika bertemu konten ujaran kebencian dan radikalisme

Ayolah, daripada menyebarkan cinta palsu, menyuburkan berita palsu atau hoaks, menebar benih-benih kebencian dan mendorong radikalisme lebih baik menebar cinta di media sosial. Sebab, negara ini dibangun dengan darah dan perjuangan para pahlawan merebut kemerdekaan. Jangan sampai merah putih terkoyak gara-gara perilaku bermedia sosial kita yang kurang patut.

Ayo tebar cinta di media sosial. Ayo jaga kedamaian…! Seperti foto di bawah ini, tidak perlu caption khusus tapi sudah menceritakan banyak hal.

Kang Arul
the authorKang Arul
Dosen, jurnalis, dan penulis. Saat ini selain menjalani profesi sebagai dosen di berbagai perguruan tinggi, ia juga merupakan konsultan untuk konten digital di berbagai perusahaan, lembaga/kementerian, maupun perorangan. Profil lengkapnya sila klik http://www.kangarul.id

4 Comments

Leave a Reply

error: Content is protected !!